Olin menatap layar laptopnya dengan sorot mata tajam. Jarinya lincah menari di atas keyboard, meretas jaringan transportasi dalam negeri. Kecemasan membayang di wajahnya, namun ia menolak menyerah. "Aku pasti bisa menemukan Mama," gumam Olin dengan tekad membara. Tidak membutuhkan waktu lama, teriakan Olin keras. "Papa! Aku menemukan sesuatu!" Suaranya menggema di koridor rumah mereka. Raymond segera menghampiri. "Apa yang kau temukan, Sayang?" "Mama membeli beberapa tiket penerbangan internasional," kata Olin, menunjuk layar. "Ke Singapura, Tokyo, dan London. Tapi setelah aku melacak data penumpang, Mama tidak menaiki pesawat mana pun." jelas Olin lagi. Raymond mengepalkan tangannya, matanya menyiratkan frustasi. "Berarti mama sedang mencoba mengecoh kita. Dia masih ada di negara

