19 A Bersama Raihan

981 Kata

Sepanjang sisa waktu bekerjanya, Jasmine menjadi tidak tenang. Rhein tidak mengejarnya, dan ia menyukai hal itu. Apabila Rhein melakukannya, itu berarti ia bertindak begitu bodoh hanya untuk seseorang seperti dirinya. Yah, Rhein bodoh kalau ia benar-benar menyukai Jasmine, pikir gadis itu. Tidak ada satu pun hal yang bisa ia banggakan, ayah tak ada, harta apalagi. Malah kalau benar terjadi, Rhein bakal terkejut mengetahui penyakit yang dideritanya akan menyebabkan ia bangkrut. Jasmine menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa pusing sekaligus bingung. Kepalanya mulai berdenyut sakit walau sedikit dapat ia tahan. Ia baru saja dihubungi oleh Raihan, dokter muda itu mengajaknya pergi dan segera saja Jasmine menyetujuinya tanpa berpikir panjang. "Jasmine..." Sebuah tepukan pelan di bahunya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN