"Tolong ya, mbak. Saya minta bantuannya kalau ketemu sama Jasmine." Suara samar dari luar menyadarkan Jasmine dari tidurnya. Jam berapa ini? Pikirnya. Siapa yang bicara di luar? Ketika matanya seluruhnya terbuka, Jasmine mulai sadar dengan kondisinya berada sekarang. Dia menghela napasnya. Ini kontrakan Eli, dia tidak bermimpi. Lalu suara itu, dia kenal sekali. Rhein kah itu? Benarkah pemuda itu datang? Untuknya, kah? Walau kedua tangan menutupi mulutnya, Jasmine tidak bisa menghalangi satu dua buah bulir air mata yang jatuh. Semakin keras dia mencoba, malah semakin deras . Rhein Rhein Rhein Aku disini! Dia tidak tahu, sudah berapa lama menangis, saat sadar Eli sudah berada di dalam. Jasmine langsung bangun tanpa peduli kalau kondisinya masih lemas. "Yang datang tadi Rhein ya k

