6: Berharap Kamu Luluh

1764 Kata
"Kalau udah sholat, kamu boleh pulang". Ucapan gadis itu mengagetkan Rhein yang baru saja menyelesaikan doanya. Dibelakangnya Jasmine sudah melipat mukenanya menjadi satu lipatan yang rapi. Gadis itu memandang Rhein dengan tatapan sendu. Lebih cepat pemuda itu pulang, lebih baik untuk kondisi hatinya yang saat ini sudah tidak karuan rasanya. Rhein mengusap mukanya kemudian tangannya beralih ketengkuk, sedikit mengusap disana lalu menatap Jasmine. Diberikannya senyum termanis berharap gadis itu akan luluh. "Aku kan baru sebentar disini. Kita aja belum ngapa-ngapain selain sholat". "Emang kamu mau ngapa-ngapain? Bukannya tadi cuma mau nganter doang. Sekarang mau apa lagi?" Rhein mendengus. "Idih, Jas. Sadis amat sih. Segitunya mau aku pulang. Aku kan belom tanya-tanya. Apalagi tentang tetanggamu itu tadi." Alis Jasmine naik sebelah. Sejak kapan pemuda itu berganti selera, apalagi sama kak Eli, yang pekerjaanya... ah, dia tidak tega menyebutkannya. Karena mereka tertangga dan wanita itu selalu baik, Jasmine tetap akrab dengan Eli. "Kamu suka kak Eli? Kasian pacarmu, Rhein." "Pacar apa? "Kata pemuda itu dengan wajahnya yang tiba-tiba merah. Ciri khas Rhein kalau ketahuan melakukan sesuatu yang membuatnya malu. Jasmine seakan tak percaya menemukan kembali raut wajah pemuda itu setelah sekian lama walaupun heran kenapa Rhein tampak malu-malu. Bukankah sejak lama dia dan July jadi sepasang kekasih? Hening agak lama setelahnya, lalu Rhein memutuskan untuk melihat sekelilingnya. Kembali rasanya tenggorokan tercekat. Benarkah Jasmine menghabiskan hari-harinya ditempat ini sendirian? "Jasmine..kamu betah disini?" Jasmine menghela napasnya, lalu menundukkan wajahnya. Sebisa mungkin ia menahan rasa pedih dan malu mengingat kondisinya saat ini memang jauh dari kata layak. "Jasmine jangan begitu, aku cuma tanya kamu betah atau nggak. Aku nggak ada maksud lain. Aku serius.. jangan begini." Pemuda itu mencoba meraih lengan Jasmine yang tertutup kepalanya. "Hei..." Rhein menyibakkan beberapa helai anak rambut, yang kemudian menyebabkan Jasmine mendongak perlahan ke arahnya. Wajah mereka bertatapan. Mata mereka bertemu dan beradu walau dalam keheningan yang menyesakkan d**a gadis itu. Sesak mengetahui bahwa mereka berada dalam jarak sedekat itu. Sesak juga menyadari bahwa ada July diantara mereka. "Jasmine yang aku tahu selalu semangat. Yang punya cita-cita mengalahkan matahari. Aku masih ingat banget kata-katamu waktu kita SMA. Kamu juga mau melanjutkan kuliah karena dapat jalur undangan. Kamu hampir jadi psikolog andai saja..." Ucapan Rhein terhenti karena tak disangka anak sungai menggenak dipelupuk mata berbulu lentik milik gadis itu. Jasmine menangis tanpa suara, sebuah tangisan yang tidak direncanakan olehnya. Tangisan yang begitu saja meluncur saat pemuda itu mengingatkan tentang cita-citanya yang terpaksa kandas. Padahal Jasmine adalah anak yang pandai. Saat itu ia selalu mendapatkan peringkat pertama disekolah. Ketika pengumuman lulus jalur undangan menyatakan dirinya diterima di universitas negeri kebanggaan di ibukota,Tuhan berkehendak lain. Ayahnya kemudian meninggal. Jasmine harus rela mengubur semua mimpinya demi bisa bertahan hidup. "Aduh...maaf Jas. Aku salah omong. Bukan maksudku,aduh gimana ini.. maaf. Jangan nangis dong". Pintanya gugup. Seraya sesenggukan, Jasmine mencoba menghapus air matanya, namun Rhein lebih cepat, dia yang menghapus bulir air mata itu dengan ujung jarinya. "Aku beneran minta maaf kalau ucapanku menyakitkan. Sungguh nggak bermaksud membuat kamu sedih. Aku sudah berusaha biar kita bisa seperti dulu,Jas. Memang sekarang aku sadar keadaan kita nggak sama. Kamu mungkin harus bejuang sendiri sementara aku, lihatlah nggak ada yang perlu dicemaskan dari aku. Aku cuma belum terbiasa melihat Jasmine yang seperti ini. Aku berharap bisa nolong kamu lebih dari ini, tapi aku yakin kamu nggak mau dibantu melebihi apa yang aku inginkan dan aku menghormati itu. " "Maafin aku,Jas..." kata Rhein yang entah sudah keberapa kalinya dia ucapkan. "Nanti aku traktir cilok,kamu masih mau?" Tawa berderai diantara tangis Jasmine. Rhein masih ingat makanan kesukaannya. Mau tidak mau ia mengangguk. Rasanya memang agak memalukan menangis begini saat pemuda itu mengingatkan kembali tentang cita-cita yang mustahil ia gapai lagi. Bukannya Jasmine tidak ingin kuliah, tapi semakin lama penyakitnya menggerogoti daya ingatnya. Membuat Jasmine mudah lupa akan hal-hal penting. Kadang ia ingin mencoba mencari pekerjaan lain atau berusaha mendapatkan beasiswa. Namun niat itu diurungkannya. Menjadi pelupa dan agak ceroboh karena keseimbangan tubuhnya yang kadang kurang stabil menyebabkan alasan ia tidak berniat melakukan hal itu lebih lanjut. Sehingga selama beberapa tahun Jasmine tetap bertahan dengan pekerjaan ini, karena tidak membutuhkan banyak pikiran, dan kegiatan bersih-bersih adalah hal termudah yang ia dapat lakukan. "Oke aku mau cilok". Kata Jasmine. "Sip. Besok aku kesini ya, sambil bawa cilok." Jasmine menatapnya heran. "Kamu nggak perlu datang tiap hari. Kapan-kapan aja, Rhein. Kamu juga harus kerja. " Rhein tertawa. "Aku nggak ngantor juga, perusahaanku nggak bakal bangkrut. Hei, jangan pasang muka minder begitu lagi. Aku nggak suka. Aku harus sering keluar seperti ini, Jas. Dan juga perusahaanku lebih banyak berhubungan dengan dunia maya. Transaksi online. Jadi yah, kadang aku nggak perlu terikat harus duduk dikantor. Meeting juga kadang ditempat nongkrong". Makanya kamu sering keluyuran bareng July "Jas, aku minta pin BB mu..atau WA ato Line dong, biar bisa hubungi aku kalo kamu ada apa-apa. Nggak enak banget tahu kabar kamu dari Wantok, tau-tau kecelakaan. " "Kenapa Wantok bisa kasih tahu kamu?" Tanya Jasmine penasaran. "Ehm.. itu sih..anu.. Aku suruh dia buat ngawasin kamu kalo ada apa-apa." Ih, Wantok awas kamu! "Matamu itu kelihatan banget ya nggak seneng aku nyari tau tentang kamu? Makanya tadi kasih pin BB atau WA kek." "Nggak ada." "Lha, nggak ada gimana? Kamu nggak mau kasih aku, Jasmine sok jual mahal ih." "Emang nggak ada, Rhein. Adanya cuma nomor hape buat telepon atau smsan. Hapeku nggak bisa selain itu." Jasmine mengeluarkan ponsel Nokia kecil pemberian ayahnya bertahun-tahun lalu. Rhein tersenyum. Ia ingat beberapa tahun yang lalu saat Jasmine memamerkan ponsel yang saat ini berada dihadapannya. Pada jamannya ponsel ini banyak dicari. Tapi saat ini, sudah tidak banyak lagi yang memakainya. Tanpa ditanya pun ia merasa sudah tahu mengapa Jasmine mempertahankan ponsel itu. Kenangan atau memang tidak ada biaya bisa saja jadi alasan. Dia sudah pernah bertanya pada Wantok tentang gaji mereka. Bisa disebut tidak layak,namun untuk tamatan SMA hal itu sudah lebih baik dibandingkan banyak pemuda yang masih menganggur atau banting stir jadi pedagang. "Ya udah. Kasih nomornya aja ya,Jas. " Jasmine mengangguk. Saat ini dengan Rhein dalam posisi sedekat ini, lalu dengan ia datang mengantar dirinya, mengetahui bagaimana bentuk ponselnya, tahu kondisi konntrakannya ia merasa sebaiknya tidak perlu lagi merasa malu. Sebisa mungkin ia mencoba menjauh, pemuda itu malah berusaha membuat hubungan mereka kembali seperti dulu. Ia berharap July bisa mengerti, bahwa sesungguhnya Jasmine sudah mencoba menghindar. Namun Rhein masih gigih mencoba. Biarlah. Mungkin setelah ini,pemuda itu tidak perlu lagi mencari-cari informasi dari Wantok yang jelas-jelas kadang memberikan informasi ngawur bin tidak akurat. Namun gadis itu tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian mungkin bisa saja mengubah hubungannya dengan Rhein dimasa yang akan datang. *** Hari ketiga pasca kecelakaan kondisi Jasmine semakin membaik. Luka lecat ditubuhnya perlahan mengering, dan ia tidak lagi berjalan terpincang- pincang saat berjalan. Di hari itu juga ia memutuskan untuk kembali bekerja karena Jasmine berpikir terlalu lama berada dirumah menyebabkan badannya pegal-pegal dan ia merasa tidak ada kegiatan lain yang harus dilakukan. Beberapa kali Rhein menelepon atau mengiriminya SMS yang dijawab Jasmine sekadarnya. Pemuda itu seperti biasa menganggap Jasmine masih seperti teman kecilnya yang dulu, sementara Jasmine terus-menerus berpikir apa yang akan terjadi pada July kalau ia mengetahui mereka sudah mulai sering berkomunikasi. Seperti yang terjadi saat Jasmine hendak berangkat kerja. Rhein mengiriminya SMS. Udah berangkat? Udah sarapan tadi? Makan apa? Pesan itu hanya dibaca oleh Jasmine. Selain ia terburu-buru, pulsanya juga tidak banyak lagi untuk membalas SMS Rhein. Ia berharap pemuda itu mengerti akan kondisinya. Lagipula pertanyaan seperti itu lebih pantas ditanyakan pada seorang kekasih daripada teman masa kecil yang seharusnya tidak ada hubungan apa-apa dengannya lagi. Merasa tidak mendapatkan balasan atas pesan yang dikirimkannya, Rhein yang sedari tadi menunggu memutuskan untuk menelepon Jasmine yang saat ini sedang berlari-lari kecil mengejar angkutan umum yang masih menunggu penumpang di halte. Ia sempat mendiamkan saja ponselnya bergetar beberapa kali sebelum memutuskan untuk mengangkat telepon itu ketika ia sudah mendapatkan tempat duduk. "Assalamualaikum, kenapa Rhein?" "Waalaikumussalam. Sudah berangkat,Jas? " "Sudah. Ini lagi diangkot." Jawab Jasmine. "Kenapa SMS ku nggak dibalas tadi?" Jasmine menghela napasnya sebelum ia bicara lagi. "Pulsaku nggak cukup buat balas SMS, Rhein. Maaf ya. Ntar gajian aku isi pulsa lagi, biar bisa balas SMS mu. " " Oke, Jas. Kamu hati-hati yah. Jaga kesehatan." Kata Rhein. "Iya. Makasih." Balas Jasmine. "Sudah makan?" Tanya Rhein. Jasmine menggeleng seolah pemuda itu ada dihadapannya. "Belum. Nanti aja dikantor. Nggak biasa makan pagi sejak kerja. Suka mules." Suara tertawa terdengar dari seberang. "Aku ngebayangin kamu ngeden,Jas." "Iih..apaan sih!" Balas Jasmine malu. "Dasar Rhein. Bukannya kamu kalo buang air bau banget." "Iyalah bau, kan beol. Hahaha" Selagi mendengar suara Rhein, Jasmine samar mendengar ada suara lain didekat pemuda itu, yang ikut tertawa. Ia yakin kalau itu adalah suara July. Tidak aneh bahwa Rhein pastilah sedang mengantar July kekantor. Mau tidak mau satu sudut dihatinya berdenyut sakit. Bahkan Jasmine tidak sadar menyentuh dadanya yang terasa agak sesak. "Rhein, udah dulu ya. Aku mau sampai. Bentar lagi turun." Putusnya. "Oh, sudah mau sampe. Ya udah. Hati-hati turunnya. Liat kiri kanan." "Iya, Rhein cerewet. Makasih ya". Jasmine memutuskan sambungan telepon itu sambil memandangi layar ponselnya yang masih menyala dengan perasaan gamang. Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk dan ia membukanya. Alisnya naik ketika mendapati kode tanda pengisian pulsa yang masuk. Terkejut, Jasmine hampir tidak percaya jumlah nominal yang mampir ke ponselnya. Disana tertera angka satu juta rupiah yang membuat jantungnya hampir copot. Bahkan ponselnya saja dihargai tak sampai seratus ribu rupiah. Siapa yang mengiriminya pulsa? Apakah Rhein? Pertanyaan itu terjawab beberapa saat kemudian, pesan dari pemuda itu datang. Aku isiin kamu pulsa. Jangan marah. Diterima aja. Gara-gara aku pulsa kamu habis. Nanti aku mampir ke kantor. Kamu jangan kabur. Awas ya. Jasmine menggaruk kepalanya yang terasa gatal. Pulsa satu juta rupiah bukan jumlah yang sedikit. Biasanya orang dikirimi pulsa lima atau sepuluh ribu. Memangnya dia tukang jualan online yang harus standby merespon pelanggan, sehingga pulsa banyak, kuota data yang tak kalah banyak adalah sebuah keharusan. Tapi dia kan cuma seorang office girl yang kurang suka bertelepon atau SMS yang tidak perlu. Jadi maksud pemuda itu mengirimi pulsa sebanyak itu untuk apa? Tanya Jasmine dalam benaknya. Jasmine tidak sempat berpikir lebih banyak lagi. Angkot yang ia tumpangi hampir sampai ke tujuannya. Ia harus segera turun, jika tidak ingin kelewatan. "Gedung Menara Panjang kiri ya pak. " ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN