Jasmine tidak dapat mempercayai penglihatannya pada saat ini. Namun yang terjadi benar-benar membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Rhein tengah menatapnya dengan pandangan yang cemas, hal yang terus ia lakukan sejak kedatangannya 10 menit yang lalu.
Pemuda itu tiba dengan July tidak lama setelah bu Tanti menerima panggilan dari wanita itu. Tak lama kemudian keduanya sudah berada didepan pintu ruang perawatan. Begitu melihat kondisi Jasmine, Rhein langsung mendekatinya dan sibuk menanyakan sesuatu tentang kondisinya. Sementara July tersenyum dengan tulus padanya.
" Masih sakit?" Tanya Rhein.
Jasmine menggeleng. Entah sudah berapa kali dia melakukan hal yang sama sejak pemuda itu datang. Namun sepertinya Rhein seakan lupa dan terus bertanya.
" Kalau kamu nanya begitu terus, Jasmine malah sakit kepala beneran loh, Rhein." Kata July. Ia kemudian bertatapan dengan bu Tanti yang mau tidak mau tersenyum juga.
Rhein kemudian menggaruk-garuk kepalanya seakan menyadari kekonyolan yang baru saja ia lakukan.
" Mau gimana lagi, aku kaget tau-tau liat Jasmine begini. Orangnya juga nggak ngabarin aku sama sekali. "
Jasmine mengerucutkan bibirnya mendengar kata-kata Rhein. Dalam hatinya ia sangat gembira mendapati bahwa Rhein menemuinya walau kondisinya seperti ini. Rhein bahkan kentara sekali terlihat panik dan cemas. Bulir-bulir peluh masih terlihat menetes didahinya. Jasmine yakin, pastilah tadi pemuda itu berlarian mencari ruang perawatan tempatnya dirawat sekarang.
Sementara dibelakangnya, Jully tampak anggun walau jelas terlihat dia tampak tidak nyaman. AC ruang tempat Jasmine dirawat memang tidak terlalu maksimal dinginnya. Namun tidak mengurangi satu milimeter pun kecantikannya. Saat ini pandangan mata Jully terpaku pada telepon genggam yang sedari tadi ia utak-atik. Apakah ia merasa bosan, apalagi sekarang perhatian Rhein terpaku padanya. Ah, Jasmine merasa sangat tidak nyaman.
" Lain kali segera kabari aku kalau ada apa-apa ya, Jas. Jangan seperti ini. Aku cemas banget tau. Apalagi aku tahu dari orang lain." Kata Rhein.
Rhein tahu dari orang lain? siapa yang memberi tahu, pikir Jasmine.
" Jasmine.." Panggil Rhein. Gadis itu menoleh. Ia merasa sangat tidak enak karena pemuda itu jelas-jelas mengkhawatirkannya.
" Aku cemas loh. Kamu harusnya bisa kasih tahu aku kalau ada apa-apa. Jangan seperti ini. "
Rhein mencemaskannya. Ia sudah tahu hal itu sejak beberapa menit yang lalu. Tapi memberi tahu Rhein tentang apa yang ia alami apakah menjadil hal yang wajar, terutama saat ada July disampingnya?
Nada dering ponsel mengagetkan mereka, apalagi segera July bangkit dan keluar dari ruang perawatan Jasmine sambil berbisik ia akan memjawab panggilan tersebut diluar saja. Rhein mengangguk, lalu kembali memfokuskan dirinya pada Jasmine.
" Kamu bicara dong, jangan diam kayak gini. Akunya juga jadi bingung mau ngomong apa lagi. Kalo aja aku nggak mampir kekantor July tadi, aku nggak bakal tahu kalau kamu kecelakaan. "
Kan, pada akhirnya, dirinya bukan skala prioritas Rhein. Ia hanya berkunjung untuk July, kemudian menyadari bahwa Jasmine mengalami kecelakaan. Jasmine terlalu awal untuk merasa bahagia walau hanya sesaat.
"Rhein aku pulang duluan nggak apa-apa? " kepala July tiba-tiba muncul membuat mereka menoleh. July menunjuk handphonenya, lalu Rhein bangkit mendekati gadis itu. Mereka bicara dengan suara pelan. Jasmine menghela napasnya saat menyadari bahwa mereka berdua seperti ditakdirkan satu sama lain. Rhein yang tampan dan July yang secantik bidadari. Sampai kapanpun dia tidak akan bisa mendapatkan perlakuan lebih seperti yang July dapatkan.
" Jasmine," suara July menyadarkan gadis itu. Jasmine menoleh dan mendapati July sudah mendekatinya, tanpa canggung memeluknya.
" Maaf nggak bisa lama, aku harus balik duluan. Ini ada beberapa kebutuhan kamu, tadi kita mampir di supermarket siapa tahu kamu butuh baju ganti atau daleman. Cepat sembuh ya, Jasmine. Biar bisa ngobrol lagi.."
Jasmine tau, kata 'mengobrol' yag diutarakan July hanya basa-basi. Mereka hampir tidak pernah mengobrol. Kalaupun sempat bertemu, yang ada malah Jasmine yang salah tingkah dan sibuk berpikir bagaimana caranya melarikan diri dari obrolan itu. Walaupun sebenarnya dia merasa tidak enak. July sesungguhnya memang baik dan berhati emas. Ia bahkan ingat kalau Jasmine hidup sebatang kara, tidak akan ada yang menemaninya dirumah sakit, sehingga ia sempat membelikan keperluan gadis itu tanpa diminta.
" Mbak July nggak usah repot-repot. Aku habis ketemu dokter rencanany mau pulang,kok." Katanya pelan yang langsung dipotong oleh Rhein yang menatapnya tajam.
" Yang bener aja kamu mau pulang, Jas." Katanya, membuat gadis itu takut-takut menatapnya. Dengan cepat Jasmine menolehkan pandangan ke ibu Tanti yang sekarang seolah-olah mengatakan Tuh kan apa kubilang tadi. Tidak butuh waktu lama malah perempuan itu menimpali ucapan Rhein.
" Tadi udah saya bilangin, Mas. Ini aja si Jasmine bandel banget. Dia nekat loh."
" Aku nggak nekat, bu. Kan nggak parah ini. Aku ngerasa nggak nyaman lama-lama di rumah sakit." Bisik Jasmine lirih.
" Kita belum dengar kata dokter apa. Lagipula tadi kamu muntah. Siapa tahu gegar otak. Kalo kamu pulang, malah nggak ada siapa pun yang bisa nolong. "
Hampir saja bola mata Jasmine keluar. Apa bu Tanti sadar, barusan ia hampir membocorkan rahasia gadis itu. Bagaimana kalau Rhein sampai tahu tentang penyakitnya. Bukankah muntah yang tadi itu adalah hal yang biasa.
" Jasmine, lebih baik istirahat disini.." Suara July menyadarkannya. " Nanti Rhein bakal sering menjenguk kok." Katanya, yang tentu saja membuatnya tambah tak enak walau jelas karena ucapannya, Rhein malah mengangguk tanda setuju.
Ia harus berbuat apa? Biaya rumah sakit memang ditanggung perusahaan. Tapi rasanya dirumah lebih baik. Masalah istirahat, bukankah sama saja. Lagipula orang-orang tidak perlu tahu apabila ia harus berteriak menahan sakit yang tiba-tiba kambuh.
"Ibu Jasmine"
Suara ramah perawat menyadarkan gadis itu, Rhein beserta July dan bu Tanti ikut menoleh.
"Iya, Suster"
"Dokternya sudah datang. Mau kesini. Keluarganya yang mau tunggu satu orang saja, yang lain boleh tunggu diluar sebentar ya."
Kemudian diantara mereka bertiga, July yang bersuara lebih dulu. "Aku pulang ya,Jas. Dengerin apa kata dokter yah. Cepet sembuh.."
Jasmine tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Ibu Tanti pun rupanya hendak pamit, maka bersama July mereka pulang terlebih dahulu meninggalkan Jasmine bersama Rhein.
"Kalau kamu disini, setidaknya kalau ada apa-apa, lebih cepat ditangani. Sementara kalau kamu pulang, siapa yang bantu kamu. Aku nggak yakin bangun dari tempat tidur juga kamu nggak sanggup" Kata Rhein. Jasmine menggelengkan kepalanya.
"Aku kan nggak selemah itu."
"Aku tahu kamu nggak lemah,Jas. Tapi sekali aja, please dengerin omonganku. Aku susah nggak tahu kabarmu. Kemudian yang aku dapati kamu terkapar seperti ini. Bukan aku nggak tahu kamu mencoba menghindari aku. Apa segitu nggak maunya kamu terlibat sama masa lalu kamu sampai melihat aku pun kamu nggak mau"
"Aku nggak bilang begitu kok. Siapa bilang aku nggak mau deket lagi sama kamu"
"Terus kenapa kamu menghindari aku,Jas?"
Karena kamu pacar July, bodoh!
***
Hari sudah lewat magrib saat mobil yang Rhein kemudikan berhenti di perkampungan padat penduduk. Saat ini Jasmine sudah berkali-kali menghela napasnya dengan berat. Pemuda itu bersikeras mengantarnya pulang setelah dokter memberikan ijin untuk Jasmine agar bisa dirawat dirumah. Dengan segala upaya menolak yang akhirnya gagal, Jasmine menyerah dan membiarkan pemuda itu mengantarnya setelah terlebih dulu menyelesaikan administrasi rumah sakit. Dan disinilah mereka. Sementara Jasmine dengan wajah ditekuk, Rhein malah senyum-senyum tidak karuan. Sebentar lagi ia akan tahu tempat tinggal gadis itu.
"Yuk" kata Rhein sambil mengulurkan tangannya untuk menggendong Jasmine.
"Eeeh.. mo ngapain? tadi nggak ada beginian pas dirumah sakit" kata Jasmine gugup. Ia yakin sekarang wajahnya semerah tomat. Apa maunya pemuda itu, coba? Menggendongnya sampai ke kontrakan dengan resiko dilihat semua orang? Yang benar saja.
"Gendong kamulah. Kalau tadi kamu kan pake kursi roda, lah disini, siapa jamin kamu kuat."
"A..a..aku.. kuat kok, Rhein! Jangan begini..."
Rhein menggeleng pelan, setelah meraih bungkusan obat milik Jasmine, ia meraup gadis itu kedalam pelukanya, dan sekejap saja Jasmine sudah terangkat, walau sedikit berontak.
"Rhein..." Jasmine panik.
Anehnya walau memberontak,tubuh Jasmine terasa sangat ringan bagi pemuda itu. Kelewat ringan malah sehingga mau tidak mau ia sedikit cemas. Matanya menatap tepat ke dalam mata Jasmine.
"Makin kamu berontak, aku makin semangat buat gendong kamu sampai kerumah. Yang pasti tetangga kamu bakal mikir yang iya -iya daripada yang nggak- nggak tentang kita. Kamu beneran mau ditonton mereka?
Jasmine menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu diam dan turuti saja aku."
Maka, sambil sekali lagi menghela napasnya, Jasmine kemudian menuruti apa yang diinginkan pemuda itu. Sesekali ia menunjukkan arah mana yang harus dituju sambil sedikit bersyukur karena hari yang mulai gelap, menyebabkan banyak orang lebih memilih masuk kerumah masing-masing atau menjalankan ibadah sholat magrib.
Tak lama,tibalah mereka di petak kontrakan tempat tinggal Jasmine. Mata Rhein sempat terlihat terkejut mendapati kondisi sekeliling mereka yang jauh dari kata layak untuk ditinggali. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi terpaksa ditahan karena Jasmine mau membawanya kesitu saja sudah merupakan kemajuan.
"Kuncinya mana?" Kata Rhein.
"Kamu turunin aku dulu."
Rhein menurut. Lalu menurunkan Jasmine dari gendongannya. Saat Jasmine merogoh saku celananya, seseorang muncul dari pintu kontrakan sebelah rumah gadis itu.
"Adek baru balik? Kakak tungguin dari tadi. Kirain lembur.. lah ini siapa ganteng amat. Pacarnya ya? Eleeeuh eleeuh nggak ngasih tau nih."
Suara nyablak khas perempuan Jakarta mengiringi rambang senja itu, Jasmine tersenyum saat ia menemukan kuncinya, lalu segera memasukkan ke dalam lubang kunci. Sementara Rhein tersenyum menanggapi pernyataan itu.
"Ini temen aku sejak kecil, Kak. Tadi nolongin Jasmine nganter dari rumah sakit"
"Eh, elu sakit, Dek?"
"Keserempet tadi,Kak".
"Ya Allah... muka elu bengkak begini." Kata wanita itu sambil memeriksa wajah Jasmine yang memar. "Itu yang nabrak kagak digebugin apa gimana? Kurang ajar banget"
Jasmine meringis antara ingin tertawa dan menahan rasa sakit akibat dipegang tetangganya ini.
"Nggak lah kak. Udah kabur dia."
"Kabur gimana? Coba kamu kasih tahu kakak. Berapa plat nomernya. Langganan kakak nih ada yang abangnya polisi. Biar kita kasih pelajaran, enak aja nabrak anak orang".
Klik. Pintu kontrakan Jasmine terbuka. Ia sempat bicara sebelum memutuskan untuk masuk dan menyalakan lampu.
"Kak Eli ni baik banget. Tapi nggak usah kak, makasih. Emang Jasmine yang salah, tadi bengong aja dijalan. Makanya terserempet. Makasih ya udah perhatian. Jasmine masuk dulu ya."
Wanita yang bernama Eli itu menggelengkan kepalanya sementara Jasmine mengajak Rhein masuk. Sebenarnya ia ingin pemuda itu pulang, tapi karena kehadiran Eli, dan ia merasa tidak enak harus mengusir pemuda itu, terpaksa ia membawanya masuk.
"Rhein masuk. Maaf ya cuma begini keadaannya."
Gadis itu tertatih menuju dapurnya yang sempit. Tidak bisa dikatakan dapur, karena sebenarnya kontrakan Jasmine adalah kontrakan 1 kamar berukuran 3x3 meter persegi yang untuk dapurnya ia batasi dengan sebuah lemari kain yang mulai pudar warnanya.
Ia mengambil sebuah cangkir dan teko berisi air lalu membawanya ke arah kamar. Pintu kontrakannya masih terbuka dan Eli masih berada didepan kontrakannya menatap Rhein dengan raut kebingungan.
"Rhein,sini" panggil gadis itu, dan Rhein menuruti.
"Duduk disini aja nggak apa-apa,ya. Sempit soalnya".
Rhein langsung duduk dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Hatinya terasa pedih membayangkan gadis itu harus hidup dengan kondisi memprihatinkan. Dulu kehidupan Jasmine sangat berkecukupan. Sejak ia memutuskan tinggal sendiri, sungguh Rhein jadi terkejut. Betapa kuat Jasmine menjalani semuanya sendiri.
Kasur Jasmine tampak tipis walau ditutupi alas yang bersih. Hampir tidak ada apapun disana, termasuk televisi. Hanya sebuah meja dan setumpuk buku. Diantaranya ada buku panduan sholat wajib dan kunci ibadah. Ada satu pigura dengan foto berukuran 3x4 yang Rhein sangat tahu itu adalah ayah Jasmine.
"Kak Eli mau masuk?" Ajak Jasmine yang menyadari Eli masih berada disana.
"Nggak lah ,dek. Kakak mau siap-siap kerja. Udah waktunya kakak dinas. Udah dulu ya. Nanti kakak balik bawa makanan buat kamu" katanya sambil berlalu. Jasmine segera menolak dengan halus.
"Makasih,Kak. Jasmine udah makan tadi."
"Ck.. selalu ye kalo mo dibeliin nolak terus."
"Bukan nolak kakakku sayang. Beneran udah kenyang tadi. Kalo nggak percaya tanya deh dia"
Eli menatap Jasmine dengan setengah kesal. Kemudian ia mengangguk dan berlalu dari tempat itu.
Setelah itu tinggalah mereka berdua disana. Rhein yang entah mengapa menjadi grogi mencoba berdeham seolah melancarkan tenggorokannya yang terasa agak gatal. Sementara Jasmine, dengan kikuk menoleh pada sebuah jam kecil yang terpasang di atas meja kayu disamping tempat tidurnya. Masih ada waktu untuk menunaikan sholat magrib,pikirnya. Lalu dengan tertatih ia memutuskan untuk mengambil wudhu di tempat wudhu depan kamar kontrakannya. Rhein yang semula bingung, kemudian tersenyum kecil saat ia keluar dari kamar Jasmine dan mendapati apa yang sedang gadis itu lakukan saat ini adalah berwudhu.
"Kamu mau sholat,Jas?"
Jasmine yang baru saja menyelesaikan wudhu mengangguk.
"Iya. Kamu sudah sholat?"
"Belum... kita sholat bareng,ya. Masih muat kan?"
Jasmine menoleh kearah kamar,lalu berpikir sejenak.
"Bisa sih, asal kasurnya diangkat. Kamu wudhu aja. Nanti aku siapin tempatnya."
Rhein tersenyum dengan menampakkan raut wajah tertampannya, yang tentu saja membuat jantung Jasmine berdetak tidak karuan.
Ah, ini bukan mimpi,kan? Bisa sholat magrib bersama Rhein?