Bau klorin yang menjadi ciri khas rumah sakit, samar- samar menyadarkan Jasmine. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian menyadari sesuatu yang menyengat dan rasa panas yang menyakitkan berasal dari dahi,tangan dan kakinya. Dengan pelan ia meraba kepalanya dan menemukan kassa yang menempel erat disana. Ia juga menemukan beberapa perban dan bekas cairan seperti betadine di sekujur tangannya.
Jasmine menghela napasnya. Ia teringat apa yang telah terjadi. Kilasan saat ia tertabrak motor dan kantung berisi makanan titipan para staf yang terlempar begitu saja.
Oh tidak, mereka pasti menunggunya.
Jasmine berusaha bangkit, tapi kepalanya terasa berat saat ia duduk. Tiba -tiba saja seorang perawat masuk dan membantunya kembali berbaring.
" Ibu Jasmine, belum boleh bangun..."
" Tapi suster, belanjaan saya tadi... nanti saya dimarahi." Katanya panik. Perawat itu menggeleng.
" Ibu baru saja mengalami kecelakaan, nanti kepalanya tambah pusing. Dokternya belum datang, jadi ibu belum bisa diperiksa dulu. Untuk sekarang ibu lebih baik tiduran, sambil menunggu dokter. Kepala ibu kan cedera, kalau nanti ketahuan gegar otak bahaya, Ibu berbaring dulu."
" Tapi saya harus kerja, Sus. Nanti saya dipecat".
Sang perawat tersenyum mendengar keluhan Jasmine.
" Iya. Sabar ya, Ibu. Diluar ada kok teman ibu. Tadi dari UGD yang menghubungi beliau. Kebetulan pas waktunya saat handphone ibu ada yang menghubungi."
" Siapa, Sus?"
" Nanti beliau kesini, tapi sekarang kita cek tensi dulu ya.Maaf ibu, tangannya mungkin akan kurang nyaman..."
Jasmine menurut saat sang perawat memeriksa tekanan darahnya. Walau didalam hatinya ia cemas, apakah para pegawai yang sedang menunggunya saat ini tahu kondisinya? Lagipula ia ingin tahu sudah berapa lama ia berada di tempat ini. Lalu siapa yang menunggunya diluar?
Rasa penasaran itu terjawab saat ia melihat sosok ibu Tanti, supervisornya yang memang cukup akrab dengan Jasmine. Setelah perawat berlalu dari ruangan itu, bu Tanti masuk ke dalam ruang perawatan Jasmine kemudian duduk dibangku pengunjung yang berada di samping tempat tidur gadis itu.
" Sakit ya,Jas?" Katanya prihatin sambil memegang tangan Jasmine yang tidak luka. Jasmine mengangguk.
"Sakit, bu. Kan abis ketabrak." katanya pelan.
Bu Tanti tersenyum, tangannya mengelus jemari Jasmine yang tadi dipegangnya.
" Iya ibu tahu. Kamu pokoknya banyak istirahat saja. Nggak usah dulu pikirin kantor. Masih banyak temen yang bisa gantiin. Oh, iya. Nanti sore baru teman-teman bisa menjenguk. "
" Makasih, bu. Maaf jadi ngerepotin" Kata Jasmine dengan malu-malu. Bu Tanti menggeleng pelan.
" Nggak udah gitu, Jas. Ibu malah salut sama kamu, apa-apa sendiri. Kalau bukan sesama kita, siapa lagi yang bantu? "
" Nah, lupa. Ini ada makanan kecil. Dimakan ,yah." Kata wanita itu, menunjukkan sebuah tas kertas,dan meletakkannya di nakas logam disamping tempat tidur Jasmine.
" Aduh,bu Tanti, ngerepotin banget. Jasmine jadi nggak enak."
Wanita itu kembali menggeleng.
" Sudah ah, Jasmine. Nanti kamu makan ini kalo perut kamu laper. nggak usah begitu. Toh, kamu sendirian disini. Kalau tiba-tiba kelaparan kan susah. "
Jasmine menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis. Benar kata bu Tanti kalau ia sendirian. Dalam kondisi seperti ini, pastilah semuanya serba terbatas. Luka yang ia alami sepertinya tidak parah. Apakah boleh kalau dia memutuskan untuk rawat jalan saja? Bukankah biaya rumah sakit sangat mahal.
" Ibu, Jasmine boleh minta tolong,nggak?"
" Kenapa,Jasmine?" kata bu Tanti.
Jasmine bimbang untuk bicara, namun walau tersendat, dipaksanya berbicara dengan jujur.
" Kayaknya Jasmine mau pulang saja, Bu. Cuma luka lecet begini, dikasih obat merah sama antiseptik aja sendiri dirumah, cepet kok sembuhnya. Ibu bisa tolong Jasmine nggak bilangin ke perawat."
Bu Tanti menatapnya cemas.
" Ya ampun, Jasmine. Siapa bilang kamu itu baik-baik saja? Kepala kamu itu dijahit delapan jahitan, Kaki sama tangan kamu ini, kelihatannya aja nggak apa-apa. Ini bagian yang nggak diperban sudah mulai biru dan memar. Apa kamu bisa ngapa-ngapain sendiri dirumah?"
Jasmine mengangguk pelan.
" Iya, bu. Nggak apa- apa kok. Jasmine kayaknya nggak sanggup bayar biaya pengobatan ini. "
Gadis itu menangkupkan tangan ke wajahnya, berusaha menahan tangis.
" Dirumah pun nggak apa-apa".
Bu Tanti ikut berkaca-kaca melihat kondisi Jasmine seperti itu. Ia tahu betul bagaimana kondisinya. Bahkan, dirinya adalah satu-satunya orang yang diberitahu oleh Jasmine tentang penyakitnya. Bagaimana gadis itu mesti berhemat. Sering ia melihat Jasmine duduk menyendiri saat makan siang, dan ia dapati Jasmine hanya makan nasi dengan lauk telur dadar dan kecap manis. Bahkan ia merasa terenyuh melihat kondisi gadis itu sekarang, sendirian di rumah sakit tanpa ada seorang pun anggota keluarga yang menemaninya.
" Jangan dipikirin biaya rumah sakit. Kita kan ada asuransi pekerja. Pengobatan kamu ditanggung semua. Sekarang fokus aja buat sembuh dulu..."
Jasmine mengerjapkan kelopak matanya yang basah. Kata - kata bu Tanti menyadarkannya. Tentu saja ada asuransi untuk pegawai. Tapi bukankah ia akan kerepotan kalau benar harus menginap dirumah sakit. Ia sama sekali tidak membawa pakaian ganti. Pasti tidak nyaman rasanya apalagi pakaian dalamnya entah berapa lama harus ia pakai.
Andai ada ibunya disini, pasti ibu akan membawakan semua keperluan Jasmine. Seperti yang ia sering lakukan pada ayahnya dulu.
Tiba-tiba saja Jasmine merindukan ibunya.
Apakah ibu akan datang, kalau aku beritahu? pikirnya. Namun segera ia menepis harapan palsu itu. Ibunya tidak tahu sama sekali akan keadaannya. Mana mungkin ia akan menjenguk Jasmine.
Ia menghela napasnya dengan berat. Kemudian ia menyadari bahwa kepalanya berdenyut dengan intensitas lebih dari biasanya. Ia tahu bahwa rasanya mungkin akan bertambah tidak nyaman dengan adanya beberapa jahitan dikepala. Lalu rasa mual yang tiba-tiba mendesak dari perutnya, menekan hendak keluar dari kerongkongannya. Ia berusaha menahannya ketika ibu Tanti terlihat panik dan berusaha membantu, beliau menemukan sebuah wadah dibawah tempat tidur dan membantu Jasmine mngeluarkan isi perutnya.
Isinya cairan yang terasa amat pahit dimulut gadis itu. Peluh membasahi dahi dan sekujur tubuhnya saat rasa mual kedua menghantamnya kembali. Kali ini, air matanya terpaksa ikut jatuh seiring rasa sakit yang terus menderanya.
Bu Tanti mengelus pelan punggung Jasmine, mengangkat helaian rambut yang menjuntai di sekitar wajahnya, saat ia muntah. Setelah beberapa saat, Jasmine berhenti muntah, beliau membantu Jasmine kembali bersandar di tempat tidur yang sudah disetting dalam posisi duduk.
Setelah menyodorkan tissue pada Jasmine, wanita itu bertanya dengan pelan.
" Sakitmu bertambah parahkah, Jas?"
" Nggak tau,bu. Sudah lama nggak periksa. Cuma beberapa hari ini lumayan sering."
" Kita sekalian cek, ya? Kali aja ada hubungan sama benturan, takutnya ada yang kena juga. "
Jasmine yang sedang memejamkan matanya karena serangan tadi langsung membuka matanya, menatap bu Tanti dengan perasaan horor, lalu menggeleng.
"Nggak usah, bu. Jasmine gak mau. Jasmine takut dengar kenyataan tentang penyakit ini. Selama bisa ditahan, Jasmine nggak bakal apa-apa kok. Tenang aja."
Wajahnya yang khawatir perlahan berubah menjadi senyuman pelan. Ia tahu sifat gadis itu, kebersamaan mereka selama ini lebih dari sekedar rekan kerja. Baginya, Jasmine sudah seperti anak kandungnya. Namun, pada akhirnya ia juga harus menghormati keputusan gadis itu. Kondisinya memang tidak memungkinkan untuk melakukan hal yang lebih menyangkut kesehatannya. Ia sudah berkali-kali meyakinkan Jasmine bahwa pengobatan penyakitnya bisa ditanggung asuransi. Namun Jasmine menolak. menghabiskan banyak waktu mengantri di layanan kesehatan sesuai aturan asuransi, menghabiskan banyak waktu membuat ia harus melalaikan pekerjaan di kantor, walau dispensasi dari bu Tanti sudah dipegangnya. Ia merasa sedikit bersalah dan ia pikir lebih membutuhkan gajinya yang utuh daripada harus dipotong karena kealpaannya.
" Setidaknya kita harus pastikan kecelakaan itu tidak mempengaruhi penyakit kamu. Sakit kamu itu dikepala, dan kepalamu baru saja terbentur sampai harus dijahit. Manusia normal saja, bisa gegar otak. Kenapa kamu nggak sayang sama badan kamu,Jas? Setidaknya tubuh kamu itu satu-satunya milik kamu sekarang, kalau kamu tidak jaga, apalagi yang kamu perjuangkan?"
Jasmine tampak tertohok mendengar ucapan tersebut. Matanya yang memerah mengerjap beberapa kali sebelum ia berbicara dengan nada yang sangat pelan.
" Bu, Jasmine bukan egois kok, sampai keras kepala nggak mau periksa. Kalau Jasmine bilang ini masalah biaya, nanti ibu bilang lagi ada asuransi. Bukan itu. Jasmine cuma takut kalau sampai tahu, berapa lama lagi waktu yang masih tersisa buat terus hidup. Selama ini Jasmine bisa terus bertahan sudah luar biasa. Nggak mau juga ngerepotin orang lain. Biaya buat ini itu juga nggak sedikit. Jasmine nggak mau ngutang. Kalau tiba-tiba Jasmine meninggal gimana bayarnya coba."
Bu Tanti menyeka air matanya dengan tisu kemudian menggenggam tangan gadis itu dengan kencang.
" Aduh Jasmine... kamu ini. Kenapa kamu segitunya sampe ngomongin mati segala. Kamu masih ada kami kok. Ibu juga mau bantu, jangan sungkan terus."
Jasmine menundukkan kepalanya dengan lemah. Bu Tanti sudah banyak sekalo membantu hidupnya. Apa dia sanggup terus merepotkan wanita yang tak setetespun ada hubungan darah dengannya itu? Wanita yang sebagian besar menghabiskan waktu bersamanya, mengajarinya untuk jadi pekerja yang gigih, mengajarinya untuk terus kuat. Yang berkali-kali membantunya saat ia terkena serangan mendadak, tidak pernah jijik membantu membersihkan bekas muntahan Jasmine yang kadang mendadak. Kadang memberi bantuan dana agar Jasmine bisa menebus obat atau memeriksakan penyakitnya ke dokter.
Apa ia sanggup terus merepotkannya?
Lamunan Jasmine terhenti saat ia mendengar suara dering ponsel bu Tanti yang segera saja diangkat oleh wanita itu. Mata mereka bertatapan sebelum akhirnya beliau menjawab si penelepon dengan nada ramah.
" Iya, mbak July. Ada apa?"
***