Kamar Rhein letaknya paling ujung dekat balkon lantai dua. Jasmine masih mengingatnya dengan baik, begitu juga kebiasaan pemuda itu dulu yang sering melompat dari atas balkon hanya untuk menemui Jasmine yang sedang nongkrong dibawah pohon mangga, di pekarangan samping rumahnya. Lalu mereka akan ngobrol selama berjam-jam. Termasuk juga sebagian besar waktu yang dihabiskan untuk mempertengkarkan hal yang sepele. Ketika ia membuka gagang pintu yang tidak terkunci itu dengan perlahan, hal yang nampak adalah suasana kamar yang gelap. Tirai berwarna gelap menutupi jendela berkaca besar yang tingginya hampir menyamai dinding kamar itu. Suara samar pendingin ruangan yang berhembus pelan membuat si empunya kamar nampak nyaman tertidur. Namun Jasmine sadar, kondisi pemuda itu tidak seprima biasanya

