Bukan hal yang mudah bagi Jasmine menolak ajakan Rhein untuk bekerja ditempatnya. Ia juga tidak bisa dengan mudah menerima tawaran itu. Selama ini, dengan semakin dekatnya mereka mulai berkomunikasi, semakin besar juga rasa bersalah yang ia rasakan pada July. Anehnya walau July sering memergoki Rhein menatap wajah Jasmine lebih lama dari biasanya, ataupun memberikan perhatian lebih dari sekedar teman, July tampaknya biasa saja. Tidak cemburu atau marah-marah seperti cerita sinetron yang sering ditonton oleh Wantok saat mereka beristirahat didapur kantor. Padahal, kalau boleh jujur, Jasmine sudah sampai pada taraf mencemaskan hubungan ini. Ia cemas bila diamnya July ternyata akan berimbas disuatu hari nanti saat kemarahannya sudah menggunung. Ia juga takut, bila tidak ada yang menghalangi

