“Kamu benar, besok kami akan menikah dan keluargaku akan datang nanti sore. Jamu mereka dengan baik agar tidak semakin membencimu!” jawab Fendy setelah itu berlalu pergi meninggalkan istrinya yang masih syok dengan kenyataan baru saja di dengarnya.
“Mas! Aku gak terima kamu perlakukan seenaknya! Aku ini istrimu bukan pembantu!” teriak Vivi namun tidak di dengar oleh suaminya, justru mereka malah pergi berduaan menggunakan mobil mewah yang menjadi hadiah pernikahan untuk Vivi.
“Itu mobilku! Jangan kamu gunakan untuk memberinya tumpangan karena Aku tidak ikhlas!” teriak Vivi menghadang keduanya.
Kepalanya Fendy keluar dari jendela sembari berteriak. “Minggir atau nanti kamu tertabrak! Aku tidak mau gara-gara ini harus berurusan dengan polisi!”
“Tabrak saja aku daripada harus merelakan semua milikku juga dinikmati wanita tidak tau diri itu!” tantang Vivi.
Karena kesal, akhirnya Fendy juga selingkuhannya turun dari mobil lalu menaiki mobil milik Fendy sendiri, tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka pergi tanpa ada perasaan bersalah sama sekali. Vivi meratapi kepergian suami bersama selingkuhannya dengan tatapan sendu.
****
Acara pernikahan benar-benar terjadi, suaminya kini tengah memakai jas berwarna silver begitu juga dengan Bunga yang mengenakan kebaya berwarna senada dengan riasan yang menawan sehingga semakin memperlihatkan kecantikannya. Keluarga suaminya tidak henti-hentinya memuji kecantikan selingkuhan Fendy meskipun itu di depan Vivi sekalipun. Mereka seolah tidak memedulikan keberadaan Vivi di sana.
Mendengar suaminya kembali mengucapkan ijab kabul untuk kedua kalinya membuat hati Vivi seperti di sayat ribuan pisau secara bersamaan, apalagi ekspresi mereka yang terlihat semringah dan sangat bahagia semakin membuatnya tak memiliki arti sedikit pun di hidup suaminya.
“Apakah aku harus mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak ada cinta dari salah satu pihak?” batinnya kini sudah berada di kamar karena tidak sanggup melihat semua ini.
Tidak berselang lama, ia mendapatkan panggilan dari adiknya yang mengabarkan jika saat ini ayahnya tengah berada di rumah sakit karena mengalami serangan jantung. Vivi langsung berteriak histeris karena merasa ujian dalam hidupnya kenapa terjadi secara bertubi-tubi.
Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya ia menuruni tangga dengan tergesa-gesa yang membuat Fendy penasaran. “Mau ke mana? Acara belum selesai beraninya keluar tanpa ijin suami!” tanya Fendy seraya memegang tangan istrinya kuat-kuat.
“Lepasin, sakit, Mas!” pinta Vivi dengan suara tertahan dan tatapan tajam.
“Mau ke mana?” tanya Fendy tak kalah tajam tatapannya.
“Mau ke rumah sakit, ayahku mengalami serangan jantung. Biarkan aku pergi, aku tidak mengganggu acaramu sama sekali!” jawab Vivi hampir berlinang air mata namun sekuat tenaga di tahannya.
Genggaman yang awalnya sangat kencang kini mulai mengendur sembari mengatakan, “Pergilah, tapi jangan pernah katakan jika aku sudah menikah lagi. Nanti yang ada kesehatan ayahmu semakin parah dan aku yang disalahkan!”
“Aku tau itu, tidak perlu kamu ajari!” sindir Vivi setelah itu bergegas pergi.
Fendy menatap kepergian istrinya dengan hati yang tidak tenang, sejujurnya hingga sampai saat ini masih ada perasaan untuk Vivi namun dirinya terlalu malu jika mengajaknya dalam perkumpulan para pengusaha lantaran penampilan istrinya tidak bisa setara dengan istri pengusaha lainnya sampai akhirnya tidak sengaja bertemu dengan Bunga yang waktu itu tengah melamar kerja di perusahaannya, paras ayu serta penampilan yang menggoda membuat Fendy terpana dalam sekali pandang sehingga tanpa pikir panjang menjadikannya sebagai sekretaris pribadi. Dari situlah hubungan terlarang itu terjalin hingga berakhir di pelaminan.
****
Di rumah sakit, Vivi segera berlari menuju ruangan untuk melihat kondisi orang tuanya.
“Pah, kenapa bisa seperti ini?” Vivi berlinang air mata karena tidak kuasa melihat ayahnya terbaring lemah dengan beberapa bagian yang terpasang alat.
“Di mana suamimu?” tanya Budi-ayahnya Vivi dengan suara lemah.
“Masih di kantornya, Pah. Tapi sudah aku kabarin keadaan Papah. Mungkin habis pulang kerja akan mampir ke sini,” jawab Vivi berbohong.
“Apakah rumah tangga kalian baik-baik saja?” tanya Budi seolah merasakan sesuatu.
“Kami baik-baik saja, mengapa Papah bicara seperti itu?” tanya balik Vivi penasaran.
“Semalam Papah bermimpi jika suamimu memiliki istri lagi, makanya kepikiran terus sampai akhirnya ada di sini. Kalian benar baik-baik saja, kan?” tanya Budi membuat Vivi sangat terkejut.
“Mimpi buruk datangnya dari setan, Pah. Insha'Allah Mas Fendy selalu setia, mungkin Papah terlalu mencemaskan kami saja. Besok jangan terlalu memikirkan yang bukan-bukan ya, Pah. Kami selalu baik-baik saja.” Bantah Vivi dengan lembut dan perkataannya terlihat meyakinkan sekali sehingga ayahnya kini lega mendengarnya.
“Papah lega mendengarnya, memang dia pria yang baik dan terlihat sekali bagaimana sangat mencintaimu.” Budi memuji menantunya yang dijawab senyuman oleh Vivi padahal di dalam hatinya tengah sangat perih harus menyaksikan suaminya menikah lagi.
“Papah minta, kalian jangan sampai berpisah kecuali maut yang memisahkan. Apa pun masalah yang terjadi di dalam pernikahan selagi itu bukan perselingkuhan, KDRT, main judi atau apa pun bentuk maksiat lainnya, maka pertahankanlah.” Pinta ayahnya dengan suara terengah-engah seperti kehabisan oksigen setelah itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Vivi sangat terpukul melihat ayah yang sangat disayanginya dan menjadi cinta pertama di hidupnya kini pergi meninggalkan dirinya dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan ucapan terakhirnya pun seolah menjadi pertanda jika pernikahan yang tengah dijalaninya jangan sampai bercerai. “Maafkan aku karena di saat detik-detik terakhir Papah justru berbohong. Kenapa meninggalkan aku secepat ini, Pah? Mengapa takdir seolah tengah mempermainkanku?” batinnya menangis histeris karena merasa tidak sanggup menerima semua musibah yang tengah dialaminya.
Fendy yang mendapat kabar jika mertuanya telah meninggal, segera menuju pemakaman untuk memberi penghormatan terakhir disusul oleh keluarganya tanpa membawa Bunga. “Apakah kamu memberitahu semuanya pada Papah?” bisik Fendy memastikan.
“Aku tidak sebodoh itu! Justru di akhir hayatnya Papah memujimu dengan mengatakan jika kamu pria yang baik dan sangat mencintaiku bahkan meminta supaya pernikahan ini jangan sampai berakhir hingga maut yang memisahkan.” Jawab Vivi dengan kesal. Bisa-bisanya dalam suasana berduka suaminya menanyakan hal seperti itu.
Fendy tidak menyangka jika mertuanya masih saja menganggapnya sebagai pria baik padahal tanpa diketahui, justru diam-diam kini dirinya tengah mengkhianati Vivi dengan menikahi Bunga.
“Terima kasih sudah datang di pemakaman Papah, sekarang, silakan pulang dan bawa serta keluargamu. Ada Bunga yang tengah menanti kepulanganmu, aku ingin menghabiskan kesedihanku di sini. Lagian apa kamu peduli betapa terlukanya aku saat ini? Pulanglah.” usir Vivi tanpa menoleh ke suaminya sama sekali.
“Mana mungkin aku meninggalkanmu, yang mereka tahu hubungan pernikahan kita baik-baik saja. Jika aku pulang, yang ada semuanya justru bertanya kepadamu, aku tidak mau itu terjadi! Biar keluargaku saja yang pulang dan menemani Bunga di rumah,” tolak Fendy padahal sebenarnya memang tidak sanggup meninggalkan istrinya dalam kondisi seperti ini, ia aslinya menyadari jika hati istrinya saki hati berkali-kali lipat karena dua kejadian menyakitkan terjadi secara bersamaan. Yaitu pernikahannya dengan Bunga dan kepergian ayahnya.
“Aku tidak butuh perhatian palsumu itu lagi, Mas! Setelah ini kehancuran apa yang akan kamu berikan kepadaku?”