Sesaat beberapa menit sebelum jam istirahat usai Marvell memotong pembicaraan kami perihal sekolah dan hal – hal seputar kegiatan tambahan yang sebenarnya hanya caraku untuk terhindar dari pembicaraan kemarin.
“ Joss, kamu aneh sekali hari ini, padahal mukamu terlihat murung sebelum aku menghampirimu tadi bukan? “
Aku tersentak kaget dengan perkataannya itu, aku berpikir apakah daritadi dia mengamatiku secara diam – diam.
“ Oh ternyata kamu sudah mengamati – amati dari tadi ya ? “ kataku untuk memancing agar dia mengaku.
“ Lebih tepatnya aku memang sudah duduk disitu daritadi “, sambil menunjuk kesuatu kursi panjang berjarak tidak jauh didepan kami.
Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya, mungkin karena ada orang bergerak kearahku baru membuat aku sadar bahwa itu adalah dia.
“ Sebenarnya aku tidak ingin menghampirimu karena aku ada urusan dengan kakak kelas, tapi karena melihatmu seperti itu membuatku berpikir mungkin ada yang membuatmu gelisah “.
“ Apakah kamu masih memikirkan perkataanku kemarin tentang misteri yang terjadi dirumah itu dan penghuni sebelumnya ya ? “
“ Menurutku kamu tidak perlu terlalu memikirkan hal itu, toh itu hanya rumor yang beredar yang terkadang di lebih – lebihkan oleh masyarakat saja, sebenarnya aku juga tidak percaya dengan semua hal itu “, dia sambil setengah tertawa mengatakannya. Padahal aku hampir percaya semua yang dia katakana karena dia berbicara dengan wajah yang begitu serius seolah sangat peduli dengan keadaanku saat ini dengan rumah yang memang cukup menyeramkan bagiku.
Aku lega Marvell bukannya ingin menambah beban pikiranku, tapi aku pikir Marvell perlu tahu tentang apa yang aku lakukan kemarin, siapa tahu dari dia aku mendapat penjelasan tentang lemari dan arti gambar yang ada didalamnya karena dia bisa dibilang orang yang sudah lama mendiami daerah itu.
“ Vell, sebenarnya kemarin aku sangat penasaran dengan perkataanmu. Kemudian aku menyelidiki darimana datangnya suara yang kamu maksud itu. Kemudian aku mencoba semua pintu dirumah itu, tapi tidak menemukan satu pun pintu dengan bunyi yang sama seperti perjelasanmu kemarin “
Sesaat aku berbicara tiba – tiba terdengar peringatan bahwa jam istirahat sudah usai. Aku berjanji melanjutkan pembicaraan kami setelah pulang sekolah karena kelihatannya dia pun penasaran dengan hal itu.
Pulang sekolah kami berencana untuk mau mampir terlebih dahulu disuatu tempat untuk membicarakannya setelah meminta izin kepada orang tua sebelumnya. Marvell mengajakku mampir disuatu taman yang biasa dipakai para siswa untuk bersantai sejenak sebelum pulang kerumah.
Kami memesan minuman dingin kepada pedagang untuk menghilangkan penat dan dahaga setelah belajar disekolah.
“ Kamu sering mampir disini Vell ? “, kataku karena kelihatannya dia cukup akrab dengan pedagang minuman tadi.
“ Ah tidak sering juga, hanya saja kalau ada keperluan seputar organisasi yang tidak terselesaikan disekolah, aku biasa berkumpul disini bersama temanku yang lain “.
“Lalu bagaimana kelanjutan ceritamu tadi ? , ternyata kamu orang yang tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran ya “, katanya dengan nada menyindir.
“ Begini ceritanya, pada suatu hari…” kataku dengan nada serius.
“ Mengapa jadi seperti dongeng ? Serius dong Joss ”
“ Soalnya kamu terlihat sangat serius ingin mendengarkannya “
“ Sebelumnya aku mau mengatakan bahwa apa yang mau katakan ini adalah rahasia diantara kita saja dan jangan ada orang yang tahu “.
Marvell mengangguk tanpa kata – katanya menyiratkan dia setuju dengan permintaanku.
“Bercanda kok, kamu boleh beritahu siapapun,ha…ha…ha…ha
Setelah puas menggodanya, maka aku dengan serius berbicara kepadanya
“ Setelah aku mencoba semua pintu dirumah itu dan tidak menemukan satu pun pintu memiliki suara seperti yang kami katakan, aku terpikir untuk mencoba pintu yang berbeda ? “
“ Kok bisa berbeda ? Bukannya semua pintu itu sama saja ? “
“ Mengapa aku bilang berbeda karena ini bukanlah pintu rumah atau pintu yang berfungsi untuk menutupi suatu ruangan, melainkan pintu sebuah lemari tua terbuat dari kayu yang terdapat didalam rumah itu “.
“ Sebenarnya aku sudah merasa aneh dengan lemari itu dari awal kami memasuki rumah itu, bisa dibilang aku merasakan aura yang aneh keluar dari dalamnya “.
“ Apa maksud kamu dengan aura aneh ? “ kata Marvell heran mendengar istilah itu.
“ Sebenarnya dari kecil aku sudah terbiasa merasakan dan bisa membedakan aura disekitarku, itu seperti udara dengan kepadatan yang berbeda, terkadang ketika pada tengah hari ada beberapa tempat yang harusnya terpapar sinar matahari malah terasa dingin, setelah itu ada juga pada tempat yang harusnya sangat teduh malah terasa panas yang mencekam “
Mendengar penjelasan tentang masa kecilku itu Marvell terlihat cukup terkejut, dia mungkin tidak menyangka akan hal itu. Namun seketika dia menghela nafas panjang kemudian tersenyum kecil perlahan tertawa sambil melihat kearahku. Mungkin dia berpikir aku sudah gila atau tidak waras dengan cerita barusan. Akhirnya dia diam dan melihat tajam kearahku.
“ Kamu tahu, aku kira tidak ada yang percaya denganku selama ini, ternyata kamu juga bisa merasakan yang sama dengan apa yang aku rasakan “
Sekarang malah aku yang terkejut dengan perkataannya.
“ Aku berpikir apakah semua yang aneh ini adalah khayalanku saja sampai – sampai aku tidak berani menceritakan hal ini kepada siapapun karena takut diejek oleh orang lain “, sambungnya.
“ Menurutku bukanlah sesuatu yang salah apabila merasakan hal yang sedikit berbeda dengan orang pada umumnya, malah itu dapat membuat kita dan orang yang kita sayangi untuk terhindar dari hal – hal buruk yang mungkin akan menimpa kita “.
Kemudian aku melanjutkan ceritaku tentang lemari tersebut.
“ Didalam lemari itu aku melihat ada suatu gambar aneh karena terdapat beberapa simbol yang tidak pernah aku lihat sebelumnya “
“ Aku menceritakan ini kepadamu dengan tujuan mungkin kamu mengerti dengan itu, mungkin saja itu adalah simbol dari budaya dikota ini “, sambil aku menunjukkan gambar yang aku rekam kemarin kepada Marvell.
Ketika Marvell melihat gambar dan simbol tersebut, sepertinya dimendapat suatu petunjuk tentangnya.
“ Aku memang pernah melihat simbol ini sebelumnya, kalau tidak salah tertulis di pohon tua yang ada didekat rumah kita “, katanya kepadaku tanpa ragu.
“ Apakah kamu tidak salah lihat Vell, soalnya aku saja kemarin ingin mendekati pohon itu tapi dilarang oleh seorang bapak yang memiliki kebun disekitar situ “.
“ Oh soal itu, tentu saja aku mendekati pohon itu sewaktu dia sedang tidak ada disitu, karena aku pun dapat merasakan sesuatu yang aneh dengan pohon itu “.
Aku pikir bagaimana simbol yang sama ada juga dipohon tua itu, apakah ada hubungan antara lemari itu dengan pohon tua itu,karena apa yang aku rasakan pada pohon tua itu memang agar mirip dengan lemari dirumahku, hanya saja pohon itu terasa lebih pekat dan menyesakkan. Akhirnya aku pun menemukan titik terang dari rasa penasaran yang menggangguku setelah aku tiba di daerah ini. Ditambah lagi aku mendapatkan teman baru dengan kelebihan yang sama denganku membuat aku tidak perlu sungkan dengannya. Nanti sore kami berencana bersama mau melihat lebih dekat pohon tersebut apakah memang betul simbol pada gambar dilemari tua itu sama dengan yang dilihat Marvell di pohon itu.