Jossam...Pohon Misterius

1095 Kata
Menurutnya yang menjadikannya lebih aneh adalah penduduk hampir jarang sekali melihat anak itu keluar dari rumahnya dan keberadaan penghuni terdahulu rumah itu tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan sampai hari ini belum ada titik terang perihal misteri itu “ Aku berpikir wajar saja penduduk beropini negatif tentang rumah itu pikirku. “ Oh ya baru – baru ini sebelum kamu menempati rumah itu, penduduk beberapa kali mendengar ada suatu aneh yang terdengar dari dalam rumah itu. Bagaimana tidak aneh karena suara itu hanya terdengar pada malam dan suaru itu terdengar seperti bunyi pintu yang terbuka berkali – kali seolah ada aktifitas manusia didalamnya, memangnya kamu tidak pernah mendengarnya ya “ , tambah Marvell kepadaku dengan santainya. Walau aku sebenarnya berpikir mungkin saja dari tadi dia hanya berusaha menggodaku dan membuat aku takut sebagai penghuni baru. “ Ya mana mungkin lah, aku saja baru menempati rumah itu baru dua hari yang lalu “, kataku kepadanya hanya agar mengurangi kesan seram dan tidak membiarkan dia menakut – nakuti yang daritadi mendengarkannya. Apa dia berpikir kalau aku dengan mudah mempercayai semua ceritanya itu. Kurasa Marvell hanya melebih – lebihkan ceritanya dengan tujuan untuk membuat aku takut untuk tinggal dirumah itu karena semua pintu dirumah itu bisa dibilang sangat kokoh. “ Joss, waktu istirahat sebentar lagi usai, kalau boleh tahu dan kamu pulang pakai apa, kalau mau kamu bisa pulang bersamaku dengan kendaraanku “. Dia menawarkan itu mungkin karena sadar telah gagal menggodaku dengan ceritanya tadi dan akan mencoba diperjalanan nanti. Karena aku memang tidak memiliki tumpangan, maka dengan senang hati aku menerima ajakan dari Marvell.  Sesampai dirumah aku penasaran dengan perkataan Marvell tentang rumah itu terutama suara pintu terbuka berulang – ulang tersebut. Kemudian aku mencoba semua pintu yang ada dirumah itu untuk mencoba apakah benar suara yang dikatakan Marvell memang ada. Hasilnya tidak ada pintu yang suaranya cukup kuat untuk terdengar sampai keluar. Tapi pikiranku terarah kepada lemari tua disudut rumah karena dengan ukurannya sangat memungkinkan apabila dibuka akan mengeluarkan suara yang cukup untuk terdengar sampai keluar. Kucoba kembali mendekati lemari itu perlahan dengan penasaran dan sungguh aneh aku melihat sesuatu yang mengejutkan sekali karena entah darimana ada kunci tergantung dilubangnya. “ Bukankah kemarin tidak ada kuncinya “, pikirku. “ Ah mungkin saja ibu telah menemukannya dan menaruh kembali ketampatnya “, hiburku dalam hati agar tidak terkesan semakin seram. Jujur aku sebenarnya tidak berniat untuk membukanya karena kuatir ada barang – barang didalamnya yang apabila dibuka akan menimpaku. Namun karena sudah penasaran maka aku kuatkan tekat untuk membukanya. Ketika aku menyentuh kuncinya tiba - tiba tekanan aura aneh yang kurasakan kemarin itu keluar dari dalamnya. Kalau orang biasa pasti sudah merinding, namun karena aku sudah meredam rasa takutku dengan pemikiran positif tadi jadi hal seperti ini tidak begitu menyeramkan lagi. Kemudian aku putar kuncinya dan perlahan dengan sangat hati – hati aku membuka lemari besar itu. Tak kusangka pintu lemari ini cukup berat untuk dibuka karena cukup kesat pada bagian bawahnya. “ Apakah suara pintu yang didengar orang orang – orang itu adalah suara ini “, pikirku karena memang sangat berisik. Untung saja orang tuaku sedang tidak ada dirumah. Akan sangat bahaya kalau mereka mengetahui akan apa yang kulakukan ini setelah larangan yang mereka berikan kepadaku tempo hari. Kupaksakan terbuka walau menghasilkan suara yang cukup berisik dan membuat ngilu. Ketika sudah terbuka sedikit demi sedikit aku coba mengintip kedalamnya sambil tanganku menahan agar barang – barang yang didalam tidak keluar menyeruak dan menimpaku. Yang aku lihat hanya baju – baju usang yang lama tak dipakai, pada bagian atas terlihat ada beberapa perkakas rumah yang berumur sudah cukup tua apabila dilihat dari modelnya. Kemudian ada aroma usang tercium dari dalamnya, tapi tekanan aura aneh itu semakin kuat ketika lemari ini dibuka walau hanya sedikit. Aku jadi semakin penasaran sebenarnya apa yang disembunyikan didalamnya. Agar dapat melihat dengan jelas aku mencari alat penerang yang biasa kupakai bermain ketika malam didesa dulu, aku arah arahkan cahayanya kedalam lemari dan melihat secara seksama. Ketika cahaya mengarah pada dinding lemari itu aku terkejut melihat seperti ada gambar yang dibuat menyerupai suatu pola seperti lingkaran, aku lihat lebih detail keseluruhan gambar itu. Yang aku lihat ternyata adalah suatu lingkaran dengan beberapa simbol yang aneh mengelilingi bagian dalamnya, ditengahnya terdapat satu lingkaran lagi dengan tulisan “ IN “. Aku coba merekam gambar tersebut dengan alat perekam yang kumiliki kemudian aku menutupnya lemari itu kembali karena sangat susah untuk mengamatinya dengan keadaan menahan pintu lemari besar itu. Dikamar aku kembali melihat gambar tersebut dan berusaha untuk memahaminya, tapi entah kenapa ketika aku berusaha menafsirkan tulisan itu timbul perasaan aneh dibenakku, seperti ada perasaan untuk menolaknya. Karena sudah terlalu lelah dengan urusan membuka lemari itu, aku kembali meneruskan kegiatanku, disamping itu aku juga memiliki pekerjaan rumah yang belum terselesaikan demi memenuhi rasa penasaranku itu. Sampailah malam hari dimana semua sudah tertidak lelap, tapi entah kenapa malam itu aku sangat susah untuk tidur. Mungkin karena aku masih penasaran dengan gambar tadi. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, entah perasaanku saja tapi tiba - tiba terdengar suara pintu berdecit seolah terbuka perlahan - lahan, kemudian suara itu muncul lagi tapi kali ini terkesan seperti suara menutup. Dikarenakan sudah larut dan aku tidak mau membangunkan orang tuaku apabila menyalakan lampu pada ruang tamu asal suara itu muncul, maka aku bergegas tidur agar besok tidak terlambat untuk pergi kesekolah. Ketika disekolah aku kembali teringat akan gambar itu, walau aku melakukan aktifitas seperti biasanya namun tidak dipungkiri pikiranku melayang entah kemana. Dari jauh aku melihat Mavell dengan wajah jahilnya mendekatiku. Awalnya dia biasa saja dan duduk disampingku sambil menikmati makanan yang telah dibelinya dikantin. Namun kurasa dia memiliki  niatan lain ketika mendatangiku. Karena tidak mau mengizinkannya untuk memulai pembicaraan aneh lagi seperti kemarin, aku mulai berbicara dengan topik seputar kegiatan sekolah saja, seperti kegiatan tambahan yang diadakan sekolah bagi siswa untuk menambah keahlian, karena sekolah ini terlihat ada beberapa lapangan olah raga dan ruangan – ruangan keterampilan siswa. “ Vell, apakah kamu mengikuti kegiatan tambahan disekolah ini ? “ kataku untuk memecahkan suasana. “ Oh…kalau itu tentu saja Joss, aku mengikuti organisasi yang berhubungan dengan pertolongan pertama apabila ada siswa yang sakit dilingkungan sekolah ini “. “ Apakah kamu tertarik untuk mengikuti salah satunya, disini banyak sekolah wadah untuk kegiatan semacam itu, kalau kamu berniat mengikuti organisasi yang sama denganku akan kuperkenalkan dengan pengurusnya “, tambah Marvell. Setelah mendengar semua penjelasan dari Marvell, ternyata dia adalah siswa yang cukup berpengaruh disekolah ini. Sejauh ini Marvell belum menyinggung sedikitpun perihal rumah itu seperti kemarin. Aku cukup lega menjauhkan pembahasan aneh itu darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN