Setelah melalui perjalanan panjang, aku dan keluargaku akhirnya tiba di Zamatora City. Nak, kita sudah sampai di kota, dengan suara lembut ibu membangunkanku, sebentar lagi kita akan turun, lebih baik kamu bersiap dengan memakai sepatu dan topi kamu. Masih ngantuk mam, suruh keliling dulu saja mobilnya, sambil aku kembali tidur karena masih sangat mengantuk. Hush, ada – ada saja kamu, lekas rapikan barang bawaan kamu, dengan nada perintah kepadaku yang memang masih tampak sangat mengantuk. Akhirnya kami sampai dirumah yang telah dikontrak oleh orang tuaku sebelumnya. Tanpa kusadari bahwa rumah akan kami tinggali adalah rumah tua bekas peninggalan keluarga penduduk pribumi kota itu. Tak pelak ketika turun dari kendaraan tersebut aku langsung merasakan suatu tekanan yang berbeda pada udara rumah itu, bukan seperti udara pada umumnya, tapi lebih kepada hawa yang menusuk dan seakan menyiratkan ketidak sukaan akan kehadiran kamu disitu. Mam, apakah benar rumah ini akan kita tinggali, kataku dengan nada murung. Iya Joss. Papa pilih rumah ini karena akan dekat degan tempat papa bekerja, begitulah penjelasan ibu kepadaku. Lantas dimana kamar tidurku mam, berat sekali aku membawa barang – barang ini, kataku karena penasaran degan keadaan tempat baru yang belum aku kenal itu. Sudah letakkan dulu barangmu disitu, sambil ibu menunjukkan tempat yang kosong disebelah lemari tua. Ketika aku melangkah ketempat itu semakin kuat tekanan itu terasa dari lemari itu. Karena penasaran maka aku berusaha membuka lemari tersebut tapi tidak ada kunci pada pintunya membuat aku kesusahan, mam ini lemari mengapa besar sekali, seakan orang bisa masuk kedalamnya, begitu kataku dengan maksud membangkitkan rasa penasaran pada ibu dan membantuku membuka lemari itu. Kemudian ibu dengan terkejut melihat kearahku, mungkin ada barang – barang yang sengaja ditinggal oleh penghuni sebelumnya, kata ibu. Sekalipun kamu berkata seperti itu, ibu mengerti maksudmu, kita baru saja sampai, jadi jangan sampai menyentuk barang – barang disini. Akhirnya dengan terpaksa aku mengurungkan niatku untuk membuka lemari itu sekalipun aku tetap penasaran dengan apa yang ada dilemari itu.
Keesokan harinya setelah merapikan barang – barang disuatu kamar kosong dengan ranjang tua terbuat dari papan yang terlihat masih kuat untuk digunakan, kemudian aku berkeliling didaerah itu bersama orang tuaku dan adikku untuk menyapa tetangga terdekat dengan kediaman kami. Sekalipun aku tidak sudah keluar rumah tapi aku berusaha untuk ramah kepada lingkungan baru disitu, dengan cepat aku menjadi akrab dengan anak seusiaku dilingkungan itu. Apa boleh buat dikarenakan lingkunganku sebelumnya hanya desa kecil dipinggir sungai yang sangat jarang sekali anak anak – anak sebaya denganku selain anak dari teman ibu yang itupun rumahnya dipisahkan dengan hutan dengan rumah kami saat itu. Ketika sedang berjalan pulang kami melewati satu pohon yang sangat tinggi, pohon itu terlihat tua dari akar – akarnya yang kokoh menghujam tanah dengan panjang, bahkan akar pohon tersebut sampai menyeberangi jalan termpat kami lewat. Dari pohon aku merasakan hawa dingin yang seakan memancarkan kesan kesedihan. Permisi pak, mohon maaf kalau boleh tahu itu pohon apa ya, aku bertanya kepada seorang bapak setengah baya yang sedang mencabuti rumput disekitar situ, tampaknya tanah itu adalah kebunnya, akar pohon itu pun tampaknya melewati kebunnya walau hanya dalam ukuran kecil. Sebaiknya kamu jangan terlalu lama memandangi pohon itu, kata orang tua itu kepadaku dengan muka masih tertunduk, tampaknya dia agak tertutup dengan pertanyaan yang aku lontarkan barusan. Karena melihat reaksinya, aku menjadi sungkan untuk bertanya lebih lanjutkan untuk mengurangi rasa penasaranku. Sungguh pohon ini mengandung aura sesak dan sedih dengan kepadatan yang tak terkatakan. Ah mungkin hanya perasaanku saja karena belum terbiasa degan daerah ini, begitulah caraku mengalihkan rasa penasaran yang tidak dapat terpecahkan. Akhirnya aku pulang kerumah dan kembali mempersiapkan buku – buku yang akan kupakai kesekolah tempat ayahku mendaftarkanku hari ini. Akhirnya tibalah malam hari setelah makan malam bersama aku keluar teras rumahku itu seraya memandang kearas pohon yang kulihat tadi karena memang terlihat dari jauh dengan ketinggian hampir menyamai menara pemancar telephone. Mungkin karena tidak adanya lampu didekatnya menjadikan tampak lebih mencekam. Semakin lama aku memandang kepohon tersebut perasaanku menjadi tidak nyaman, tiba – tiba ada orang yang lewat didepan rumah kami dan ternyata itu adalah bapak tua yang tadi kulihat sedang mencabuti rumput disekitar pohon misterius itu. Kemudian aku memberanikan diri menyapa, mau kepada pak, tanyaku dengan maksud basa – basi. Kemudian dia berhenti sejenak dan perlahan melihat kearahku. Bukannya menjawab pertanyaanku tadi, dia menatapku serius dengan mata sayu dan berkata “ Bukankah sudah saya katakan bahwa jangan terlalu lama memandangi pohon itu…! “ dengan nada menegur dengan lembut tapi tegas. Darimana bapak tahu kalau saya sedang memandangi pohon itu dari tadi, kataku kepadanya dengan penasaran tentunya. Kamu tidak perlu tahu saya tahu dari mana, tapi kamu harus berhati – hati dengan rasa penasaranmu itu, karena itu akan membahayakanmu dan keluargamu. Sontak aku terkejut dengan perkataan orang tua itu dan tanpa kusadari orang itu sudah tidak ada lagi entah kepada perginya.
Keesokan harinya aku berangkat kesekolah bersama dengan ayahku karena masih belum mengetahui menuju sekolah. Sekolah dikota ini tidak berbeda dengan sekolah biasanya, hanya saja jumlah siswanya yang jauh lebih banyak daripada didesa dulu. Ketika sedang jam istirahat jam pelajaran tiba – tiba ada yang memanggiku seakan mengenalku tapi jujur saja karena ini hari pertamaku mana mungkin ada yang mengenalku. Karena tidak mau dibilang sombong kemudian aku membalas dengan ramah. Dia memperkenalkan dirinya “ Perkenalkan aku adalah Marvell dari kelas sebelahmu”, tapi sebelum aku mempekenalkan diri, dia menahanku katanya sudah mengetahui namaku. Ternyata Marvell adalah tetanggaku yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku.
“ Joss, kamu hebat ya …! “ Begitu kata Marvell dengan nada pujian yang terlihat tulus tanpa maksud mengejek.
“ Mengapa kamu berkata seperti itu Vell ? “ kataku kepadanya karena mendapat pujian dari orang yang baru kukenal beberapa saat lalu itu.
“ Ya jelas hebat dong, karena sebelum ini belum ada orang yang berani tinggal dirumah itu “ kata Marvell dengan heran bermaksud memuji.
“ Eh, maksudnya rumahku, memangnya ada apa dengan rumah itu ? “ kata – kata dari Mavell membuat aku semakin penasaran karena mungkin akan menjadi alasan dari apa yang aku rasakan kemarin.
“ Rumah itu peninggalan dari keluarga yang pertama kali mendiami daerah tempat kita tinggal saat ini dan ada rumor kalau mereka sangat tertutup dengan masyarakat bahkan sebelah rumahnya sampai akhirnya mereka memutuskan meninggalkan rumah itu setelah anak pertama dari keluarga itu menghilang secara misterius “.