2

926 Kata
Inilah kehidupan heyla yang sekarang. Meski terkadang ia merasa mengkhianati dirinya dan orang-orang disekitarnya ia merasa nyaman dan bahagia dengan itu. Tidak ada topeng tak kasat mata yang terpampang dihari harinya. Kringggg Bel tanda istirahat sudah berbunyi, para siswa berhamburan untuk menuju kantin atau melakukan kegiatan lain. Heyla sudah melepas sampah snack yang menjadi kalungnya. "Kantin atau lapangan?" Tanya heyla pada Ika "Nanti jam olahraga kan yah? Lapangan aja" Kedua perempuan itu langsung mengeluarkan baju olahraga dari tas mereka. Heyla juga memberikan sinyal tatapan pada Udy untuk ikut. "Lo gak ikut?" Tanya Udy pada Aland yang tak bergeming dari bangkunya "Gak" Karena kedua orang itu tak kunjung beranjak heyla segera mendekat mereka. "Kenapa lo bedua gak gerak sih?" Udy memberikan lirikan mata seolah-olah mengatakan Aland tidak mau ikut. "Lo yakin gak ikut?" Tanya heyla ke aland "Gue bilang enggak, berarti enggak. Bisa bahasa Indonesia gak sih" ketus Aland "Eh habis ini tuh jam Ol-" "Aland!!!!" Teriak Rico tiba-tiba dari pintu kelas dan memotong ucapan Heyla "Land! Lo anak keluarga delbert? Maksud gue... pak Delbert yang punya perusahaan besar di London?" Ceplos Rico yang masih ngos-ngosan setelah berlari "Delbert?" Beo Heyla Tentu saja anak SMA seperti mereka tidak tahu menahu tetang orang-orang besar dalam kalangan bisnis, apalagi tentang anak-anaknya. Itu sebabnya Heyla bisa memalsukan dirinya. Tapi kenapa Rico bisa tahu Aland anak orang kaya dan terkenal. Terlebih lagi sedang apa orang seperti dia berada disini. "Iya, gue anak Nicko Pervas Delbert. Pemilik perusahaan Teknologi terkenal di London" angkuh Aland dengan suara keras namun terkesan datar. Matanya juga menyiratkan kesombongan dan melihat kearah Rico, Udy, dan Heyla. Seolah ketiga orang itu harus menegaskan dirinya yang luar biasa. Rico terkagum-kagum sambil menutup mulutnya yang mengaga tak percaya. Udy hanya terdiam karena tidak tahu harus bereaksi apa. Sedangkan Heyla yang merasa biasa saja bisa melihat kesombongan dan ke angkuhan yang ia benci di wajah Aland. "Oh ya? Terus ngapain lo jauh-jauh sekolah disini? Bukannya sekolah disana lebih bagus?" Aland merasa 'Skakmat' sekarang, tidak mungkin ia menjelaskan tujuan ayahnya dan mengatakan 'agar aku mencari makna kehidupan' pada orang-orang disekitarnya sekarang. "Kalian pasti tahu kalo gue blasteran London dan Indonesia, orang tua gue pengen gue ngerasain sekolah di Indonesia lagi sebelum gue megang perusahaan. Lagian sekolah ini juga sekolah terbagus disinikan?" Kalimat itu bisa didengar oleh para perempuan yang mengintip terang-terangan dari pintu. Tentu saja mereka juga terkagum kagum. "Ooh, yaudah, lo gak jadi ikut main ke lapangan kan? Kita cabut yah" ucap heyla yang tidak perduli dengan jabatan dan kasta sosial yang Aland tunjukan.  Ia menarik Rudy untuk keluar dari sana dimana Aland sudah mulai dikerumuni beberapa orang. "Dia sombong banget yah, memang orang kaya selalu sombong" ucap Udy "Gak semua kok Dy, itu tergantung pribadi masing-masing" "Iya tapi karena selaku di puja dan di kejar semua orang mereka cenderung bersifat sombong. Seolah semua orang lah yang membutuhkan mereka, dan mereka tak membutuhkan orang lain. Contohnya Sondia, Zico, Lily, mentang-mentang orang terkaya disini dan anak para konglomerat lo lihat sendiri sifatnya mereka gimana " "Itulah yang membentuk karakter orang kaya sendiri. Cara orang memperlakukan mereka selalu seperti itu, memasang wajah palsu seolah-olah ingin menjadi teman, ingin bersahabat, seolah selalu mendukung kita dan membutuhkan kita. Padahal karena menginginkan sesuatu dari orang kaya itu. Entah itu ketenaran, jabatan, bahkan uang" Rudy merasa perkataan Heyla ada benarnya. Semua itu dikarenakan tindakan sosial yang memang terlalu berbeda dan memperlakukan orang sesuai kasta dan kekayaan. "Hmm betul juga, kok lo bisa berfikir kesitu La?" "Gue punya teman yang ngalamin itu. Dan percayalah dia benci kehidupannya yang harus hidup dengan membedakan wajah asli dan palsu" Rudy mengangguk-angguk karena setuju sekali dengan penjelasan Heyla. Mereka pun berpisah karena harus berganti baju ditempat yang berbeda. Saat mengajak Rudy tadi Ika sudah terlebih dahulu ke Toilet sehingga mereka tidak pergi bersama. "Lo udah siap?" Heyla melihat ika yang sedang merapikan rambutnua dikaca westafel. "Lo yang kelamaan, cepat ganti baju gue tungguin" Heyla mengangguk dan masuk kedalam bilik toilet. Ia mengganti baju disana sedangkan Ika duduk dimeja westafel sambil bermain ponsel. "Eh La, lo udah baca grup kelas? Katanya anak baru ganteng itu anak konglomerat loh" "Tahu! Lo aja kecepatan pergi jadi gak ikut siaran lagsung si Rico di kelas" sahut Heyla dari dalam kamar mandi. "Ih bertambag deh kantong doraemon sekolah kita" ucap ika setelah heyla keluar dan berkaca. Mereka memang menyebut orang kaya sekolah dengan sebutan kantong doraemon. Dengan uang yang banyak dikantong mereka seolah olah apapun bisa keluar dari kantong mereka. "Kata rico dia tahu dari Sondia kelas sebelah. Cewek itu bilang orang tua mereka deket jadi mereka saling kenal sejak lama" terang Ika yang masih ikut bergosip ria di grup w******p kelas. "Pantesan... gue juga heran darimana rico dapat koneksi kayak gitu. Ternyata dari kalagan yang sama" Setelah mencepol rambutnya heyla dan ika segera keluar dari sana dan menuju kelas. "Lah udy mana? Kok gak ada" ucap ika setelah melihat meja udy. Mereka memilih pergi lebih dahulu menuju lapangan bola volli untuk mengklaim lapangan itu milik mereka. Sesampainya disana ika dan heyla main berdua terlebih dahulu. Rudy yang dicari dan ditunggupun muncul bersama Aland yang berbaju olahraga juga. "Sorry telat. Aland minta ikut pas dikerumunin orang jadi gue harus bantu dia ambil baju olahraga" "Yaudah ayo main" Biasanya rudy akan sekelompok dengan Ika sedangkan Heyla sendirian. Jadi dengan spontan udy kelapangan tempat ika berada dan Aland sekelompok dengan heyla. Mereka bermain dengan santai, Ika,Heyla,dan Rudy sesekali tertawa bersama. Aland hanya diam sambil memperhatikan mereka yang bertingkah konyol. "Nicki Minaj!!!!" Teriak Heyla Dia sedang menyapa cowok terdingin dan terpintar diangkatan mereka. Salah satu penyebab perempuan lain bahkan para adik kelasnya heran melihat keakraban mereka. "My Queen!" Ucap Zuke yang diberi panggilan 'nicki minaj' itu. Laki-laki itu mendekati heyla "Ngapan lo manggil gue?" "Gak ada sih ngabsen doang" Takkk Zuke memukul dahi heyla dengan jarinya. "Awww" "Dahlah gue cabut" Mereka semua hanya menyaksikan Zuke dan Heyla. Pemandangan itu biasa untuk Rudy dan Ika, tapi tidak untuk Aland.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN