BAB 15 Tidak baik untuk jantung.

1437 Kata
Tidak terdengar suara letusan, sebaliknya justru rintik-rintik air yang jatuh. Percikan air keluar dari moncong pistol, membuat Liz menatap syok pada Riens yang tak berekspresi. Ia merebut pistol tersebut dari tangan Riens, menekan pelatuknya, dan air kembali keluar. "Jangan bermain-main! Aku tidak mau ada yang mati!" Liz menghela napas, lagi-lagi terbawa emosi. Ia melirik Riens yang hanya diam. “Kenapa tidak jelaskan dari tadi? Membuat cemas saja,” sungut Liz. Ia teringat sesuatu. “Hei, mereka tahu namamu. Bagaimana jika ada yang melacak kita?” “Mereka hanya gangster jalanan,” papar Riens. “Tetap saja! Mereka pasti punya senjata! Habislah kita!” Liz meracau sambil menjambak rambutnya frustrasi, sampai sesuatu terlempar ke wajahnya. Sepasang pakaian, dan sandal jepit berada dalam bungkusan plastik hitam. Ia mendongak, menatap bingung Riens. Pria itu justru mendorongnya menuju toilet, dan langsung menutup pintu. Riens menghela napas panjang, bisa-bisa dia stres duluan sebelum masalah ini beres. Getar ponsel terasa di saku celana, dia menerima panggilan tersebut. “Bagaimana?” Keributan terdengar dari seberang telepon, sampai suara terengah Jeff terdengar. “Aku sudah kirim Tim 2, cepat kembali! Chairman sedang kesal!” Panggilan terputus, Riens melirik sekilas sebelum kembali memasukkan ponsel ke saku. Lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, sebuah pistol lain berada di tangannya. Berat dan jelas berisi peluru. “Hei, seharusnya perban kakiku setelah aku mandi.” Liz keluar dari toilet, sebuah kaos lengan panjang kebesaran, dan celana kain hitam membalut tubuh kurusnya. “Mereka tidak menyediakan air hangat, tapi aku menemukan ini.” Sebuah handuk dilemparnya, dan langsung ditangkap Riens. “Keringkan tubuhmu, lalu kita bicara.” Perempuan itu lantas duduk kembali di tepi ranjang, kakinya yang dibalut perban naik ke atas. Bibir penuh itu tak henti menggerutu, sambil terus memperbaiki perban yang terbuka lagi. “Kita akan kembali sekarang,” ujar Riens. “Sekarang?!” Liz berdiri seketika, dengan antusias berjalan menuju pintu. Namun, keributan yang terjadi di luar membuatnya mematung. Riens bergegas mendekat, menahan pintu dengan tubuh dan memasang posisi siaga. Dia melirik melalui celah pintu, moncong pistol di arahkan ke depan dengan mata memindai lorong yang sepi. Riens menutup pintu, beralih menatap Liz. “Mereka di bawah,” terangnya. Pandangan pria itu mengedar, dan berakhir pada jendela kamar. Kemudian Riens menarik tangan Liz, membuka jendela lebar-lebar, dan memperhatikan suasana di bawah. Mereka berada di lantai dua, tingginya tidak lebih dari empat atau lima meter. Terdapat pembatas dari tembok, memisahkan dengan bangunan lain. “Pada hitungan ketiga, melompatlah.” “Apa?!” Liz melirik ke arah pintu dan kakinya bergantian. “Merambat saja lewat dinding, lalu melompat di tembok sana.” Riens menunjuk tembok pembatas di bawah sana, sehingga kemungkinan cedera akan lebih kecil. “Kita lompat bersama! Aku tidak mau mati dulu!” Liz menggenggam tangan Riens, dan kembali pria itu lepaskan. Liz melirik heran. “Aku akan menyusul,” katanya. Pandangan Liz turun pada pistol di tangan Riens, ia menatap aneh, dan kembali menggenggam tangan Riens. “Mau apa dengan pistol mainan? Yang ada mereka menertawakanmu,” ujarnya mengambil ancang-ancang. Riens menarik Liz lantas merangkul pinggangnya dengan tangan kiri, dia mengabaikan wajah kaget Liz. Lalu mengarahkan pistol ke luar, satu peluru melesat mengenai sebuah pohon. “Dan sekarang mereka akan mengejar kita.” Pandangan keduanya terarah ke pintu yang terbuka, orang-orang itu berada di sana, masing-masing membawa sebilah tongkat besi dan pisau lipat. "Mau kabur?" Riens melepas rangkulannya di pinggang Liz, lalu maju selangkah dan tampak tenang. "Untung saja kita kejar! Dia benar si Mackenzie itu!" "Dia yang sudah membunuh Toni Dion?!!" Bisik-bisik terdengar di antara mereka, tapi belum ada satu yang maju. "Dengar, tadinya kupikir kita bisa dengan jalan damai. Aku tidak suka kekerasan," ujar pria gempal pemimpin dari kelompok sambil maju selangkah. "Jadi, serahkan dirimu dan ikut kami. Energimu hanya habis sia-sia melawan kami, bisa apa kamu sendiri?" Mereka tertawa, lantas tersentak diam kala Riens melirik. Liz berada tepat di belakang Riens, tubuhnya tertutup sempurna oleh tubuh tinggi pria itu. "Kita harus apa?" bisiknya. Riens menoleh ke samping, dan kembali menghadap depan. Ada sekitar sebelas orang di sana, setengah dari yang keluar dari bangunan. Pandangannya beralih pada jam tangan, memperhatikan lekat. Lalu menghela napas, dia lantas mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. "Dia bawa senjata!!" Gerakan Riens terhenti, memandang wajah tegang orang-orang itu. "Semua, merunduk!!" Serempak mereka mengikuti perintah pria gempal, merunduk sembari menutup mata dan telinga ketika Riens mengeluarkan tangan dari jas dengan gerak lambat. "Lompat," bisik Riens sambil menodongkan pistol ke depan. Liz yang menutup telinga, menatap bingung Riens. Ia melirik horor ke luar jendela yang masih terbuka lebar, lalu melirik Riens. Moncong pistol terarah tepat pada kepala plontos pria gempal. Hanya perlu satu peluru, pintu akhirat sudah terbuka. Tubuh preman-preman itu masih gemetar, mereka melirik takut-takut ke arah Riens yang tersenyum miring. Liz mencoba menyentuh lengan Riens. "Kita akan_" "Lompat!!" Belum sempat berucap, suara tinggi Riens membuatnya terhuyung. Liz memejamkan mata, kemudian tubuh ringannya melayang di udara sebelum jatuh bebas, ia sudah pingsan. "Selamat!" Wajah tegang Riens kembali tenang, saat mendengar aba-aba yang dikirim anak buahnya dari bawah. Sementara para preman di buat bingung, oleh senyum Riens dan adegan yang baru terjadi. “Di—Dia menipu kita!” Riens mengangkat kedua tangan. "Ah, aku menakuti kalian?" Pria itu masih bisa tenang, meski para preman sudah berdiri dengan emosi. Kembali Riens arahkan moncong pistol ke depan, membuat orang-orang itu terkesiap lagi. "Sayangnya aku tidak bisa membunuh kalian sekarang," gumamnya. Pelatuk ditarik, moncong pistol menyemprotkan air. Mengundang teriakan panik dan kaget para preman, saat rintik air membasahi. Riens mendekat ke jendela, masih dengan senyum mengembang lebar, dia akhirnya melompat. "Dia kabur!!" Serempak mereka mendekat ke jendela, mendapati trampolin sudah berada di bawah. Riens mendarat sempurna di atasnya, dia melirik ke atas kamar hotel. Lalu melambai, sebelum masuk ke mobil. Dua mobil hitam itu melaju meninggalkan area hotel. Menyisakan teriakan marah para preman. *** "Maaf atas keterlambatan kami, Anda baik-baik saja?" Pria yang berada di kemudi bertanya, melirik Riens yang berada di kursi penumpang melalui spion. "Di mana Jeff?" "Ah, dia sedang ada misi di Utara." Lantas pria itu tampak ragu melanjutkan, membuat Riens melirik tajam. "Bicara," katanya. "Chairman sedang kesal, apa Anda bisa meredam kemarahannya? Anak-anak hanya ingin menyampaikan informasi, tapi mereka justru keluar dari ruang Chairman dengan luka." Riens terdiam, kemarahan Yamaa muncul karena kecerobohannya membiarkan Rodrigo berkeliaran bebas. Selain dirinya, hanya Rodrigo yang paham seluk-beluk keluarga mafia Mackenzie di Italia. Menjual informasi penting itu kepada musuh, jelas menjadi pengaruh besar bagi perusahaan dan bisnis Yamaa. Terlebih keonaran baru yang dibuat Rodrigo di pabrik produksi minuman milik Yamaa, hampir menggagalkan impor besar-besaran yang dilakukan. "Sebenarnya apa yang membuat Chairman begitu marah?" Pria di kemudi kembali bicara. "Saya belum pernah melihat sosok beliau yang seperti itu." Riens melirik sekilas. "Tutup mulutmu, dan jangan sampai ada orang yang mendekat sampai ada perintahku." "Siap, Bos!" Jalanan terlihat gelap, suasana sunyi pecah kala terdengar seseorang meracau. Baik Riens maupun dua pria yang duduk di depan, sama-sama menoleh ke arah Liz. Perempuan itu masih pingsan, tapi wajah pucatnya sudah dipenuhi peluh. Keningnya mengernyit, dan mulut itu tak henti meracau. Riens menghela napas, dia bersandar sambil memejamkan mata. "Cari rumah sakit terdekat, dan jangan ada yang menoleh ke belakang." Suara berat Riens mampu menciptakan ketegangan di wajah anak buahnya, mereka kembali menghadap depan dengan tubuh membeku memperhatikan jalan. Walau sama-sama terbesit kalimat, mengapa bos begitu peduli pada perempuan itu? *** Mila menatap aneh Liz yang senyum-senyum sambil melirik kakinya yang beralaskan sandal jepit hitam. “Apa demammu semakin parah?” Wajah perempuan itu semakin memerah, mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar. “Aku rasa ada masalah dengan hatiku, debarannya membuatku sakit, tapi aku justru merasa senang.” “Sadarlah,” kata Mila sambil menepuk-nepuk pipi Liz. “Sudah kubilang tolak tawarannya, dia sudah membuatmu dalam bahaya. Di mana dia?! Dia kabur, 'kan?!" Liz melirik ponselnya, sudah tiga hari sejak mereka pergi ke kampung pengedar itu, dan sampai sekarang Riens tidak memberinya kabar lagi selain memintanya untuk diam. "Ini masalahku, jadi jangan menyalahkannya. Dia hanya ingin membantu," papar Liz. "Lagian aku tidak terluka, dia benar-benar orang yang sulit ditebak." Mila melongo, sementara Liz tampak sibuk dalam lamunan, bibir perempuan itu tak henti tersenyum. Dan Mila terlalu sulit untuk berkata. "Terserah, percuma saja bicara dengan orang jatuh cinta." Dia berdiri, membuat kesadaran Liz kembali. "Ke mana?" "Kembali bekerja," sahut Mila. "Aku tidak lagi kerja di bawah papamu, jadi aku harus cari kerja lain untuk menghindari hal yang tidak-tidak." Mila memandang sekitar kafe, lalu mendekat. Dan berbisik, "seperti mencari duda kaya contohnya." Dia lantas tergelak, lalu mengacak-acak surai Liz sebelum pergi dari sana. Tepat di luar kafe, sebuah panggilan masuk. Tawanya hilang, tergantikan wajah serius. Mila berdeham, sebelum mengangkat panggilan. "Ya, tuan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN