BAB 14 Berpacu adrenalin.

1449 Kata
“Tempat apa ini?” Liz memindai sekitar, setelah melalui gang-gang sempit, kini mereka tiba di sebuah pemukiman. Sangat jauh dengan kota, pemukiman ini tampak tidak tersentuh. Riens berjalan memimpin, meninggalkan Liz beberapa langkah di belakang. Ia masih mengira-ngira rencana pria itu, tapi justru malah terjebak di tempat antah berantah. “Hei, aku tanya kita ada di mana?!” Suaranya meninggi, membuat Riens berhenti dan melirik tajam. “Sudah kubilang jangan mengajakku bicara,” ucapnya dan kembali berjalan. Liz menyusul, dan menyisakan satu langkah di belakang Riens. Pandangannya mengedar, aroma tak sedap dari sampah yang menumpuk di setiap sudut jalan, jalanan yang berlubang-lubang dan berlumpur, juga suasana sunyi mencekam. Jelas sangat asing untuknya. Setelah perjalanan selama hampir tiga jam, Riens masih tak jua memberitahu tujuan mereka. Sekelompok pemuda berjalan mendekat, langkahnya sempoyongan, mereka tertawa keras, sesekali mengacungkan botol minuman. Di siang bolong begini, orang-orang justru terang-terangan mabuk. Liz berdiri tepat di belakang Riens, tubuhnya menempel di punggung lebar itu, ia mencengkeram erat lengan pria itu sambil menunduk. Riens terdiam, lalu melirik ke samping. Saat sekelompok pemuda itu melewati mereka, dapat Riens rasakan cengkeraman Liz menguat. “Kukira kamu cukup nekat dengan mengajak orang-orang itu ribut,” gumamnya. Perempuan itu tersentak, dan mendongak dengan ekspresi kesal. Kemudian menepis tangannya, lalu berjalan mendahului. “Aku masih waras, berdebat dengan orang tidak sadar hanya membuang waktu.” Liz memasukkan kedua tangannya dalam saku mantel. Ia terdiam sejenak. Lalu berkata, “aku mengenal seorang pemabuk berat. Bicaranya tidak jelas, dan dia selalu bicara dengan tangan. Saat itulah aku tahu, lebih baik menghindar di banding harus menjelaskan.” Riens memperhatikan punggung Liz, rambut sepinggangnya menari-nari tertiup angin. Samar-samar aroma bunga menguar membuat langkahnya terhenti. “Apa dia mantan suamimu?” Liz menoleh, lalu berjalan mundur. “Bukan, dia seseorang yang kukenal saat kecil. Sekarang aku sudah lupa, entah wajah atau namanya.” Ia lantas tertawa kecil, membuat muka Riens berubah masam. “Apa yang lucu?” “Karena ini pertama kalinya, aku melihatmu penasaran. Biasanya kamu selalu berekspresi seperti ini.” Liz menunjukkan ekspresi datar, sekejap berubah kaget mendengar keributan di sebuah bangunan. Tarikan kuat membuat tubuh Liz terhuyung, belum sempat bicara, Riens sudah menutup mulutnya dengan tangan. Mereka kini bersembunyi di antara dua bangunan, terapit sempurna tanpa menyisakan ruang. “Belum ada kabar juga?! Sial! Nama saja yang besar, tapi dia lebih pengecut dari klien sebelumnya!” Seorang pria berbadan gempal keluar dari bangunan yang berada di seberang, ada dua pria lain yang berbadan kurus dan lebih tinggi. “Bos, apa kita datangi saja kantornya?” Kepulan asap rokok membumbung tinggi, menjadi latar di bawah langit mendung. “Tidak, kita tunggu sampai tenggat waktu. Lagian dia tidak bisa kabur, karena kita sudah memegang kartu as miliknya.” Perkataan pria gempal mengundang tawa yang lain. Liz tidak bisa fokus pada apa yang dibicarakan, ia membeku merasakan debaran hebat di jantungnya. Riens tampak waspada memperhatikan, sesekali melirik perempuan di bawahnya. Wajah itu memerah, dan peluh sudah membasahi wajah pucatnya. “Si Antonio itu punya istri cantik dan seksi, tapi kenapa masih bercerai?” Liz menoleh cepat mendengar nama belakang Morgan disebut, ia mengernyit. “Mungkin dia tidak bisa memuaskan di atas ranjang!” Serempak mereka tertawa keras, membuat Liz memanas. Sebelum ia melangkah, Riens sudah lebih dulu menahannya. “Lepas,” bisik Liz. “Jangan ceroboh,” balas Riens penuh penekanan. “Kalian mana tahu rasanya dijadikan objek guyonan kotor seperti itu,” gumam Liz sambil memberontak. Cengkeraman Riens begitu kuat, membuatnya merasa lelah seketika. "Lepas!” Dalam sekali tarikan kuat, cengkeraman terlepas membuat Liz terhuyung sebelum bokongnya menyentuh aspal jalan dengan keras. Ia meringis, dan mengaduh kesakitan. “Aduh...” “Siapa kalian?!” Riens dan Liz sama-sama menoleh. “Bos! Bukannya dia si Mackenzie itu?!” Seruan panik terdengar, pria kurus tersebut menunjuk ke arah Riens. “Apa?! Untuk apa dia di sini?!” Pria gempal tampak murka. “Panggil anak-anak lain!” Riens menarik Liz untuk berdiri, lalu menggeledah isi jasnya dan terdiam sesaat untuk melirik Liz. Dia berdecap, lantas mengeluarkan pistol dan mengacungkan ke depan. “D—Dia membawa senjata!” Liz menatap horor pada pistol di tangan Riens, pria itu mengerutkan kening. Namun, fokusnya tertuju pada orang-orang yang keluar dari bangunan. “Kakimu sakit?” bisik Riens. “T—Tidak,” sahut Liz kaku. “Oke, pada hitungan ketiga, lari secepat mungkin.” Liz menatap heran. “Apa_?” “Tiga!” Riens sudah lebih dulu berseru, membuat Liz panik dan lari. Ia melempar sandal heelsnya, dan berlari lebih cepat tanpa alas. Membiarkan tanah berlumpur dengan kerikil kecil menggoresnya. Angin berembus kencang, membelai lembut wajahnya yang justru semringah. Perasaan bebas, hati yang terasa lapang, dan pikiran yang berwarna kelabu ini, apa sesuatu yang dicarinya. Liz tersenyum lebar, ia merentangkan kedua tangan. Namun, tarikan kuat seakan membawanya kembali ke realitas. Riens menarik lengannya menuju jalan tikus yang diapit dua bangunan, jalan sempit itu hanya bisa dilewati satu orang. Keributan terdengar, Liz menoleh lantas matanya melebar. Saat orang-orang itu mencoba menyusul, saling berebut untuk masuk, dan berakhir teriakan. “Berhenti!!” Teriakan itu teredam saat hujan tiba-tiba turun deras, langit siang jadi tampak seperti malam. Angin berembus kencang, petir saling bersahutan menciptakan ketegangan. *** “Di mana sandalmu?” Liz melirik kakinya yang sudah terlumur tanah berlumpur, lalu tersenyum canggung. “Aku melepasnya.” Riens hanya melirik sekilas, kemudian mendekat ke arah jendela. Hujan lebat disertai angin petir menghambat perjalanan mereka, dan terpaksa dia mencari penginapan terdekat. Bangunan empat lantai itu, hanya punya tiga kamar di masing-masing lantai. Tidak banyak penginapan di sana, membuat kemungkinan besar keberadaan mereka ditemukan. Bila mengandalkan otak. Namun, orang-orang itu tak lagi mengejar. “Siapa mereka?” “Orang-orang yang bekerja di bawah nama mantan suamimu,” balas Riens tanpa menoleh. Liz mengerutkan kening. “Bisa berhenti menyebut mantan suamiku? Katakan saja Morgan.” Ia menggerutu, menyadari pakaiannya yang sudah basah. Pandangannya mengedar, lalu mendekat menuju sebuah lemari kayu. Liz berdecap, mendapati lemari yang kosong, tanpa handuk atau kain. “Sampai kapan kita di sini?” Ponselnya pun mati. “Sepertinya akan lama,” sahut Riens. Liz mendesah lelah, ia berbaring di single bed yang hanya cukup untuk satu orang. “Ini semua karenamu, buat apa pergi ke tempat terpencil seperti ini?” Riens menoleh, satu alisnya terangkat. “Siapa yang keras kepala minta ikut?” Liz bungkam, tubuhnya terasa lengket dan basah, sungguh tidak nyaman. Namun, tidak mungkin ia membuka pakaian saat pria itu ada di sini. “Aku perlu tahu rencanamu seperti apa,” ujar Liz. Ia melirik Riens. “Akui saja kita sama-sama nekat, bedanya aku masih waras. Untung saja lariku cepat, bisa gawat jika mereka menangkap kita.” Liz bergidik ngeri, mengingat kembali puluhan orang keluar dari bangunan dan mengejar mereka. Saat itu ia bahkan lupa dengan kondisi kakinya. “Bagaimana kakimu?” Liz menoleh cepat. “Jalanmu sedikit pincang tadi,” lanjut Riens. “Kenapa? Mau mengobati?” Liz tersenyum kecil, sedikit menggoda Riens menjadi hiburan baru untuknya. Namun, kembali menggerutu mendapati wajah datar pria itu. Liz menggaruk tengkuk, mendadak canggung. “Ini bukan karena berlari tadi, jadi tidak perlu dipikirkan.” Selanjutnya Riens justru keluar dari kamar, meninggalkan Liz yang melongo tak percaya. Ia menghela napas, lalu berbaring lagi. Matanya terasa berat, berulang kali menguap, sebelum jatuh terlelap. *** Dalam buaian mimpi, Liz terkikik geli. Sesuatu menggelitik kakinya, tapi ketika menunduk hanya didapati jari jemari panjang. Masih tertawa kecil, ia akhirnya tersentak bangun, dan terduduk saat nyeri dirasa. “Sakit!” Lap basah itu jatuh, saat kakinya melayang ke udara. Liz terkesiap, mendapati Riens tengah duduk di bawah kakinya. “Se—Sedang apa?” Riens menangkap kaki Liz, dan meletakkan kembali di lantai. Dia mengambil perban, lalu membalut pergelangan kaki kiri Liz membuatnya tersentak. Memperhatikan plester luka yang menempel di luka gores yang ada di kaki. Riens berdiri, membawa serta kotak obat, dan meletakkannya di meja samping ranjang. “Te—Terima kasih,” gumam Liz sambil terus memperhatikan ikatan perban yang cukup rapi. Diam-diam tersenyum, merasakan debar aneh di d**a. “Telingaku sakit mendengarmu terus merengek,” sahut Riens sambil menarik kursi kayu dan membawanya ke hadapan Liz. Dia duduk di sana dengan wajah kesal Liz yang menyambut. “Kamu harus paham cara melindungi diri sendiri, dan jangan membuatku repot.” “Itu artinya kamu sebagai pria harus lebih kuat lagi melindungiku,” balas Liz sambil bersedekap. “Kita ini kan partner, jadi harus saling menguntungkan.” Riens menatap lama, lantas melepas jas hitam yang dikenakannya. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jas, dan meletakkan pistol di atas meja. “Hei! Cepat sembunyikan! Jika ada yang tahu, habislah kita!” Liz panik, bergegas berdiri sambil memandang sekitar. Matanya sontak terpejam, kala Riens berdiri sambil mengacungkan pistol ke udara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN