BAB 13 Penawaran.

1459 Kata
Menit telah berganti jam, entah berapa lama lagi Liz terdiam dalam keterkejutan. Setelah perkataan menggantung dari Riens, Morgan tampak luluh, dan mereka pergi menuju ruang kerja. Menjadikan kesempatan untuknya melarikan diri. “Apa Riens tahu aku ada di sana?” Lebih dari rasa penasarannya pada kalimat Riens, ia lebih penasaran tentang tatapan pria itu yang menembus langsung ke matanya. Apa yang dilakukan Riens di sana? Apa mereka mau bekerja sama? “Dasar ceroboh,” gumam Liz merujuk pada sepasang sendal miliknya yang berada di rak sepatu. Terlalu menonjol di antara banyaknya sepatu milik Morgan. Tidak sulit untuk orang seperti Riens tahu, kepekaan pria itu sungguh gila. Liz merunduk membiarkan keningnya beristirahat pada setir mobil. Ia masih berada di basemen apartemen, berharap dapat menemui Riens dan menanyakan banyak hal yang justru tak jelas. Ketukan pada kaca mobil, mengejutkannya. Bagai melihat hantu, Liz sampai menahan napas mendapati Riens berada di luar mobilnya. Memberi kode dengan gerakkan tangan, lalu kaca mobil pun turun. “A—Apa?” Dari banyaknya kata yang tersusun, hanya itu yang mampu keluar. “Buka,” balas Riens. Lantas masuk ke mobil. “Terlalu ceroboh untuk bisa senekat itu,” lanjutnya. “Apa?” ulang Liz. “Apa kamu menyindirku?” Riens menoleh, membuat Liz lagi-lagi menahan napas. Wajah pria itu tak berubah pun dengan ekspresinya, tapi ada sebuah luka sayat di pipinya yang masih terlihat basah dan baru. “Meski nekat, tapi dia jauh lebih nekat darimu.” Liz paham perkataan Riens, pria itu bicara tentang Morgan dan anger issue yang dimilikinya. Pandangan Liz terkunci pada luka yang membuat fokusnya hilang. “Apa yang ada di kepalamu dengan nekat menemui dia? Untungnya dia sedang tidak sadar, jika tidak_” Kalimat Riens terpotong, saat tangan dingin Liz menyentuh wajahnya. Untuk sesaat dia terpaku, sampai senyum Liz membuatnya menjauh. “Apa-apaan ini_?” “Tidak perlu waspada seperti itu, aku hanya menempelkan plester di lukamu.” Riens menyentuh wajahnya, merasakan suatu benda menempel di sana. Lalu beralih menatap Liz yang memilih memalingkan wajah. “Aku tidak akan bertanya apa pun, tentang menghilangnya dirimu, atau tentang hari ini.” Liz berujar nyaris bergumam, tiba-tiba saja ia merasa takut. “Terima kasih sudah membantuku dengan pengacara itu,” ujarnya lagi. Lalu melirik ragu pada Riens yang tak jua mengalihkan pandangan, menatap dalam tanpa ekspresi. Liz menelan ludah. Lantas melanjutkan, “boleh aku tanya sesuatu? Bukti itu ... Maksudku kamera berisi bukti, apa kamu yang mengambilnya?” “Ya,” balas Riens. “Apa? Tapi kenapa_? Itu bisa dijadikan bukti untuk menangkapnya, 'kan? Apa sebenarnya tujuanmu membiarkan Morgan bebas?” tanya Liz beruntun. Riens masih bungkam, membiarkan deru napas Liz memburu mengisi keheningan. Kemudian Riens memandang ke arah lain. “Dia pecandu dan pengedar,” ujarnya. Liz mengernyit, tapi tak bertanya. “Hukuman untuk pelaku kekerasan bisa saja lebih ringan, dan dia bisa bebas kembali tanpa khawatir apa pun. Apa itu maumu?” Riens kembali menatap Liz. Dia melanjutkan, “mereka menyembunyikannya cukup baik. Tapi terlalu gegabah dengan mempercayakan si pecandu macam dia.” Liz masih diam, terlalu tidak percaya dengan perkataan Riens. Pengedar? Pecandu? Morgan terlihat normal saat mereka bersama, apa perkataan Riens bisa dipercaya. Terlebih lagi ia tidak terlalu mengenal sosok pria di depannya. *** “Kamu yakin dia bisa dipercaya?” Liz dan Mila sama-sama menatap seorang pria yang duduk beberapa meja dari tempat mereka. “Ya,” balas Liz tanpa mengalihkan pandangan. “Kenapa?” tanya Mila sambil menatapnya. “Menurutmu kenapa?” Liz bertanya balik. Mila menghela napas, tampak lelah menanggapi sikap naif Liz. “Apa yang bisa dipercaya dari orang sepertinya? Buka matamu, dia pasti punya maksud tersembunyi.” Mila menggeser kursinya mendekat ke arah Liz, kini mereka sama-sama menghadap depan. “Perhatikan baik-baik, dia itu tidak normal.” Liz mengernyit. “Apanya yang tidak normal? Bagiku dia terlihat seperti orang biasa.” “Orang normal mana yang saat di keramaian, tidak memainkan ponsel. Dia bahkan tidak berubah posisi duduknya sejam ini, lihat!” Walau berbisik, suara Mila masih terdengar kencang membuat netra tajam Riens memandang ke arah mereka. Mila bungkam seketika. “A—Apa dia baru saja mendengarnya?” Liz menghela napas, lantas mengangguk. “Sudahlah, Mil. Aku minta pendapatmu tentang tawaran dia, bukan minta penilaianmu tentangnya.” “Inilah sebabnya papamu memperkerjakanku sebagai bodyguard-mu, hatimu terlalu lembut, dan serigala seperti mereka mudah menipumu.” Mila mendengkus kembali melirik ke arah Riens. Suasana kafe cukup ramai memasuki jam makan siang ini, tapi pria itu sama sekali tidak terusik dengan keramaian di sekitarnya. “Posisi duduknya yang tegap dan pandangan lurus, membuktikan dia bukan orang biasa. Dia cukup waspada pada sekitar,” papar Mila. Bertahun-tahun bekerja di sebuah perusahaan keamanan yang cukup terkenal, pengamatannya tidak mungkin salah. Riens bukan orang biasa, meski pria itu pandai mengendalikan emosi dan ekspresinya. “Kamu bilang dia kerja di mana?” “Kudengar di bagian keamanan sebuah perusahaan, tapi apa memang sesenggang itu sampai mau mengurusi masalah seperti ini?” Sekarang Liz justru mempertanyakan tentang Riens. Mila menepuk keningnya, cukup lelah dengan kelambanan Liz mengenali keadaan. “Jauhi dia, ada yang tidak beres dengannya.” Wajah wanita itu berubah serius, pandangannya lurus menatap tepat pada sosok Riens. Setelah Liz memintanya bertemu dan membantu mencari jalan keluar mengenai tawaran pria itu, Mila sudah merasa sesuatu yang salah. “Riens telah membantu dengan perceraianku dan Morgan,” ujar Liz. “Itu bisa saja triknya, mengambil hatimu, lalu bisa leluasa memanfaatkanmu.” Mila memotong. “Lagian buat apa repot-repot mencari bukti tentang kasus Morgan yang pecandu? Jika bukan demi keuntungannya sendiri.” Liz terdiam, mencoba meresapi perkataan Mila. Seolah menyadarkannya, ia tidak tahu apa-apa tentang Riens. Bahkan tak yakin pria itu tahu tentangnya, selain dari pemberitaan di media. “Kamu benar, Mil.” “Jelas,” potong Mila lagi. “Sekarang bilang tegas padanya kamu menolak, lalu jauhi dia.” *** Namun, nyatanya nyali Liz ciut saat berhadapan dengan Riens. Pria itu tidak mengeluarkan sepatah kata, hanya duduk diam dengan pikiran yang entah ke mana. “He—Hei,” panggil Liz ragu. “Apa kata dokter?” tanya Riens cepat. Liz mengernyit. “Dokter? Dokter apa?” “Kamu terlihat sekarat semalam,” balas Riens. Ingatan Liz sontak berputar pada kejadian semalam, niat bersenang-senang untuk hilangkan stres, ia justru nyaris ditiduri orang asing. Matanya melebar seketika, menatap tak percaya pada Riens. “Apa kecerobohanmu itu sudah mendarah daging? Anak kecil saja tahu untuk tidak menerima permen dari orang lain,” ujar Riens. Wajahnya tampak kesal. Liz terlalu terkejut sampai lupa tujuan awalnya mendatangi pria itu. Ia memicing curiga, terlalu banyak kejanggalan yang terjadi. “Kamu memata-mataiku?” “Buat apa?” tanya Riens balik. Liz bungkam seketika, tapi masih menatap pria di depannya ini curiga. “Klub itu dikelola kenalanku,” tutur Riens. “Sesekali aku membantu keamanan di sana, tapi seseorang lolos pengawasan dan berniat mengedarkan obat-obatan.” Liz menutup mulut, tenggorokannya tercekat. Apa mereka juga memberinya obat-obatan itu? “Mereka hanya memberimu obat tidur, tapi dosisnya cukup tinggi sampai membuatmu hilang kesadaran dengan cepat.” Seakan tahu, Riens bicara dengan tenang. Ini terlalu mengejutkan, hidupnya serasa di dalam film, dan semua terjadi setelah Riens hadir di hidupnya. Liz menatap lama, memikirkan kembali perkataan Mila. “Aku menolaknya,” ujar Liz. “Tawaran itu,” lanjutnya. Riens hanya diam, sesaat kemudian berdiri membuat Liz mengikuti dengan bingung. “Kamu tidak tanya kenapa?” tanyanya. “Buat apa?” Riens bertanya balik. “Aku hanya memberimu tawaran.” “Apa untungnya masalah ini untukmu?” Kembali Liz bertanya, untuknya penawaran ini begitu berguna, tapi untuk Riens yang jelas-jelas hanya punya hubungan bisnis perusahaan dengan Morgan? “Dia yang memilih,” katanya. Sekarang apa lagi? Riens hanya menjawab tak jelas, tapi justru mampu menjelaskan panjang lebar. Rasanya Liz lelah sendiri. “Aku punya satu syarat, jangan minta aku kembali dengan Morgan.” “Kamu mengubah pikiranmu?” tanya Riens sambil tersenyum miring. “Tidak, aku tidak seratus persen percaya padamu. Tapi bila masalah ini semakin besar karena ulahmu, aku tidak bisa diam saja.” Liz mengembuskan napas perlahan, mendadak saja ia merasa gugup. Meski Mila telah memintanya berpikir dengan logika, tapi Liz punya alasan kuat untuk berada di samping Riens, setidaknya sebagai partner. “Jadi, apa rencanamu?” tanyanya. Riens tidak langsung bicara, sebaliknya justru tampak memperhatikan sekitar. “Sepertinya isu itu telah membuatmu jadi terkenal.” Liz mengernyit, dan mengikuti arah pandang Riens. Matanya melebar, beberapa orang terang-terangan merekam, sambil sesekali berbisik. Ia bukan orang yang sering kali muncul di televisi, meski beberapa kali penampilannya ditampilkan di beberapa media sosial. Jelas saja ini membuatnya aneh. “Percuma saja, itu tidak berpengaruh banyak untuk karierku.” Liz berkata tanpa mengalihkan pandangan. “Tapi mungkin akan ada berita buruk lainnya yang mengancam perusahaan.” Ia lalu menoleh. “Jadi, apa rencanamu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN