BAB 12 Teka-teki Riens.

1345 Kata
“Kami menemukan ini di saku celananya,” ujar salah seorang dari pihak keamanan. Menyerahkan sebuah bungkusan dalam kertas koran, Riens menerimanya. Menimbang-nimbang sebelum merobeknya, seketika bungkusan kecil plastik bening berhamburan. Terlihatlah beberapa butir pil, serbuk, dan obat-obatan dengan berbagai jenis warna dalam kemasan berbeda. Riens mengenali beberapa, di antaranya adalah obat-obatan terlarang. “Kumohon lepaskan aku! Aku dijebak! A—Aku dijebak perempuan itu! D—Dia merayuku!” “Diam!” sentak dua pihak keamanan sambil menekan kepala seorang pria yang sudah babak belur, dan hanya bisa duduk bersimpuh. “Riens, apa dia benar-benar utusan dari musuh? Atau anak buah Rodrigo?” bisik Jeff. Bukan tanpa alasan, organisasi mana yang mau memperkerjakan orang yang jelas-jelas terlihat linglung. Pengaruh obat macam sabu, memang mudah mengambil alih kesadaran otak. Riens melirik sekilas, lalu mendekat, dan berjongkok di depan pria itu. Memaksa untuk mendongak dengan moncong senapan yang dibawanya. Tubuh itu gemetar, terlihat jelas jawaban atas pertanyaan Jeff. “A—Aku bersumpah, kami tidak saling kenal. D—Dia ... Dia merayuku, dan tiba-tiba aku_” “Tiba-tiba ingin menidurinya?” potong Riens. “Berhenti mengoceh, siapa yang mengirimmu?” Pria itu melirik takut-takut ke sekitar, terlalu banyak mata yang siap menerkam kapan saja. “Lepaskan dia,” titah Riens. Melihat tak ada pergerakan membuatnya mendongak, menatap datar pada dua pihak keamanan yang sontak gelagapan dan melepaskan cengkeraman mereka. Kembali pandangan Riens tertuju pada pria di depannya, tertunduk lesu dengan tubuh yang masih gemetar. Pandangannya turun, pada sebuah ponsel yang sedikit menyembul di saku jaket. Nomor tak bernama menghubungi, Riens terdiam cukup lama. “Katakan, sebelum kubuka paksa mulutmu.” Kemudian dengan gerakan patah-patah, pria itu mendongak. Matanya menyiratkan kemarahan, begitu cepat tangan itu berayun acak, lalu menubruk tubuh Riens sebelum berlari sempoyongan. Riens menyentuh pipi kirinya, sensasi perih terasa, dia mendapati bercak darah yang kini menempel di tangan. Riens berdiri dan berbalik, dalam satu tembakan, peluru melesat cepat menembus rongga d**a yang membuat sosok itu jatuh tersungkur. Suasana hening seketika, menyisakan deru napas yang perlahan menghilang. Riens menoleh ke arah Jeff, lalu beralih melirik lantai. “Sudah kubilang jangan pernah tinggalkan pos.” “Mereka tidak meninggalkan pos,” balas Jeff. Dia melanjutkan, “tapi memang sempat ada pergantian posisi, dan pos jaga.” Selanjutnya diisi keheningan. Sementara Riens sibuk mengelap kedua tangannya, seakan baru saja menyentuh kotoran. Jeff justru tampak mematung, sebelum ingatan semalam mampir di kepala. Matanya melebar. “Riens! Orang itu! Si anak baru!” Jeff menjambak rambutnya frustrasi. “Cari di mana dia sekarang!” Mereka membagi dua kelompok, sebagian serempak pergi, sebagian lainnya membawa tubuh tak bernyawa di atas lantai. “Sial! Bagaimana bisa aku tidak sadar?!” teriak Jeff frustrasi. Lalu menoleh ke sekitar. “Aku akan cek CCTV,” lanjutnya bergegas pergi. Riens melirik lantai, lalu mengambil salah satu bungkus plastik berisi obat. Orang-orang mencoba bermain dengannya, menyeludupkan obat-obatan dengan memperkerjakan si pecandu, adalah sebuah tindakan terbodoh. *** “Mereka tidak ada hubungannya dengan Rodrigo atau organisasi lain,” papar Jeff. Setelah mengecek CCTV, dan menginterogasi orang terkait. Mereka mengambil sebuah kesimpulan. “Mereka hanya gangster jalanan, dan si pencandu yang mencoba mencari tahu. Setelah mendengar desas-desus tentang klub ini.” Riens bergeming, terlalu disibukkan oleh ponselnya. Tidak banyak pesan yang masuk, hanya beberapa dari anonim, dan Jeff. Dia terdiam memandang rentetan pesan masuk dari nomor yang sama. “Kurasa dia mencarimu, Riens.” Perkataan Jeff merujuk pada keberadaan Liz di klub, beruntung dia sempat menemukan sebelum perempuan itu jatuh dalam perangkap si mata keranjang. “Untungnya obat yang dimasukkan, hanya obat tidur.” Riens masih bungkam, tak jua mengalihkan pandangan. Jeff menghela napas, terdiam sesaat sebelum berkata. “Hei, Riens. Ini akan jadi masalah, kita tidak diperbolehkan menembak sembarang orang yang tidak terkait. Apa lagi sampai melukai warga sipil.” Penuturan Jeff membuat Riens memusatkan perhatian, walau tidak sepenuhnya. “Anggap saja aku telah meringankan beban aparat.” Kemudian dia berdiri. “Tugasmu 'kan untuk menyembunyikan, bukan sesuatu yang sulit.” Selepasnya Riens berbalik dan pergi, meninggalkan Jeff yang sudah kehilangan kata. Menyadari bahwa hukuman yang diberikan Chairman telah membangunkan kembali sosok iblis di hati Riens. *** Meski matahari sudah mencapai kepala, Liz tak jua beranjak dari ranjang. Terus bersembunyi di dalam selimut, sembari memeluk tubuhnya yang tak henti gemetar. Mencoba mencari jalan keluar, ia justru terlihat dalam masalah besar. Bila pun dirinya kembali kepada Morgan, apakah semua akan kembali normal mengingat pria itu saja sudah tidak normal. Helaan napas terdengar saat Liz menyingkap selimut, pandangannya lurus pada langit-langit kamar. Morgan masih berkeliaran bebas, bahkan setelah bukti-bukti kekerasan yang Liz punya. Tunggu. Ia terduduk seketika, bukti video itu harusnya masih ada, jika memang pengacara yang dikirim Riens tidak membawanya ke pengadilan. “Itu dia!” Liz berseru, beranjak dari ranjang, kemudian keluar dari kamar dengan masih mengenakan pakaian sama seperti semalam. Ini masih jam kerja, dan Morgan pasti berada di kantor. Walau tidak terlihat, tapi pria itu cukup ambisius menggantikan jabatan direktur. “Di mana papa?” Liz bertanya pada kepala Maid, setelah sebelumnya terburu-buru ke kamar dan merenung. “Beliau pergi pagi-pagi sekali, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya. Liz terdiam, sudah jelas papanya berada di kantor. Ia lantas menggeleng, belum sempat melangkah, suara lain lebih dulu menyela. “Kamu tuh mau pergi ke mana lagi? Sudah keluyuran tak jelas semalaman, lalu mau pergi lagi?! Baru jadi janda, tapi tingkahmu lebih sulit diatur dan lebih memalukan dari perempuan lajang.” Sungguh? Ketenangan seperti apa yang diharapkan, saat Marie masih ada di sini. Memilih mengabaikan, Liz kembali berjalan menuju pintu. “Untungnya ada Laura, walau dia hanya anak tiri, tapi dia justru membantu papamu lebih dari anak kandungnya yang tidak bisa diharapkan.” Liz mengembuskan napas pelan-pelan, ia sempatkan untuk menoleh. Marie berdiri di anak tangga terakhir, tangannya terlipat di d**a. Wajah angkuh itu tak berubah. “Papamu benar, rujuklah dengan Morgan. Lagian dia itu laki-laki yang baik, dan setara dengan kita. Mau cari apa lagi memangnya? Jadi janda itu jangan pilih-pilih, mau terus gagal sampai tua?” Liz menatap datar, sama sekali tidak terpancing meski hatinya sedikit panas. Dan kembali helaan napas terdengar, ia membuka pintu dan memilih pergi. Mengendarai mobil di jalanan yang cukup padat, dan memikirkan kembali perkataan Marie. Tidak salah juga tidak benar. Namun, cukup untuk menyentil sudut hati Liz. Ia tidak mempermasalahkan statusnya kini yang dianggap masyarakat sebelah mata, tanpa mau tahu alasan perpisahan itu terjadi. Perempuan mana yang mau menjanda, bila bukan karena keadaan di luar kendalinya. Entah sudah kali ke berapa Liz menghela napas, dan tersadar ketika tiba di area basemen apartemen Morgan. Mencoba tenang, ia lalu keluar dari mobil. Suasana yang memang selalu sepi, membuatnya sedikit tenang. Tanpa ada masalah, Liz tiba di kamar apartemen Morgan setelah menaiki lift. Ia masuk dengan mudah, password apartemen pria itu masih sama. Namun, ada sepasang sepatu lain di sana. Liz menyusuri ruang tamu, tak didapati tanda-tanda kehidupan. Rapi dan bersih, jauh dari Morgan yang temperamental. Kemudian ia melangkah menuju kamar utama, membuka sedikit pintu memberi celah, dan masuk. Ranjang yang berantakan dengan selimut dan seprai yang berada di lantai, menyambut Liz. Tidak ada kamera di tempat yang ia sembunyikan, sampai pada sudut-sudut lemari pun tidak terlihat. Seseorang telah mengambilnya. Apa itu Morgan? Atau Riens? “Apa lagi sekarang?” Liz tersentak, suara Morgan mendekat membuatnya bergegas menuju pintu. “Aku sudah tidak butuh kontraknya, dan tidak berharap lagi mendapat investasi dari perusahaanmu.” Kepada siapa Morgan bicara? Liz mencoba mengintip, matanya melebar mendapati sosok tak asing yang berjalan tenang di samping Morgan. Riens? Terlalu terkejut, Liz tidak sadar kepalanya terantuk menimbulkan bunyi yang cukup keras. “Siapa di sana?!” Itu suara Morgan, pun derap langkah mendekat membuat Liz berkeringat dingin. “Saya punya bukti dan tawaran yang kalian mau!” Suara berat Riens terdengar membuat langkah Morgan terhenti, dia berbalik dan menghampiri lagi. “Bukti? Bukti tentang apa?” Liz masih menahan napas, diam-diam memperhatikan dari dalam. Turut penasaran dengan perkataan Riens. “Tergantung dengan apa yang ingin kalian dengar.” Pria itu memandang lurus, tatapan tajamnya mengarah langsung pada celah pintu kamar yang terbuka. Lalu tersenyum miring.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN