BAB 11 Hancur sendiri.

1411 Kata
“Apa maksud Papa? Aku dan Morgan harus rujuk kembali?” Hanya itu yang mampu Liz tangkap, atas penjelasan singkat yang Wira berikan. “Tidak, Liz.” Wira menyentuh tangan putrinya yang saling mencengkeram di atas pangkuan, seolah mengerti kekhawatiran Liz. “Lalu apa?” Liz menghindar, napasnya tertahan. “Kamu hanya perlu bersama Morgan sampai kondisi membaik,” papar Wira. “Itu sama saja! Apa Papa lupa dengan apa yang dia perbuat?!” Liz berdiri, emosinya terpancing. Wira ikut berdiri, dia menghela napas gusar. Mengedarkan pandangan, mencoba mencari kata yang tepat agar tidak menyakiti lebih lagi. “Liz, Antonio itu orang-orang nekat.” “Tapi kita sama-sama punya kekuasaan!” balas Liz. “Bukannya sedari dulu Papa selalu menggunakan kekuasaan untuk membungkam yang lain?” Wira tersentak, tampak tak percaya dengan kalimat yang terlontar dari mulut Liz. “Jaga mulutmu, Liz.” Liz menggeleng cepat, lantas menggenggam tangan wira erat. “Pah, kumohon. Aku tidak mau kembali kepada Morgan, atau Antonio, atau siapa pun. Kita bisa cari jalan lain, bila yang Papa takutkan hancurnya perusahaan. Aku akan_” “Tidak!” potong Wira. Dia tampak marah. “Kamu pikir semudah itu mempertahankan perusahaan?! Mana tahu kamu perjuangan yang lain agar Maheswari bisa bangkit! Tahu apa kamu!” Liz terperanjat, sampai genggamannya terlepas. Ini kali pertama ia mendengar langsung Wira berteriak, kepadanya. “Pah,” gumamnya. “Kamu hanya perlu diam dan menurut! Kenapa malah membangkang?! Papa sudah memberimu segalanya! Papa bahkan rela jadi pembunuh dan menjadi tameng untukmu! Mau apa lagi?!” Bagai hilang akal, Wira berteriak. Teriakannya menggema di rumah mewah itu, mengundang ketakutan para Maid yang mendengar di dapur. Napas pria paruh baya itu memburu, wajahnya memerah dengan mata melotot. Sunyi yang mencekam membuat semua memilih bungkam, termasuk Liz yang membeku tak percaya. Tak ada air mata yang jatuh, tapi sesuatu telah menghancurkan hatinya. “Apa ... Apa ini yang Papa mau?” gumam Liz nyaris berbisik. “Apa ini membuat Papa tenang?” “Liz,” panggil Wira. Seolah tersadar kembali setelah emosi menyelimutinya. Liz mendongak, menatap datar sang papa lantas tersenyum hampa. “Maaf,” bisiknya. Kemudian berlari meninggalkan rumah, tak peduli teriakan Wira yang memintanya berhenti. Liz masuk ke mobil, lalu meninggalkan kediaman Maheswari. Dentuman menyakitkan di kepala, tak membuatnya menurunkan laju kendaraan. Menembus kepadatan kota di malam hari, diiringi bunyi klakson. Sampai mobil berhenti mendadak di sebuah bangunan. Klub yang pernah dikunjunginya bersama Mila. Liz memandang lama, suara-suara berisik dikepala membuatnya frustrasi. *** Di sinilah Liz berada, di tengah-tengah lautan manusia yang menari-nari dengan dentuman musik DJ. Semua bersorak, semakin meriah ketika malam semakin larut. Lampu berkelap-kelip memusingkan, tapi semua tampak larut dalam ketenangan sesaat. Liz memejamkan mata, berisiknya musik yang dimainkan, tak lebih berisik dari suara di kepalanya. Seketika semua ingatan merasuki pikiran, membuat getaran hebat ditubuhnya. Semua menjadi samar, suara menjadi sayup. Tubuhnya bergerak, mengikuti tubuh lain meliuk-liuk. Liz melompat-lompat kecil, lalu terdiam dan hanya menggerakkan kepalanya. “Hai, kamu sendiri?” Bisikan itu terdengar samar ditelinga, embusan napas diberikan diikuti sentuhan pada pinggangnya. Liz mengabaikan, matanya masih terpejam. “Apa kamu habis putus cinta?” Kembali suara pria menyapa. Namun, pikiran berada di tempat lain. Dulu ia orang yang ambisius, rela melakukan hal apa pun demi meraih karier baletnya. Termasuk melakukan kecurangan pada setiap kompetisi. Baletnya tidak sesempurna yang lain, tapi nama keluarga sang papa membuatnya mendapat apa pun yang diinginkan yang lain. Musik semakin sunyi, kepalanya kini dipenuhi oleh sesal di masa lalu yang menjelma menjadi trauma. Ada seorang penari balet hebat, mengandalkan kecantikan dan keelokan tubuh saat menari. Menjadi satu-satunya saingan berat Liz. Cemooh orang-orang membuatnya berlatih mati-matian, demi mendapat posisi utama sebagai perwakilan kontes di luar negeri. Sesak dirasa membuat tubuhnya bergerak tak terkendali, mengabaikan tangan-tangan nakal yang menggerayangi tubuhnya dengan bebas. Liz kembali ingat, saat berita kematian penari hebat itu di hari setelah keluarnya ia dari rumah sakit. Tak ada yang tahu sebab kematian, tapi dengan itu Liz berhasil menjadi satu-satunya yang berhak ikut kontes balet. Walau ia tahu, ada andil besar sang papa atas kematian penari itu. Andil yang membuat dendam, dan berakhir dengan duka lain. Saat para gangster, menghancurkan acara internal perusahaan Maheswari, dan membuat Liz kehilangan kemampuan untuk menari. Usai kekacauan, para polisi menangkap orang-orang itu. Semua kembali normal, kecuali hidupnya. Setetes air mata jatuh ketika matanya terbuka, diikuti tetesan lain membuat pandangannya buram. “Hei, kenapa menangis?” Liz menoleh, pada seorang pria tinggi yang berdiri dekat di sampingnya. Tak menyisakan jarak, dan memberi sentuhan lambat di pinggangnya, merambat dan mencoba naik lagi. Liz menangkap tangan besar itu, lalu menepisnya. Ia pergi dari sana, menerobos kerumunan, sambil sesekali melirik ke belakang. “Berhenti mengikutiku!” Pria itu tersenyum miring. Liz memutar arah dan menaiki tangga, menuju lantai lain yang lebih tenang. Namun, aroma kuat minuman membuatnya mengernyit. “Mau ke mana?” Pria itu mencengkeram lengannya, menahan Liz pergi. “Lepas!” Liz memberontak. “Lepas!” “Jangan sok jual mahal, ayo ikut denganku.” Pria itu lantas menariknya, memaksa Liz untuk ikut pergi. Liz memukul-mukul tangan itu, dan memberinya tendangan pada tulang kering. Membuat pria itu meringis dan melepaskan cengkeramannya. Liz bergegas pergi, melewati meja-meja tempat sekelompok orang asyik memainkan kartu. Sampai ia tiba di tempat yang jauh lebih sunyi, tidak banyak orang di sana. Kecuali beberapa pria dan wanita dalam busana kasual, dan elegan. Liz mendekati sebuah bar, lalu duduk di salah satu kursi. “Mau pesan apa?” Seorang pria berambut blonde bertanya, tersenyum lebar dengan gelas kristal di tangannya. Liz terperanjat, lantas memperhatikan deretan botol di dalam lemari kaca tepat di belakang si pria. “A—Aku....” Liz mendadak kaku, tak ada jenis minuman yang ia tahu, di tempat macam klub. “Berikan aku segelas air,” ujar Liz pelan sambil memalingkan wajah. “Air?” tanya bartender ragu. Pandangan pria itu menelisik, dan kembali tersenyum lebar. “Tentu, air biasa untuk Nona manis.” Di saat bartender sibuk membuat minuman untuk pengunjung lain, Liz disibukkan oleh rentetan pesan dan panggilan tak terjawab dari sang papa. Isinya hampir saja, mempertanyakan keberadaannya, dan di akhiri kata maaf. Helaan napas panjang Liz, mengundang tatapan heran si bartender. Sebelum minuman disajikan, dia melirik ragu seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Mendapat anggukan meyakinkan, membuat segelas jus jeruk itu berada di depan Liz. “Minuman spesial untuk Nona manis.” Liz tersentak, lantas mengernyit. “Aku pesan air mineral.” “Ah, itu jamuan spesial untuk tamu. Sepertinya aku belum pernah melihatmu di sini, member baru atau_?” Liz menggeleng sambil tersenyum tipis. “Tidak, hanya pengunjung biasa.” Aroma sari jeruk yang segar membuat Liz merasa tenang, meski sedikit tajam di hidungnya. Ia mencicipi sedikit, merasakan sensasi asam dan manis di lidah. Tatapan ragunya masih mengarah pada si bartender. Kemudian dalam sekali teguk, minuman jeruk tersebut habis setengah. Baru Liz sadari, tenggorokannya terasa kering. “Bagaimana?” Liz mendongak, lalu tersenyum simpul. “Enak.” Tepat setelahnya, semua tampak buram. Kepalanya seakan berputar, dan sebelum semua terlihat gelap. Seseorang lebih dulu menahan tubuhnya yang limbung. *** Nyeri di sekujur tubuh, membuat tubuh ramping itu menggeliat. Kehangatan yang dirasa membuat Liz hampir terbuai lagi, sebelum mata terpejam, ingatan semalam mampir di kepala. Ia terduduk cepat, dan merasakan sensasi hantaman yang membuatnya pening. “Kepalaku sakit,” gumamnya. Beberapa saat terdiam, Liz mendadak membeku. Takut-takut menyentuh tubuhnya, dan masih merasakan kain membungkus di sana. Lengkap, kecuali blazer yang ia kenakan sudah terlepas. Menyisakan kaos putih pendeknya. “Kukira hal gila sudah terjadi,” bisik Liz. Pandangannya mengedar, mendapati sebuah ranjang besar, dinding putih, dan tanpa ada perabotan lain. Dering ponsel membuat Liz terperanjat, matanya membelalak melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Lalu dengan terburu-buru, Liz membenahi pakaiannya. Menenteng tas, dan pergi dari sana. Suasana begitu sepi, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Namun, ia bisa bernapas lega karena setidaknya masih berada di klub yang sama. Tak berselang lama, seseorang memasuki ruangan membawa sebuah nampan berisi segelas air dan sebuah mangkuk besar. “Huh, ke mana dia?” Pintu kembali terbuka. “Di mana dia?” Wajah itu tampak dingin, bercak darah menempel di wajah dan pakaiannya. “Sepertinya dia kabur, dan sebelum menyalahkanku. Sebaiknya cek kekacauan yang sudah dibuat dia, aku sudah mengamankan si pembuat onarnya.” Pria itu melirik sekilas, sebelum berbalik dan hendak pergi. “Riens!” Riens menoleh tanpa berbalik. “Jangan gegabah,” ujar Jeff. “Ingat, kamu masih dalam masa hukuman.” Riens terdiam sejenak, lalu tersenyum miring. Menutup kencang pintu, dan pergi dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN