BAB 10 Mimpi yang hilang.

1360 Kata
“Kamu ini ke mana saja?! Papamu mati-matian bertahan di perusahaan, eh kamu malah keluyuran sampai tidak tahu waktu!” Marie berteriak tepat ketika Liz tiba di rumah. Mereka terlihat sedang berkumpul di ruang tamu, sementara Wira terlihat memejamkan mata dan bersandar di sofa. Wajahnya tampak lelah dan pucat. “Papa! Apa yang terjadi?!” Liz menghampiri, lalu duduk di samping Wira. “Mantan suami dan mertuamu itu membuat ulah di perusahaan, mereka ingin menghancurkan kita. Ini semua karena ulahmu! Bisa tidak jangan egois sekali saja!” sentak Marie. Liz mengernyit, dan menatap sendu Wira yang tak jua membuka mata. Namun, napasnya masih terdengar teratur. “Pah,” panggilnya pelan. “Kamu ini kalau tidak bisa ikut terjun ke bisnis keluarga, setidaknya jangan mempertaruhkan nyawa orang karena keegoisanmu! Sekarang lihat! Jika tidak langsung pulang, mungkin Papamu sudah habis diserang di sana.” Lagi-lagi Marie yang bicara, wanita itu tampak sangat kesal. Di sampingnya ada Amora, anak perempuan Marie yang usianya lima tahun lebih tua dari Liz. Berbeda dengannya yang tak tertarik dengan bisnis, Laura justru membantu banyak untuk perusahaan. “Pah, apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Morgan dan Om Bima?” tanya Liz kembali. “Mereka membuat isu perselingkuhan tentangmu dan pria dari Mackenzie itu,” balas Marie. Liz menoleh cepat. “Perselingkuhan?” “Ya, dan_” “Sudahlah, Marie.” Wira memotong, pria itu lalu membuka mata. “Jangan ribut,” lanjutnya. “Pah, apa aku perlu bicara dengan Morgan? Ini sudah keterlaluan,” ucap Liz mendapat senyum tipis sebagai balasan. “Ini bukan masalah besar,” balas Wira. “Lagian isu itu tidak benar dan tidak ada hubungannya dengan perusahaan, tak lama lagi juga akan terlupakan.” Liz menatap sendu, ada gurat lelah dan kesedihan di netra serupa miliknya itu. Ia menunduk, sesal dirasa membuat pikirannya kembali berkecamuk. Padahal usai perceraian, semua masih tenang. Tidak mengira jika keluarga Antonio, justru menyerang inti perusahaan. “Jangan dipikirkan, kamu fokus saja kembali pada balet. Apa sudah bicara dengan direktur teater? Tawaran mereka waktu itu masih berlaku, 'kan?” Liz terdiam cukup lama, ia belum sempat bicara. Terlalu takut menerima kenyataan yang mungkin tak sesuai harapan, tapi tidak mungkin dirinya menambah beban untuk papa. Liz mengangguk sambil mencoba tersenyum. Wira membawa tubuh putrinya dalam dekapan, mereka hanyut dalam rasa tak terucapkan. Berharap badai segera usai. *** Kembali tubuhnya jatuh keras ke lantai, semua serempak menutup mata mendengar bunyi keras yang terasa menyakitkan. Liz melirik kaku, ini terlalu memalukan untuk dilihat. Penampilan seperti ini tak jauh lebih baik dari anak-anak yang baru belajar balet. “Liz,” panggil seorang pelatih wanita. Liz mendongak, tatapan iba wanita itu dan orang-orang membuatnya tersenyum kaku. Ia mencoba berdiri, lalu tersenyum lebar. “Maaf, karena sudah terlalu lama, tubuhku jadi kaku. Bisa kita ulang?” Suasana mendadak sunyi, tapi wanita yang sudah menjadi pelatihnya sejak awal hanya tersenyum dan mengangguk. Seakan tahu sifat keras kepala muridnya yang satu itu. Alunan musik piano kembali terdengar, nada yang sama membawa lara. Liz menggerakkan tubuh seirama nada sendu yang dihasilkan. Pikirannya melambung, memori lama merasuk tak terkendali. Nada piano semakin intens memasuki pertengahan, gerakan Liz seakan meluapkan emosi yang tertahan. Tempat latihan mendadak sunyi, terpaku oleh tarian balet yang tampak menyiratkan kesakitan di penari. “Liz!” Namun, lagi-lagi kakinya tak sanggup menopang. Terlalu memaksa, membuat Liz kembali jatuh. Napasnya memburu, seakan tak percaya kesalahan yang dibuat. “Liz, jangan memaksakan diri.” “Kalian bisa beristirahat dulu!” titah pelatih disambut anggukan cepat dari penari lainnya yang bergegas meninggalkan ruang latihan. Menyisakan Liz yang masih bungkam. “Mrs. Ellie, apa aku masih bisa mendapat kesempatan itu?” Ada getar ketakutan dalam setiap kata, seakan siap menghancurkan mimpi di depan mata. Mrs. Ellie menatap iba, lalu tersenyum tipis. “Liz, meski kamu tidak bisa menjadi pelatih balet di Italia. Kamu masih bisa menjadi balerina di sini.” Penuturan Mrs. Ellie seolah menjawab kegelisahan Liz, kesempatan itu sudah hilang. Perjalanannya serasa sia-sia, mimpi itu lenyap tak bersisa. “Maafkan aku, Liz. Aku gagal meyakinkan direktur, beliau tetap memilih penari lain untuk dikirim dan bergabung dalam pelatihan bersama pelatih di Italia.” Setahun berlalu sejak kompetisi balet penentuan yang terbaik diadakan, untuk dikirim dalam kompetisi internasional. Kemenangan Liz saat itu menarik perhatian media. Tawaran tersebut datang dari pimpinan pemilik teater di Italia yang bekerja sama dengan direktur balet di Indonesia, kemenangan terakhirnya saat itu membuka peluang untuk karier baletnya. “Kamu bisa mengajukan diri untuk jadi pelatih di sini jika mau, temani aku yang mungkin akan pensiun dalam waktu dekat. Meski peluang di sini tidak begitu besar, tapi mungkin saja akan ada yang melirik lagi.” Liz mengangguk lemah, lalu membereskan barang bawaannya. “Akan kupikirkan, terima kasih telah membantuku, Mrs. Ellie.” Ia berdiri, sambil menenteng tas berukuran sedang di mana pakaian dan barangnya berada. Sebelum yang lain masuk, Liz lebih dulu keluar dari tempat latihan. Hamparan langit cerah berbanding terbalik dengan suasana hatinya kini. Liz duduk termenung di kursi kemudi, mungkin ini saatnya ia mengikuti jejak sang papa. Mengurus perusahaan keluarga, dan memulai semua dari nol. *** “Bukannya itu dia?” “Siapa?” “Anak komisaris, mantan istri Morgan Antonio.” Bisik-bisik terdengar manakala Liz melangkah di perusahaan Maheswari Corp. Ini bukan kali pertamanya berada di sini, setelah lulus kuliah, ia pernah bekerja sebagai staf administrasi. “Wah, apa dia sudah kehilangan urat malu? Bagaimana bisa terlihat tenang, padahal sudah ketahuan berselingkuh.” “Pak Morgan terlalu baik untuknya.” Liz menghela napas, berusaha tak terpancing pada gosip. Tiba dirinya di lantai sepuluh, sekretaris Wira duduk tenang di mejanya. “Nona Liz!” Liz tersenyum tipis. “Mbak Dini, apa papa ada?” Wanita 35 tahunan itu tampak ragu, sampai keributan yang terdengar sayup-sayup di ruang komisaris mengejutkan keduanya. “Di dalam sedang ada tamu, akan saya sambungkan dengan Pak Wira. Anda bisa menunggu dulu sebentar.” Wanita itu bergegas menghubungi dengan telepon kantor, sesekali melirik Liz yang masih memandang ke arah ruang komisaris. “Tidak bisa seperti ini, Bima! Hancurnya perusahaan, sama saja dengan menghancurkan kehidupan para karyawan!” Teriakan Wira terdengar jelas sampai ke tempat Liz berdiri, bergegas ia berlari mendekat. Pintu terbuka sedikit, memberi celah yang cukup untuk mendengarkan. “Jangan hanya karena ego semata, kalian menghancurkan perusahaan. Perusahaanmu pun akan kena dampak buruknya! Saham perusahaan hampir kena imbas, bahkan penjualan pun menurun!” “Dengar, Wira. Aku bisa melakukan lebih jauh dari ini, jangan lupakan tentang kecuranganmu untuk memenangkan Liz dalam kompetisi balet. Kalian pikir aku tidak tahu?” Suara mantan mertuanya terdengar meski samar-samar. Suasana hening beberapa saat, Liz melirik ke dalam ruang memperhatikan ketegangan di sana. “Aku akan tutup mulut, asal putrimu itu mau kembali pada Morgan.” Liz terkesiap pun dengan sang papa yang tampak kesal. “Jika tidak mau, ya sudah. Tunggu saja berapa banyak lagi saham perusahaan akan turun, Liz mematung, terlalu terkejut untuk semua kejadian ini. Lantas helaan napas terdengar, ia berbalik, dan meninggalkan tempat tanpa kata. Belum ada sebulan setelah perceraiannya dengan Morgan, tapi sudah banyak kekacauan yang dibuatnya. Liz membuka ponsel, pesan-pesan yang ia kirim masih belum mendapat balasan, bahkan dirinya tak yakin Riens sudi untuk sekadar membacanya. Mengakhiri kegusaran, Liz memilih kembali ke rumah. Ia akan membicarakan ini langsung dengan sang papa, berharap dapat mendapat titik terang. Di malam harinya, Wira pulang terlambat. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, pria paruh baya itu memasuki rumah yang sepi dengan ekspresi lelah. “Pah,” panggil Liz bergegas menghampiri. “Liz? Kamu belum tidur?” Liz menggeleng, lantas menenteng tas kerja Wira dan menggandeng lengannya menuju ruang tamu. “Ada apa?” Liz melirik ragu. “Aku ... Aku sudah dengar semuanya, pembicaraan Papa dengan Om Bima di kantor.” Wira terdiam, tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Seakan sudah menebaknya. “Pah, biar aku bicara dengan Riens. Sebelumnya dia juga membantu dengan perceraianku dan Morgan,” papar Liz. Wira masih diam, dia justru mengusap wajahnya dan menghela napas. “Apa kalian masih berhubungan? Jauhi dia untuk sekarang, dan dengarkan Papa baik-baik.” Keheningan panjang terjadi, Wira tampak berat untuk berucap. Sementara Liz tampak cemas menunggu. “Papa sudah memikirkan ini,” ujar Wira pelan. Dia menatap Liz. “Kembalilah dengan Morgan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN