BAB 9 Pergi tanpa kata.

1391 Kata
“Jadi, Riens Mackenzie yang mengirimmu?” Pria di depannya mengangguk. Setelah kedatangannya di rumah, pria yang mengaku pengacara itu membawa Liz ke sebuah kafe. Meletakkan berkas-berkas yang diperlukan untuk perceraian, sampai membuatnya bungkam. “Kenapa dia tidak datang sendiri?” “Karena dia orang yang sibuk.” Jelas saja kalimat itu punya dua makna berbeda, benar-benar sibuk, atau hanya menghindar. Mengingat pagi tadi saja, Riens bersikap cuek. “Pak pengacara, apa bukti itu cukup untuk bisa cerai?” Pertanyaan Liz merujuk pada video dari kamera yang disembunyikan di kamar utama apartemen Morgan, kamera itu sudah ada bersama berkas yang diberikan pria di depannya. “Ya, dan mungkin saja untuk melapor atas kekerasan yang Anda alami.” Liz terdiam. Mengingat kembali perkataan Marie tadi, mungkin saja dengan ini, masalah Wira sedikit teratasi terutama untuk menghadapi kepala keluarga sekaligus rekan bisnis dari Antonio. “Anda tidak perlu khawatir, hukum akan melindungi. Membiarkan orang-orang seperti itu berkeliaran, hanya akan menambah sampah masyarakat.” “Bisa aku bicara dengan Riens?” tanya Liz. Namun, hanya mendapat tatapan datar dari pengacara yang dikirim lelaki itu. Riens memang tidak mengingkari janji untuk membantunya atas dasar tawaran, tapi apa alasannya? “Saya akan urus semua ini, Anda hanya perlu datang saat jadwal persidangan nanti. Untuk sementara, lebih baik Anda menjauhi suami atau mertuamu. Saya permisi.” Pengacara berdiri lalu membereskan barang bawaan, setelah selesai dia sedikit membungkuk sebelum berlalu pergi. Liz menghela napas, ini jauh lebih sulit. Riens hadir tanpa penjelasan, lalu menghilang tanpa alasan. *** “Kamu ini kenapa? Belum mulai, sudah loyo duluan.” Liz melirik sekilas pada kawan lamanya itu, lalu kembali mengembuskan napas. Kali ini lebih panjang, membuat wanita di depannya kesal dan menoyor kening Liz. “Kamu tuh ditanya bukannya jawab, malah buang-buang napas. Apa karena pria aneh itu?” “Dia bukan pria aneh, namanya Riens.” “Ya, terserah saja. Lagian kamu tuh kenapa buang-buang waktu memikirkan orang jelas saja datang hanya buat ghosting?” Liz tergelak, merasa lucu melihat wajah kesal Mila yang mengingatkannya dengan Riens. Meski minim ekspresi, pria itu masih tahu berekspresi ketika kesal. Kembali Liz termenung, menghilangnya Riens tanpa alasan membuat ia merasa kosong. “Kira-kira kenapa dia pergi begitu saja, ya?” “Apa lagi? Jelas saja karena dia tahu kamu perempuan yang tidak bisa didekati,” timpal Mila. “Dia itu pengecut! Buat apa dipikirkan?” “Bukan apa-apa, aku hanya mau berterima kasih. Kamu tahu sendiri, bila bukan karenanya, sulit untukku bercerai dengan Morgan dan hidup bebas seperti sekarang.” Sebulan sudah sejak perceraiannya dengan Morgan, beruntung pria itu sudah tidak lagi mengganggu setelah seminggu usai perceraian membuat keonaran. “Mila, apa itu wajar jika perasaanku tiba-tiba kosong dan aku terus memikirkan Riens?” gumam Liz sambil memainkan jari jemarinya yang berada di atas meja kaca. Mila menghela napas. Pernah gagal dalam pernikahan membuatnya mengerti perasaan Liz, sebab itulah dia memilih menjanda selama tiga tahun terakhir ini. “Rindu memang tak beralasan, selalu datang tiba-tiba dan tidak kenal tempat. Tapi rindu itu kejam, rindu bisa tidak bertuan hanya karena keegoisan.” Mata bulat Liz menatap bingung, membuat Mila tersenyum gemas. “Rindu kamu hanya sepihak, baginya mungkin perasaanmu hanya omong kosong.” “Perasaanku?” gumam Liz sembari menyentuh dadanya yang mendadak berdebar. “Tapi itu tidak mungkin, kami baru mengenal. Belum lagi hanya bertemu beberapa kali, apa itu mungkin bila aku merindukannya?” “Memangnya kenapa? Perasaan itu hal yang suci,” sahut Mila sembari berdiri. “Meski tampangku ini meragukan, tapi pengalamanku tidak bisa diragukan.” Mila mengulurkan tangan, wanita 28 tahun itu tersenyum lebar. “Lupakan dia, dan bergabunglah bersamaku dalam klub janda-janda menggoda!” Seruan Mila mengundang tatapan aneh pengunjung kafe yang lain, seakan lupa bila mereka tengah makan siang yang terlambat di sana. Liz tertunduk malu, lupa akan tingkah bar-bar Mila. “Mila, jangan berteriak.” Liz berdiri, tepat setelah itu Mila merangkul pundaknya. Tubuh wanita itu tinggi besar, dia senang pergi ke gym. “Kita akan cari pria kaya yang sakit-sakitan!” Mereka berjalan keluar kafe. “Ta—Tapi aku tidak suka pria kaya,” bisik Liz. Mila melirik sekilas. “Oke, kita cari saja duda kaya tua yang sekarat!” *** “Mi—Mila, tempat apa ini?” Sebuah bangunan tiga lantai, para wanita silih berganti masuk dengan pakaian terbuka, suara berisik musik yang samar-samar terdengar, dan dua pria penjaga berbadan besar di pintu masuk. Dunia yang sangat asing untuk orang seperti Liz. Ia beringsut mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Mila. “Klub, surganya dunia!” “Kamu yakin kita bisa keluar hidup-hidup nantinya?” Mila mengernyit, dan mengerti arah pandang Liz yang masih tertuju pada dua penjaga keamanan. Bergegas dia menarik Liz dan merangkulnya. “Percaya padaku, tidak akan ada yang macam-macam denganmu. Selama kamu berada di dekatku. Jadi, lupakan pria bodoh itu dan mari kita bersenang-senang!” Tubuh Liz terasa ringan ketika Mila menyeretnya masuk, setelah menunjukkan sebuah kartu, mereka baru bisa masuk. Sepi? Berbanding terbalik dengan suara musik yang didengarnya dari luar. “Kita akan ke mana?” tanya Liz saat Mila membawanya naik ke lantai dua. Mengabaikan lorong panjang di lantai dasar dengan beberapa ruang tertutup, dan tempat keluar masuknya wanita berpakaian seksi. “Sudah kubilang, aku akan membawamu ke surga dunia.” Tepat setelah itu, dentuman musik keras membuat Liz tersentak. Orang-orang asyik meliukkan tubuh, mengikuti ritme musik DJ disoroti lampu kelap-kelip yang membuatnya pening. “Ayo! Kita menari!” Mila berseru sambil menggerakkan tubuhnya. Pantas saja wanita itu mengenakan pakaian terbuka di sore hari seperti ini, rupa-rupanya memiliki tujuan utama dalam artian bersenang-senang. Liz menggeleng cepat, saat Mila mengulurkan tangan. “Aku pergi saja! Aku tidak suka di sini!” Mila mengernyit, dia yang berdiri beberapa langkah di depan Liz jelas tidak mendengar suara perempuan itu yang harus seperti suara mencicit. “Aku akan pergi!! Kamu nikmati saja sendiri! Aku tidak suka di sini!!” Liz terbatuk-batuk, bisa-bisa suaranya sudah bilang duluan sebelum menikmati kesenangan. Mila melongo, lalu terburu-buru mendekat. “Ayolah, Liz. Jika terus mengurung diri, bisa-bisa kamu gila. Aku hanya mau kamu kembali ceria. Kamu tahu sendiri, setelah menikah dengan Morgan. Hidupmu terkurung, dan kamu terlihat begitu stres belakangan ini.” Mila merangkul lengan Liz erat, satu tangannya terangkat ke atas. “Ayo! Kita bersenang-senang!" “Tapi_” Belum sempat kalimat terucap, Mila menariknya menuju lantai dansa. Tempat di mana orang-orang terlihat hilang akal, bergoyang-goyang sesekali melompat mengikuti dentuman musik. Mila langsung bisa berbaur, meninggalkan Liz yang mematung dalam kerumunan. Tubuhnya membeku, kemudian terdorong ke sana-kemari. “Jangan jauh-jauh,” ujar Mila yang berhasil menangkap tangannya. Kembali membawa Liz dalam kerumunan. “Rileks saja,” bisik Mila sambil tersenyum lebar. “Mari lupakan para pria sialan itu!” Liz terkekeh, secara perlahan tubuhnya ikut bergerak. Memejamkan mata, mencoba meresapi musik berisik yang berakhir dengan mengernyit. Ketika matanya terbuka, bayang-bayang wajah Riens justru tampak jelas. Pertemuan mereka mungkin singkat dan tak berarti, tapi berhasil menyisakan setitik rasa bernama rindu. Matanya memanas. Musik semakin keras terdengar, suasana semakin heboh. Bak kesetanan, Liz menggoyangkan tubuhnya. Berharap kegilaan dapat mengenyahkan kemelut pikiran. *** Liz memuntahkan isi perutnya, berharap mual yang dirasa segera mereda. Mila masih memijit tengkuknya dengan ekspresi khawatir. “Kamu tidak minum-minum, tapi kenapa bisa mual?” Mereka sama-sama tak paham. Di saat hari mulai gelap, dan kegilaan semakin tak terkendali. Liz tiba-tiba lari keluar sambil menutup mulut, dan memuntahkan makan siangnya. “Apa jangan-jangan ....” Mila tampak ragu melanjutkan, dia menghela napas. “Apa jangan-jangan kamu hamil?” Liz mengusap mulut saat dirasa mereda, ia mendelik tajam membuat Mila cengengesan. Jelas saja, bagaimana hamil sedang dirinya belum pernah disentuh. “Maaf, maaf. Lagian kamu membuatku khawatir saja, tapi beruntungnya pria b******k itu belum menitipkan benihnya di rahimmu. Repot urusannya nanti.” Mereka masih berada di klub, malam semakin larut justru keadaan semakin ramai. Namun, keramaian ini bukanlah sesuatu yang Liz nikmati. “Kita pulang saja?” tanya Mila. Liz menoleh cepat. “Pulang?” Ada rasa tidak rela di kalimatnya, kesenangan asing ini berhasil mengalihkan pikiran yang tengah berkecamuk. “Kita bisa kembali lagi besok. Keesokan lagi, dan seterusnya!” seru Mila sambil merangkul pundak Liz. “Sudah jam delapan, sebaiknya kita pulang. Bisa-bisa papamu mengomel padaku,” lanjutnya sambil menarik Liz pergi dari sana. Mereka tertawa kecil, tanpa menyadari sekelompok pria berpakaian serba hitam terburu-buru memasuki klub, dan sesaat kemudian kericuhan terjadi di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN