BAB 5 Hilang akal.

1669 Kata
Mobil hitam itu masih melaju melewati jalanan yang sama hampir empat kali, dan tidak ada yang berniat memecah keheningan di dalamnya. “Sudah selama ini, tapi kenapa aku tidak sadar?” gumam Liz. Ia masih merutuki dirinya, kesal dan marah itu gambarannya sekarang. “Hei.” Liz lalu menoleh ke samping. “Menurutmu sudah berapa lama mereka berhubungan? Atau jangan-jangan mereka sudah bersama, sebelum kami menikah?” “Siapa?” Masih fokus pada jalanan, Riens bertanya. “Morgan dan wanita itu,” balas Liz sedikit kesal. “Kenapa tidak tanya saja?” Kekesalan tidak mampu Liz bendung lagi, terlebih dengan respons singkat Riens. “Lupakan apa yang kamu lihat, dan turunkan aku di depan.” Perlahan mobil pun berhenti tepat di sebuah bangunan hotel. Liz hendak keluar, tapi pintu terkunci otomatis membuatnya menoleh dengan kening mengernyit. “Akan saya kirim seorang pengacara untukmu.” “Tidak, aku bisa melakukannya sendiri. Sekarang buka pintunya,” balas Liz cepat. “Dasar keras kepala,” bisik Riens. “Percuma saja, pengacara itu sudah berada di pihak suamimu.” Liz tersentak, sontak mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia mendekat, matanya menelisik mencoba mencari kebohongan di wajah datar itu. “Dari mana kamu tahu?” “Mudah saja, apa lagi untuk orang-orang dari kalangan atas sepertimu.” Liz melongo, belum ada sebulan mereka mengenal. Namun, Riens telah membuka isi pikirannya. Selama ini, orang menyebutnya terlalu naif. Walau nyatanya Liz hanya tidak mau semakin sakit karena mencari tahu. “Jadi, foto-foto itu pun_” Tak lagi terucap, Liz masih tidak percaya. “Ya, saya yang melakukan.” *** Ya, saya yang melakukan. Kalimat tersebut terus terngiang-ngiang, membuat Liz harus terjaga semalaman. Kembali ponselnya yang berada di atas meja, berdering nyaring, nomor yang sama terus menghubungi sejak semalam. “Apa dia pikir aku semudah itu dibohongi?” gumamnya melirik nama Morgan di layar ponsel yang menyala. Di banding menangisi perselingkuhan Morgan, Liz lebih terusik dengan perkataan Riens. Apakah ia harus percaya kepada seseorang yang baru ditemuinya? Mengingat Morgan yang Liz kenal setelah dirinya mendalami balet tiga tahun lalu saja, masih bisa menyakitinya. Morgan merupakan kenalan dari direktur pemilik teater di mana Liz pernah bergabung. Mengingat suka cita yang dilalui selama tiga tahun, membuatnya termenung. Ada banyak kompetisi balet yang pernah ia ikuti, dan selalu berakhir juara. Liz menunduk, meski kompetisi terakhirnya harus mengorbankan banyak hal. Rasa sesak kembali muncul, ia menunduk, lantas mencengkeram kuat lututnya yang terasa nyeri. Sebelum terlalu larut dalam kesedihan, ponselnya kembali berdering. Nomor asing membuat Liz mengernyit, dan memutuskan menerima panggilan. “Halo?” “Saya tunggu di bawah.” “Apa?” Panggilan terputus sepihak, suara yang amat dikenalnya itu meninggalkan tanya untuk Liz. Bagaimana bisa Riens mendapat nomornya? Kecuali, tentu saja dari Wira. Menghela napas kuat-kuat, Liz memutuskan untuk keluar dari kamar hotel. Ketika tiba di lobi, Riens sudah menunggu. Berdiri dalam balutan pakaian serba hitam, tanpa peduli pandangan terpesona orang sekitar. Tubuh tinggi dan wajah khas orang Eropa, jelas menjadi pusat perhatian. “Apa kamu tidak punya pekerjaan?” “Kenapa?” Liz menatap heran. “Kamu ada di mana-mana, dan kamu tidak terlihat sesibuk ketika bertemu papa.” Mereka berhenti di luar hotel, Liz memperhatikan penampilan Riens. Untuk seorang pekerja kantoran, jelas penampilan pria itu terlalu mencolok. Lebih dari itu, Riens lebih cocok menjadi salah satu anggota gangster atau mafia dengan penampilan dan tubuh seperti itu. Ingatan Liz kembali pada kejadian ketika ia berada di kediaman Riens, mengingat sekumpulan pria berpenampilan serupa membuatnya bergidik. “Jangan salah paham. Memang saat ini aku tidak bekerja, tapi aku sudah punya rencana untuk pergi ke_” Liz berhenti bicara, lalu melirik Riens yang sedari tadi hanya diam. “Tidak, untuk apa aku memberitahumu.” Sebuah panggilan tampaknya masuk ke ponsel Riens. Pria itu terdiam cukup lama, sebelum kembali memasukkan ponsel ke saku celana. Lantas tanpa bicara, Riens masuk ke mobilnya. Meninggalkan Liz melongo. “Hei!” Kaca mobil diturunkan. “Setidaknya katakan sesuatu, bukan malah pergi begitu saja. Apa kamu tidak punya hati?” Melihat Riens yang seakan tak berniat merespons, membuat Liz menjauh. Kemudian pergi sambil menggerutu. Debaran aneh membuat wajahnya memanas, bahkan tanpa alasan jelas kalimat itu keluar. Sebuah panggilan masuk, Liz berdeham sebelum menerima panggilan tersebut. “Ya, pah?” *** “Mamah dengar kamu dan Morgan akan bercerai, apa itu benar?” Wanita cantik di umurnya yang tak muda lagi itu, tampak menatap sayu ke arah Liz. “Memangnya kenapa? Kamu seharusnya senang, karena aku sudah meringankan bebanmu.” Liz memalingkan wajah, ia melipat tangan di d**a sambil memperhatikan sekitar ruang privat yang di pesan sang papa. Acara makan malam antara dua keluarga itu diadakan di salah satu restoran berbintang di daerah Jakarta. “Liz, jangan seperti itu. Mamah ikut sedih, apa tidak sayang mengingat pernikahan kalian sempat dilakukan secara mewah, 'kan? Apa lagi banyak media yang melihat, kamu akan malu sendiri nantinya.” Liz menghela napas. “Apa maumu? Jika mau menikahkan putrimu dengannya, silakan saja.” Sontak ketiga perempuan di meja itu berdiri, ketika Wira kembali bersama dengan dua pria lain. Senyum tampak di wajah Morgan yang suram, pria itu langsung mengambil tempat di samping Liz. “Terima kasih karena kalian masih menyempatkan waktu, meski di bulan sibuk seperti ini.” “Morgan, Papa dengar kamu mengambil proyek besar dengan Mackenzie. Apa semua berjalan lancar?” Liz menoleh cepat. Mackenzie? Bukankah itu marga Riens? Morgan tertawa canggung. “Kontraknya dibatalkan, karena aku melihat peluang yang lebih besar dari kerja sama dengan perusahaan lain.” “Dibatalkan? Apa ada masalah?” tanya Wira. “Hanya ... Hanya kontrak yang diberikan tidak sesuai dengan pembahasan awal,” balas Morgan ragu. Wira mengangguk-angguk, dia terlihat berpikir. “Sebenarnya beberapa waktu ini, perwakilan dari Mackenzie mendatangi Papa secara pribadi. Mereka membahas mengenai kontrak kerja sama terkait launching produk baru kita.” Morgan mengernyit, wajahnya berubah serius. Dia sempatkan untuk melirik ke arah Liz yang tentu menghindari tatapannya. “Apa dia Riens Mackenzie?” “Oh? Apa dia juga yang menjadi perwakilan untuk menemuimu?” Wira balik bertanya. Berbeda dengan Morgan yang tampak membeku, lantas melirik sang ayah yang tak berekspresi. Kemudian beralih menatap Liz lagi yang kali ini juga menatapnya. “Ya, kami sempat membahasnya. Tapi mungkin dia lebih tertarik dengan hal lain daripada bisnis,” ujar pria itu. “Bukankah begitu, Sayang?” Genggaman kuat diberikan Morgan pada tangan Liz yang berada di bawah meja. Tatapan pria itu seakan membawa kilas balik pada kehidupan pernikahan mereka selama enam bulan ini. Tak ada kata romantis, hanya u*****n penuh kebencian yang selalu diutarakan. Tidak ada pelukan, hanya luka yang ditorehkan. Seolah belum puas, pria itu mengakhiri dengan tertawa lepas. Luka itu menjadi trauma, dan hingga kini Morgan masih bisa berpura-pura. “Kenapa?” Perhatian kelima orang di meja sontak beralih ke arahnya. Ia mengabaikan, dan justru dibuat penasaran oleh pikiran Morgan saat ini. “Papa, ada sesuatu yang harus Papa tahu, dan ini mengenai menantu yang Papa idam-idamkan itu.” “Liz.” Wanita paruh baya di sampingnya mencoba menghentikan. “Mamah rasa kamu tidak mau menghancurkan makan malam yang hangat ini, 'kan?” Liz tersenyum sinis. “Hangat apanya? Hangat karena dia dan wanita itu sudah berbagi ranjang?!” “Liz, jaga bicaramu. Kamu ini kenapa?” “Pah, aku ingin bercerai dengan Morgan. Jika Papa tanya kenapa, tanyakan padanya. Apa yang dia perbuat bersama seorang wanita di hotel!” Liz berdiri sambil menunjuk Morgan, habis sudah kesabarannya. Ia sudah muak melihat pria itu. “Eliza Maheswari, duduk.” Perintah mutlak, Wira berikan. “Papa tidak pernah mengajarkanmu bertingkah tidak sopan seperti ini.” “Liz, sayang. Duduklah, emosi tidak baik untuk kondisi kehamilanmu. Apalagi di masa-masa awal seperti ini.” Kalimat itu meluncur dari bibir ibu tirinya. “Mas, kamu juga harus tenang. Ingat apa yang dokter katakan.” Wira menghela napas, lalu tersenyum sambil mengangguk. “Eliza, duduk. Ibumu benar, dan Papa sudah tahu mengenai kehamilanmu itu. Emosi ini mungkin hanya hormon saja, sebab itu kamu jadi meledak-ledak.” Liz menoleh cepat, dan memandang satu persatu wajah di sana. Sandiwara apa yang dibuat, sampai mereka begitu kompak memainkan. “Pria itu tidak pernah menyentuhku, kecuali menjadikanku samsak kemarahannya.” Mengabaikan perintah Wira, Liz tetap bicara. “Aku hanya diam, berharap dengan menurut akan meredam hubungan kita yang memburuk.” Matanya sudah berkaca-kaca ketika menatap Wira, dan berubah tajam ketika menatap wanita di sampingnya. Seorang janda beranak satu asal Italia yang berhasil memonopoli sang papa. “Setelah mereka masuk ke kehidupan kita, Papa justru semakin menjauh dariku. Kukira dengan menyetujui pernikahan dengan Morgan, Papa mau memaafkanku.” Liz menunduk, emosi yang tidak stabil membuat kepalanya berputar. “Tapi justru Papa semakin jauh.” “Liz,” panggil Wira pelan. “Lupakan yang kukatakan,” potong Liz. “Aku tetap akan bercerai dengannya, setuju atau tidak. Tunggu saja hasilnya di persidangan.” Kalimat itu menjadi final, Liz berdiri lalu menoleh ke arah pria seusia Wira yang menjadi mertuanya. “Terima kasih atas jamuan makan malamnya.” Lantas ia meninggalkan ruangan, mengabaikan teriakan papa yang memanggilnya. Namun, Morgan berhasil menyusul. Pria itu menarik lengannya, dan memaksa untuk masuk ke mobil. “Buka! Apa kamu sudah kehilangan akal?!” Liz berusaha membuka pintu mobil, tapi Morgan bungkam dan fokus mengendarai mobil. “Buka! Kamu pikir aku takut?! Lihat saja! Bukan cuma surat dari persidangan yang datang, tapi surat penangkapan untukmu akan datang!” “Diam!!” Liz terdiam, ketika Morgan menatapnya penuh emosi. Wajah pria itu memerah dengan rahang mengeras dan mata melotot, dadanya naik turun dengan berat. Laju mobil semakin cepat, menembus jalanan kota yang padat. “Dasar gila! Berhenti!” Morgan masih diam, justru tersenyum aneh dan menambah kecepatan mobil. Bunyi klakson terus terdengar. Liz melirik takut-takut, tangannya yang gemetar mencoba mencari nomor kontak di ponsel. Lalu menghubungi asal, riwayat panggilan paling atas. Dalam rasa frustrasi, Liz masih mencoba menghubungi nomor yang sama. Matanya sudah terpejam kuat dengan ponsel berada di telinga, berharap seseorang di sana menjawab panggilannya. “Ya?” Mata Liz terbuka cepat, tapi secepat itu pula cahaya terang membutakan mata sebelum bunyi keras terdengar kala mobil oleng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN