BAB 4 Tujuan dari hati yang berbeda.

1675 Kata
“Kudengar Liz sedang mengandung.” Morgan mendongak cepat, matanya membesar. Tidak percaya kabar tersebut sudah sampai ke telinga sang ayah. “Ayah, sebenarnya itu_” “Lupakan saja kontrak dengan Mackenzie, lagi pula mereka hanya perusahaan minuman kecil. Tak ada pengaruh banyak untuk kita,” potong ayahnya. Morgan terdiam cukup lama. Setelah menolak ajakan Liz untuk pergi bersama ke kediaman Maheswari, kini justru dia terjebak kembali dalam suasana yang seakan-akan mencekiknya. “Aku sudah berkomunikasi dengan perwakilan mereka, bukannya akan jauh lebih menguntungkan jika mereka mau berinvestasi dengan kita?" "Tahu apa kamu tentang perusahaan?" Pria paruh baya berbadan gempal itu akhirnya memutar kursi, sampai tatapan tajamnya terarah langsung pada Morgan yang sontak terkesiap. “Wira Maheswari akhir-akhir ini sakit-sakitan, dia tidak sesering dulu berada di kantor. Tinggal menunggu waktu sampai dia mati, dan sebelum itu....” Jeda yang cukup diberikan sang ayah, membuat Morgan menahan napas. Firasatnya mengatakan ini akan menjadi mimpi buruk lain. “Kamu harus bisa meyakinkan dia, ikat mereka dengan sesuatu yang tak mungkin bisa dilepas.” “Apa ... Apa maksud Ayah?” Pria tua itu tersenyum miring. “Ikatlah mereka dengan seorang anak, sampai Wira yakin untuk mewariskan perusahaan dan asetnya pada anak itu.” *** Bayangan melintas cepat di celah pintu yang sedikit terbuka, Riens menatap lama. Sadar betul ada manusia lain di antara mereka. “Kamu tidak ikut bergabung dengan perusahaan milik Yamaa, dan hanya bekerja di bagian keamanan saja?” Riens menoleh, lalu mengangguk. “Ya, Anda bisa mengatakannya seperti itu.” Wira mengangguk-angguk. “Yamaa sepertinya sangat menyayangimu, entah dulu atau sekarang, dia tidak pernah berubah. Dia tetap menyukai anak-anak, sampai mau ikut andil dengan panti asuhan itu.” Riens membeku sesaat, rahangnya mengeras dengan ekspresi yang sama. Dia menunduk, lantas tersenyum miris. Kemudian matanya beralih pada sebuah tongkat kayu yang pria di depannya ini pakai. Seakan menyadari tatapan Riens, Wira justru tertawa kecil. “Kesehatanku semakin menurun sejak beberapa bulan lalu, tubuhku tidak sekuat dulu.” “Kaki Anda ... Apa yang terjadi?” Wira melirik kedua kakinya, lalu tersenyum simpul. “Dulu pernah ada kekacauan saat acara internal perusahaan, karena kericuhan itu. Putriku terluka, lalu secara alamiah tubuhku merasakan hal serupa.” Ada kesedihan di bola mata redup itu. Riens jelas paham tentang kejadian yang dimaksud, berita itu sudah sampai ke media cetak dan online. “Selama berbulan-bulan setelah kejadian, Liz sering mengurung diri. Dia tidak bisa menari seleluasa dulu, sampai dukungan Morgan membuatnya bisa tersenyum lagi. Jadi, sebulan kemudian mereka pun menikah.” Seakan ada beban di sana, Wira berkata dengan pikiran yang tampak berkecamuk. Riens memilih diam, memperhatikan tiap ekspresi kecil di sana. “Lalu bagaimana denganmu, Riens?” Mendapat pertanyaan tiba-tiba, membuatnya menaikkan sebelah alis. Wira tertawa renyah. “Apa kamu sudah memiliki pendamping?” Bukannya merespons, pandangan Riens justru tertuju pada helai rambut yang tampak di celah pintu. “Tidak, saya masih sendiri.” Lantas netra di balik pintu membulat, kala tatapan tajam Riens terarah tepat ke mata. Sudut bibirnya tak tahan terangkat. Mereka hanya satu dari sekian ribu manusia yang dirinya jumpai, cukup mudah ditebak. “Sangat disayangkan, tapi jangan terburu-buru. Karena pernikahan itu hal yang sakral,” papar Wira. “Ajaklah Liz bicara, belakangan ini dia jadi pendiam, dan jangan sungkan untuk sering-sering mampir.” Riens mengangguk pelan, lalu berdiri. “Saya akan pamit sekarang,” ucapnya. Wira berdiri kepayahan, dia menepuk pundak Riens sambil tersenyum. “Titipkan salamku untuk Yamaa, di lain waktu aku yang akan datang ke sana.” Riens berbalik dan melangkah pergi, terdiam sejenak di ambang pintu sebelum kembali berjalan. Rumah mewah itu terasa sepi, terdapat pepohonan tinggi di halaman belakang yang tampak jelas dari lantai dua. Alunan merdu denting piano menggema membuat langkahnya terhenti. Riens berbalik, memandang lorong gelap di depan sana. Tanpa sadar dia melangkah, mengikuti tiap denting menghantar kenangan. Tibalah dirinya di sebuah ruang. Berbeda dengan ruang lain yang redup, di sini justru dipenuhi oleh kaca yang membuat cahaya matahari menembus masuk. Tiap nada yang dihasilkan dari rekaman seirama dengan gerak indah si penari, dan seakan menyayat hati. Riens terpaku, memperhatikan tiap detail sampai tubuh itu jatuh. Ada emosi dan keputusasaan di netra bening yang kini menatapnya tajam. Riens masih berdiri di luar ruangan, sampai Liz melangkah tergesa dan menutup pintu kencang tepat di depan wajahnya. *** Ketika hari sudah gelap, Liz kembali ke apartemen Morgan. Dalam langkah kalut, ia menuju dapur dan meneguk habis air dalam gelas. Masih terngiang-ngiang dalam ingatan, wajah tanpa ekspresi seakan tak memiliki emosi yang Riens perlihatkan. “Sudah pulang?” Liz tersentak. Morgan dalam pakaian rumahan, mendekat. Pria itu meletakkan laptop yang dibawanya ke meja, sebelum menghampirinya. “Bagaimana kabar papa? Maaf, karena pekerjaan, aku tidak bisa menemanimu. Di waktu berikutnya, ayo kita pergi bersama.” Liz masih diam memperhatikan, bahkan ketika Morgan meletakkan makanan yang baru dihangatkan ke meja sampai kembali menatapnya sambil tersenyum. Senyuman yang justru membuat Liz bergidik. “Kenapa diam? Ayo, kamu belum makan, 'kan? Kita makan malam bersama,” ujar Morgan. “Apa maksudmu? Apa kepalamu baru saja terbentur? Atau_” Liz terdiam sejenak. “Kamu melakukannya karena ayahmu?” Senyum itu memudar, wajahnya tampak tegang pun bibir yang dipaksakan tersenyum lagi. Liz memang takut, tapi lebih aneh lagi jika ia justru luluh dengan sikap manis Morgan yang mendadak. Tidak manis, hanya saja menjijikkan. “Liz, aku tahu hubungan kita sudah tidak baik sejak awal. Tapi kamu ingat bagaimana aku mendekatimu dulu? Aku benar-benar tulus melakukannya, karena aku ingin mengenalmu lebih dalam.” Morgan meraih tangan Liz, lantas menggenggamnya erat. Namun, Liz melepaskan dan menjauh. “Cukup, Morgan. Berhenti saja, karena itu percuma.” Liz pun meninggalkan Morgan di sana. *** Embusan napas panjang terdengar, Liz memasukkan ponsel ke tas setelah merenung terlalu lama. Entah apa yang membuat proses perceraiannya dengan Morgan tersendat, bahkan pengacaranya pun sulit dihubungi. “Mau saya bantu? Tawaran saya waktu itu masih berlaku.” Tanpa melihat, Liz dapat menebak suara berat yang belakangan ini berada di sekitarnya. Setelah sikap Morgan hari itu, Liz tidak lagi tahan. Seminggu ini dirinya memutuskan menginap di rumah papanya. Riens. Pria itu pun menjadi lebih sering datang, entah hanya sekadar mampir atau berjam-jam mengobrol bersama Wira. “Kenapa aku harus?” “Karena saya benci mendengar helaan napasmu,” kata Riens. “Jauh lebih baik diakhiri saja, 'kan?” Liz tertawa hampa. “Apanya yang diakhiri? Hidupku?” Meski minim ekspresi, tapi Liz dapat menangkap pundak lebar itu menegang. “Ada yang membuatku lebih penasaran,” ujar Liz memberi jeda cukup lama sambil menatap lekat Riens. “Siapa kamu?” Ia mendekat, lantas mendongak untuk menatap lebih jelas wajah Riens. “Aneh saja kamu bisa dengan mudah membuat papa percaya.” “Kamu bisa tanya dia,” sahut Riens. “Dan seperti inikah caramu saat penasaran? Menggoda sampai mereka mau membuka mulut?” Liz mengernyit dan sontak mundur, saat Riens merunduk dan menatap intens. Rambut lebatnya nyaris menutupi pandangan, tapi tak mampu menutupi sosok rupawan di baliknya. Ya, Liz mengakui wajah Riens yang tampan. “Sudah saya peringatkan, jangan pernah bertingkah seperti ini di depan siapa pun.” “Kenapa?” Pria itu terdiam cukup lama, membiarkan Liz semakin larut dalam netra kelam miliknya. “Liz?” Wira berdiri beberapa meter di depan sana, matanya menyipit seakan memastikan sosok di bawah redup cahaya itu. “Ya, Pah?” Liz menghampiri. “Kenapa tidak menginap saja? Ini sudah malam, bahaya jika menyetir sendirian.” Liz tertawa kecil. “Aku bukan anak kecil, lagian ini belum terlalu larut.” “Riens? Bisa saya minta tolong?” Dapat Liz rasakan sosok tinggi di belakangnya. “Tolong antar Liz pulang,” lanjut Wira. “Pah, tapi_” “Tidak ada tapi, Liz. Kamu itu perempuan, harusnya lebih waspada dengan sekitarmu.” Wira memotongnya, lalu melirik Riens yang sedari tadi diam. "Kamu tidak punya urusan lain lagi, 'kan?” Setelah perdebatan yang tak membuahkan hasil, akhirnya kini Liz sudah berada di dalam mobil dengan Riens yang mengemudi. Keheningan ini tidak buruk, hanya terasa canggung saja. Sampai mereka tiba di apartemen, keheningan masih terjadi. Liz melirik sekilas ke arah Riens. “Terima kasih, tapi lain kali kamu bisa menolak permintaan papa.” Baru saja menutup pintu mobil, ia sudah disuguhi pemandangan di mana Morgan berdiri di pintu dengan napas terengah-engah. Kali ini apa lagi? Mengabaikan perasaan tak nyaman di hati, Liz mendekat. Sebuah kotak hitam berukuran sedang tergeletak di lantai, Morgan lantas menatapnya. Dia terlihat marah. “Apa_” Belum sempat kata terucap, Morgan lebih dulu menarik lengannya. Pria itu tersenyum kaku, tampak menyeramkan dengan wajahnya yang masih diselimuti emosi. “Su—Sudah pulang? Kamu pasti lelah, ayo masuk. Aku sudah siapkan makan malam.” Liz melepas paksa genggaman Morgan. “Kali ini apa lagi? Apa ini ada hubungannya dengan gugatan cerai?” Morgan menggeleng cepat, secepat itu pula menggenggam erat kedua tangan Liz. “Cerai? Tidak, kita tidak akan bercerai. Aku sudah bicara dengan pengacara, dan mereka setuju. Jadi, kita rujuk.” Liz mulai risi, ia melirik ke belakang di mana mobil hitam milik Riens masih terparkir di sana. Dan pria itu menjadikan apa yang terjadi di depannya bagai tontonan. “Cukup!” Tepisan kuat Liz membuat lembaran foto di tangan Morgan terlepas, matanya membelalak. Diambilnya foto-foto tersebut. Foto di mana Morgan dan seorang perempuan memasuki hotel, sampai keduanya yang berada di rumah sakit. Terlihat seperti pengantin baru yang bahagia dengan perut si wanita yang tampak mulai menonjol. “Huh, kamu menolak bercerai setelah ketahuan berselingkuh? Jadi, alat tes kehamilan yang kutemukan itu milik selingkuhanmu?” “Tidak, Liz. Ini ... Ini hanya jebakan! Orang-orang itu hanya menjebakku! Aku_” Liz mundur, menghindar dari Morgan yang kalut mencoba menyentuhnya. "Cukup, Morgan.” Ia menghela napas, ini terlalu memalukan untuk dilihat. “Kita akan bertemu lagi di persidangan, dan jangan merendahkan dirimu. Setidaknya aku mencoba untuk menghormatimu karena kamu seseorang yang papa percaya,” lanjutnya. Liz berbalik, dan kembali menghampiri Riens yang masih terdiam dengan kedua tangan menyilang di d**a. Pandangannya lurus, menembus langsung ke mata merah Morgan. Lantas sudut bibir tipis itu tertarik ke atas, seolah puas dengan apa yang kini dilihatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN