SEPERTIGA MALAM BERSAMA KEISYA

3118 Kata
*SEPERTIGA MALAM BERSAMA KEISYA* Azzam POV Bagiku, tiada hari tanpa bahagia semenjak aku berhasil merayu Allah agar dia menjadi jodohku. Aku berhasil menghalalkannya dalam suatu ikatan suci. Tinggallah aku membahagiakannya, di dunia, dan In Syaa Allah sampai ke akhirat. "Keisya," "Hm," Menggemaskan. Itulah yang muncul dalam pikiranku kala melihatnya lelap dalam tidurnya. Tidur pun terlihat sangat cantik. "Jam berapa ini loh, tahajjud dulu yuk," Ucapku membangunkannya. "Udah jam berapa, Kak?" "Jam 2. Keburu sepertiga malamnya habis nanti. Sayang kan kalau kelewat." "Hm, iya bentar lagi, Kak." "Bangun, Sya, tidur boleh. Ibadah dulu ya, biar nambah pahalanya." "Iya." "Iya tapi nggak bangun. Kenceng banget lagi meluknya. Wudhu dulu gih biar gak ngantuk." "Hoah, iya." Keisyaku, perlahan ia membuka matanya. Mata indahnya, yang selalu ku suka. Rambutnya terurai panjang, membuatku semakin mencintainya. Mencintainya karena agamanya, mencintainya karena Allah. "Kak Azzam udah wudhu?" Tanyanya padaku. "Belum. Kamu dulu sana." "Ih, Kak Azzam aja belum wudhu. Malah bangunin Keisya." "Ya udah berarti Kak Azzam duluan nih?" "Harusnya Kak Azzam wudhu dulu dari tadi. Ntar bangunin Keisya." "Nggak bisa, Keisya sayang. Kalau Kak Azzam bangunin kamu ntar wudhunya batal. Terus wudhu lagi. Sama aja dong." "Oh iya juga ya," "Ih, gimana sih biar polosnya hilang," Aku mencubit hidungnya. Keisyaku benar-benar menggemaskan, aku suka. "Kak Azzam ih, gimana bisa dihilangin? Kan dari sananya," "Iya deh jangan dihilangin. Gini aja terus." "Kenapa?" "Karena aku suka. Kalau kamu nggak polos ntar nggak nggemesin," "Ih, Kak Azzam mah." "Bercanda, sayang. Udah gih wudhu." "Iya." Inilah kesenangan baruku setiap malam. Bersama dia, Keisya ku. Dia, yang pandangan matanya menyejukkan. Senyum manisnya menenangkan. Tingkah lakunya yang menggemaskan. Masih sesuatu yang tidak ku sangka dapat bersatu dengan Keisya ku. Dari sekian banyak doa yang ku bintangkan pada langit kasih-Nya, semuanya terjawab dengan jawaban yang begitu indah. Sujud malam yang biasanya hanya ku lakukan seorang diri, kini ada bidadari surga yang mengikuti setiap pergerakan ibadahku menghadap Allah. Entah seberapa banyak rayuan-rayuan yang ku tujukan pada Allah tentangnya. Entah seberapa bosan Allah mendengar curahanku tentangnya. Yang ku tau, Allah selalu ada bagi setiap hamba-Nya. Memberi jalan bagi setiap masalah. Dan memberi jawaban dari setiap doa. "Kak Azzam," Panggilnya sembari melipat mukenah. "Hm?" "Shubuh masih lama ya?" "Emang sekarang jam berapa?" "Jam setengah tiga." "Setengah jam-an lagi mungkin, Sya. Kenapa?" "Nggak bisa tidur." "Ya udah nggak usah tidur deh. Kak Azzam temenin." "Kak Azzam ngantuk ya?" "Enggak juga sih." "Enaknya ngapain?" "Cerita-cerita mau?" "Cerita apa?" "Terserah. Em, kamu cerita, kenapa kamu bisa suka sama Kak Azzam?" Ucapku menggodanya. "Ih, apaan sih? Ngaco deh." Ucapnya seraya memukul namun tak keras. "Lah kenapa?" "Malu tau, Kak Azzam ih." "Ya udah tidur aja deh," "Bilang aja Kak Azzam ngantuk. Ya, kan?" "Enggak. Katanya kamu nggak bisa tidur. Tapi disuruh cerita nggak mau. Ya udah tidur aja ya," "Jahat ih, Kak Azzam." Melihatnya merajuk, aku tertawa. Lucu sekali dia, membuatku tak tega untuk menggodanya. Ampuh sekali jurusnya membuat setiap orang tidak dapat menolak keinginannya. "Apa sih apa? Hm? Maunya apa terus? Atau Kak Azzam aja yang cerita kenapa Kak Azzam suka sama kamu?" Ucapku seraya mengelus pundaknya. Ia tersenyum, ah manis sekali. "Boleh. Kak Azzam aja yang cerita ya, hehehe." "Dasar. Sana ke kasur. Kak Azzam taruh sajadah dulu. Sini mukenahnya Kak Azzam yang taruhin." "Makasih, Kak Azzam sayang." "Hah, apa? Nggak denger," "Apaan?" "Kamu bilang apa tadi? Coba ulangin." "Makasih, Kak Azzam." "Bukan. Ada lagi setelahnya." "Apa coba?" "Ulangin, Sya, pengen denger nih." "Makasih, Kak Azzam sayang." Aku tersenyum, menatapnya yang juga tersenyum jahil padaku. Ah, sayangku. "Sama-sama, Keisya sayang." Ia pun tergelak dalam tawanya. "Kak Azzam ikut-ikut ih." "Nggak boleh ya?" "Boleh banget. Hahaha." Aku mencubit hidungnya. Membuatnya mengelus pelan hidung mancungnya. Menggemaskan sekali. Lantas aku beranjak meletakkan sajadah dan mukenah. Baru menemui Keisya yang sudah terduduk nyaman di atas kasur seraya memainkan ponsel. "Katanya mau diceritain, kenapa main hp sendiri?" Ucapku seraya duduk di sampingnya. "Ngecek notifikasi doang." "Ada yang spesial ya?" "Ada." "Siapa, Sya?" "Kak Azzam lah. Eh," Ucapnya seraya menutup mulut seperti orang yang tak sengaja mengungkap rahasia. Lucu sekali. "Kamu bisa gombal juga ya ternyata." Ucapku seraya terbahak melihatnya. "Keceplosan," "Tapi bener, kan?" "Hehehe, iya." Keisya ku, aku bisa menyebutkannya sebagai milikku. Tapi Keisya tetaplah Keisya, yang hanya milik Allah semata. Yang dianugrahkan padaku sehingga aku bertanggung jawab untuk membimbingnya, sepanjang umurku hingga sampai pada Jannah-Nya. "Jadi cerita nggak nih?" "Ih, kan Kak Azzam yang bilang. Masa gak jadi." "Lah? Cerewet juga kamu ya. Gemes tau." "Biarin." "Ya udah deh Kak Azzam cerita. Mulai mana ya ceritanya?" "Mulai kita kenal." "Oke. Jadi, Kak Azzam masih inget banget. Pertama kali ketemu kamu tuh waktu kamu gak sengaja nabrak Kak Azzam. Terus buku-bukunya Kak Azzam jatuh semua kan, nah dibantuin ngambil sama kamu. Di situ Kak Azzam bingung, kok kayak nggak pernah liat santriwati yang kayak kamu." "Terus? Kenapa bingung lihat aku?" "Ya bukannya sok bangga sih. Kamu tau sendiri, kan? Akhwat-akhwat di pesantren dulu kalau Kak Azzam lewat sukanya lihatin mulu. Banyak yang ngenalin dirinya sendiri ke Kak Azzam. Padahal kan Kak Azzam gak minta kenalan." "Ih, itu mah Kak Azzam udah bangga kali." "Nggak apa-apa kan sama istri sendiri." "Oh, Kak Azzam mau banggain sama yang lain ya?" "Lah? Ya enggak, Sya. Serba salah mulu masa dari tadi." "Em, iya deh maaf. Keisya cerewet banget kayaknya ya malem ini." "Mau dilanjut nggak ceritanya?" "Iya mau." "Ya gitu. Kak Azzam belum pernah lihat kamu sebelumnya. Gak tau kenapa pas pertama kali liat kamu tuh Kak Azzam jadi pengen cari tau tentang kamu. Kayak cari tau siapa nama kamu, kelas berapa, santri baru atau bukan, ya itulah pokoknya." "Terus kenal akunya dari mana?" "Kamu lupa ya?" "Em, enggak sih. Cuman nggak inget." "Keisya, kamu mau Kak Azzam kelitikin nih? Polos banget, Ya Allah." "Jahat banget ngelitikin istri sendiri." "Biarin." "Kak Azzam ngambek? Lanjut cerita aja dari pada ngambek." "Sebelum lanjut Kak Azzam mau minta sesuatu sama kamu, boleh?" "Apa?" "Cubit pipi kamu sebentar. Boleh ya?" "Ih, jangan. Nanti sakit." "Pelan aja kok. Dari pada dikelitikin, ntar geli. Ntar kamu nangis lagi. Pelan kok, ya?" “Iseng banget sih, Kak Azzam.” “Enggak, sayang. Pelan doang kok.” "Pelan banget ya," "Iya, Keisya sayang." Aku mencubit pipinya. Ia meringis seraya tertawa. Sangat menggemaskan. Membuatku semakin ingin selalu berada di dekatnya. Kepolosannya, membuatku harus mengumpulkan pasokan kesabaran. Terlepas dari itu semua, aku menyayanginya, lebih dari diriku sendiri. "Udah gemesnya?" Tanyanya. "Belum." Jawabku seraya tersenyum jahil padanya. "Udah ih. Gemes mulu yang ada nggak lanjut cerita." "Ya udah iya. Dulu tuh ya, Kak Azzam kenal kamu karena dipanggil Kyai Umar, suruh ikutan lomba. Inget nggak?" "Em, bentar. Oh iya inget. Padahal itu Keisya baru juga masuk, udah disuruh ikut lomba aja." "Hahaha. Nah dari situ, Kak Azzam tau nama kamu. Terus kan kita pernah latihan bareng tuh. Jadi sering ketemu, kan? Nah karena sering ketemu itu, Kak Azzam pengen kenal kamu lebih dekat. Ya maksudnya sebagai sahabat lah gitu." "Oh. Kak Azzam gimana perasaannya waktu udah kenal Keisya?" "Kepo nih," "Biarin, suami sendiri juga." Aku tertawa menatapnya. Lalu merangkulnya. "Seneng lah, bisa kenal kamu." Keisya mengangguk, memahami segala yang ku ceritakan padanya. "Setelah itu?" "Inget nggak, malem-malem, kamu lagi di taman sama Qila. Terus Zahy jatuh dari pohon gara-gara ambil mangga. Kak Azzam nolongin Zahy, terus ketemu kamu. Tau nggak, Kak Azzam seneng bisa ketemu kamu lagi. Nggak tau kenapa, dulu kalau ketemu kamu bawaannya seneng mulu. Emang jodoh kali." "Iya lah jodoh. Buktinya sekarang udah halal. Lanjut, Kak." Aku tersenyum mendengarnya menanggapi ceritaku. "Terus besoknya kamu masuk area ikhwan di madrasah. Lihat kamu tuh Kak Azzam bingung. Ngapain coba kamu masuk-masuk area ikhwan. Kalau ketahuan bisa dihukum kamu tuh." "Tau nggak kenapa aku sampai masuk area ikhwan?" "Kenapa?" "Nyari Kak Azzam. Gara-gara semaleman kepikiran Kak Azzam. Besoknya nggak tau kenapa pengen ketemu sama Kak Azzam." “Hah? Emang iya?” “Iya lah.” "Wah, jalan pikiran kita sama tau." "Maksudnya?" "Ya sama. Kamu kepikiran Kak Azzam. Kak Azzam juga kepikiran kamu." "Oh. Jodoh mah gitu ya, nggak bisa ditebak." "Hehehe. Sampai suatu saat Kak Nayla sama Kak Zahir kena fitnah tuh kan, kita bantuin mecahin masalah mereka. Di situ Kak Azzam ngerasa deket sama kamu, Sya." "Oh iya, Keisya inget." "Nah, di situ Kak Azzam dapet kesimpulan kalau Kak Azzam suka sama kamu." "Hehehe, lucu juga. Lama banget sadarnya kalau suka sama aku. Ada lagi, kan? Lanjutin." "Em, oh iya. Waktu kita kena masalah gara-gara fitnah tuh, Kak Azzam denger kamu drop kan, terus Kak Azzam khawatir banget. Ya akhirnya kirim surat ke kamu. Eh ternyata kamu bales. Di situ Kak Azzam tau kamu akhwat yang kuat, sabar, shalihah, top lah pokoknya." "Hem, segitu banget ya aku di mata Kak Azzam." "Iya, Sya. Apa lagi pas udah lulus Aliyah, kamu balik tuh kan ke Surabaya. Ya gitu, berasa ada yang kurang. Berasa ada yang hilang. Yang biasanya dimana aja ketemu, kamu pergi jadi gak ketemu. Nggak enak lah pokoknya. Ya gimana lagi, dulu juga apa-apa diam-diam. Kak Azzam mah pasrah aja sama takdir Allah." "Hebat banget, Kak Azzam." "Sebelum pulang ke Surabaya kamu titip pesen kan sama Kak Azzam. Kalau kita harus saling menjaga dalam doa. Kak Azzam selalu ngelakuin itu setiap sehabis sholat. Setiap tahajjud. Jadi nggak pernah lupa sama kamu. Dan, Kak Azzam jadi makin suka sama kamu. Ya tau sih, terlalu berharap sama makhluk itu nggak baik. Tapi kan itu semua bentuk ikhtiar, supaya Kak Azzam bisa dapet ridha Allah untuk halalin kamu." "Makasih, Kak Azzam udah sebegitu gigihnya perjuangin Keisya." "Hehehe, sama-sama, sebenernya Kak Azzam udah pasrah banget tuh waktu kamu udah nggak mondok lagi. Kalau jodoh ya bakal dipersatukan, kalau nggak ya mungkin rencana Allah lebih indah. Tapi ternyata rencana indah dari Allah itu bersatu dengan kamu." "Hahaha. Aku juga nggak nyangka dulu, kita ketemu lagi di kampus. Satu kelas juga." "Iya. Kak Azzam seneng sih, cuma kamu tuh udah beda. Pake cadar. Semakin yakin kalau kamu bener-bener shalihah. Istri idaman. Dari situ kan Kak Azzam makin suka." "Hehehe. Waktu ada Azka gimana?" "Udah nebak Kak Azzam mah." "Maksudnya?" "Azka sama Kak Azzam tuh udah cukup baik temenannya. Jadi Kak Azzam tau kalau Azka suka sama kamu." "Perasaan Kak Azzam gimana? Cemburu ya?" "Iya sih. Tapi ya mau gimana. Ngungkapin juga nggak mungkin kali. Ya Kak Azzam coba ikhlas aja. Mungkin emang bukan jodohnya. Apa lagi pas tau kamu nerima khitbahnya Azka. Ngerasa nggak terima, tapi ya harus ikhlas. Jadi ya Kak Azzam ikhlas." "Cemburu banget ya, Kak? Keisya juga terpaksa nerima khitbahnya Azka waktu itu." "Kamu nggak coba cinta sama dia, Sya?" "Awal-awal nerima khitbahnya dia sih Keisya mulai belajar cinta sama dia, belajar cinta karena Allah, tapi tetep nggak bisa. Emang hatinya bukan buat Azka." "Terus hatinya buat siapa?" "Ih, mancing-mancing. Pura-pura nggak tau lagi." "Udah jawab aja. Hatinya buat siapa emangnya?" "Buat Allah," Lagi dan lagi, aku menghembuskan nafas kasar mendengarnya. Sedikit menyebalkan memang, beruntungnya, aku menyayanginya. "Kirain buat Kak Azzam." "Kak Azzam nggak peka." "Maksudnya?" "Ya maksudnya, hatinya Keisya itu buat Allah, sama buat Kak Azzam juga. Karena Keisya bisa punya Kak Azzam atas ridha dari Allah." Aku tersenyum, lalu mengecup lembut pucuk kepalanya, raganya masih setiap dalam rengkuhanku. Dan hatinya, sudah pasti akan selalu setia dalam hatiku. "Bilang dari tadi kek." Tukasku kemudian. "Kak Azzam nggak peka. Gitu aja bingung." "Gimana mau peka? Teka-tekinya sulit gitu. Lagian nih ya, kita sebagai laki-laki tuh bingung. Kenapa perempuan selalu ingin bahwa pasangannya itu tau kemauannya, isi hatinya, tanpa si perempuan tadi kasih tau. Kalian kira kita apa coba?" "Hish, Kak Azzam. Hati wanita itu mudah rapuh. Keisya sendiri kadang bingung, sebagai wanita, Keisya juga pengen pasangan Keisya ngertiin Keisya sepenuhnya. " Mendengarnya, aku tertegun. Lalu semakin mengeratkan pelukanku terhadapnya. "Maaf ya kalau Kak Azzam belum bisa ngertiin kamu. Maaf belum bisa jadi suami yang baik. Maaf kalau Kak Azzam belum bisa bahagiain kamu semenjak kita menikah." "Bukan itu maksud Keisya. Kak Azzam suami yang baik, baik banget. Jangan pernah bilang kalau Keisya nggak bahagia. Keisya selalu bahagia, karena dekat dengan Kak Azzam. Kak Azzam segalanya bagi Keisya. Jangan bilang gitu lagi ya, Keisya takut." "Takut kenapa?" "Takut Kak Azzam ninggalin Keisya." "Nggak akan pernah. Kak Azzam akan selalu sama kamu, humairahku. Kak Azzam mau kita sama-sama terus, selamanya. Nggak akan pernah ninggalin kamu." "Kak Azzam sayang Keisya nggak?" "Iya." "Kok cuma iya?" "Iya. Sayang banget." "Sama. Keisya juga sayang," Aku mengecupnya lagi, entah yang ke berapa. Bahagianya adalah bahagiaku juga. Dan aku harap, keharmonisan ini, akan membuat Allah ridha atas segala yang aku lakukan bersamanya. Oh Allah, aku mencintaimu, juga mencintainya. Setelah beberapa detik hening mengisi bersama pelukan hangat, akhirnya ia kembali bersuara. "Terus Kak Azzam kok punya pikiran mau berangkat ke Mesir?" "Iya. Ya di samping itu adalah keinginan Kak Azzam, itu juga niat Kak Azzam buat semakin ikhlas nerima kenyataan bahwa kamu udah jadi calon istrinya Azka." "Tapi kan batal pernikahannya." "Iya. Azka udah cerita semuanya, sehari setelah abi cerita kalau pernikahan kamu batal. Azka cerita kalau kamu sukanya bukan sama dia, tapi sama Kak Azzam. Dari situ Kak Azzam bingung, lanjut ke Mesir atau khitbah kamu. Kak Azzam istikharah, dan kamu yang dateng ke mimpi. Jadi ya keputusannya adalah, khitbah kamu." "Kak Azzam bikin Keisya takut tau. Lagian pakai dirahasiain segala." "Hahaha, iya lah kan biar seru. Kak Azzam bikin rencana supaya kamu bisa mendadak bahagia. Biasanya kalau mendadak bahagia tuh seketika sedihnya langsung hilang. Kak Azzam kan pengennya kamu nggak usah sedih-sedihan lagi. Ya meskipun sebelum bahagia kamu nangis mulu. Eh, emang waktu Kak Azzam mau berangkat ke Mesir kamu nangis ya?" "Iya. Masa Keisya udah batalin pernikahan sama Azka demi Kak Azzam, eh Kak Azzamnya malah ninggal pergi. Di situ Keisya ngerasa bahwa udah merjuangin susah payah, eh ditinggal pas lagi sayang-sayangnya." "Wah, sayang banget sama Kak Azzam ya," "Aduh keceplosan lagi," "Hahaha, bilang aja kali kalau emang sayang. Pake alasan keceplosan segala." "Udah ih. Terus gimana?" "Apanya?" "Lanjut cerita Kak Azzam ih." "Oh iya. Ya terus gitu lah, kamu tau kan, Kak Azzam kasih Al-Quran, biar percaya aja kalau emang mau pergi. Padahal kan bohongan." "Ih, Kak Azzam mah." "Hahaha, Kak Azzam seneng tau rencananya berhasil dengan sempurna. Dan, hari itu juga Kak Azzam langsung ke rumahmu, dan khitbah kamu." "Hm, akhirnya Keisya udah nggak nangis lagi." "Bahagia ya?" "Iya. Bahagia mendadak. Sampai sedihnya langsung hilang." "Hahahaha." "Kita mah dulu cinta dalam diam ya, Kak." "Iya. Untung sekarang udah enggak." "Ya iya kan udah halal ih." "Hahahaha." "Gitu ya, Allah tuh rencananya nggak ada yang tau. Tau ah bingung." "Nggak usah bingung. Rencana Allah mah udah sampe kesini, sampe ke keinginan kita." "Iya." "Dulu tuh Kak Azzam kira kamu pendiem banget tau. Eh ternyata kalau udah deket cerewet juga." "Oh ya? Keisya juga mikirnya sama. Keisya ngiranya Kak Azzam tuh dingin, cuek. Eh ternyata bisa hangat juga, hehehe." "Dikira teh kali." "Ih bercanda. Kak Azzam itu---" "Itu apa?" "Kak Azzam itu suaminya Keisya yang paling baik." "Sebaik apa Kak Azzam di mata Keisya?" "Sebaik apa ya?" "Apa?" "Suami paling baik di antara yang paling baik." "Hahahaha." "Menurut aku Kak Azzam itu pendiem. Tapi kalau udah kenal deket mah enggak." Ucapnya kemudian. "Maksudnya, Kak Azzam pendiem kalau sama orang yang nggak kenal aja gitu?" "Iya. Kak Azzam kenapa jadi polos juga, sih?" "Ya habisnya kamu polos, Kak Azzam jadi ketularan." "Ih, emang menular? Kan bukan penyakit," "Keisya, sebelum kita nikah tuh kamu nggak sepolos ini loh." "Masa sih? Keisya juga nggak tau." "Kak Azzam tau." "Apa coba?" "Kamu tuh polosnya cuma bisa di depan Kak Azzam doang." "Kenapa gitu?" "Ya karena biar spesial. Hahaha." "Gombal." "Nyenengin istri tuh bisa dapet pahala tau." "Emang Kak Azzam tau kalau Keisya seneng?" "Tau." "Tau dari mana?" "Dari mata kamu. Kamu tau nggak? Kak Azzam suka sama mata kamu," "Ih gombal lagi nih," "Serius, Sya." "Kenapa mata?" "Karena mata nggak bisa bohong. Mata nggak bisa nyembunyiin sesuatu. Sorot mata bisa mewakili perasaan seseorang. Kak Azzam suka mata kamu, selain karena itu semua, juga karena kamu selalu menjaga pandangan. Jadi kamu nggak menumpuk dosa. Kak Azzam maunya kita nambah pahala, bukan nambah dosa." Keisya nampak tersenyum, seraya menatapku. Pandangan kami bertemu pada satu titik. "Iya. Itu emang tujuan Keisya. Menjaga pandangan supaya nggak menambah dosa. Lagian juga kan sekarang Keisya udah punya Kak Azzam, jadi, bagaimanapun rupa Keisya, yang berhak menatap lekat ya cuma Kak Azzam." "Kak Azzam nggak terlalu peduli dengan fisik, Sya. Yang Kak Azzam lihat itu keshalihahannya. Kamu itu shalihah menurut Kak Azzam. Tapi kamu juga cantik. Cantik banget malah. Dan menurut Kak Azzam, keshalihahan kamu itu anugrah, dan kecantikan kamu itu bonus dari Allah. Jangan lupa bersyukur ya, Sya." "Iya. Allah maha baik. Selalu seperti ini, Kak, saling mengingatkan. Aku beruntung, sangat beruntung." "Sini," Aku meraihnya, memeluknya hangat penuh kasih sayang. "Keisya pengen sekolah ah," Ucapnya yang masih dalam dekapanku. "Sekolah?" "Iya. Gurunya Kak Azzam aja. Sekolahnya di rumah aja. Eh, dimana aja, asal sama Kak Azzam." "Dasar kamu." Aku tersenyum seraya mempererat pelukan. Memang benar, pacaran setelah menikah lebih menyenangkan. "Keisya pengen banyak belajar dari Kak Azzam. Keisya beruntung punya Kak Azzam yang faham betul tentang ilmu agama. Jadi, Kak Azzam sering-sering share ilmu ya ke Keisya." "Meskipun kamu nggak minta pun, Kak Azzam pasti lakuin, Sya. Kak Azzam udah tau kalau itu mah. Kan kewajiban Kak Azzam membimbing kamu, supaya kita bisa sama-sama sampai ke surga." "Aamiin ya Mujibassailin," Setelah itu, kami larut dalam kebahagiaan di sepertiga malam hari ini. "Udah cerita panjang lebar nih. Masa nggak dikasih apa-apa." Ucapku kemudian. "Maunya dikasih apa?" "Apa kek gitu." "Em, apa ya?" "Peluk kek, kecup kek, atau apa gitu." "Ih genit. Jadi mau cerita gara-gara ada maunya." "Genit sama istri sendiri boleh kali, Sya. Ya udah nggak dikasih apa-apa juga nggak apa-apa. Ayo persiapan shubuh." Aku pun bersiap turun dari kasur. Tapi tak ku sangka, ia menggenggam tanganku dan membuatku menoleh. Lalu ia mengecup pipiku. Dan membisikkan sesuatu dengan lembut di telingaku. "Kak Azzam, Keisya sayang banget sama Kak Azzam. Tetap seperti ini ya. Ana uhibbuka fillah, Kak Azzam sayang. Makasih ceritanya, Keisya suka. Sekali lagi, Keisya cinta. Cinta Kak Azzam." Aku tersenyum, menatapnya dengan tatapan lembut. "Makasih hadiahnya." Ucapku padanya. "Udah kan hadiahnya? Seneng nggak?" "Seneng banget. Yuk persiapan shubuh." "Iya." Malam ini, malam yang sangat sangat membahagiakan bagiku, dan bagi Keisya ku. Aku bernostalgia bersamanya. Menceritakan awal pertemuan kami, hingga berujung pada momen indah dan ikatan halal. Keisya ku, yang selalu membuatku tersenyum melihat segala tingkahnya. Bagiku, hadirnya Keisya adalah sarana memperkuat ibadahku kepada Allah. Sarana mendekatkan kami ke surga-Nya. Karena itu, aku mencintainya, karena kecintaannya pada Allah. ¤¤¤¤ “Aku tidak tahu, balasan seindah apa yang harus kuberikan pada Allah. Karena kemulyaan-Nya, karena takdir indah-Nya, aku dan kamu bersatu menjadi kita. Dan akan selamanya, hingga nanti akhirat datang menyapa.” • Keisya Savierra Assalafiyah • • Achmad Azzam Firdian Maulana • ¤¤¤¤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN