*TCMS - IMAM TERBAIK*
• Savierra POV •
Banyak orang lebih menyukai tidur di atas kasurnya kala malam menyapa, daripada beribadah menunaikan tahajjud yang kemuliaannya terbukti nyata.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al Qur'an mengenai sholat sunnah paling istimewa ini:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al Israa': 79)
Tahajud yang juga disebut qiyamul lail atau sholat lail merupakan sholat sunnah yang paling utama. Sebagaimana sabda Rasulullah:
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ قِيَامُ اللَّيْلِ
"Sholat yang paling afdhol setelah sholat fardhu adalah sholat malam." (HR. An Nasa'i)
Malam ini, nampak sama seperti malam-malam biasanya. Sebelum menikah memang aku selalu bertahajjud sendiri, tanpa imam. Bergelut dengan heningnya malam. Tapi sekarang, ada satu kewajiban bagiku sebagai istri. Yaitu mengajak suami pada kebaikan yang diridhai Allah Subhanahu wa ta'ala.
Tepat sepertiga malam hari ini, aku terbangun. Ku lihat Azzam dengan begitu pulasnya masih bergelut dengan mimpi. Wajahnya lelah, karena pekerjaan dari kampusnya. Setelah menikah, Azzam memutuskan untuk melanjutkan studi S2 nya di kampus yang sama. Tidak jadi berangkat ke Mesir. Tak apa, Allah pasti punya rencana lain.
Aku membelai wajah tampannya. Dua minggu sejak pernikahanku, rasa canggung mungkin sedikit demi sedikit mulai hilang. Tak baik bersikap dingin antar suami istri. Harus saling ramah satu sama lain. Tapi, memang rasa canggung itu masih ada, meskipun sudah tidak secanggung beberapa hari sebelumnya.
Aku membangunkannya perlahan. Jujur aku tak tega. Azzam terlihat benar-benar lelah. Namun, aku ingin taat padanya dengan cara mengajaknya pada kebaikan. Seperti apa yang dikatakan Rasulullah SAW.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
"Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di Bulan Ramadhan), menjaga k*********a (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, "Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka." (HR. Ahmad; shahih).
Dengan perlahan aku membangunkannya, hingga ia mulai membuka mata. Aku tersenyum menatapnya, begitupun dia.
"Kenapa, Sya?" Ucapnya seraya membuka mata.
"Sepertiga malam. Tahajjud dulu ya," Ucapku.
“Hm? Udah waktunya?”
“Iya, Kak Azzam.”
"Astaghfirullah, harusnya aku yang bangunin kamu." Ucap Azzam seraya langsung duduk.
"Kak Azzam capek, ya?"
Mendengarnya, Azzam tersenyum menatapku. Matanya kelihatan sangat sayu. Berbicara denganku pun ia sembari mengerjap-erjapkan matanya. "Iya. Cuman sedikit kok.”
“Em, apa Kak Azzam libur dulu aja tahajjudnya? Capek banget, ya?”
“Nggak usah, Sya. Sayang kalau ditinggal tahajjudnya. Aku nggak apa-apa kok. Cuman sedikit capek aja.”
“Tapi nanti kalau sakit gimana?”
“Sya, sesibuk-sibuknya urusan dunia, jangan sampai lupa sama urusan akhirat. Masa kita tahajjud kalau ada waktu luang aja? Kalau lagi sehat aja? Kalau lagi butuh aja? Bukan gitu hakikat sholat, Sya. Perlu kita tau, kita sholat bukan berarti Allah butuh kita. Tapi kita yang butuh Allah. Kita sholat supaya kita bisa lebih dekat dengan Allah.”
“Iya, aku tau kok. Tapi kan tahajjud itu sunnah, Kak Azzam. Kalau Kak Azzam sakit, nggak sholat tahajjud sehari nggak apa-apa kok. Kak Azzam istirahat.”
“Kalau udah kebiasaan, mau ditinggal tuh sayang banget, Sya. Aku masih kuat kok. Lagian cuma capek aja.”
“Nanti kalau sakit gimana?”
“Enggak, In Syaa Allah enggak. Kan ada kamu, Sya. In Syaa Allah nggak apa-apa, aman semuanya. Hehehe."
Jujur, saat ini juga aku ingin mengatakan bahwa aku sangat senang di hadapan Azzam. Namun apa daya, aku hanya mampu tersenyum seraya menatapnya. Ah aku lupa, aku sedang tidak memakai cadar. Bukan tak mungkin Azzam dapat melihat pipiku yang mulai memerah bak jambu biji.
“Pipi kamu merah.” Ucap Azzam kemudian.
“Hah?”
“Pipi kamu. Merah itu.”
“Me-merah?”
“Iya.”
“Masa sih? E-enggak kok.”
“Kamu mana tau, Sya. Kan aku yang lihat.”
Ah, aku reflek menyentuh pipiku. Apa benar merah seperti yang dikatakan Azzam? Aku benar-benar malu rasanya. Bagaimana bisa pipiku memerah tepat di depan Azzam. Ah Allah, tolong aku, aku malu seperti ini di depan Azzam.
“Nggak percaya kalau pipinya merah? Ya udah, lihat cermin aja sana.”
“E-em, a-aku---“
“Tegang banget mukanya? Kenapa?”
“Ah, Kak Azzam kenapa sih?”
“Hah? Kenapa?”
“Kak Azzam bikin aku deg-degan mulu.”
“Kamu deg-degan?”
“Iya lah.”
“Kenapa? Karena dekat aku? Hm?”
“Hah?”
Ah, harus menjawab apa lagi jika Azzam sudah seperti ini? Ia seakan sudah mengunci mulutku. Kata-kata singkatnya saja berhasil membuat jantungku berdegup sangat kencang. Allah, aku sangat mencintainya. Tapi jika terus-terusan seperti ini, bisa-bisa jantungku tidak aman.
"Maaf ya, Sya, jadi kamu yang bangunin aku." Ucapnya lagi.
"Nggak apa-apa. Kak Azzam capek banget kelihatannya. Jangan terlalu kecapean ya, nanti sakit."
"Iya. Sakit juga nggak apa-apa, yang penting kan ada kamu."
Ah lagi, ingin rasanya aku terbang sekarang juga. Suasana seperti ini masih bisakah disebut pengantin baru? Ah entahlah.
"Em, siapa yang wudhu duluan?" Tanyaku.
"Kamu gih sana. Aku mau ngumpulin nyawa dulu. Masih ngantuk soalnya, hehe."
"Hahaha ada-ada aja. Ya udah aku wudhu dulu."
Aku pun beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu, aku keluar dan bergantian dengan Azzam. Selagi Azzam wudhu, aku menyiapkan sajadah dan perlatan sholat lainnya untuk Azzam. Sekecil apapun usahanya, tidak ada seorang istri yang tidak ingin menjadi istri shalihah.
Dalam heningnya malam, aku bersimpuh di atas sajadah. Bersamanya, aku melangitkan doa-doa pada Sang Maha Pengabul Doa.
Setelah salam dan sholat selesai, Azzam merapalkan doa yang setiap baitnya ku aminkan dengan kesungguhan. Seperti biasa, seusai sholat aku mencium punggung tangannya, ia pun mengecup keningku lama.
"Sya," Panggilannya terdengar lemas. Sebenarnya aku tidak tega, pekerjaannya memang banyak hingga ia kelelahan.
"Iya?"
"Mau nunggu shubuh apa tidur?" Tanyanya seraya menghampiriku di atas kasur.
"Kak Azzam capek. Istirahat aja ya, biar nggak sakit."
"Nggak sakit kok. Cuman pusing aja."
"Pusing ya? Itu udah sakit namanya. Ya udah istirahat aja. Aku buatin teh hangat ya, nanti sekalian minum obat."
"Nggak usah, Sya, nggak mempan."
"Daripada nggak minum obat sama sekali."
"Sembuhnya itu, cukup kamu ada di sini. Udah, jadi kamu di sini aja ya."
Mendengarnya, sontak degup jantungku tak dapat terkendali dengan baik. Ingin menatapnya pun masih sedikit malu. Tak lama, dia membawaku dalam peluknya. Aku terkejut, tapi sebisa mungkin aku menetralkan jantungku, juga raut wajahku.
"Em, yakin nggak mau minum obat? Coba lihat, panas nggak?"
Aku menempelkan telapak tanganku di keningnya. Ku lihat matanya sangat sayu, seraya tersenyum padaku. "Astaghfirullah, ini panas banget, Kak Azzam. Harus minum obat pokoknya."
"Nggak usah, Sya, udah kamu sini aja. Nanti juga turun sendiri panasnya."
"Kak Azzam nanti kenapa-kenapa,"
"Enggak, In Syaa Allah nggak kenapa-kenapa, Sya. Udah, diem sini aja ya. Nanti juga sembuh, biar besok lanjut ngurusin kerjaan lagi."
"Kalau lagi sakit nggak usah mikirin kerjaan dulu. Nanti makin pusing."
"Masih kurang banyak, Sya."
"Iya. Tapi jangan dipaksain juga ya, kalau sakit gini kan kasian Kak Azzamnya. Nanti aku bantu kok sedikit-sedikit yang aku bisa."
"Maaf ya ngerepotin kamu. Habisnya emang banyak banget, Sya. Kan kamu tau sendiri."
"Iya. Itu PR dari kampus apa kerjaan dari kantornya abi, sih? Atau dua-duanya? Banyak banget."
"Dua-duanya, Sya. Ada yang PR dari kampus, ada juga berkas-berkas dari kantor."
"Masyaa Allah, lain kali dicicil aja ngerjainnya. Kalau langsung banyak gini, Kak Azzam jadi sakit nih kan."
Azzam adalah tipe orang pekerja keras. Setelah kami menikah, ia melanjutkan kuliahnya. Untuk pekerjaan sementara, ia juga bekerja di kantor abi. Setidaknya penghasilannya cukup untuk keluarga kecil kami. Baru setelah lulus kuliah, ia berencana mengajukan diri sebagai dosen.
"Ntar malah nggak selesai-selesai, Sya."
"Selesai kok, nanti aku bantuin. Jangan langsung gitu, Kak Azzam. Nanti makin drop, makin sakit."
"Iya iya. Kamu khawatir banget kayanya kalau aku sakit."
“Gimana nggak khawatir? Lihat badannya lemes aja aku udah nggak tega.”
“Gitu, ya?”
“Iya lah, Kak Azzam.”
“In Syaa Allah aku nggak apa-apa, Sya. Jangan khawatir, ya.”
“Aku nggak bisa berhenti khawatir sampai Kak Azzam bener-bener sembuh.”
“Jangan gitu, nanti kamu kecapekan dan sakit juga gara-gara jagain aku.”
“Ya itu urusan nanti dulu. Yang penting Kak Azzam sembuh dulu.”
“Kamu perhatian banget, Sya.”
“Hah? Y-ya kan Kak Azzam suami aku.”
“Makasih banyak, ya.”
“Ngapain terima kasih?”
“Nggak kenapa-kenapa, terima kasih aja pokoknya.”
“Em, iya udah deh. Sama-sama.”
“Hehehe, lucu kamu, Sya.”
Azzam melepas pelukannya denganku. Ia beralih memposisikan dirinya yakni berbaring di pangkuanku. Kemudian, dengan mata sayunya, ia menatapku dan tersenyum. Saat aku memegang keningnya, masih terasa hangat. Bahkan saat ia lemah sekalipun, ia masih tersenyum manis di hadapanku. Azzam, dia benar-benar imam terbaikku.
“Masih pusing ya?” Tanyaku padanya sembari memijat kepalanya.
“Iya, sedikit.”
“Nggak sedikit. Pasti pusing banget.”
“Kenapa bisa tau?”
“Badan Kak Azzam hangat banget. Pasti pusing banget juga.”
“Hm, iya sih.”
“Minum obat aja ya, biar nggak tambah pusing.”
“Gampanglah, Sya. Nanti aja.”
“Yakin nggak apa-apa?”
“Iya, Sya. Dulu aku sering begini kok. Aku jarang minta obat sama umi. Toh juga sembuh sendiri. Jadi, jangan khawatir, ya.”
“Ya aku nggak tega aja lihat Kak Azzam selemes ini.”
“Lemes doang kok. In Syaa Allah besok udah baik-baik aja.”
"Besok istirahat aja ya. Kampus kan lagi libur. Nggak usah ke kantor abi dulu."
"Iya, apa kata besok deh."
"Gak mau tau. Pokoknya besok harus istirahat. Badan Kak Azzam panas banget loh ini. Nggak sekedar hangat kalau ini. Atau kita ke rumah sakit aja?"
"Kan aku udah bilang, nanti juga sembuh kalau kamu ada di sini."
"Aku nggak tega lihat Kak Azzam sakit,"
“Masyaa Allah, Sya, tenang aja ya. Udah berapa kali kamu bilang nggak tega kaya gitu.”
“Nggak tau. Ya emang nggak tega banget.”
“Hehehe.”
Tangan Azzam perlahan tergerak dan mengelus lembut pipiku. Dia menatapku sembari tersenyum. Aku bisa melihat wajahnya yang pucat, juga badannya yang lemas. Tetapi, dalam keadaan seperti itu, ia masih sempat tersenyum padaku sembari mengelus pipiku. Tanganku pun juga beralih meraih tangannya. Aku mengusap tangannya dengan lembut. Dini hari ini, Azzamku sedang sakit. Dan aku, hanya ingin melihatnya sehat kembali.
“Kak Azzam jangan terlalu capek ya. Jangan terlalu diforsir tenaganya buat kerja.”
“Iya, Sya.”
“Jangan sering-sering sakit, ya.”
“Kan kita juga nggak bisa mengendalikan kapan harus sakit, kapan harus sehat juga, Sya.”
“Ya seenggaknya menghindari sesuatu yang menyebabkan Kak Azzam sakit.”
“Iya, Sya.”
“Aku takut banget lihat Kak Azzam sakit begini.”
“Hm? Kenapa takut?”
“Nggak biasanya Kak Azzam sakit sampai lemas banget kaya gini. Ya aku takut kenapa-kenapa. Mana nggak mau minum obat.”
“Hehehe, udah ya, jangan khawatir lagi. Aku beneran nggak apa-apa ini.”
“Masih pusing nggak?”
“Iya, tapi udah lumayan. Kan dipijitin kamu juga.”
“Beneran?”
“Iya. Udah sedikit lebih mendingan ini.”
“Tapi badannya masih panas, Kak.”
“Nggak apa-apa. Nanti turun sendiri, Sya.”
“Hm, ya udah deh.”
Aku menggenggaam tangannya sembari ku usap-usap dengan lembut. Aku tidak mau imamku lemah. Dulu Azzam selalu menguatkanku jika aku mempunyai masalah. Sekarang adalah tugasku menguatkannya kala ia hanya sekedar sakit. Tak perlu ditanya, aku mencintainya atau tidak. Yang jelas, aku sangat mencintainya.
"Semuanya juga demi kita, Sya." Ucapnya kemudian.
Aku merasakan kecupan hangat di telapak tanganku. Ya, ia menciumku. Aku semakin tak tega melihatnya lemah karena sekedar tak enak badan.
"Ya udah, Kak Azzam tidur dulu aja ya, nanti pas shubuh aku bangunin."
"Kamu nggak tidur juga?"
"Aku nggak ngantuk. Nggak bisa tidur kalau Kak Azzam sakit."
"Hm? Gitu? Berasa dimanjain aku."
"Nggak apa-apa, kan? Nggak mau emangnya?"
"Ya mau. Kalau bisa aku sakit aja terus biar dimanjain kamu."
"Ngomongnya jangan gitu juga kali, Kak Azzam. Aku nggak suka lihat Kak Azzam sakit. Lagian kalau nggak sakit juga aku tetep mau manjain kok, kan suami sendiri."
"Hahaha, iya iya. Makasih ya,"
“Iya.”
“Bentar-bentar.”
“Mau kemana?”
Azzam mengubah posisinya. Dia sedikit menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur. Kemudian, ia kembali membawaku dalam pelukannya seperti beberapa saat sebelum ia berbaring di pangkuanku.
“Sini, Sya.”
Aku mengangguk. Masih dalam peluknya, aku merasakan kehangatan kasih sayang. Aku menyayanginya bukan sejak saat ini, tapi sejak dulu. Cinta dalam diamku berakhir seperti ini. Kini aku lebih leluasa menyalurkan semua rasa padanya. Pada dia, kekasih halalku.
“Kenapa berubah posisinya?”
“Nggak apa-apa.”
“Nggak nyaman ya yang kayak tadi? Maaf ya.”
“Enggak kok. Bukan gitu. Tadi nyaman kok. Nyaman banget malah. Cuman yang kayak gini lebih nyaman.”
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa. Nyaman aja intinya. Karena bisa peluk kamu.”
Ah, saat sakitpun ia masih sempat menyampaikan kata-kata manis itu. Rasanya tidak ada satu hari tanpa ia memujiku atau sekedar mengatakan kata-kata manis kepadaku. Azzamku adalah pria yang romantis. Tapi aku mencintainya bukan karena itu. Aku mencintainya karena kecintaannya pada Allah.
“Em, Kak Azzam tidur, ya. Istirahat aja. Nanti aku bangunin pas shubuh.”
“Kalau kamu ngantuk, kamu tidur aja juga, Sya.”
“In Syaa Allah nggak ngantuk sih.”
“Ya nanti kalau kamu ngantuk aja. Jangan dipaksain tetep bangun, ya. Kalau ngantuk, langsung tidur.”
“Iya, Kak Azzam.”
Setelah itu, aku merasakan kecupan yang mendarat di pucuk kepalaku. Ya, dia menciumku lagi. Lantas aku pun juga mengecup telapak tangannya yang menggenggam tanganku. Aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum manis. Tak lama kemudian, aku bisa merasakan deru nafasnya yang mulai normal kembali. Ya, Azzam sudah tertidur. Ku lihat wajahnya, penuh lelah. Hatiku terasa sesak melihatnya lemah. Azzam bekerja keras demi keluarga kecil yang baru ini. Mungkin seperti ini rasanya mencintai seseorang karena Allah. Apapun yang dirasakan olehnya, pasti ku rasakan juga.
"Kak Azzam bikin aku khawatir. Aku takut Kak Azzam kenapa-kenapa. Cepat sembuh ya, Kak Azzam sayang, semoga lelahnya menjadi lillah. Syafakallah, aku sayang Kak Azzam."
Aku berbisik lirih seraya membelai pipinya dengan lembut. Kemudian menyunggingkan senyum. Aku beruntung dapat bersatu dengannya, dia yang namanya selalu ku selipkan dalam setiap perjumpaan doa.
¤¤¤¤
"Pintaku sederhana. Aku selalu merayu Allah dengan penuh harap. Semoga aku dan engkau selalu berada dalam ridho-Nya. Dan ridho itu yang akan membawa kita ke surga-Nya, bersama-sama."
¤¤¤¤