TCMS - SETIAP DETIK BERSAMANYA

2650 Kata
*TCMS - SETIAP DETIK BERSAMANYA* • Azzam POV • Hari ini, hari yang cukup cerah bagiku. Usai sholat shubuh tadi, aku membaca Al-Quran bersamanya. Ya, bersama Savierra. Seorang gadis yang beberapa minggu lalu berhasil aku halalkan atas ridho Allah. Aku bisa mendengar suaranya yang begitu lembut membelai daun telingaku. Bahkan saat aku menoleh padanya, aku melihat matanya yang masih tetap fokus mengabsen setiap huruf hijaiyah dalam kitab suci itu. Allah, dia sangat shalihah. Setelah membaca Al-Quran, aku dan dia melaksanakan sholat sunnah isyraq dua rakaat. Maksud dilaksanakannya sholat sunnah ini adalah untuk meraih cahaya petunjuk di dalam hidup dan kehidupan serta setelah meninggal dalam menuju kehadirat Allah SWT. Kaifiyah dan cara melakukan sholat sunnah ini adalah dilakukan pada permulaan hilangnya waktu tahrim yakni setelah matahari bersinar dan naik kira-kira 1 tombak ( 7 dziro’ / 336 cm ) dalam pandangan mata. Dan waktu habisnya yakni jika hari sudah menjelang siang sebelum tengah hari, yakni tidak memanjang sampai zawal ( bergesernya matahari dari tengah langit ). Adapun niat melaksanakan sholat sunnah isyroq ini adalah : أُصَلِّي سُنَّةَ الْإِشْرَاقِ رَكْعَتَيْنِ لِلّه تَعَالَى Setelah sholat sunnah isyroq dua rakaat terlaksanakan, aku membaca doa yang diaminkan oleh Savierra. Aku dan Savierra begitu khusyu’ memanjatkan doa setelah sholat sunnah isyroq. Aku mencobaa menyuarakan doa dengan begitu lembut. “Bismillahirrahmanirrahim... Ya Allah, limpahkanlah Sholawat dan Salam serta keberkahan ke hadirat Baginda Habibillah, Rasulillah Muhammad SAW, segenap keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, Tuhan yang menciptakan nur cahaya. Dengan keagungan dan keberkahan ayat ‘Wath-thuuri wa kitaabim masthuur, fii roqqim mansyuur, wal baitil ma’muur’, kami memohon kepada-Mu untuk menganugrahi nur cahaya yang menunjukkan, membimbing, dan menuntun serta menyertai kami dalam mengarungi hidup dan kehidupan, serta setelah kepergian kami dari gelap gulitanya tempat tinggal kami untuk menuju kepada-Mu. Dan kami mohon kepada-Mu dengan kemuliaan, keagungan, dan keberkahan ayat ‘Wasy-syamsi wadhuhaaha dan Wanafsiw wa maa sawwaahaa’ untuk menjadikan nur cahaya ma’rifat kepada-Mu menyinari dan menerangi kami, dengan tanpa dihalangi oleh gelap gulitanya keragu-raguan dan kebimbangan, dan tanpa ditimpa tirai penghalang sinar keesaan ketika dalam kesempurnaan. Akan tetapi abadikanlah nur cahaya ma’rifat kepada-Mu bersinar dan terang sepanjang waktu dan zaman. Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, saudara-saudara kami fillah, tetangga kami, jamaah dan anak didik kami, serta segenap muslimin muslimat dan mu’minin mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah ke hadirat Baginda Habibillah, Rasulillah Muhammad SAW, segenap keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Al-Faatihah." Lantas aku dan Savierra melafadzkan surah Al-Fatihah. Setelah itu, aku menoleh ke arahnya. Ia tersenyum menatapku. Ah Allah, terbitnya matahari pagi ini tak lebih indah dari senyum milik shalihahku. Dua-duanya adalah ciptaan-Mu yang begitu indah. Aku bersyukur sebab pagiku hari ini disambut oleh keduanya. “Lanjut dhuha ya, Sya.” Ucapku padanya. Ia mengangguk seraya masih tersenyum. Kemudian, kami pun bersiap melaksanakan sholat sunnah dhuha dua rakaat. Maksud dari sholat dhuha ini adalah agar diberi kemudahan, kelancaran, dan keberkahan rizki serta dianugrahi apa yang telah dianugrahkan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh. Sholat dhuha termasuk sholat yang mempunyai waktu. Yaitu mulai naiknya matahari kira-kira satu tombak ( 7 dziro’ / 336 cm ) dalam pandangan mata sampai zawal ( bergesernya matahari dari tengah-tengah langit ). Adapun jumlah rakaatnya mulai 2 sampai 8 rakaat menurut qaul mu’tammad. Dan disunnahkan untuk dilakukan dengan dua rakaat salam-dua rakaat salam. Apabila dilakukan 4, 6, atau 8 rakaat salam, baik dengan satu kali tasyahud saja pada rakaat terakhir, atau dengan tasyahud di tiap-tiap rakaat genap, maka diperbolehkan. Niat menunaikan sholat dhuha yakni : أُصَلِّي سُنَّةَ الْضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّهِ تَعَالَى Lantas, aku pun mulai menunaikan dua rakaat dhuha bersama Savierra. Aku daan Savierra menunaikannya dengan sangat khusyu’. Berharap semoga Allah menerima semua amal ibadah kami selama ini. Hingga pada akhirnya, dua rakaat salam dhuha telah kami tuntaskan. Aku pun mulai melafadzkan doa setelah sholat dhuha. “Bismillahirrahmanirrahim... Ya Allah, limpahkanlah sholawat dan salam serta keberkahan ke hadirat Baginda Habibillah Rasulillah Muhammad SAW, segenap keluarga, dan sahabatnya. Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah milik-Mu. Kemuliaan dan keagungan adalah milik-Mu. Keindahan adalah milik-Mu. Kekuatan adalah milik-Mu. Kekuasaan adalah milik-Mu. Dan kehendak adapah milik-Mu serta naungan dan perlindungan adalah milik-Mu. Ya Allah, seandainya rizki kami ada di langit maka turunkanlah, seandainya di dalam bumi maka keluarkanlah, seandainya di dalam laut maka munculkanlah, seandainya jauh maka dekatkanlah, seandainya sulit maka mudahkanlah, seandainya haram maka halalkanlah, seandainya sedikit maka banyakkanlah, seandainya banyak maka mudahkanlah, seandainya tidak ada maka wujudkanlah, seandainya terhambat maka lancarkanlah. Dengan haq-nya waktu dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuasaan-Mu, kehendak-Mu, dan naungan serta perlindungan-Mu. Ya Allah, anugrahilah kami segala apa yang telah Engkau anugrahkan kepada hamba-Mu yang sholeh. Semoga sholawat serta salam senantiasa dilimpahkan ke hadirat Baginda Habibillah Rasulillah Muhammad SAW, segenap keluarga, dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aamiin ya Robbal Aalamiin. Al-Faatihah." Aku dan Savierra mengaminkan segala doa. Hanya kepada Allah-lah kami meminta. Setelah dua rakaat dhuha terlaksanakan, aku dan Savierra lanjut melaksanakan dua rakaat sunnah isti’adzah. Maksud dari sholat sunnah ini adalah agar dilindungi dan dinaungi Allah SWT dari segala keburukan dan kejahatan baik yang akan terjadi pada siang hari ataupun malam hari. Kaifiyah dan cara melakukannya yakni dilakukan setelah sholat dhuha. Rakaat pertama membaca surah Al-Falaq setelah surah Al-Fatihah. Sedangkan rakaat kedua membaca surah An-Nas setelah surah Al-Fatihah. Adapun niat melakukan sholat sunnah ini adalah : أُصَلِّي سُنَّةَ الْإِسْتِعَاذَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّهِ تَعَالَى Setelah membaca niat, aku mulai menunaikannya, dimulai dengan takbiratul ihram hingga seterusnya sampai pada salam. Savierra mengikuti setiap pergerakan ibadah sunnah ini di belakangku. Meskipun aku tidak melihatnya, aku bisa merasakannya. Ah Allah, terima kasih telah menjadikannnya sebagai perhiasan duniaku. Setelah salam, aku juga mulai melafadzkan barisan doa yang biasa dibaca seusai melaksanakan sholat sunnah isti’adzah. “Bismillahirrahmanirrahim... Ya Allah, limpahkanlah sholawat dan salam serta keberkahan ke hadirat Baginda Habibillah Rasulillah Muhammad SAW, segenap keluarga, dan sahabatnya. Ya Allah, kami memohon naungan dan perlindungan kepada-Mu dari hati yang buruk dan jelek, dari malam yang buruk dan jelek, dari waktu yang buruk dan jelek, dari setiap teman yang berbuat buruk dan jahat, dari tetangga yang berbuat buruk dan jahat, kedua matanya melihat kami, kedua telinganya selalu mendengarkan kami, dan hatinya selalu memerhatikan kami, jika melihat kebaikan pada kami mereka selalu menyembunyikannya, dan jika melihat keburukan pada kami mereka selalu menyebarluaskannya. Semoga sholawat serta salam senantiasa dilimpahkan ke hadirat Baginda Habibillah Rasulillah Muhammad SAW, segenap keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin. Al-Faatihah." Ketiga rangkaian sholat sunnah di pagi hari ini sudah terbiasa ku lakukan sejak sebelum menikah dengan Savierra. Dan aku yakin, Savierra juga pasti istiqomah melakukannya. Sebab amalan sholat sunnah di pagi hari ini selalu kami terapkan sejak kami menjadi santri di pondok pesantren. Seluruh santri akan melakukannya berjamaah di masjid pondok. Ketika semuanya sudah tertunaikan, aku menoleh dan menghadap ke arah Savierra. Sejenak aku menatapnya. Allah, cantik sekali dia. Benar-benar bidadari duniaku. Ia tersenyum kepadaku dengan begitu manis. Membuatku ikut tersenyum juga. Kemudian, ia meraih tanganku dan dikecupnya. Perlahan, aku juga mengusap kepalanya. Kemudian ku kecup keningnya begitu lama. Lantas ku usap pipinya dengan lembut hingga ia memejamkan matanya dan menggenggam tanganku yang masih bertengger di pipinya. “Ya Allah, senikmat ini pacaran setelah menikah.” Ucapku dalam hati. “Selamat pagi, Kak Azzam.” Mendengarnya, aku tersenyum lagi. “Selamat pagi, sayang.” Sepertinya, panggilan ‘sayang’ dariku itu membuat Savierraku menjadi malu. Pipinya pasti memanas. Aku bisa melihat pipinya yang memerah bak jambu biji. Setiap kali pipinya memerah, ia terlihat sangat menggemaskan. Saat ini pun, jarak antara aku dengannya sudah sangat dekat. Aku menatap lekat manik mata indahnya. Jujur saja, jantungku berdegup sangat kencang rasanya. Ah tunggu, apa jantung Savierra juga? Ah Allah, dia memang benar-benar gadisku yang lugu. Tak lama setelah itu, Savierra memalingkan wajahnya. “Kak Azzam, jangan gitu.” Aku bingung mendengarnya. “Gitu gimana?” “Em, i-itu, deket banget. A-aku malu.” Aku terkekeh ringan mendengarnya. Lucu sekali dia. Bahkan sampai saat ini pun, ia masih malu-malu jika sedang berdua denganku. Sebenarnya aku sendiri juga begitu. Masih sedikit canggung jika sedang dekat dengan dirinya. Tetapi, aku sangat mencintainya. Rasa canggungku itu sedikit mulai hilang kala aku berada di dekatnya. “Kenapa malu, sayang?” Kata itu lagi. Aku melihat Savierra yang gugup dan salah tingkah. Ah Allah, sebenarnya istriku ini wanita dewasa atau anak-anak? Menggemaskan sekali dia. Ah, bukan. Bukan keduanya. Dia adalah gadisku. Gadis luguku. “Kamu kenapa?” Tanyaku kepadanya. “E-enggak. Nggak apa-apa. Em, aku beresin mukenah dulu.” Ia beranjak berdiri untuk membereskan mukenahnya. Namun, gerakannya terhenti kala kakinya menginjak bagian bawah mukenahnya. Tanpa sengaja, badannya terjatuh tepat dalam pelukanku. Aku sempat terkejut saat ia terjatuh. Tapi setelah ia berada dalam pelukanku secara tiba-tiba, aku mulai merasa degup jantungku berpacu lebih cepat. Manik mataku dan manik matanya saling menatap dengan lekat. Kejadian beberapa detik itu seakan terasa lama. Setelah beberapa saat, Savierra bangun dari jatuhnya. Aku pun sama. Aku memposisikan diriku dengan duduk menghadap dirinya. “Kamu nggak apa-apa?” Tanyaku. “E-enggak apa-apa. Maaf, Kak Azzam. Nggak kenapa-kenapa, kan?” “Iya. Nggak kenapa-kenapa kok.” “Alhamdulillah. Maaf ya, Kak Azzam.” “Iya. Nggak apa-apa, Sya.” “Ya udah, sini sajadah Kak Azzam. Sekalian aku beresin juga.” “Makasih ya.” “Sama-sama.” Aku memberikan sajadah dan peciku kepadanya. Mulai dari menyiapkan hingga membereskan perlengkapan sholat dilakukan olehnya. Allah, shalihahku. Aku membuka ponsel sejenak. Ku lihat jam dan ternyata masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku melihat Savierra sebentar. Dia sedang merapikan rambutnya. “Sya,” Panggilku. “Iya?” “Mau lari-lari pagi?” “Sekarang?” “Iya.” “Em, boleh aja. Tapi, aku mau bantu umi bikin sarapan. Gimana?” “Em, nanti aku bilang ke umi deh. Hari ini, biar Tara yang bantuin umi dulu ya.” “Hah? Nggak apa-apa? Aku jadi nggak enak sama umi.” “Nggak apa-apa kali, Sya. Umi juga pasti ngerti kok.” “Beneran?” “Iya. Ya udah, kamu siap-siap ya. Aku mau ke umi dulu.” “Em, Kak Azzam, apa aku aja yang ngomong sendiri sama umi?” “Nggak usah, nggak apa-apa aku aja. Kamu siap-siap aja. Aku bentar doang kok.” “Ya udah.” Aku tersenyum padanya. Ia juga tersenyum padaku. Entah senyum yang ke berapa kali, tapi yang pasti, senyumnya masih tetap manis. Dan akan selalu semanis itu. Lantas, aku pun pergi menemui umi. Saat aku tiba di ruang tamu, aku melihat umi yang hendak pergi bersama abi. “Umi.” Panggilku. Umi pun menoleh ke arahku. “Kenapa, Zam?” “Umi, mau ke pasar ya?” “Iya. Kenapa?” “Em, gini, Mi, Azzam mau ajak Savierra lari-lari pagi. Nanti pas bikin sarapan, umi dibantuin sama Tara nggak apa-apa, ya? Soalnya, takutnya aku sama Savierra belum dateng.” “Ya Allah, Zam, ya nggak apa-apa lah. Umi kira mau bicara apa kamu tadi. Udah, kamu berangkat aja lari pagi sama Savierra. Nggak usah mikirin sarapan. Beres kalau sama umi mah.” “Tadi Savierra bilang, Savierra ngerasa nggak enak kalau nggak bantuin umi bikin sarapan. Tapi Azzam udah yakinin dia, Mi. Umi nggak apa-apa kan sama Tara dulu hari ini?” Umi tersenyum mendengar ucapanku. Kemudian ia mengusap bahuku dengan lembut. “Mas Azzam.” “Ya?” “Kamu nggak salah pilih istri. Umi yakin dia bener-bener shalihah. Menantu idaman umi banget. Bilang sama istrimu ya, tenang aja. Umi nggak masalah kok. Kalian berangkat aja jogging berdua.” “Hah, Alhamdulillah. Makasih ya, Mi. Kalau gitu Azzam siap-siap dulu.” “Iya. Umi ke pasar dulu ya.” “Iya. Hati-hati, Umi.” “Iya. Assalamualaikum.” “Waalaikumussalam.” Setelah berbicara dengan umi, aku pun kembali ke kamarku untuk bersiap-siap. ¤¤¤¤ Udara di pagi ini begitu segar. Aku sangat bersyukur pada Allah karena sampai saat ini, aku masih diizinkan untuk menghirup udara segar. Terlebih, sekarang bersamanya. Bersama Savierra, gadis shalihahku. Aku dan Savierra berlari di sekitar komplek. Tidak terlalu jauh, namun sangat menyenangkan. Saat ini, aku dan Savierra sedang beristirahat di sebuah taman komplek. Tadi, aku sempat membeli minum sebab aku melihat Savierra yang mulai kelelahan. “Nih, minum dulu.” Ucapku seraya memberi air mineral padanya. “Makasih, Kak Azzam.” “Iya, sama-sama.” Dia meminumnya perlahan-lahan menggunakan sedotan. Karena ia memakai cadar, minum dengan sedotan akan memudahkannya. “Kak Azzam nggak minum juga?” “Hm? Udah, kamu aja.” “Nggak haus emangnya?” “Udah biasa kayak gini kalau pagi, Sya.” “Oh ya?” “Iya. Biar sehat.” “Hehehe, Aamiin. Sehat-sehat ya, Kak Azzam.” Aku mengacak pelan pucuk kepalanya hingga membuatnya tersenyum. “Kamu juga, ya.” Lantas ia mengangguk mengiyakan. “Sya.” “Hm?” “Aku seneng hari ini.” “Kenapa?” “Menghabiskan waktu sama kamu itu menyenangkan.” Savierra tersenyum mendengarnya. “Bukannya sejak dua minggu lalu, aku sama Kak Azzam memang udah selalu menghabiskan waktu bersama?” Kini, aku lah yang tersenyum sembari menatapnya. “Iya. Alhamdulillah ya, Sya. Doa kita nggak sia-sia. Bahkan sampai saat ini, aku masih percaya nggak percaya.” “Kenapa gitu?” “Allah itu Maha Baik, Sya. Allah tau kita selalu saling menyebut nama dalam doa waktu dulu. Bahkan dulu, aku pasrah aja sama apapun takdir Allah tentang kita. Aku berserah dan tawakal aja, sembari terus berusaha menyebut nama kamu dalam doa. Dan tanpa aku sangka, Allah bener-bener mengabulkan doa itu. Sampai sekarang, aku dan kamu bisa jadi seperti ini.” “Qodarullah, Kak Azzam. Aku sendiri juga masih nggak nyangka. Tapi gimanapun juga, ini semua udah menjadi jalan kita. Dan aku, sangat bersyukur karena Allah mengabulkan doaku juga.” “Masyaa Allah. Maha Besar Allah ya, Sya.” “Masyaa Allah Tabarakallah. Iya, Kak Azzam.” “Aku bersyukur, Sya, setiap detikku sekarang selalu bersama kamu.” “Sama, aku juga.” “Masyaa Allah, selama kita tetap menjaga hati dan iman untuk selalu cinta pada Allah, In Syaa Allah, Allah juga akan menjaga cinta kita.” “Aamiin ya Mujibassailin.” Savierra nampak tersenyum. Meskipun ia mengenakan cadar, aku bisa melihat senyumnya dari matanya yang menyipit. Aku pun ikut tersenyum melihatnya. Lantas aku dan Savierra sama-sama menatap langit di pagi hari ini. “Sya.” Panggilku. “Hm?” “Nanti sore, kita ke balkon, ya.” “Balkon kamar?” “Iya.” “Mau apa?” “Lihat senja. Sejak setelah menikah, aku rasa kita belum pernah lihat senja bareng, ya?” “Em, mungkin iya.” “Nanti ya, kita lihat senja bareng lagi.” “Iya.” Jawabnya dengan tersenyum. “Sekarang, senja itu bukan lagi senja kamu atau senja aku. Tapi, udah jadi senja kita.” “Subhanallah, bahkan yang menyatu bukan cuma kita, ya. Tapi senja kita juga.” “Alhamdulillah. Kalau gitu, alam ikut senang karena kita dipersatukan.” “Hehehe, Kak Azzam bisa aja.” Aku tersenyum. Kemudian, aku menggenggam tangannya dan mengusapnya dengan lembut. “Uhibbuki fillah, Sya.” Mendengarnya, ia tersenyum sembari menatapku. “Uhibbuka fillah aidhon, Kak Azzam.” “Pulang yuk.” Ajakku. Savierra mengangguk mengiyakan. Lantas, aku dan dia berdiri dan berjalan pulang ke rumah. Pagi ini benar-benar indah. Selain mentari pagi dan cuaca yang bersahabat, keberadaan Savierra di dekatku selalu membuat hatiku merasa damai. Allah, terima kasih atas rahmat-Mu. Setiap detikku bersamanya, takkan pernah ku lupakan untuk tetap mencintai-Mu dan mengagungkan asma-Mu. ¤¤¤¤ "Ketika aku begitu menjaga cintaku untuk Allah, maka di situlah, Allah juga menjaga cintaku dengan seseorang yang selalu ku semogakan di hadapan-Nya. Ketika aku selalu menyebut asma Allah di setiap nafas, maka di situlah, Allah juga menetapkan nama dalam hatiku. Yaitu namanya, seseorang yang selalu ku aminkan dalam setiap doa." • Cinta dan Hijrahku Fisabilillah • ¤¤¤¤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN