Setelah makan dan merasakan perutnya sudah membaik, Cassie terbuai dengan kantuk dan tertidur begitu saja di ruangan Ghaniy. Ketika ia terbangun jam dinding di ruangan itu menunjukkan sudah menunjukkan tengah malam. Cassie langsung terduduk dan mendapati dirinya telah diselimuti dengan jaket maskulin besar hingga pundaknya.
Gadis itu mengedarkan pandangan dan mendpati sekali lagi Ghaniy tengah tertidur di kursi kerjanya. Kali ini ia telah melepaskan kacamatanya dan tertidur bersandar di kusi dengan kedua lengan terlipat di depan tubuh. Posisinya jauh tidak nyaman, walau begitu Ghaniy tampak pulas. Syal yang tidak dililitkan masih menggantung di lehernya.
Cassie berlama-lama memandangi wajah Ghaniy dari kejauhan. Ada bakal janggut yang mulai menggelap di wajahnya. Kulitnya yang kehitaman akibat memantau perkembangan even yang tengah berlangsung di siang hari terik di musim kemarau. Terlihat ada bekas belang dibalik garis lengan kemeja berkerahnya.
Dengan hati-hati ia melipat jaket itu di atas pangkuannya. Tidak lupa ia mengendus kerah jaket sebelum ia menyadari apa yang ia lakukan. Dengan cepat a berdiri. Meletakkan jaket tersebut di atas meja. Tapi matanya tidak bisa lepas dari jaket itu ketika ia memakai syald adan topi rajutnya yang terlepas. di atas meja sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu. Ia sempat mencuri lirik sebelum menutup pintu dengan amat pelan. Sebagian besar lampu gedung sudah dimatikan dan ia berusaha keras agar suara langkahnya tidak menggema.
Para pengunjung sepertinya sudah meninggalkan even sejak tadi. Hanya ada beberapa anggota even yang tengah memunguti sampah dan menyapu dengan sapu lidi besar. Bersiap untuk kelanjutan even keesokan harinya. Mereka terlihat mengerjakan tugasnya dengan riang gembira dan ribut sekali.
Angin malam berhembus cukup kencang membuat Cassie menggigil. Dengan langkah panjang-panjang ia berjalan menuju ruang kelas yang menjadi basecamp mereka. Banyak anggota even yang sudah tertidur di lantai beralaskan sleeping bag kepunyaan masing-masing dan berbantalkan tas. Sebagian masih mondar-mandir atau mengobrol ringan sambil duduk bersila di lantai.
“Astaga, Cassie. Kamu dari mana? Aku kira kamu lebih pilih pulang!”
Itu Sang Sekretaris Even sambil menghampirinya. Ekspresinya menunjukkan kekhawatiran yang tulus.
Seorang pemuda tiba-tiba muncul bahkan sebelum Cassie bisa menjawab pertanyaan Sang Sekretaris. “Salah satu temanmu dari katering kampus katanya menelponmu berkali-kali dan telah mencarimu ke mana-mana. Karena kamu meninggalkan stand mereka begitu saja.” Dan sekarang mata Sang Ketua mata menyipit curiga. Tidak lupa ia memberi Cassie pandangan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Jika seandainya ia tidak merasa dua kali lebih lelah karena maag yang tiba-tiba muncul mungkin Cassie benar-benar akan menonjok wajah menyebalkan Sang Ketua Even. “Magg-ku tiba-tiba kambuh ketika aku sedang membuat corn-dog untuk Pak Ghaniy. Beliau lalu memintaku istirahat di ruangannya dan tanpa sadar aku tertidur di sana.”
“Hanya tertidur?” Sang Ketua mendengus penuh ejekan, melempar pandangannya ke samping.
“Kalau kamu tidak percaya. Besok pagi tanyakan saja pada beliau sendiri.”
“Apa kamu merasa hubunganmu dengan beliau itu tidak aneh?” Sang Ketua lagi dengan ekspresi yang sekarang telah membuat Cassie mengepalkan jemari tangan kanannya di sisi tubuh.
“Sudahlah kalian berdua.” Sang Sekretaris akhirnya berdiri di antara mereka. Mendorong Sang Ketua menjauh sebelum menarik lengan Cassie untuk menjauhi pemuda tersebut. “Jangan dengarkan dia. Dia hanya masih kesal kamu bisa mendapatkan sponsor besar tanpa susah payah.”
“Jika seandainya dia tidak b******k seperti itu dia bisa dibilang ketua yang lumayan.” Cassie menghela napas panjang. “Tapi terimakasih atas bantuannya. Ngomong-ngomong, di mana teman-temanku itu? Aku ingin tahu di mana mereka menyimpan barang-barangku.”
Sang Sekretaris berkata jika mereka tengah mengobrol dan berkumpul tidak jauh dari ruang kelas itu. Cassie mengucapkan terimakasih dan langsung menuju ke sana. Dua diantara lima gadis yang tengah mengobrol di lorong kelas itu adalah teman Cassie yang juga berjaga stand katering kampus. Gadis dengan kawat gigi berwarna-warni itu mendongak begitu menyadari kedatangannya.
“Astaga, Cassie! Aku kira kamu pulang!”
Cassie mamksakan senyum. “Aku tidak setega itu.” Ia lalu kembali memberitahu mereka alasan ia menghilang “Maafkan aku.” Cassie sambil ikut berjongkok di dekat mereka.
Gadis itu menggeleng. “Sakit maag-mu sudah terkenal seangkatan. Ingat, kan pada hari kita ada kontes wedding cake itu. Kamu terlalu sibuk ingin membuat kue yang spektakuler sampai-sampai lupa makan?”
Cassie mendengus mengingat hari itu.
“Dan sekarang aku juga tahu alasan kenapa kamu tidak mengangkat teleponku. Tasmu sudah ada dalam ruang kelas bersama tas anak-anak Culinary Arts. Di sudut dekat papan tulis di kelas.”
Cassie mengucap terimakasih berulang-kali kepada gadis itu sebelum kembali ke kelas basecamp mereka. Saat ini lebih banyak anak yang sudah tertidur di lantai ketika Cassie akhirnya menemukan tasnya. Begitu ia sudah mendapatkan kembali ponselnya ia menemukan banyak panggilan tak terjawab dari berbagai orang, bukan hanya dari teman Culinary Arts. Salah satu dari panggilan tak terjawab itu ada nama papanya.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama karena hari benar-benar telah larut. Cassie akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada papanya berisi permohonan maaf dan alasan kenapa ia tidak mengangkat telepon.
Tidak butuh waktu lama pesannya langsung dibalas dengan dering telepon.
“Papa belum tidur?” tanya Cassie dengan suara pelan. Karena suasana kelas itu juga sudah hening. Sebagaian tim even sudah berada pada posisi tidurnya masing-masing
“Belum bisa tidur. Karena menunggu tekepon dari anak perempuan Papa yang sedari tadi tidak mengangkat telepon.”
Cassie menghela napas panjang. Setelah itu ia menceritakan kembali kejadian yang menimpanya,tanpa menyebut-nyebut di mana ia beristirahat dan dengan siapa.
“Jadi kamu sekarang tidak apa-apa?”
Cassie menggumam. “Lebih baik.”
“Papa tahu kamu senang bekerja keras. Tapi jangan memaksakan diri, oke?”
Cassie lalu menatap dinding ketika berkata, “Papa tidak akan tiba-tiba datang untuk menjemput paksa Cassie, kan?”
Ia mendengar Papa Ardana menghela napas berisik diseberang sana. “Sebenarnya Papa ingin sekali melakukannya. Tapi Papa tidak ingin membuatmu kena masalah. Apalagi dari ceritamu tentang ketua even-mu yang menyebalkan itu.”
“Ah, dia akan semaki membenci Cassie jika Papa benar-benar melakukannya.”
Mereka berdua tertawa. “Kamu hanya telah melukai hatinya tanpa sadar. Itu saja.”
Cassie mendengus penuh ejek. “Alah, yang benar. Cassie hanya menyenggol sedikit egonya yang memang sudah sangat tipis sejak awal.”
Kali ini ia mendengar papanya tertawa. “Hanya ego yang bisa diandalkan dari seorang lelaki, Cassie...”
“...Hanya ego? Benarkah? Bukan omogan kosong mereka?”
Papanya tertawa lagi. Kali ini cukup keras. “Oh, Tuhan Cassie. Kamu terdengar seperti sudah disakiti ribuan kali. Dan Papa tahu kamu memang belum pernah pacaran sampai detik ini.”
Cassie tidak punya sanggahan sehingga ia memilih diam.
Setelah tawa Papa Ardana mereda dan ia berdeham-deham, pria tua diujung sambungan telepon sana itu akhirnya berkata, “Akan datang satu masa, Cassie. Ketika datang satu pria bahkan dengan modal omongan saja kamu akan terpikat dengannya. Mungkin sekarang kamu belum bertemu dengan “omong kosong” yang tepat saja.”
***