Akhir pekan dan tidak ada hal yang lebih diinginkan dari Ghaniy dengan tidak melakukan apapun.
Namun bagaimana ia bisa tidak melakukan apapun ketika kepalanya terus saja mengulang kejadian dengan Cassie beberapa hari yang lalu. Ketika gadis itu dengan keras kepala memberitahunya jika ia tidak punya hubungan apapun dengan pria yang menjadi pasangannya di acara pernikahan mantan mahasiswa Ghaniy itu.
Hubungan mereka sejak mereka bertemu empat tahun lalu itu memang sudah abu-abu. Ghaniy mendapati dirinya memerhatikan Cassie lebih dari seharusnya. Terlebih ketika even yang dilaksanakan oleh teman-teman seangkatan Cassie hari itu. Cassie tampak muda dan penuh semangat. Brilian dengan ide-ide aneh dan senyum yang menular. Namun sejak kembali ke kampus setelah menjalani masa magang. Cassie menarik diri darinya.
Pada hari Ghaniy mengetahuinya dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan gadis itu. Hingga akhirnya Cassie menjelaskan alasannya...
Sikap panas-dingin yang gadis itu berikan kepadanya membuat Ghaniy makin kebingungan.
Jadi untuk meringankan sedikit beban pikirannya. Ghaniy menghabiskan waktu paginya dengan mencuci mobil. Putranya juga ikut membantu setelah bersikeras meminta izin. Pakaian bocah itu sudah basah dan sekarang lebih tertarik bermain busa daripada membantunya mencuci mobil.
Putra tunggal Ghaniy itu tumbuh dengan wajah yang mirip papanya, namun dengan sifat dan tabiat yang mirip dengannya. Usia bocah itu mungkin sepuluh tahun dengan tubuh tinggi menjulang hingga nyaris separuh lengan Ghaniy, tapi sekarang ia tengah menjerit senang dengan ember penuh busa sambun di tangan.
Ghaniy tertawa melihat putranya itu meniup gelembung di depan wajah, tapi malah mendarat di atas hidungnya.
“Ayo, bantu Papa mengelap kering mobil ini.”
Berdua, mereka mengelap mobil itu hingga mengilat. Ghaniy merasakan tubuhnya basah bukan hanya karena berasal dari percikan air. Kaosnya menempel di tubuhnya akibat keringat yang mengguyur. Ia sedang mengelap atap mobil ketika putranya sambil melompat-lompat mengelap kering pintu mobil di dekatnya.
Setelah semuanya benar-benar telah selesai, Ghaniy mendengar putranya bersin hebat membuatnya menghela napas panjang. “Pergilah mandi sebelum kamu terkena flu. Habis itu bersiap-siap jika kamu tida ingin Papa tinggal”
Putranya mengangguk kuat-kuat sebelum melompat-lompat kegirangan. Melenggang masuk ke dalam rumah dengan seluruh pakaian nyaris basah. Ghaniy membenahi perlengapan mencuci mobilnya dulu sebelum ia mendapati Fiora muncul dengan es teh manis di tangan.
“Wah,” Ghaniy tidak lupa mengucapkan terimakasih sebelum mengambil gelas berembun itu dari tangan Fiora. Wajahnya langsung mengernyit begitu selesai meneguk satu kali.
“Ini tanpa gula.” Fiora terlihat mengulum senyum.
“Astaga!” Ghaniy mengembalikan gelas tersebut ke tangan Fiora sebelum mengelap mulutnya dengan punggung tangan. “Bagaimana kamu bisa tahan minum minuman seperti ini?”
Itu adalah perbedaan paling mencolok yang ada di antara keduanya. Ghaniy menyukai manis sedangkan Fiora sudah menghindari gula dari kebiasaan diet sejak ia belum menikah. Itu alasan kenapa Fiora tidak bisa membuat makanan yang manis-manis.
Mereka saling pandang sejenak sebelum Ghaniy membungkuk mengambil ember berisi peralatan mencuci mobilnya dan masuk ke rumah. Fiora berjalan mengikutinya di belakang, membuat Ghaniy entah kenapa menjadi lebih waspada...
Ketika ia memutuskan menikah dengan Fiora karena ia merasa baha ia laya untuk mendapatkan wanita seperti dirinya. Primadona kampus lalu memiliki karir gemilang. Semua orang berkata Ghaniy sangat beruntung bisa mendapatkan Fiora. Ada semacam kebanggan setiap kali Ghaniy mendengar orang-orang mendesah iri ataupun memberinya acungan jempol begitu menyadari seperti apa istrinya. Pembawaan Fiora yang menawan ditambah dengan latar oekerjaannya dulu membuatnya menjadi wanita high class yang disegani banyak orang.
Hingga ia bertemu dengan Cassie.
Ghaniy menaruh ember itu di dalam alah satu lemari di dapur rumanya. Dan ketika ia berbalik badan ia masih melihat Fiora berdiri menunggu tidak jauh dengan gelas masih di tangan.
Ghaniy menyadari tidak ada yang berubah pada diri Fiora kecuai tanda-tanda kalau usianya telah bertambah dan itu adalah hal yang wajar.
“Apa kamu ada rencana malam ini?” Fiora dengan nada biasa-baisa saja.
“Aku harus bertemu dengan seseorang sore ini,” jawab Ghaniy lancar sambil berjalan melewati Fiora.
“Setelah dari rumah orangtuamu. Kita bisa menitipkan putra kita di sana...”
“Ini pertemuan yang menyangkut dengan rencana magang anak-anak didikku tahun ini. Pertemuan serius.”
Ghaniy tidak bermaksud untuk membuat suaranya terdengar begitu dingin. Tapi toh, sudah terjadi. Tapi sepertinya Fiora tidak terpengaruh dan hanya mengedikkan bahu. “Kalau begitu aku akan menunggu di rumah orangtuamu saja.” Kemudian berbalik badan.
Orangtua Ghaniy mengajak mereka untuk makan siang bersama sejak beberapa pekan lalu dan Ghaniy baru bisa menyanggupinya hari ini. Itupun setelah putranya sendiri yang merengek padanya. Tenaganya sudah habis dengan banyaknya kegiatan yang ada di kampus – dan Cassie.
Tanpa kata Ghaniy masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya. Setelah itu menyusul Fiora dengan tenang bersenandung begitu mereka berselisih jalan dari kamar mandi. Ketika Ghaniy mengecek apakah putranya sudah selesai apa belum. Ia mendapati putranya sedang sibuk memakai kaos kaki. Ghaniy mengawasi bocah itu yang sempat kesulitan sebelum akhirnya berhasil dengan usahanya sendiri.
Tidak berapa lama kemudian Fiora juga selesai. Ghaniy tidak sampai mati bosan menunggu karena wanita itu berdandan. Fiora sudah seperti itu sejak ia masih bekerja. Wanita itu selalu tangkas dan tidak pernah mengulur-ulur waktu.
Kenapa pula Ghaniy jadi menghabiskan banyak waktu untuk membandingkan keduanya?
“Kita singgah di toko buah, ya? Aku tidak ingin kita datang tanpa membawa apapun,” kata Fiora sambil memasang sabuk pengamannya yang dijawab Ghaniy dengan gumaman.
Karena akhir pekan Ghaniy mendapati jalanan tidak begitu ramai. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah orangtuanya. Ia bahkan harus menenangkan putranya agar turun setelah mobil benar-benar sudah terparkir sempurna di halaman rumah orangtuanya yang luas.
Kedua pasangan lanjut usia itu muncul begitu mendengar suara teriakan cucu mereka memanggil-manggil teras. Putranya langsung menyerbu dan memeluk keduanya erat. Ibu Cakradana mengelus puncak kepala cucunya sebelum mengecupnya dalam. Sedangkan Ayah Cakradana dengan wajah penuh bintik-bintik hitam dan kerutan mengelus punggung cucunya, namun dengan pandangan mata yang menembus hingga ke belakang kepala Ghaniy.
“Hari ini kalian menginap, kan?” tanya ibunya sambil mengedarkan pandangan.
Ghaniy menggeleng. “Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan segera.”
Ada gurat kekecewaan di wajah Ibu Cakradana sebelum ia menghela napas kasar. “Kalau begitu ayo kita makan saja Perut Nenek sudah lapar sekali menunggumu.”
Putra Ghaniy berjalan ditengah kedua orangtua Ghaniy sambil bergandengan. Fiora yang menenteng kantungan berisi apel dan anggur hanya melirik Ghaniy sekilas sebelum keduanya sama-sama memasuki rumah yang penuh nostalgia namun entah kenapa selalu membuat Ghaniy sesak itu...
Ada banyak hal yang membuat seseorang bisa menyebut sebuah bangunan hanya sebagai tempat untuk pulang. Bukan sesuatu yang bisa memberi kenyamanan yang biasa orang lain sebut sebagai rumah...
***