Long Dock sangat jarang memberi karyawannya libur di akhir pekan, namun hari ini adalah pengecualian. Cassie meminta – nyaris memelas – kepada Aksa untuk membiarkannya libur. Sebagai gantinya ia lembur untuk me buat roti-roti yang tidak bisa dibuat Aksa hingga kafe tutup semalam.
Hari ini bertepatan dengan empat tahun kematian Papa Ardana.
Cassie datang ke area pemakaman umum itu pagi-pagi buta. Ia berangkat begitu sinar matahari pertama muncul di langit. Ia harus berjuang dengan udara pagi musim kemarau yang menusuk hingga tulang selama dalam perjalanan. Tapi menurut Cassie itu layak untuk dijalani. Mengingat ia ingin sendiri di depan batu nisan yang mulai memudar itu tanpa ada yang memerhatikan.
Cassie perlahan berjongkok. Walau ada pembersih makam yang membuat rumput di atas pusara selalu terpangkas rapi. Cassie tetap membawa gunting rumputnya sendiri. Dengan teliti membuat pusara Papa Ardana persegi panjang sempurna. Mengelap batu nisan hitam dengan tinta perak itu dengan lap hingga mengilat dan nama Papa Ardana bisa terbaca sempurna.
Tiba-tiba sebuah pesawat melintas di atas kepala Cassie. Area pemakaman umum ini terletak tidak jauh dari bandara kota tersebut. Ada pagar pembatas bandara dibalik rumah masyarakat yang tinggal di depan area pemakaman itu. Suara gemuruh mesin pesawat tersebut sangat ribut dan rasanya Cassie bisa meraih pesawat itu hanya dengan sebuah ranting. Seperti akan menjolok buah mangga dari pohon milik tetangga, sangking dekat sekali jaraknya.
Cassie menunggu hingga suara gemuruh mesin pesawat itu menjauh sebelum ia mengucap salam kepada Papa Ardana, “Maafkan Cassie karena baru sekarang bisa menjenguk Papa.”
Sepanjang jalan tadi sebenarnya Cassie sudah menyusun kata-kata apa saja yang ingin ia sampaikan pada Papa Ardana. Tapi sekarang mendadak otaknya macet. Lidahnya terasa kebas dan ia merasakan desakan air mata di belakang matanya. Cassie menunduk memeluk kakinya....
Cassie berharap dalam hati Papa Ardana mengerti tanpa harus ia menjelaskannya dengan kata-kata. Jadi Cassie mengelap matanya dengan punggung tangan, mengelap air mata yang menggenang sebelum jatuh ke pipinya. Cassie benci menangis karena ia selalu merasa menangis adalah bentuk dari kelemahan.
Jadi setelah merapikan bekas guntingan rumputnya ke tempat sampah terdekat. Sekali lagi Cassie mengucap salam dan berbalik badan. Ia mengangkat tinggi-tinggi kepalanya dan berjalan dengan punggung tegak ke tempat di mana ia memarkirkan motornya.
Sepanjang jalan kembali ke rumah Cassie merasakan pikirannya malah menerawang ke segala arah. Manajemen Long Dock yang amburadul. Ramiel yang lebih mementingkan masalah pribadinya daripada karyawannya yang mulai saling membenci tanpa mengucapkan sepatah-katapun. Ketika ia melimpahkan semua cerita kepada Fadli, namun memilih untuk menghindar setiap kali pria itu menyatakan perasaannya secara kasual padanya.
Lalu Ghaniy.
Cassie selalu menyempatkan diri untuk memeriksa sosial medianya sebelum ia tidur setiap malam. Ghaniy meunggah banyak foto tentang persiapan even yang akan dilaksanakan oleh mahasiswanya tahun ini. Tentang beberapa kutipan-kutipan dari buku kesukaannya. Tapi tidak ada satupun foto keluarga di sana...
Cassie mencoba mengingat apakah Ghaniy pernah menyinggung soal istri dan putranya padanya. Tapi rasa-rasanya memang tidak pernah...
Karena jalanan sangat lengang Cassie sampai di depan sebuah warung makan yang terkenal menyajikan sarapan itu tidak berapa lama kemudian. Ia memesan dua porsi nasi kuning kepada seorang wanita paruh baya dibalik lemari display dengan gorden kain berjala sebagai penutup lemari itu. Tangan wanita paruh baya itu sangat cekatan membungkus kertas nasi kuning pesanannya.
Tidak mudah untuk masak masakan main course dan itu menjadi salah satu kelemahan Cassie walau ia sangat senang memasak. Cassie mendesah iri dengan banyaknya makanan yang disajikan di dalam lemari itu
“Ibu masak sendiri?” tanyanya sambil menyerahkan uang setelah wanita paruh baya itu menyebutkan harga yang harus ia bayar.
“Berdua dengan putri saya.” Wanita itu menoleh ke arah gadis yang tengah mengaduk nasi kuning baru matang dari dalam panci untuk dipindahkan ke dalam termos. Gadis itu tampak jauh lebih muda dari Cassie, namun sangat cekatan dengan pekerjaannya.
Si Gadis lalu menyerahkan termos penuh itu dan mengganti termos yang ada d dekat ibunya. Ada senyum di wajah si anak ketika mereka bertukar pandang sebentar.
Senyum Cassie memudar perlahan, namun ketika wanita paruh baya itu memberinya kembalian Cassie tersenyum lebih lebar hingga membuat matanya tinggal segaris.
Sepanjang jalan pulang Cassie hanya bisa menghela napas panjang berulang kali.
Sesampainya di rumah ia mendapati Mama Ardana sudah berada di depan rumah. Berbicara dengan tetangga dengan belanjaan bahan dapur di tangan. Dahi Mama Ardana tampak mengerut ketika ia berkata,
“Darimana pagi-pagi sudah keluar?”
Cassie memang pergi ketika Mama Ardana masih di kamar dan tidak ada tanda-tanda akan keluar. “Dari makam Papa,” jawabnya lalu memberi anggukan sekali pada tetangganya itu yang dibalas dengan gestur yang sama.
Mama Ardana mengerjap sekali sebelum mengalihkan pandangan darinya. Cassie lalu masuk untuk memarkirkan motornya.
Cassie tidak lupa mencuci tangan sebelum menyiapkan nasi kuning itu di atas piring dan menyiapkan teh panas. Ditaruhnya keduanya di meja makan. Sebelum ia sendiri mulai makan sendiri makan di dapur. Itu satu-satunya cara agar ia terhindar dari keharusan melakukan percakapan dengan mamanya.
Cassie, toh sudah melakukan semuanya sesuai dengan apa yang Mama Ardana inginkan darinya.
“Apa yang kamu lakukan di dapur seperti pembantu begitu?” tanya Mama Ardana telah Cassie mendengar suara derit kaki kursi ditarik.
“Lebih nyaman di sini,” sahut Cassie mengatur suaranya sedemikian rupa agar tidak terkesan kasar.
Hening. Cassie selalu makan dengan cepat. Karena ia terbiasa menjadi yang sellau menyiapkan makan dan juga yang membenahinya. Cassie tengah mencuci sendok miliknya ketika ia sekali lagi mendengar. “Kenapa kamu tidak pernah menceritakan apapun tentang pekerjaanmu pada Mama?”
“Karena tidak ada yang perlu diceritakan,” jawab Cassie terllau cepat membuatnya merutuki diri sendiri.
“Lalu bagaimana dengan keinginan untuk menikah? Apa kamu juga tidak ingin menceritakannya?”
Cassie mendengus. Ia masih mengairi sendok yang sudah mengilat itu di bawah keran air. “Mam sudah punya Abang yang memberi Mama cucu.”
“Apa karena memang tidak ada lelaki yang mendekatimu? Dengan sikap seperti itu Ma arasa tidak akan ada yang ingin mendekati.”
Cassie akhirnya mematikan keran. Bersandar di atas wastafel dengan kedua tangan menopang tubuhnya.
Ini alasan kenapa ia tidak ingin memulai percakapan dengan Mama Ardana.
Setelah ia merasa cukup tenang. Cassie dengan langkah terukur masuk ke kamar. Sedapat mungkin tidak membanting pintu walau ia merasa ingin sekali melakukannya. Ia meraih ponsel dari dalam tas yang ia bawa tadi. Menelpon seseorang yang baru mengangkat teleponnya di dering-dering terakhir sambungan.
“Cassie...”
Suara pria itu serak. Jelas baru bangun tidur.
“Mas Fadli, apa Mas Fadli ada waktu hari ini?”
***
“Mau ke mana lagi?” tanya Mama Ardana ketika Cassie akhirnya keluar dari kamarnya dan sudah memakai pakaian yang sudah jelas bukan pakaian rumah.
“Bertemu teman.” Cassie sambil memperbaiki tas cangkloknya. Tapi tidak ada tanda-tanda ia akan memakai jaket seperti biasa ketika ia akan berangkat menggunakan motor.
“Dengan apa...?”
Namun omongan Mama Ardana terpotong ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka. Cassie langsung keluar dari rumah dan terkejut mendapati Fadli sudah ke;uar dari mobil dan berlajalan menyongsongnya.
“Don’t you dare...” Cassie mendelik, memperingatkan tapi pandangan Fadli lurus di atas puncak kepalanya.
Cassie berbalik dan mendapati Mama Ardana sudah berdiri di belakangnya. Memberinya lirikan tajam sebelum mengalihkannya pandangan ke arah Fadli dan memasang senyum terbaiknya
“Selamat pagi, Ibu Ardana.” Fadli lebih dulu mengulurkan tangan dan mencium tangan Mama Ardana, membuat wanita tua itu terpana. “Nama saya Fadli dan saya berjanji saya adalah pria baik-baik.”
“Dan hubunganmu dengan Cassie adalah...?”
“Saya...” Fadli menoleh dari atas bahunya, melirik ke arah Cassie sejenak sebelum mendesah dengan gaya. “Cassie-lah yang menggantung saya, Bu. Dan disinilah saya. Langsung menyanggupi keinginannya saat ia meminta saya datang.”
Cassie langsung menepuk dahinya dnegan telapak tangan. Ia memang sudah menduga akan ada kejadian seperti ini, namun ia tidak menyangka akan berakhir sedramatis ini.
“Cassie?” Sudah pasti Mama Ardana tidak pernanh membayangkan kemungkinan itu sebelumnya. Apalagi dengan nada melengking di akhir kalimat Mama Ardana.
“Iya, putri Ibu itu sama sekali tidak tahu betapa menderitanya saya karenannya.”
Cassie langsung menyambar lengan Fadli dan menariknya menjauh. “Cukup,” bisiknya. “Ma, kami pergi dulu.”
“Kenapa tidak membiarkannya masuk dulu?” Sudah jelas Mma Ardana tertarik dengan pria yanga da dihadapannya ini.
“Kami buru-buru,” Cassie memaksakan senyumnya dan kembali menarik lengan baju Fadli. Pria itu membungkuk sekali sebagai salam perpisahan. Cassie akhirnya melepaskan pegangannya pada Fadli agar pria itu bisa kembali duduk di kursi pengemudi.
“Itu tadi tidak sopan, Cassie. Bahkan untuk dilakukan di depan mamamu sendiri.” Fadli dengan nada memperingatkan yang sangat halus.
Cassie pura-pura sibuk dengan sabuk pengamannya sendiri.
***