27

731 Kata
“Aku tidak pernah menyangka hubungan kalian memang seburuk itu.” Fadli setelah mereka sudah cukup jauh dari rumah Cassie. “Walau aku sudah punya gambaran hubungan kalian memang buruk. Mengingat kamu tidak  pernah membahas tentang beliau dan selalu tentang papamu.” “Kami tidak pernah dekat,” Cassie sambil memandang ke luar jendela di sampingnya. “Istri abangku lebih cocok dengannya. Mama sering mengatakannya padaku. Beliau sangat sedih ketika abangku memilih keluar dari rumah membawa serta keluarganya. Aku hanyalah pilihan terakhirnya.” “Sebagai putri yang belum menikah sudah seharusnya kamu melakukannya, kan?” Fadli masih tenang dengan mata yang tertuju pada jalanan. “Abangku yang seharusnya melakukannya. Dia yang punya tanggung jawab tentang hidup Mama sampai akhir hayat beliau. Atau begitulah yang aku dengar dari seorang alim. Tapi lemparkanlah tanggung-jawab itu sekarang padaku dan aku akan dengan senang hati menagihnya pada pengadilan Tuhan nanti.” “Wow! Terlalu banyak kebencian dalam satu tarikan napas, Cassie. Dan ini juga masih terlalu pagi untuk cemberut.” Fadli tertawa kecil. “Seharusnya kamu diam saja dan biarkan tumpukan pahala itu jatuh padamu seperti daun yang gugur pada musim kemarau. Dan sekarang semuanya telah terbang ditiup angin. Betapa sayangnya.” Cassie butuh waktu lebih banyak untuk menanggapi ini. “Mari berharap musim kemarau itu segera berakhir kalau begitu.” Sebenarnya Cassie sedang menertawai dirinya sendiri sekarang. Betapa menyedihkannya perbuatannya ini bahkan untuk ukuran dirinya sendiri. Meminta Fadli datang menjemputnya untuk membuktikan pada Mama Ardana jika memang ada pria yang menginginkannya dan bersedia memberinya apapun yang ia inginkan jika ia memang membiarkannya dirinya melakukannya. “Jadi kamu mau ke mana? Dan jangan bilang “terserah” atau aku akan memutar balik dan mengembalikanmu pada Mama-mu sekarang juga.” Mendengar itu Cassie menjadi lebih rileks sekarang. “Ada film yang aku ingin tonton. Kita bisa ke bioskop dulu.” Fadli mengggumam mengiyakan. Sebelum ia mengeluarkan suara seperti orang yang baru mengingat sesuatu. “Dan ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa mendapatkan libur di akhir pekan?” Cassie menoleh ke arah pria di sampingnya itu sambil duduk bersandar di jok. “Hari ini adalah hari peringatan kematian Papaku yang ke empat tahun.” Fadli tampak terkejut. “Astaga, Cassie!” “Masih segar dingatanku rasanya. Dan anehnya melihat Mama dan abang bisa hidup biasa saja setelahnya. Sedangkan aku di sini, masih terbayang-bayang dengan kedukaan tentang hati itu.” Cassie menyeringai. “Setiap orang punya caranya sendiri dalam menghadapi kedukaan, Cassie. Kamu tidak bisa menghakimi orang-orang yang mempunyai cara yang berbeda denganmu.” Fadli untuk pertam akalinya terdengar sesuai dengan usianya. “Aku tahu. Dan semua orang menghindar untuk mengatakan apapun tentang itu.” Setelah itu mereka menghabiskan sisa perjalanan dalam diam. Cassie menyadari Fadli membawanya ke mall mahal baru yang dibangun ketika Cassie meninggalkan kota kelahiran ini. Karena pekerjaannya Cassie tidka pernah mengunjunginya. Fadli tampak hapal betul di mana ia harus memarkirkan mobilnya. “Apa?” Fadli akhirnya ketika mobilnya sudah terparkir sempurna di depan pintu masuk di basement. Cassie menggeleng dan berdecak. “Sudah berapa banyak wanita yang kamu bawa ke sini sebelumnya?” Fadli memutar bola matanya terang-terangan. “Turun sajalah.” Cassie tertawa. Fadli menunggunya agr mereka bisa berjalan bersisian. “Kamu boleh menggandengku kalau mau.” Fadli mengulurkan tangannya, tapi Cassie malah menyelipkan tangannya di lengan pria itu.      Sama-sama mereka langsung menuju  lantai tempat bioskop itu berada melalui lift. Lit langsung penuh dengan para pengunjung dengan tujuan mereka masing-masing. Keluarga kecil dengan balita di dalam stroller. Kumpulan remaja perempuan yang mengikik untuk alasan tertentu. Pasangan muda dengan tangan pemudanya di pundak si gadis sambil saling berbisik. Pasangan paruh baya dengan keluarga besar mereka. Seorang pria yang tampak seperti kurir... Cassie berdiri sangat dekat dengan Fadli sehingga ia merasakan panas tubuh pria itu pada tubuhnya. Cassie mencengkram lengan Fadli cukup kencang karena entah kenapa ia merasa tegang... Pengunjung di dalam lift itu mulai berkurang seiring dengan lantai yang dilewati. Cassie dan Fadli turun di lantai yang sama dengan pasangan muda tadi. Begitu berada di luar lift, Cassie akhirnya bisa menarik napas lega. “Ada apa? Apa kamu fobia ruangan sempit?” tanya Fadli karena Cassie memang menghentikan langkah. Cassie lalu mengangkat kepalanya, menatap Fadli dengan senyuman namun entah enapa seperti tidak sampai di matanya. “Hanya terlalu banyak ragam emosi. Aku tidak kuat.” Fadli menatapnya dengan bingung yang nyata. Membat Cassie tertawa lalu meraih lengan pria itu dan menariknya pergi dari sana...... ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN