28

3171 Kata
Ghaniy Cakradana memandangi Ayah Cakradana sedang mendengar putranya menceritakan salah satu hari seru yang ia lewati di sekolah. Suasana canggung menggantung di antara mereka setelah bertukar-sapa seadanya. Sedangkan Fiora dan Ibu Cakradana sedang berada di dalam, menyiapkan makan siang mereka. Ghaniy Cakradana ingat ketika ia dan ayahnya bertengkar hebat sewaktu ia nyaris memilih sebagai seorang pianis sebuah band alih-alih menjadi dosen. “Apa yang akan kamu beri makan istrimu kelak jika kamu hanya akan menjadi pianis, hah?” Nilai akademis Ghaniy yang cemerlang di Fakultas Ilmu Komunikasi kala itu, sempat anjlok karena ia memilih untuk lebih banyak latihan dan tampil dengan band kampus. Pada saat itu Ghaniy sudah merasakan lemparan sendal dan sabetan ikat pinggang. Dandanannya yang perlahan berubah urakan dan kadan tidak pulang membuat semuanya semakin buruk. Seandainya ia tidak melihat Ibu Cakradana menangis sambil mengobati luka-lukanya hari itu. Ibu Cakrdana menyalahkan dirinya sendiri karena ialah yang mengajari Ghaniy memainkan piano. Jika saja Ghaniy tidak pernah melihat airmata itu, ia mungkin tidak akan pernah kembali ke rumah ini. Ghaniy kemudian mundur dari band. Memutuskan tidak pernah menyentuh piano lagi. Mengubah penampilannya kembali menjadi pemuda baik-baik. Lalu ia mendekati Fiora yang kala itu seperti piala yang direbutkan banyak orang. Walau ia butuh bertahun-tahun setelahnya untuk menikahi wanita itu. Ghaniy akhirnya mendapatkan kehidupan yang didambakan banyak orang. “Jadi bagaimana pekerjaanmu?” Tiba-tiba Ayah Cakradana bertanya setelah cucunya akhirnya berhenti berceloteh. Membuat Ghaniy mengerjap sebelum memberinya senyum tipis. “Semua baik-baik saja. Hanya cukup sibuk di kampus akhir-akhir ini.” “Memangnya apa yang terjadi?” Ayah Cakradana masih dengan nada datar yang sama. “Akan ada even kampus dengan aku sebagai supervisornya minggu depan. Itulah alasan kami datang hari ini.” “Papa selalu sibuk! Pulangnya selalu malam!” Putranya menimpali sangat cepat. “Oh, ya? Itu mungkin untuk kebahagianmu dikemudian hari, sayang.” Kalimat itu membuat Ghaniy diam-diam menghela napas panjang. Tida berapa lama kemudian ia diselematkan oleh Fiora yang muncul dengan lap dapur di tangan. “Ayo, kita sudah bisa makan sekarang.” Putranya berseru girang bersamaan dengan Ghaniy dan Ayah Cakradana yang bangkit berdiri.  Ghaniy berjalan dua langkah di belakang ayahnya. Pria paruh baya itu duduk di kepala meja sedangkan Ghaniy membiarkan Fiora duduk di dekat ayahnya dengan ia yang berada jauh nyaris di ujung meja yang lain. Putranya sendiri lebih memilih duduk di dekat neneknya. Ghaniy menyadari semua menu yang ada di meja makan adalah makanan kesukaannya. Ia merasakan tusukan rasa bersalah di d**a kirinya ketika ia mendapati Ibu Cakradana memberinya pandangan penuh sayang. Terlalu banyak luka yang terjadi. Terlalu banyak dendam yang dipendam hingga ia malah menunduk mulai mengambil piring dan mengisinya. Ghaniy makan secepat yang ia bisa. Ia selesai bahkan sebelum Fiora menghabiskan setengah isi piringnya. “Cepat sekali,” komentar wanita itu ketika Ghnaiy sudah kembali dari dapur untuk mencuci piringnya sendiri. “Orang yang aku akan temui ini adalah orang penting.” Karena benar seperti itu. Jadi Ghaniy menepuk pundka Fiora sekali sebelum membungkuk mengucap salam. Ia menyadari ibunya seperti akan mengucapkan sesuatu tapi ia sudah pergi meninggalkan rumah itu saat itu juga. Ghaniy merasakan ia baru bisa menarik napas lega begitu ia berada di dalam mobilnya. Ia mengambil beberapa detik untuk menennagkan diri sejenak sebelum menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan pekarang rumah masa kecilnya itu. Pria itu sebisa mungkin membiarkan pikirannya kosong sepanjang perjalanan. Tidak berapa lama ia sampai di tempat pertemuan yang ia janjikan. Begitu memasuki gedung itu ia bersyukur ia sampai lebih dulu dari orang yang ia ajak bertemu itu. Ia langsung berjalan ke bar station dan seseorang dibalik mesin kasir langsung mengenalinya. “Oh! Bapak pianis malam itu!” seru pemuda itu dengan senyum lebar.    Ghaniy terkekeh karena geli. “Halo! Saya mau pesan Ice Cappuccino, ya?” Si pemuda itu mengangguk cepat, mengetik sesuatu di mesin kasir sebelum memberitahu si barista pesanannya. “Bapak mau performs lagi malam ini? Masih terlalu siang, Pak!” Ghaniy mengeluarkan uang dari dompetnya dulu sebelum menjawab, “Hari ini saya hanya ingin bertemu dengan seseorang.” “Wah, sayang sekali.” Kali ini si barista-lah yang berkata “Permainan Bapak keren sekali.” Ghaniy menyerahkan uangnya ke pemuda yang dibalik mesin kasir sebelum mengucap terimakasih. Minumannya jadi pada saat yang bersamaan. Ghaniy lalu mengambil duduk di meja yang biasa. Sesekali melirik ke rah lemari display cake dan roti yang secara mengecewakan terisi penuh saat ini. Ia menyesap minumannya sambil melirik jam berbentuk jangkar yang ada di dinding. Ia tahu orang yang ia temui adalah orang yang sangat tepat waktu. Dan benar saja... “Pak Ghaniy!” sapa pria itu dengan senyum merekah di wajahnya. Ghaniy bangkit berdiri dan mereka berjabat tangan. Pria itu menepuk pundak Ghaniy dengan keras sekali begitu jabat tangan mereka terlepas sebelum mereka duduk saling berhadapan. “Pak Partaya Arkaan, saya rasa kita hanya bertemu satu tahun sekali, ya?” Ghaniy menyeringai sambil mengangkat tangannya untuk memberi kode kepada pemdua yang ada dibalik mesin kasir. Pria itu – Partaya Arkaan tertawa sopan. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke segala arah. “Long Dock. Saya sudah mendengar tempat ini sejak lama. Tempat ini adalah cabang ketiga, kan? Konsep yang tidak biasa. Saya terkejut Pak Ghaniy ternyata up to date untuk urusan seperti ini.” Ghaniy menyesap minumnnya bersamaan dengan pemuda kasir membawa buku menu dihadapan keduanya. “Dunia pekerjaan kita mengharuskan kita untuk selalu update untuk hal semacam ini. Anda tahu itu.” Pak Partaya lalu membuka-buka halaman buku menu. “Di sini dikatakan pilihan cake-nya selalu berubah setiap hari. Jadi apa saja cake yang ada hari ini?” tanya Partya kepada pemuda itu. Pemuda itu kemudian menunjuk ke arah rak display dengan ibu jarinya sebelum menjelaskan menu yang ada hari ini dengan lancar. “Oh, saya mau strawberry shortcake dengan hot americano.” Pak Partaya lalu menutup buku menu itu dan menyorongkannya ke arah si pemuda. Si Pemuda kemudian pamit. Pak Partaya lalu menautkan jemarinya di atas meja. “Jadi akan ada berapa banyak anak magang yang akan kamu masukkan ke Dolan Hotel tahun ini?” Walau seharusnya urusan seperti ini dilakukan oleh orang yang pangkat jauh lebih rendah darinya, Partaya Arkaan adalah general manajer Dolan Hotel dan juga teman lama Ghaniy sehingga ia dengan senang hati membantu. Ghaniy mendorong map bening yang berisi daftar mahasiswa magangnya ke arah pria itu. “Tahun ini saya membagi mahasiswa magang ke beberapa tempat karena jumlah mereka yang lumayan. Dolan Hotel mempunyai Chef Remus yang terkenal jadinya saya mengirimkan sebagian besar mahasiswa Culinary Arts ke sana.” Partaya Arkan mendengus geli. Matanya dengan cepat daftar nama mahasiswa itu sebelum mendongak ke arah Ghaniy. “Chef Remus akan senang sekali. Kebetulan akan banyak pesta pernikahan di tengah tahun ini.” Ghaniy hanya tersenyum sebagai tanggapan. Tidak berapa lama kemudian pesanan Pak Partaya muncul dan keduanya mengucap terimakasih. Begitu sang pemuda berbalik pergi. Pak Partaya kemudian berkata. “Lalu bagaimana kehidupan? Apakah semua baik-baik saja?” “Saya tidak tahu harus memulainya dari mana.” Ghaniy melirik ke arah rak display cake dan roti yang saat in itengah dibersihkan oleh seseorang dengan seragam koki, tapi jelas bukan Cassie. Mendadak ia duduk lebih tegak. “Ayolah, Pak Ghaniy Apa tidak ada keinginan untuk menambah anak?” Mata Ghaniy masih awas mengawasi pria yang tengah mengganti piring-piring cake yang berserakan dengan piring bersih. “Untuk saat ini benar-benar tidak terpikirkan.” Lalu Ghaniy sudah berdiri dan langsung menuju rak display. Terdengar Pak Partaya menyerukan namanya, tapi tidak ia indahkan “Maaf ada apa, Pak?” tanya pria itu sopan walau dengan dahi yang mengerut penuh tanya. “Cassie? Mana Cassie?” Tangan Ghaniy membeku di tengah-tengah mereka sebelum ia menurunkannya. “Mbak Cassie libur hari ini.” Ghaniy merasakan detak jantungnya perlahan melambat. Apa yang sebenarnya ia bayangkan akan terjadi? Dan ia juga baru menyadari kafe sebesar ini tidak mungkin hanya punya satu baker. “Kenapa dia libur? Apa sesuatu terjadi?” “Tapi maaf sebelumnya, Bapak siapa?” Tapi Ghaniy sudah menggeleng-geleng. “Maafkan saya.” Lalu ia kembali ke mejanya. Pak Partaya juga memberinya pandangan bertanya-tanya. Paling tidak ia tahu gadis itu tidak menghilang lagi.... ***  Film yang ingin ditonton Cassie Ardana adalah film franchise superhero terkenal. Salah satu franchise kesukaan Papa Ardana dulu. Cassie masih mengikuti jalan ceritaya karena ia merasa hanya itulah hal yang mengingatkannya pada Papa Ardana. Almarhum sangat suka dengan cerita super hero dan Mama Ardana sangat benci nonton bioskop dan abang Cassie menganggap film-film itu kekanakan. Jadi satu-satunya yang bisa dibawa oleh Papa Ardana untuk menonton hanya Cassie. Cassie sangat memusatkan perhatiannya pada film tersebut sehingga ia tidak sadar jika sedari tadi Fadli-lah yang menyodorkan kotak popcorn dan minuman kepadanya. Gadis itu mengambil keduanya tanpa menoleh ke arah ke arah Fadli sama sekali. Cassie sudah duduk bersila di atas kursi beludru merah itu dengan kedua tangannya menopang dagu. Ia merasa filmnya terlalu seru sehingga ia benar-benar menghiraukan pasangan muda yang mereka temui di lift tadi mulai b******u di barisan kursi tepat dihadapannya. Cassie hanya menyeringai dan kembali memusatkan perhatiannya pada film. “Kita bisa saja seperti mereka dan tidak akan ada yang memerhatikan.” Fadli membungkuk ke arahnya untuk berbisik langsung ke telinga gadis itu. Cassie hanya memberi pria itu seringai penuh ejekan, membuat Fadli mengedikkan bahu sekali. Film akhirnya selesai, begitu juga dengan rangkulan pemuda itu di bahu pacaranya. Cassie dan Fadli membiarkan para penonton yang duduk di barisan yang sama dengan mereka keluar lebih dulu. “Jadi habis ini kita ke mana?” tanya Cassie membuat Fadli mengerutkan dahi dalam. “Lha, bukannya kamu yang mengajakku hari ini?” Pria itu balas bertanya. “Biasanya Mas punya fashion emergency setiap pekan?” Cassie dengan kepala sedikit dimiringkan. Anting-antingnya yang panjang membelai pipinya.   Ekspresi Fadli langsung cerah. Senyumnya merekah lebar. “Ah, karena kamu mengingatkan. Aku memang butuh handbag baru.” Jadi akhirnya mereka ikut rombongan terakhir yang meninggalkan ruang teater satu. Fadli memasukkan kotak popcorn ke dalma tempat sampah yang dibawa oleh salah satu pembersih dengan Cassie yang mengucapkan terimakasih. Fadli mempunyai selera fashion yang tinggi Dengan pangkat dan gaji yang fantastis sepertinya Cassie merasa tidak ada yang salah dengan gaya hidup sepertinya. Sekarang Fadli sudah melingkarkan lengannya di pundak Cassie dan Cassie membiarkannya sejenak sebelum sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Ghaniy. Cassie langsung mendorong lengan Fadli dari pundaknya. Katanya kamu hari ini libur, ya? Cassie menjauh sekitar dua langkah dari Fadli sambil memikirkan balasan apa yang cocok untuk pesan itu... Fadli sudah berbelok ke dalam gerai tas bermerek dan Cassie berhenti di ambang pintu dan bersandar di sana. Ghaniy sekarang berada di Long Dock sekarang dan tidak mendapatinya berada di sana. Ya. Karena hari ini adalah hari peringatan kematian papa saya. Ketika Cassie akhirnya mengangakat pandangan dari layar ponselnya ia mendapati Fadli tengah memandangi banyak model man handbag yang disodorkan padanya. Balsan dari Ghaniy datang saat itu juga. Aku turut berbelasungkawa. Jadi apa kamu baik-baik saja? Cassie membirkan pesan itu menggantung sejenak sebelum menjawab, Saya harus baik-baik saja. Fadli melambaikan sebuah tas berbahan kulit berwarna cokelat ke arahnya. Cassie menggeleng dengan wajah mengerut, membuat Fadli memutar bola matanya. Menjadi alasan perubahan sikapmu padaku empat tahun lalu. Itu dan banyak hal lain, Cassie membatin. Namun tidak kali ini. Tapi sekarang saya telah kembali. Semua sudah berlalu. Jawaban Ghaniy sampai saat itu juga. Tapi apa kamu memang telah benar-benar kembali?   Cassie memasukkan ponselnya ke dalam tas cangkloknya. Mendatangi Fadli yang masih kebingungan dengan pilihannya. Cassie langsung menarik salah satu handbag berwarna biru navy dengan resleting perak. “Ini akan mencolok dengan seragam kerja Mas.” Karena Cassie sadar pramuniaga toko ini juga terang-terangan jika ia tertarik dengan Fadli. “Oh, kamu benar. Terimakasih Cassie.” Pria itu menepuk puncak kepala Cassie sekali dan Cassie sadar ebnar sang pramuniaga it memutar bola matanya diam-diam. Fadli memang terlihat memang seperti pria yang bisa mempunyai pacar yang usianya lebih muda darinya. Fadli hanya lebih muda lima tahun dari Ghaniy dan memiliki selera fashion yang lebih baik dari dosen itu... Oh, Cassie. Ia harus berhenti untuk membeda-bedakan kedua pria itu lagi. *** Ketika akhir pekan tiba Ramiel biasanya datang ke kafe setelah lewat tengah hari. Ia melakukannya setelah ia lebih dulu membantu Ibu Yusmar dengan taman bunganya. Ia menghabiskan paginya dengan menyiangi rumput dan membantu ibunya memindahkan tanaman yang sudah rimbun ke pot lain. Ramiel merasakan pekerjaan itu lebih berat daripada ia harus melakukan olahraga di gym. Setelah pekerjaannya selesai Ibu Yusmar memberinya segelas jus jeruk dingin untuk dirinya yang bersimbah keringat. Ia menegaknya hingga habis sebelum mengembalikan gelasnya kembali kepada ibunya yang memberinya senyum penuh sayang. Ayah Yusmar sendiri akan menghabiskan waktu dengan menonton berita di TV ketika Ramiel lewat untuk membersihkan diri ke kamar. Ramiel yang merasa dirinya remuk-redam ia lalu berbaring di lantai karena ia tidak mungkin berbaring di atas ranjang dengan tubuh kotor seperti itu. Ia mendesah panjang begitu kulitnya yang basah menyentuh lantai yang dingin... Ia lalu mendengar ponselnya yang berbunyi di atas nakas di dekat ranjang. Ia hanya mernagkak, meraih ponsel itu dengan mengulurkan tangan. Tidak benar-benar melihat siapa yang menelpon dan langsung mengangkatnya. “Hello?” “Ramiel?” sapa seseorang di seberang sana. “Oh, abang.”  Ramiel lalu menutup matanya dari silaunya lampu kamar dengan satu lengan. “Kenapa kamu terdengar kecewa begitu?” Ada dengusn geli berasal dari ujung sambungan telepon sana. “Ada apa? Apa Cassie melaporkan sesuatu padamu?” “Sejujurnya, iya. Gadis itu melaporkannya segalanya padaku.” “Tukang pengadu,” gumam Ramiel, kesal. “Tidak. Karena dia melakukannya atas permintaanku. Jadi sejauh ini tidak ada briefing mingguan, kamu membiarkan pertengkaran di bar station berlarut-larut sedangkan kamu sendiri sibuk pacaran?” “Sama sekali tidak ada yang gadis itu tutup-tutupi, hah?” Ramiel menyumpah kecil. “Aku juga bertanya seperti itu. Tapi katanya toh, dia tidak rugi apapun. Bosnya masih tetap aku.” “Gadis itu monster, kamu tahu.” “Terkadang orang-orang butuh orang lain sepertinya untuk tahu kalau mereka jauh lebih buruk. Jadi apa kamu sendiri punya sanggahan untuk laporannya?” Ramiel memilih diam. “Kalau tidak ada berarti kamu memang melakukannya. Ramiel, kamu tahu bagaimana masalah jika dibiarkan berlarut-larut?” Abangnya terdengar dengan napas tertahan. “Aku hanya berharap semuanya akan membaik dengan sendirinya.” Hening lagi. “Sebaiknya jangan. Ajak mereka untuk briefing nanti dan berikan peringatan tertulis kepada yang bersalah. Karena menurutku dia sudah layak mendapatkannya. Dan soal Cassie, jika kamu merasa kalau ia keterlaluan. Peringatkan dia juga jika dia sudah melanggar batas. Tapi dari yang kudengar justru kamulah yang sering mengganggunya bekerja dengan curhat-curhat tidak berfaedah milikmu.” Ramiel mendengus keras. “Jadi dua wanita, hah? Yuri dan Nadia? Aku tidak tahu apa aku harus memberimu selamat atau memarahimu karenanya.” “Mereka melengkapi satu sama lain. Menutupi kekurangan satu dengan yang lain.” “Karena hidup memang tidak membolehkan kita untuk mendapatkan semua yang kita inginkan, Ramiel. Apa kamu tidak pernah mendengar karma?” “Aku tahu.” Ramiel berpindah posisi agar mendapatkan lantai yang masih dingin. “Dan ada yang pernah mengatakan pengetahuan adalah dosa.” Abangnya menghela napas panjang.  “Oke, aku akan membiarkanku memikirkannya sendiri dan konsekuensi atas apa yang kamu lakukan. Dan jangan terlalu keras memarahi Cassie jika kamu ingin melakukannya. Kamu tidak ingin kehilangan dia.” Sambungan telepon diputus dan Ramiel nyaris melemparkan ponselnya menjauh darinya. Dengan ogah-ogahan ia mengangkat badannya berdiri dan beranjak ke kamar mandi. Ia memakai pakaian yang lebih kasual untuk akhir pekan. Ketika ia keluar dari kamar ia melihat ibunya sudah berada duduk di dekat Ayah Ardana dengan kotak bekal di tangan. “Astaga, Ibu. Aku bekerja di kafe!” Ramiel nyaris terdengar merengek. Ketika ibunya mendorong tas bekal itu ke dalam pelukannya. “Tidak ada salahnya. Dan oh, ya...” Ramiel langsung merasa jantungnya jatuh ke perut ketika Ayah Yusmar-lha yang menyela mereka dengan, “Ayah dengar kamu sering jalan dengan Yuri, ya?” Senyum Ibu Yusmar langsung melebar. “Dia adalah gadis yang kalian akan kenalkan padaku hari itu, kan?” Ibu Yusmar mengangguk. Membuat Ramiel mendesah lega. Ia sempat mengira ia sudah mengajak berkencan gadis yang salah. ”Dia anak baik dengan latar keluarga yang baik. Apa...” Ramiel menggeleng cepat. “Masih terlalu cepat, Ibu.” Ramiel mencium pipi ibunya dan pergi saat itu juga sebelum kedua orangtuanya sempat memikirkan pertanyaan yang lain. Ramiel masuk ke mobilnya yang ia sempat cuci pagi tadi. Ia menaruh baik-baik tas bekalnya di jok disebelahnya sebelum ia menghidupkan mobil dan pergi. Ponselnya mendadak berdering tidak jauh setelah ia meninggalkan rumah. Ia melihat siapa yang menelpon melalui layar LCD di mobil dan melihat nama Nadia di sana. Ia tadi mengira ia harus memutar-balik karena ia telah melupakan sesuatu di rumah. “Apa yang kamu lakukan hari ini?” “Kerja,” jawab Ramiel dengan pandangan masih fokus ke jalanan. “Tidak bisa mengambil libur?” “Aku bekerja di kafe, Nadia. Aku seharusnya tidak libur di akhir pekan.” “Tapi kamu bosnya.” Wanita itu terdengar merajuk. “Dan bukan berarti aku bisa seenaknya. Lagipula bukan aku bosnya. Abangku bosnya.” “Kamu benar-benar sama sekali tidak menyenangkan.” “Bye, Nadia” Ramiel menutup sambungan telepon saat itu juga. Setelah itu Ramiel menghabiskan sisa perjalanan dalam diam. Kafe ssudah cukup ramai ketika ia sampai. Dengan tas bekal di tangan ia memasuki kafe. Waitres-mya membungkuk ketika ia melewatinya. Ia kemudian berhenti di balik bas station,menghitung jumlah pegawainya dengan sistem hitung kepala. “Aksa?” “Bang Aksa di ruang bakery,” jawab baristanya. “Cassie?” Ia mengerutkan dahi. “Mbak Cassie minta libur hari ini. Katanya hari ini hari peringatan kematian ayahnya. Apa Bapak tidak diberitahu?” Ramiel merasa ia baru mendengar berita itu. Ia kemudian langsung mengambil ponselnya dari dalam saku. Ia memang tidak memeriksa banyak pesan sejak semalam. Dan Cassie memang sudah memberinya pemberitahuan melalui w******p. Gadis itu memberitahu jika ia ingin libur, Aksa tidak keberatan, dan ia sudah menyelesaikan pekerjaanya sejak semalam. Ada banyak hal yang masih tidak ia ketahui tentang Cassie ternyata. Jadi Ramiel menuju ruang bekery dan mendapati Aksa sedang mengeluarkan strawberry shortcake dari dalam kulkas dan bersiap menghiasnya. “Cassie? Bagaimana keadaannya?” tanya Ramiel setelah menutup pintu. “Kalau Bapak tanya keadaan Mbak Cassie kemarin. Ia tampak baik-baik saja, tapi sedikit murung.” Aksa sambil memotong ujung plastik segitiga berisi whip cream. Ramiel entah kenapa merasa gelisah. Ia mengusap dahinya dengan satu tangan di pinggang. Kotak bekalnya memukul lembut pinggulnya. “Mbak Cassie tidak perlu dikhawatirkan, Pak. Dia bisa mengatasi masalahnya sendiri.” Aksa tertawa kecil sopan. “Karena itulah aku merasa aku harus mengkhawatirkannya.” “Setelah apa yang terjadi dengan kalian berdua?” “Memangnya ada apa dengan kami berdua?” Ramiel dengan nada menuntut yang tidak ia kenali. “Bukannya kalian saling membenci?” Dengan cekatan pria itu menghias kuenya sambil membungkuk. Ramiel mendengus.”Aku, sih berharap begitu. Tapi kita butuh seseorang yang membenci kita agar kita bertumbuh, kan?” Aksa berhenti dari pekerjaannya untuk menatap Ramiel dengan senyum penuh arti. “Kalau begitu bukannya gadis seperti Mbak Cassie-lah yang Pak Ramiel butuhkan dalam hidup Bapak? Kenapa mencari jauh-jauh kalau begitu?” ***           
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN