29

2398 Kata
Even hari ketiga untuk mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Harapan Bangsa angkatan 2013 dan hari terakhir. Sang Ketua melakukan briefing di pagi buta bahkan ketika sebagian annggotanya masih dalam keadaan setengah sadar dan mata yang amsih mengedip-ngedip menyesuaikan diri dengan sinar matahari dan mengerut akibat udara dingin yang menusuk tulang. Tapi mereka berhasil bertepuk tangan penuh semangat begitu briefing berakhir dan bubar. Saling bertukar janji untuk siapa yang bisa mandi lebih dulu. Cassie berada di barisan paling belakang dan bubar bersama teman-teman Culinary Arts-nya. Semalam ia cukup banyak tidur dan sudah membersihkan diri sehingga ia menawarkan diri untuk merapikan stand corndog dan takoyaki milik catering kampus. Toh, semalam ia telah meninggalkan stand itu begitu saja. Jadi bersama dengan para anggota even yang mendapat giliran mandi nanti. Ia mulai ikut menyapu dan merapikan daerah stand-stand yang tiangnya menjadi tempat sandaran plastik hitam besar berisi sampah. Cassie merapatkan jaketnya dan mulai bekerja dalam diam. Namun perhatiannya teralihkan dnegan lantunan nada piano familiar namun asing yang berasal dari panggung. Volume suaranya tidak terlalu keras denan iringan lembut yang membuat kita bernostalgia akan sesuatu. Terdengar sorakan pelan menanggapi permainan piano itu, namun selebihnya tidak ada yang benar-benar tertarik seperti Cassie. Jadi ia berjalan ke arah panggung. Ada beberpa teman satu timnya yang sedang mengumpulkan sampah dan menyapu di area depan panggung. Tapi sepenuhnya mereka mengiraukan apa yang sedang terjadi. Beberapa anggota tim laki-lakinya terlihat sedang membenahi soudns system. Cassie menaydari mereka adalah tim yang dua hari lalu mendapatkan kursus singkat dari pihak sponsor bagaimana mengurus sounds system. Dua orang pria dengan rokok yang tidak pernah lepas dari tangan mereka yang seharusnya bertugas menjaga dan menjadi operator sounds system itu sekarang tengah duduk mengobrol dengan satpam kampus di pos keamanan. Cassie mencoba berjinjit untuk mencaritahu siapa yang ada dibalik keyboard karena seorang anggota timnya sedang berdiri memunggunginya, menghalangi penglihatannya dari siapapun yang duduk di balik keyboard.  Hingga akhirnya pemuda itu turun dan menuju ke tenda pengaturan sounds system dan Cassie tercengang mendapati Ghaniy-lah yang duduk di balik keyboard. Wajahnya tampak serius dengan tangannya yang bersiap diatas tuts. Tangannya nampak cekatan. Begitu ia mendengar teriakan, “oke!” Ghaniy mulai bermain. Nada yang sama kembali terdengar. Kali ini seperti tenah mendengar sebuah lagu favorit yang terlupakan setelah bertahun-tahun tidak diputar Ada aura tersendiri terpancar dari diri pria itu ketika ia bermain. Cassie mendapati dirinya larut dalam alunan sehingga ia nyaris tidak sadar ia telah berdiri mematung di depan panggung seorang diri. Mendengarkan Ghaniy bermain hingga lagu itu selesai. Cassie langsung bertepuk, diiringi oleh sorak-sorai anggota tim yang berada di dekat area panggung. Cassie ikut tertawa ketika Ghaniy malah menutup wajahnya dengan kedua tangan ketika sorak-sorai masih terdengar hingga pria itu turun dari panggung. Cassie menyongsongnya dan mendapati Ghaniy menyambutnya dengan senyum malu-malu. “Itu tadi hebat. Lagu apa itu tadi?” Cassie benar-benar tertarik. “Clair de Lune. Salah satu favoritku. Rsanya sangat cocok untuk dipakai sebagai musik pengantar untuk perkenalan kontestan akhir Duta Kampus...” “Apa Pak Ghaniy yang akan memainkannya nanti?” potong Cassie dengan wajah penuh harap. Ghaniy menggeleng-geleng cepat. “Oh, tidak. Orang lain. Salah satu dari anggota band kampus yang akan melakukannya.” “Kenapa?” “Karena sudah lama sekali aku tidak bermain.” Kali ini Ghaniy menghidnar dari menatap langsung ke wajah Cassie. “Kenapa tidak? Itu tadi hebat dan tidak terdengar seperti sudah lama tidak bermain.” Cassie mendongak. Untuk mencari semacam jejak kebohongan dalam ekspresi itu. Namun yang ia dapatkan malah gurat kesedihan yang datang dalam sekejap dan pergi saat itu juga. “Ada hal-hal yang sebaiknya tidak kamu mengetahui, Cassie. Untuk kebaikan dirimu sendiri.” Ghaniy lalu berbalik ke arahnya. “Kamu sendiri bagaimana? Maag-mu?” Cassie menarik napas kasar sebelum menjawab, “Aku sudah baik-baik saja dan sudah minum obat sejak semalam agar aku tidak masuk angin karena tidur di lantai. Dan Pak Ghaniy? Apa Pak Ghaniy tidur di kursi kerja Pak Ghaniy lagi?” Ghaniy kali ini tersenyum. Uang hangat huilang timbul di kaca kacamataya ketika ia menghembuskan napas. “Saya pindah ke sofa setelah kamu diam-diam pergi meninggalkanku semalam. Dan rasa-rasanya ketika usiaku menginjak lima puluh kelak. Saya tidak akan menjadi full supervisor macam ini lagi untuk junior-junior kalian kelak.” “Tidak ada yang meminta Bapak untuk tetap tinggal begini.” Ghaniy menyeringai. “Kalau begitu apa kamus udah sarapan? Ada kedai bubur ayam...” Seseorang tiba-tiba meneriakkan anma Cassie dengan lantang. Itu gadis dengan kawat gigi semalam. “Saya permisi dulu.” Cassie kemudian langsin berlari menyongsong gadis itu. Setelah itu mereka sama-sama menuju stand miik mereka. Disana tiba-tiba Cassie terinngat kalau ia belum menyetor uang pemsukan jualan mereka kemarin pada gadis itu. “Jadi yang bermin piano itu Pak Ghaniy?” kata gadis itu sambil menghitung uang yang ada di tangan Cassie dan juga memeriksa laporan penjualannya. “Ya! Apa kamu mendengar seluruh lagunya? Permaiannnya heb at sekali!” Cassie anutusias sambil mengelap daerah disekeliling deep fryer yang terkena percikan minyak. “Oh, jadi kalian sedekat itu yah?” tanya gadis itu lagi dengannada yang membuat Cassie terganggu “Ada apa dengan nada bicaramu itu?” Cassie berhenti bicara saat itu juga. Meletakkan tisu dapurnya yang masih terlalu bagus untuk dia buang. Gadis itu membuat gestur tidak dengan tanganya. “Jangan marah. Tapi memang ada rumor aneh menyangkut kalian. Apalagi setelah beliau dengan keras kepalanya memasukkan ke tim promosi yang biasanya berisi anak-anak popular atau anak-anak yang memiliki koneksi.” Gadis itu mendekatkan diri dengan Cassie dan merendahkan suaranya. “Tidak ada yang terjadi diantara kalian, kan?” Cassie merasakan sensasi seperti ditikam di relung d**a. Namu ia berhasil membuat nada bicaranya biasa-biasa saja ketika ia menjawab, “Tentu saja. Beliau berkata ia bisa melihat potensiku setelah apa yang aku lakukan pada kontes wedding cake hari itu. Tidak lebih.” “Tapi melihatmu berlari setelah mendengarnya bermain keyboard tadi...” “Beliau bermain Clair de Lune! Astaga, apa kamu tdiak pernah menonton Twilight?” Cassie memaksakan senyum ketika temannya itu tertawa. “Aku tidak menyangka kamu menyukai film itu.” Cassie mengedikkan bahu. “Aku tidak menyukai fimnya. Tapi aku suka dengan Robert Pattinson? Aoa kamu sendiri tidak?” Mereka berdua tertawa. Dan untuk sesaat Cassie merasa lega untuk sementara ia bisa menghindar dari masalah ini. *** Fiora Widynata sedang mencuci piring ketika ia merasakan punggungnya dieus-elus oleh ibu mertuanya. Ia menoleh untuk melemparkan senyuman kepada wanita itu sebelum kembali menekuni pekerjaannya. “Bagaimana semuanya? Kamu baik-baik saja, kan? Bagaimana dengan Ghaniy?” Fiora memerlukan waktu beberapa detik untuk menjawab, “Semua baik-baik saja Hanya Ghaniy beberapa hari ini sibuk dengan pekerjaannya di kampus. Belum lagi persiapan tahun ajaran baru segera datang.” Ibu mertuanya meremas pundaknya lembut. “Kamu tahu ada saat di mana anak itu sangat keras kepala dan memilih untuk memendam semuanya sendirian.” Fiora memusatkan perhatiannya pada piring bersabun yang ia taruh di bawah keran air yang mengalir. “Ya, Ghaniy memang seperti itu.” Fiora merasakan perasaan kasihan yang tidak tersampaikan oleh ibu mertuanya itu. Sebelas tahun bersama Ghaniy dengan hanya bisa memberi satu anak membuat Fiora merasa bersalah. Walau pria itu selalu berkata tidak ada yang salah. Toh, semua sudah rencana Tuhan. Ghaniy sempat menawarinya untuk kembali bekerja, tapi Fiora sudah nyaman sebagai ibu rumah tangga. “Apakah Ibu pernah berkata bahwa kamu adalah hal terbaik nyang pernah terjadi pada Ghaniy? Dia menjadi lebih dewasa dan bertanggung-jawab setelah berpacaran dan menikah denganmu.” Percakapan mereka disela dengan suara jerit geli dan gelak tawa yang berasal dari ruang tamu. Fiora tidak tahu ia harus menanggapi apa jadi ia hanya tersenyum lagi dan kembali menekuni pekerjaannya. Keheningan diantara ia dan ibu mertuanya sangat canggung walau begitu tidak banyak yang bisa ia lakukan. *** Setelah melalui perdebatan yang seharusnya tidak perlu, Cassie akhrinya memenangkan pertengkaran bersama Fadli di mana mereka berdua akan makan siang. Restoran fastfood yang menyajikan American burger yang otentik. Fadli memilih untuk tidak memesan makanan dan hanya bisa menggeleng ketika Cassie menggigit burger-nya besar-besar hingga mulutnya terbuka lebar. “Aku tidak tahu jika orang yang berduka bisa makan dengan begini lahapnya.” Fadli dengan seringai penuh ejekan. “Kita tidak boleh berduka secara berlebihan. Kasihan pada orangnya yang telah berada di dalam kubur.” Cassie menanggapi setelah menegak minumannya. “Lalu bagaimana nanti jawabanku ketika bosmu di kafe bertanya bagaimana perasaanmu besok?” Fadli duduk dengan dagunya bertopang pada salah satu tangannya di atas meja. “Aku akan katakan kalau aku memakai hari liburku dengan membersihkan pusara dan berdoa. Toh, semuanya adalah kebenaran” “Dan kamu membuatku sebagai kaki tanganmu.” Cassie mengedikkan bahu lalu mencomot satu kentang goreng.   Fadli kembali menggeleng dan berdecak. “Aku hanya tidak ingin berduka di dalam rumah. Dan satu-satunya orang yang terpikirkan olehku untuk menghabiskan waktu adalah Mas. Dan Mas langsung menyetujuinya.” Sekarang Fadli bersandar di punggung kursi dengan kedua lengan terlipat di depan tubuh. “Karena kamu tidak bisa mengajak Ghaniy di tempat terbuka seperti ini.” Cassie memutar matanya terang-terangan. Walau begitu mendengar nama Ghaniy disebut oleh Fadli membuat sedikit selera makannya hilang. “Cassie, sayang. Sebenarnya aku juga memutuskan untuk bertemu denganmu karena aku ingin memberitahumu sesuatu.” Cassie yang tadi sedang memainkan satu potong kentang goreng sekarang mengangkat wajahnya. “Aku rasa aku memutuskan untuk menikah lagi.” Cassie mengerjap. Berita itu terlalu mendadak sehingga ia langsung mendelik. Fadli mendengus. “Aku masih muda dan butuh perhatian. Tidak ada pria sehat sepertiku bisa membujang terlalu lama...” “Percerian terakhir Mas saja belum genap setahun.” Cassie memandang pria itu tidak percaya. “...Ibuku kali ini merasa harus turun tangan. Ia memperlihatkan seorang gadis manis yang masih perawa namun dengan usia matang yang usianya kira-kira tidak jauh beda darimu.” Cassie entah kenapa merasa geli. “Aku tebak gadis itu akan dengan senang hati menjadi istri manis penurut yang siap-sedia menunggu suaminya pulang dengan pakaian bersih dan mekanan hangat mengepul di atas meja?” “Bukannya itu impian semua pria?” Fadli merentangkan kedua tangannya dengan penuh gaya. “Bukanya kalian tidak ingin disama-ratakan satu sama lain?” balas Cassie sengit. “Lagipula gadis seperti itu adalah tipe gadis yang sama sekali tidak tahu dia akan jatuh ke dalam masalah apa.” “Hey! Walaupun aku pernah gagal bukan berarti aku tidak setia.” Cassie melempar kedua tangannya di depan tubuh.Walau ia masih sangat ingin menggoda Fadli, namun ia tahu kapan ia harus berhenti. Pria itu jelas sudah kesal karena perkataannya. Jadi Cassie memakai waktu hening di antara mereka untuk menghabiskan sisa makanannya. Sedangkan Fadli memusatkan perhatiannya kepada pengunjung lain yang berlalu-lalang tidak jauh dari mereka. “Seandainya kamu mau menerimaku aku tidak akan memikirkan untuk mencari gadis lain untuk dinikahi...” Cassie melemparkan pria itu dengan kentang. “Mas Fadli!” seru gadis itu penuh peringatan. “Apa? Hanya kamu sendiri yang menganggap perasaanku padamu hanya main-main belaka. Jangan samakan aku dengan pria beristri yang sedang kamu taksir itu. Kami tidak sama.” Fadli sambil membersihkan bekas kentang yang tadi mendarat tepat di pipinya dengan salah satu tisu makan. “Aku tahu. Mas tidak perlu memberitahuku,” Cassie dengan suara pelan sekali. “Apa yang sebenarnya kamu harapkan terjadi pada hidupmmu Cassie? Kamu masih punya ibu yang membutuhkan, pekerjaann yang mapan, seorang pria yang jelas-jelas bersedia untuk menikahi saat ini juga. Namun kamu malah berlagak seperti semua beban dunia ada padamu.” Fadli meraih gelas soft drink milik Cassie dan menyesapnya banyak-banyak. Cassie mendengus. Mencomot satu kentang dan mengunyahnya perlahan. “Ada saat di mana ketika kita memiliki segalanya, di saat itu pula kita merasa kurang. Bukannya manusia memang selucu itu? *** Ramiel Yusmar sudah lebih jago bertugas sebagai waitres dadakan. Senyum tidak pernah hilang dari wajahnya ketika ia mengantar minuman. Seperti biasa Long Dock baru ramai begitu sore hari tiba. Band yang akan tampil di kafenya hari ini adalah band indie yang cukup terkenal dikalangan anak muda kota tersebut. Sehingga khusus malam ini kafe penuh dengan anak muda sekitar awal dua puluhan tahun. Dengan baki di tangan Ramiel kembali ke balik bar station. Sesekali ia memeriksa arlojinya dan tampak gelisah. Hingga akhirnya ia menaruh baki ke tempatnya dan berlari menuju ruangannya di lantai dua dan sama sekali tidak sadar jika perbuatannya itu mengundang tanda tanya oleh karyawannya yang tidak sengaja melihat kelakuannya. Ia lupa menghidupkan lampu dan saat itu juga ia tersandung oleh salah satu kotak yang ia letakan di lorong menuju ruangannya. Ramiel mengaduh pelan, sambil terpincang-pincang menghidupkan lampu dan menyadari ternyata  ia telah menendang salah satu kotak berisi stok gelas sterofoam minuman panas Ramiel menyumpah dan masih tertatih-tatih ke ruangannya dan duduk di kursi yang ada di seberang meja kerjanya. Setelah apa yang Aksa katakan pada Ramiel. Pikirannya tidak lepas dari bayangan wajah Cassie. Pada saat itulah ia baru sadar jika ia sama sekali tidak pernah mendengar gadis itu menyebutkan apapun tentang kehidupan pribadinya. Sedangkan ia menceritakan segalanya pada gadis itu. Pria itu telah mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mencari nomor Cassie di sana. Ia memandangi nomor itu cukup lama sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menelpon. Begitu ia mendengar nada sambung, Ramiel baru menyadari sebenarnya ia sama sekali tidak tahu ia ingin mengatakan apa pada gadis itu. Diam-diam ia berdoa jika Cassie tidak mengangkat teleponnya. Dan ternyata gadis itu benar tidak mengangkat teleponnya. Ramiel mendesah lega, walau bisa dibilang ia malah makin khawatir. Jadi ia memutuskan untuk mengirim pesan saja. Tapi sekali lagi ia kalah cepat karena pesan Cassie datang lebih dulu. Ada apa, Pak Ramiel? Itu berarti Cassie dalam mode balasan dari permintaan izinnya yang tidak dibalas oleh Ramiel. Karena gadis itu memanggilnya dengan “Pak” alih, alih “Mas” seperti biasanya. Apa kamu baik-baik saja? Akhirnya Ramiel menulis setelah memikirkannya cukup lama. Saya harus baik-baik saja, jawab Cassie tidak berapa lama kemudian. Aku turut berbelasungkawa, balas Ramiel lagi. Terimakasih atas doanya.   Terlalu singkat Tapi toh, memang tidak ada yang perlu dibacarakan lagi. Jadi Ramiel menurunkan ponselnya ke pangkuan lalu mengacak-acak rambutnya kuat. Walau abang Ramiel memberinya izin untuk memarahi gadis itu akan sikapnya yang semaunya. Namun setelah mendengar alasan kenapa gadis itu tidak masu hari ini membuat Ramiel mengurungkan niatnya. Jadi ia hanya menulis, Kita akan briefing hari senin nanti. Kalau bisa datang lebih cepat. Cassie menjawab lebih lama kali ini walau begitu ia hanya menulis. Baik, Pak. Ramiel menghela napas panjang. Lalu menjedut-jedutkan kepalanya di pinggir meja kerjanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan kepada seorang gadis... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN