Ramiel Yusmar baru saja mencatat sesuatu dalam buku jurnalnya ketika ia mendapatkan telepon. Nama Yuri mengedip-ngedip di sana, membuat Ramiel menghempaskan diri ke punggung kursi. Hari itu ketika ia menyatakan diri jika ia tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Yuri. Ia langsung menemui orangtua Yuri. Gadis itu sama sekali tidak keluar dari kamar untuk menemuinya. Ramiel menyangka jika setelah itu ia tidak akan mendengar suara atau bertemu langsung dengan Yuri lagi. Karena gadis itu adalah gadis baik-baik. Sama sekali tidak layak untuk diperlakukan tidak baik. Ramiel akhirnya mengangkat telepon itu. Perlahan mendekatkan ponsel ke telinga. “Hello?” sapanya lembut sekali. “Mas Ramiel, maafkan aku hari itu aku... Hanya berusaha untuk tidak mempermalukan diriku sendiri.” Ramiel sekar

