Ghaniy tidak akan sadar ia tengah berada di mana jika seorang mahasiswanya menegurnya sambil membungkuk di depan meja kerjanya. “Pak Ghaniy? Apa Bapak tidak apa-apa?” Pria itu mengerjap. Sejenak melepas kacamatanya untuk memijat pangkal hidungnya sejenak. “Saya baik-baik saja. Ada apa?” Mahasiswa itu menatap Ghaniy selama beberapa detik sebelum menaruh setumpuk makalah di depan Ghaniy. Membuat meja kerjanya semakin penuh. “Ini tugas-tugas yang Bapak minta saya kumpulkan.” Ghaniy mengucap terimakasih dengan lirih. Mahasiswa itu menanggapinya dengan anggukan sekali sebelum kembali berkata, “Pak Ghaniy betul tidak apa-apa? Bapak pucat sekali. Apa butuh saya carikan obat...” Ghaniy nyaris kehilangan kesabarannya, namun ia masih bisa menahan ekspresi wajahnya tetap datar ketika ia berkata

