19

1025 Kata
Jumat malam dan Ghaniy Cakradana sudah duduk di salah satu meja Long Deck Caffe sejak petang tadi. Ice Cappucino-nya sudah tinggal setengah ketika makin malam kafe ini penuh dengan pengunjung. Ghaniy mengedarkan pandangannya. Ada segerombolan pemuda yang sekarang tengah memasang alat band mereka di sudut live music Long Dock. Suara check sounds mendominasi suara dengung percakapan, derit kaki kursi tergeser di lantai, dan tawa. Sepertinya acara musik setiap akhir pekan Long Dock adalah acara yang ditunggu-tunggu. Ghaniy bahkan bisa merasakan keantusiasan followers i********: kafe ini ketika ia mengecek sosial medianya beberapa saat lalu. Selama ia duduk di kursinya hanya beberapa kali ia bisa melihat Cassie. Gadis itu sibuk mondar-mandir menata rak display cake dan roti. Sesekali memberi instruksi kepada para koleganya dalam menghadapi para pengunjung yang semakin memadat. Ada aura tersendiri menguar dari tubuhnya ketika ia melakukannya. Tiba-tiba Ghaniy teringat tentang kejadian beberapa hari lalu ketika ia tidak sengaja bertemu dengan Cassie di salah satu mall di kota mereka. Dari banyaknya pria yang bisa bersama gadis itu. Ghaniy malah mendapatinya bersama Sang Manajer Perusahaan Minuman Bersoda itu. Mereka tampak akrab – atau Ghaniy mau tidak mau mengakuinya – mesra. Dengan lengan pria itu berada di pundak Cassie dan gadis itu tidak terpengaruh olehnya. Seorang pria dengan seragam koki yang sama menepuk pundak gadis itu ketika ia tengah mengelap bekas remah roti di salah satu piring di rak display. Ghaniy itu menoleh untuk mendengar apapun yang pria itu katakan padanya sebelum mengangguk dan melambai. Pada saat itu juga akhirnya Ghaniy menyadari semua kolega Cassie adalah pria-pria muda yang tampaknya seusia dengannya. Apa mungkin sudah menjadi kebiasaan Cassie untuk selalu berakhir berada di tengah-tengah para pria. Cassie bahkan tidak terganggu olehnya. Ghaniy tahu gadis itu bisa menjaga dirinya, tapi bukan berarti ia  tidak tahu apa yang selalu ada dalam kepala setiap pria. Tanpa aba-aba suara denging berasal dari gitar listrik merubah dengung percakapan menjadi suara jerit terkejut bukan dari satu mulut saja.  Bahkan wajah Ghaniy juga mengerut karenanya. Cassie bahkan terlihat mengelus-elus bagian depan tubuhnya. Menghadap ke arah para koleganya yang berada di balik bar station. Pria-pria yang ada di sana malah tersenyum lebar. Jelas menggodanya. Ghaniy sebenarnya sempat ingin membatalkan kedatangannya ke Long Dock. Tapi kalau berpikir-pikir Cassie memintanya datang beberapa hari sebelum kejadian di mall. Dan ia tahu akan sangat aneh jika ia membatalkan janji disaat terakhir. Lagipula apa yang ada di pikiran Ghaniy hari itu ketika ia memutuskan untuk menelpon Cassie? Ia sebenarnya tidak ingin mengakui bahwa ekspresi nyaris menangis yang ditunjukkan oleh Cassie hari itu mengganggunya. Lalu setelah mendengar alasan kenapa Cassie bisa sampai seperti itu. Kenapa pula Cassie tidak bersikap yang sama dengan Sang Manajer? Dan kenapa pula Ghaniy harus merasa terganggu? Salah satu anggota band berjalan ke arah Cassie dan mengatakan sesuatu. Namun karena suasana kafe yang berisik membuat pemuda itu menunduk untuk membisikkan sesuatu langsung ke telinga gadis itu. Cassie kemudian mengangguk-angguk. Berjinjit untuk membalas apapun perkataan dari pemuda itu. Si Pemuda tampak senang sebelum memberi Cassie acungan jempol. Ghaniy harus menjulurkan leher tadi agar bisa melihat apa yang terjadi. Dan sekarang ia berpura-pura duduk manis dengan lagak acuh ketika Cassie berjalan tepat ke mejanya. “Pak Ghaniy...” “Aku kira kamu sama sekali tidak tahu kalau aku berada di sini.” Kalimat itu keluar saja dari mulut Ghaniy tanpa bisa ia cegah. Dan lebih ketus dari ia duga. Namun gadis itu tidak terpengaruh sama sekali. “Pianis mereka mendadak sakit. Apa Bapak mau menggantikannya? Aku bilang Bapak adalah pianis yang andal.” Ghaniy mengerjap. Mulutnya terbuka lalu tertutup sebelum ia berkata dengan panik, “Aku sudah lama tidak bermain...” Ghaniy tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Cassie sudah menarik lengan bajunya dan menyeretnya dari kursinya. Gadis itu membawa Ghaniy ke depan pemuda yang tadi berbisik padanya. “Nah, pria berumur ini adalah pianis kalian malam ini!” seru Cassie sambil mendorongnya maju Seluruh anggota band terdiri dari empat orang itu memandang Ghaniy dengan pandangan menilai terang-terangan. “Tapi aku sama sekali tidak update dengan lagu terbaru...” Ghaniy mengedarkan pandangannya sebelum mendelik kepada Cassie. Cassie mengedikkan bahu. “Beruntunglah karena mereka adalah band yang menyukai meng-cover lagu hits 90-an. Saya tahu Bapak tahu list lagunya.” Para anggota band saling pandang sebelum si pemuda memgangguk-angguk. “Tidak ada salahnya mencoba... *** Cassie Ardana menahan senyumnya ketika akhirnya Ghaniy menyerah dan duduk di belakang keyboard dengan sikap ogah-ogahan. Masih ada sisa-sisa panik dalam wajah pria itu ketika ia mencoba menyetel keyboard itu selama sang vocalis menjelaskan entah apa padanya. Ghaniy mendengarkan sambil terus mengotak-atik keyboard. Pertama kali Cassie mendengar Ghaniy bermain keyboard adalah malam kedua acara even yang menjadi hasil dari matakuliah Ghaniy di tahun 2016 saat itu. Tidak seperti orang lain yang terpesona dengan lagu yang dimainkan, Cassie lebih tertarik dengan ekspresi Ghaniy ketika bermain. Ada cinta yang tidak terucap dalam setiap nada yang dimainkan oleh pria itu. Ekspresinya ketika bermain dan bagaimana Ghaniy terlihat lebih bahagia dibalik keyboard sana daripada dibalik meja kerjanya di kampus... Sang vocalis mendengar beberapa nada yang dimainkan Ghaniy sebagai pemanasan dan ada ekspresi takjub yang muncul di wajah pemuda itu setelahnya. Ada deru “oh” dan “cie” dari para pengunjung membuat Ghaniy semakin tersipu. Sang vocalis kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Ghaniy yang didengarkan pria itu dengan serius sebelum mengangguk-angguk dan mengacungkan jempol. Sang vocalis mengucapkan salam dan memperkenalkan para personilnya. Ia agak gelagapan untuk menyebut nama Ghaniy, mengundang dengung tawa. Lagi pertama mereka adalah Mahadewi dari Padi. Cassie memerhatikan Ghaniy dengan cepat beradaptasi gaya dari band itu. Tanpa sadar menggerak-gerakkan kakinya mengikuti irama... Cassie baru sadar ia seharusnya tidak berada di sana terlalu lama begitu lagu selesai. Cepat-cepat ia berbalik sambil merutuki dirinya sendiri. Denyut menyakitkan di relung dadanya kembali terasa... Kenangannya tentang pertemuannya dengan Ghaniy secara tidak sengaja beberapa hari lalu mendominasi ingatannya saat ini. Siluet kedua orang yang ditunggui oleh Ghaniy hari itu. Percakapan-percakapan mereka dahulu... Cassie harus bisa menguatkan hatinya lagi. Apalagi setelah setelah ia membiarkan dirinya berlaku seenaknya begitu ia kembali menginjakkan kaki di kota kelahirannya ini.  Ghaniy dibiarkan melakukan solo performance beberapa saat dan semua orang kembali berseru senang. Nada yang tidak asing dengan Cassie. Claire de Lune... ***       
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN