18

1189 Kata
Ghaniy Cakradana muda duduk di salah satu meja di depan stand-stand yang menjajakan makanan di even Winter For You milik angkatan 2013 itu. Mereka berhasil menggaet banyak brand yang menjajakan berbagai macam makanan dan minuman dari berbagai negara. Sebentar lagi petang dan lampu-lampu hias kuning sudah mulai dinyalakan. Di atas kepalanya terdapat hiasan berbentuk salju dengan berbagai bentuk. Kontras dengan stand yang berwarna merah. Stand up standee berbentuk snowman dan juga logo even mereka. Menjadi spot selfie bagi pengunjung even. Menurut Ghaniy even tahun 2016 ini jauh lebih menarik daripada yang dilaksanakan oleh senior mereka terdahulu. Mengingat mereka berhasil membuat iklan di beberapa radio lokal dan surat kabar tanpa mengeluarkan uang sepeser-pun.  Ghaniy kembali mengedarkan pandangan. Setiap stand sedang mengurus pelanggan mereka dengan senyum merekah di wajah. Terutama stand katering kampus yang menjajakan makanan kecil berupa takoyaki dan corn dog.  Cassie berada di depan dan tengah sibuk memasak takoyaki sambil tertawa-tawa. Ia jelas lebih nyaman berada diantara teman-teman satu jurusannya. Tanpa sadar menggigit bibirnya ketika membolak-balik bola-bola takoyaki. Serius sekali. Membuat Ghaniy harus menopang kepalanya dengan tangan... Ghaniy tiba-tiba teringat kejadian tadi siang. Ketika ia tertidur di ruangannya dan Cassie datang untuk mengambil sesuatu untuk temannya. Ia terbangun tepat ketika gadis itu mencopot kacamata dari wajahnya... Ghaniy merasakan ujung jemari gadis itu di hidungnya... Kejadian itu sama sekali bukan kejadian yang ia bisa singgung semaunya. Ia tahu ia harus berterimakasih. Tapi kapan tepatnya ia sendiri sedang mencari waktu... Cassie memindahkan takoyaki dari cetakan ke dalam kotak bersaman dengan seorang pria beranjak dari kursi tidak jauh dari stand gadis itu dan mendekat ke arahnya. Melihat mereka berinteraksi membuat Ghaniy melepaskan tangan dari bawah dagunya, waspada. Pria itu adalah pria yang ikut dalam rombongan anak buah perusahaan minuman bersoda yang menjadi sponsor utama mereka. Dari lagak dan cara berpakaiannya pria itu bukan salah satu staf rendahan perusahaan tersebut. Cassie sekali lagi menampakkan kepiawaiannya dalam berkata-kata sebelum Ghaniy mendapati pria itu mengedip ke arahnya sebelum berbalik kembali ke mejanya dengan sekotak takoyaki mengepul di tangan. Dua mahasiswi yang menemani Cassie saling pandang sebelum terbahak-bahak, membuat Cassie memberi mereka isyarat diam dengan telunjuk. Walau Ghaniy tahu gadis itu juga menahan tawanya dengan menggigit bibir. Bisa dibilang tugas Cassie selesai. Panggung sudah terpasang hingga dua hari ke depan. Stand-stand vendor telah terisi dan sekarang ia tengah “menemani” sponsor. Cassie melepas celemeknya sebelum ikut duduk di meja yang sama dan saling berhadapan. Ghaniy tidak bisa melihat wajah Cassie karena gadis itu duduk memunggunginya. Sekarang pria itu mengangguk-angguk dengan mulut penuh. Tampak menikmati makanannya dengan sekaleng kola dingin yang baru saja ia buka. Ghaniy mendadak ingin takoyaki jadi ia mendatangi stand itu . Kedua mahasiswi yang berada di balik meja langsung berdiri, memasang ekspresi serius. Ia kemudian menyebutkan pesanannya dan hanya tersenyum ketika salah satu mahasiswi memintanya untuk duduk saja selama menunggu. “Ini adalah even mahasiswa pertama yang aku kunjungi dan cukup meriah,” ucap si pria asing tida begitu jelas. Ghaniy melirik dari bahunya dan mendapati pria asing itu berbicara dengan mulut penuh. “Saya tidak begitu tahu bagaimana mereka melakukannya, tapi tim memang berhasil membuat iklan di beberapa stasiun radio dan portal berita online lokal.”Cassie menjelaskan. “Mungkin karena mereka banyak teman. Tidak seperti kamu.” Tidak ada tanggapan hingga ia mendengar suara tersedak tiba-tiba. Cassie langsung beranjak menu drink truck yang tidak jauh dari mereka. Memberli dua botol air mineral di sana sebelum ia serahkan satu pada pria asing itu. Wajah putih bersih pria asing itu sekarang merah padam dan ia menegak air putih yang Cassie berikan banyak-banyak. Ghaniy kembali berbalik dan melihat takoyakinya tengah dibalik-balik dan berbentuk builat sempurna. Wanginya membuatnya langsung lapar. “Saya tidak pernah melihat karma yang bekerja secepat ini.” Cassie tanpa ampun. Suara pria itu serak ketika ia menanggapi, “Dan kamu adalah teman yang berbahaya. Apa kamu ini? Penyihir?” Ghaniy berjinjit-jinjit ketika takoyaki sudah matang dan sedang diberi saos dan ikan katshoubushi. “Jadi sampai kapan Bapak akan berada di sini?” Cassie bertanya setelah lama hening di antara mereka. “Sampai performance dari band kesukaanku manggung. Dan itu berarti kamu masih harus menemaniku sampai selesai.” Ghaniy mengerjap ketika salah satu dari mahasiswi itu memanggilnya. Takoyaki Ghaniy telah selesai dan tampak bulat, mengilat, dan mengiurkan. Setelah membayar ia tidak lupa diberi sumpit dan tisu makan. Ghaniy kembali duduk di mejanya yang tadi karena meja terdekat dari keduanya sudah ditempati oleh orang lain. Ghaniy makan dalam diam. Sesekali melirik ke arah meja keduanya dan si pria jelas sekali tampak menikmati percakapannya dengan Cassie hingga tidak sadar jika makanannya telah habis. Setelah beberapa percakapan lagi dan pria itu menegak air putihnya hingga habis sebelum keduanya beranjak... Bersamaan dengan itu Ghaniy juga tiba-tiba tersedak dengan takoyaki. Sambil terus terbatuk ia mengutuk diri karena lupa membeli minuman. Akibat itu ia merasakan kepalanya berdenging dan tenggorkannya sakit. Setelah batuknya cukup reda, ia sadar seseorang telah menaruh sebotol air putih di hadapannya dan ketika ia menyadari siapa. Cassie sudah berbalik pergi. Mengikuti si pria asing yang menunggunya tidak jauh... Ghaniy cepat-cepat meneguk air putih itu untuk melegakan tenggorokannya. Kemudian mengelap matanya yang basah karena air mata. Ia butuh berdeham berkali-kali agar dahak di tenggorokannya menghilang... Ia mengambil cukup banyak waktu untuk menenangkan diri dan menghabiskan sisa makanannya. Walaupun ingin sekali tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Cassie dan pria asing itu. Ia merasa sayang jika meninggalkan takoyakinya begitu saja. Jadi ia menghabiskannya dalam diam hingga matahari benar-benar telah menghilang dan lampu-lampu stand mulai terlihat keindahannya. Banyak pengunjung yang takjub dengan dekorasi yang dibuat itu. Apalagi para anggota penyelenggara even dengan seragam mereka sekarang berlalu-lalang dengan syal, topi rajut, dan sarung tangan. Seakan-akan mereka memang ditengah musim dingin. Udara malam pada musim kemarau memang membuat mereka tidak salah berdandan seperti itu.   Ghaniy beranjak dari meja-meja stand. Banyak anggota tim yang sekarang tampak lebih sibuk dan berlarian namun tidak lupa untuk menyapanya dengan satu kali anggukan. Ghaniy mengedarkan pandangannya sambil berjalan. Botol air putih yang diberikan Cassie masih ada di tangannya. Tidak berapa lama kemudian ia menemukan Cassie masih bersama pria asing itu. Keduanya berdiri bersisian sambil menonton para anggota band indie tersebut sedang mengecek sound system di panggung. Kedua tangan gadis itu bertaut di belakang tubuh dan jelas santai. Sebelum akhrinya Sang Sekretaris Even mendatanginya untuk memberinya syal dan topi rajut. Sang Sekretaris menatap mereka berdua bergantian sebelum membungkuk sedikit dan berlalu. Menurut Ghaniy Cassie tidak perlu dibantu untuk memakai syal dan topi rajutnya dan sepertinya begitu juga menurut gadis itu. Tapi si pria asing sudah mengambil keduanya dari tangan Cassie dan memakaikannya pada gadis itu. Dengan piawai melilit syal di leher Cassie sampai kepala gadis itu mendongak dan nyaris terjerembab ke belakanng. Cassie mendelik marah dan si pria asing tidak tampak merasa bersalah... Ghaniy mengerjap ketika akhirnya ia menyadari seseorang tengah memanggil-manggil namanya. Begitu ia menyadari yang memanggilnya itu Sang Sekretaris Even, ia langsung memasang senyum. Ada syal dan topi rajut di di tangan gadis itu. “Apa Bapak mau pakai juga?” Ghaniy menyadari warna syal yang disodorkan padanya sama dengan milik Cassie. “Tentu saja,” ucap Ghaniy mengambil syal itu. “Malam ini akan sangat panjang, kan?” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN