Fiora Widyanata memerhatikan kotak kue Long Dock Cafe yang ada di meja makan rumahnya dengan tertarik. Beberapa pekan terakhir ini ia sering melihat keberadaan kotak kue ini di rumahnya. Sepertinya suaminya suka sekali dengan cake buatan kafe ini, begitu juga dengan putra mereka.
Mereka baru saja selesai makan malam dan Fiora tengah mengelap bersih meja makan. Sekarang putranya sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya di ruang tamu sedangkan Ghaniy sedang berada di kamar mandi. Fiora lalu menyelesaikan tugasnya hingga mencuci piring. Ia sedang mengelap tanganya yang basah ketika ia mendengar putranya berteriak meminta bantuan.
Fiora menyahuti panggilan itu dan segera menyusul ke ruang tamu. Putranya kesulitan mengerjakan tugas matematika sehingga membuatnya harus berpikir keras bagaimana cara menjelaskan jawaban soal itu kepada putranya tampak membaut bocah itu kebingungan. Fiora nyaris menyerah ketika Ghaniy akhirnya muncul dan bertanya apa yang terjadi. Fiora memerhatikan Ghaniy yang berambut basah dan segar sehabis mandi yang duduk di sampingnya. Dan mulai menjelaskan jawaban soal yang ditanyakan oleh putra mereka. Wangi sabun menguar dari tubuh Ghaniy membuat Fiora menyeringai lebar.
“Apa?” tanya Ghaniy tiba-tiba.
Fiora hanya mengedikkan bahu sekali. “Kamu wangi. Aku suka.”
Ghaniy memandanginya selama dua detik penuh sebelum menyeringai. Pria itu lalu bersandar melorot di sofa, melihat sesuatu pada ponselnya. Fiora kembali berkutat pada soal matematika putranya ketika ia mendengar suara tawa dari Ghaniy, membuat wanita itu penasaran.
“Kenapa kamu tertawa?” tanyanya sambil ikut bersandar di dekat Ghaniy. Dagunya nyaris menyentuh pundak Ghaniy, namun tidak cukup dekat untuk bisa melihat apa yang tertera di layar ponsel suaminya itu.
“Seseorang mengunggah foto ketika masih kuliah dulu. Lihatlah.” Ghnaiy kemudian menyodorkan ponselnya. Ada foto dengan wajah-wajah muda dengan seragam himpunan fakultas. Fiora mengedarkan pandangannya, mencoba mengenali satu-persatu wajah senior kampusnya yang ada di sana.
“Lihat bagaimana wajah-wajah penuh idelias ini. Bermimpi untuk mengubah dunia suatu saat nanti. Namun kebanyakan di antara menjadi b***k perusahaan atau sudah dipanggil oleh Tuhan.”
Fiora mengulum senyum. “Takdir tidak ada yang tahu. Buktinya aku menikah denganmu.”
Ghaniy mendesah panjang. “Sampai saat ini pun juga masih banyak yang tidak percaya aku bisa menikahi. Primadona kampus.”
Fiora mengangkat wajahnya dan pandangan mereka bertemu. Ada senyum tipis yang terukir di wajahnya sebelum mereka kembali mendengar rengekan putra mereka, meminta bantuan. Ghaniy mengganggam wajah Fiora, menyapukan ibu jarinya di tulang pipi Fiora sebelum menyahuti panggilan putra mereka itu...
***
Cassie duduk di kursi tunggu dengan kakinya yang terus-terus bergerak. Ada beberapa kantongan belanja di dekat kakinya dan dua pertiga dari belanjaan itu bukan miliknya. Melainkan seorang pria yang tengah sibuk bertukar pendapat dengan seorang pramuniaga tentang sebuah kemeja buatan desainer yang tengah ia pegang.
Cassie mengerang pelan. Sang Manajer Perusahaan Minuman Bersoda itu sekarang membuat si pramuniaga malang itu tertawa keras hingga menutup mulutnya dengan tangan. Jelas sudah termakan pesona yang sengaja ditebar oleh Sang Manajer itu.
“Apa Bapak sudah memutuskan?” potong Cassie keras. Ia sudah tidak tahan. Pria itu sekarang menoleh ke arahnya dengan mata menyipit. Jelas tidak setuju dengan sikapnya itu. “Percakapan kalian terlalu lama hanya untuk selembar kemeja!”
Sang Manajer menggeleng sebelum berkata dengan menyodorkan kemeja yang ada di tangannya kepada sang pramuniaga. “Iya, saya mau ini.”
Setelah si pramuniaga itu beranjak pergi untuk memproses pesanannya, pria itu lalu mengambil duduk di sebelah Cassie. Ia menyenggol Cassie dengan bahunya ketika berkata, “Kenapa bersungut-sungut begitu? Aku sedang mengajakmu berbelanja. Bukan sedang menghukumu dengan sesuatu.”
“Menunggu adalah sebuah hukuman. Apa Bapak tidak pernah mendengarnya?” balas Cassie dengan sikap ogah-ogahan.
“Apa kamu mencoba untuk menyinggungku? Dan ngomong-ngomong kapan kamu berhenti memanggilku dengan embel Bapak? Aku tidak setua itu.”
Cassie kembali menoleh. Sengaja memandang Sang Manajer dari atas kepala hingga kaki kemudian kembali ke wajahnya. “Untuk ukuran pria muda yang sudah menikah dua kali. Memang seharusnya dipanggil “Bapak.””
Si Pramuniaga sudah berjalan ke arah mereka sekarang. Jadi Sang Manajer berbisik tepat di telinga Cassie sekarang. “Untukmu, Cassie. Kamu boleh memanggilku dengan nama. Dengan embel “Mas” juga boleh. Kamu bukan mahasiswi lagi. Dan sudah pasti tidak muda lagi.”
Cassie memutar bola matanya terang-terangan.
Gadis itu mencoba mengingat-ngingat kenapa ia setuju mengorbankan hari liburnya untuk menemani pria ini belanja untuk menghadiri acara pernikahan pasangan yang hari itu menemani Cassie untuk bertemu dengan pria menyebalkan yang baru saja beranjak berdiri dari sisi Cassie untuk membayar belanjaannya di kasir. Pria itu langsung menelponnya begitu ia juga mendapatkan undangan dan sangat senang begitu mengetahui jika Cassie sudah kembali dari ibukota.
“Kalau begitu kita bisa pergi bersama!” seru pria itu hingga membuat Cassie menjauhkan ponsel dari telinga.
Sang Manajer adalah salah satu dari segelintir orang dari masa lalunya yang masih sering ia hubungi. Pria itu menerima “kekasaran” kata-katanya dengan lapang hati dan mempunyai cara sendiri untuk membalas Cassie. Ia bahkan jauh lebih baik menghadapi Cassie daripada Ghaniy...
Ghaniy. Mengingat nama itu membuta Cassie menyeringai. Ia menutupinya dnegan menunduk memandangi kakinya.
Setelah pembayaran selesai yang diikuti oleh ucapan selamat tinggal yang berlebihan, akhirnya mereka meninggalkan butik tersebut. Sang Manajer mengambil sebagian tas belanja dari tangan Cassie sebelum melingkarkan lengannya di pundak gadis itu. Cassie merasa sedikit risih dan berusaha untuk melepaskan diri sebelum ia mengenali seorang pria yang berdiri di depan sebuah butik yang menjual pakaian keluarga. Ia bersandar di pagar pembatas lantai dengan sikap santai.
Cassie tetap membiarkan dirinya tetap berada di dalam rangkulan itu hingga mereka berjalan ke arahnya. Setengah diri Cassie berharap ia tidak dikenali, setengah lagi menginginkan ia dikenali...
“Cassie!”
Saat itu juga Cassie berhenti melangkah dan berbalik. Nyaris membuat Sang Manajer terjatuh ke depan.
“Pak Ghaniy! Hai!” sapanya dengan nada terlalu tinggi. Ia merutuki dirinya sendiri karena itu.
Ghaniy berdiri tegak dengan kedua tangan di saku. Sekarang ia tengah mengedikkan dagu ke arah pria yang ada di samping Cassie. “Hari ini hari liburmu, ya?”
Cassie mengangguk dan sebelum ia mengatakan apapun Sang Manajer sudah lebih dulu menudingkan jari ke arah Ghaniy. “Bukannya Anda adalah dosen pembina even Cassie hari itu, ya?”
Ghaniy melirik ke arah Cassie sejenak sebelum menjawab dengan senyum yang tidak sampai ke matanya. “Yeah, betul. Dan Anda adalah manajer dari perusahaan minuman bersoda itu.”
Lengan di bahu Cassie mengencangkan pegangannya. “Anda benar. Senang bisa berjumpa dengan Anda lagi. Tapi maaf, kami buru-buru.”
Pernyataan itu membuat Ghaniy mengerjap. Ia lalu membuat isyarat dengan tangannya sambil berkata, “Silahkan. Semoga hari libur kalian menyenangkan.”
Cassie belum selesai membungkuk ketika ia merasakan tubuhnya diputar paksa, meninggalkan Ghaniy. Cassie berhasil melihat istri dan putra pria itu yang sedang berada di dalam butik sebelum mereka cukup jauh.
Cassie mendongak, memandang marah ke arah pria yang masih terus merangkulnya itu. Sambil terus berjalan pria itu berkata tanpa melirik ke arah Cassie sama sekali. “Apa? Bukannya itu yang kamu mau?”
***