16-2

1224 Kata
Cassie Ardana muda sedang bersusah-susah membawa bungkusan besar berisi sepuluh kotak kue untuk peserta seminar pariwisata di ballroom kampus. Seorang panitia laki-laki yang adalah teman satu tim even nya itu menerima bungkusannya tanpa melihat ke arahnya. Tampak sibuk sekali hingga Cassie bahkan harus menahan tawa. Kue di dalam kotak itu adalah hasil buatan anak-anak Culinary Arts and Pastry sekaligus untuk memperkenalkan catering milik kampus mereka sehingga kotaknya didesain mirip dengan logo kampus. Kampus mereka memiliki sendiri memiliki dua ballroom yang bisa disewa untuk keperluan umum. Sehingga tidak jarang banyak mahasiswa dari Culinary Arts and Pastry mencari uang tambahan dengan menjadi tim catering milik kampus dikepalai oleh seorang chef yang juga adalah dosen mereka. Seminar pariwisata itu diikuti oleh masyarakat dari beragam usia dan kalangan yang bekerja di bidang tour and travel. Cassie tidak begitu tahu bagaimana teman-temannya yang lain bisa mendapatkan pemateri yang andal hingga mengundang kepala dinas pariwisata kota mereka. Seminar itu bisa dibilang berhasil dengan jumlah peserta yang hadir lebih banyak dari yang mereka duga sebelumnya. Setelah Cassie yakin ia tidak dibutuhkan lagi ia meningglkan ballroom tersebut menuju pelataran parkir yang menjadi vanue utama dari even mereka. Sang Manajer perusahaan minuman bersoda itu berkata timnya akan datang setelah tengah hari. Even yang bertajuk Winter For You ini berlangsung selama tiga hari dua malam. Hari pertama diisi oleh seminar-seminar bertajuk pariwisata dan traveling. Sedangkan hari kedua dan hari ketiga diisi dengan bazar makanan dan paket wisata dalam dan luar negeri, pemilihan Duta Kampus yang sebelumnya sudah melewati tahap seleksi jauh hari sebelum even dilaksanakan, dan hiburan oleh artis lokal. Para vendor baru akan datang sore harinya. Acara digelar hingga tengah malam sehingga para kru kebanyakan berniat menginap di kampus. Peralatan parkir sudah kosong sejak pagi tadi dan siap untuk ditata dengan tema musim dingin di tengah musim kemarau yang menyengat. Cassie menghentikan langkah begitu ia mendengar seseorang memanggil namanya. Itu Si Sekretaris Even dengan napas terengah dan wajah bersimbah keringat. “Anak-anak lapangan tidak ada yang memegang denah vanue! Kamu bisa tolong ke ruangan Pak Ghaniy. Di atas meja tamu beliau ada yang sudah di-print. Tolong kamu fotokopi beberapa lembar. Oke?” Cassie mengangguk saat itu juga bersamaan dengan Si Sekretaris tengah membungkuk sambil memegang dadanya. Cassie memang menyadari ada beberapa temannya tengah berkumpul dengan atribut dekorasi dan masih tampak kebingungan dan itu membuat Cassie menggeleng-geleng. Ruangan Ghaniy adalah ruangan sendiri yang terletak disudut terjauh lantai. Karena pintunya tertutup jadi Cassie mengetuk dan masih tidak mendengarkan jawaban apapun hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka pintu. Hal pertama yang Cassie lihat did alam ruangan itu adalah tumpukan tas di lantai dan juga kertas-kertas di atas meja tamu. Cassie mendapati tas si sekretaris mendapat kehormatan berada di atas sofa. Untungnya Cassie tidak perlu mencari terlalu jauh tugas yang diberikan padanya karena ia langsung menemukannya ditumpukan teratas kertas-kertas yang berserakan itu. Tiba-tiba ia mendengar suara napas tercekat, membuat Cassie berjengit kaget. Ia langsung membekap mulutnya dan tidak jadi bersumpah-serapah begitu mengetahui jika yang melakukan itu adalah Ghaniy yang tengah tertidur di kursi kerjanya. Tubuhnya melorot di kursi dan kepalanya terkulai di bahu. Kacamatanya masih terpasang di wajah dan posisi tidurnya melorot, tidak nyaman. Ghaniy ikut memantau perkembangan even sehingga ia pasti kelelahan. Hingga tanpa sadar Cassie sudah mendekat dan tercabik dengan perasaan apakah pantas jika ia paling tidak bisa melepas kacamata Ghaniy yang sekarang miring dan frame-nya menusuk-nusuk hidungnya. Tapi tidur Ghaniy nampak nyenyak sekali, membuat Cassie akhirnya memutuskan tidak apa-apa jika ia paling tidak melepas kacamata Ghaniy dari wajahnya. Jadi ia memutari meja kerja Ghaniy dan membungkuk di sebelahnya. Tangannya terulur ke depan wajah Ghaniy. Gadis itu bisa merasakan hembusan lembut napas Ghaniy di tangannya ketika ia menarik lepas kacamata itu selembut dan secepat yang ia bisa. Ia merasakan ujung jempolnya mengenai sedikit kulit Ghaniy ketika ia melakukannya. Dengan lembut ia melipat kacamata itu, menaruhnya di atas meja. Cassie mengambil cukup banyak waktu untuk memandangi wajah Ghaniy  tanpa kacamata itu. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu tanpa memakainya. Ghaniy kelihatan tampak lebih muda tanpa kerutan yang sepertinya selalu muncul di dahinya setiap kali ia tengah memikirkan atau mengingat sesuatu. Pembawaannya yang santai dan tidak ada tanda-tanda jika ingin dianggap tua Ghaniy sesekali melemparkan lelucon garing di kelas. Cassie kemudian beralih pada meja kerja Ghaniy. Meja itu penuh dengan pekerjaan tanpa ada tanda-tanda sentuhan pribadi di dalamnya. Ghaniy sepertinya juga tidak repot-repot ingin membenahi mejanya... Gadis itu lalu ingat ia bahkan nyaris meneriaki dosennya itu ketika memasukkannya ke dalam tim promosi. Cassie tidak pernah suka menjadi pusat perhatian. Ia ingin hidupnya berjalan tanpa ada kendala yang berarti.  Tapi sepertinya banyak orang yang menganggapnya sebagai saingan karena ia dengan lantang mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya... Ghaniy berbicara bisa bicara dengan bahasanya. Itu yang Cassie sadari begitu ia mendapatkan beberapa kesempatan untuk mengobrol diluar bahasan mata kuliah dengan dosennya itu. Cassie merasakan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Buru-buru ia beranjak dari tempatnya berdiri. Tidak lupa menyambar kertas denah vanue yang ditugaskan padanya. Itu anak buah Sang Manajer Perusahan Minuman Bersoda menanyakan keberadaan dirinya. Cassie berkata ia akan  segera menyusul kemudian meminta Sang Sekretaris Even untuk menyambut mereka lebih dulu selama ia melakukan fotokopi. Dengan ponsel masih di terjepit di bahu dan pipinya, ia menutup pintu ruangan Ghaniy dengan perlahan.  Cassie berlari meninggalkan ruangan Ghaniy dengan langkah yang bergema. Ia langsung berbelok ke koperasi. Ia mendesah penuh syukur karena ia tidak perlu mengantri. Cassie tidak butuh waktu lama untuk menemukan rombongan anak buah Sang Manajer. Mereka memakai seragam merah-merah, ciri khas dari perusahaan tersebut. Namun yang membuat Cassie berhenti berlari adalah Sang Manajer ada diantara tim berbaju merah itu. Pria nyentrik itu berbalik ke arahnya begitu Sang Sekretaris Even memberitahunya kedatangan Cassie. “Bapak datang juga?” Pertanyaan Cassie mendapat hadiah pelototan dari Sang Sekretaris. Tanpa  Gadis itu menarik kertas dari tangan Cassie sebelum mengucap salam dan pergi. Tidak lupa sekali lagi ia melirik jengkel ke arah Cassie sebelum mengembalikan satu lembar ke d**a Cassie. Membuat gadis itu terhuyung ke belakang sedikit, namun tidak begitu terpengaruh. “Tentu saja. Dan yang aku dengar kalian melakukan even yang serupa setiap tahun sebelumnya. Kenapa tidak ada yang pernah memberitahuku?” Kedua tangan Sang Manajer terjalin di belakan tubuhnya. Cassie menyeringai “Karena sepertinya proposal-proposal sebelumnya tidak pernah sampai ke tangan Bapak.” Cassie lalu mendekat kepada salah seorang anak buah pria itu dan mulai menjelaskan di mana mereka bisa memasang panggung dan stand lipat folding. “Kami membawa drink truck kami juga. Sebagai pengganti salah satu stand.” Jelas Sang Manajer Perusahaan. “Agar even ini tampak lebih berwarna.” “Saya tidak yakin jika masih ada yang mau minum soda di musim dingin.” “Hey, minuman kami tidak hanya soda. Kamu tahu itu, kan? Yang salah itu tema even kalian ini! Kamu tidak tahu kalau sekarang hampir 35 derajat?!” Bibir Sang Manajer mencebik dan ia terlihat ngambek, membuat Cassie tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya. Mereka berdua telah bertemu beberapa kali sejak insiden itu. Beberapa diantaranya dilakukan di perusahaannya dan kantor polisi. Dan yang pertama kali bersikap informal diantara keduanya adalah Sang Manajer Perusahaan. Keduanya lalu mengawasi pengerjaan panggung. Sesekali Cassie menjawab pertanyaan tidak nyambung yang dilontarkan pria itu lalu tertawa bersamanya. Di saat yang bersamaan gadis itu sama sekali tidak sadar jika sebenarnya ia tengah diperhatikan dari jauh oleh pria yang sebelumnya tertidur di ruangannya... ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN