Setelah perjalanan mereka menuju rumah Fadli yang tanpa percakapan apapun sama sekali itu. Akhirnya Cassie mengangkat wajahnya dari tirai rambutnya. Tidak ada air mata, namun bibirnya terlihat bengkak dan ada noda darah di kerah seragam kokinya. Cassie meringis sedikit dan menyapukan tangan di dagunya. Besok. Memar-memar itu pasti akan terlihat sangat serius. “Kamu tidak ingin mengabarimu ibumu?” Fadliakhirnya buka suara ketika mereka sedikit lai akan sampai di rumahnya. Cassie dengan amat perlahan mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan menempelkannya ke telinga. Ia menoleh ke arah berlawanan ketika dengan nada ceria yang dibuat-buat mengatakan kalau khusus kafe buka hingga tengah malam kerena pengunjung banyak sekali. Jadi sekali lagi ia akan menginap di kafe. “Aku tidur di ru

