Ketika Ramiel kemballi di Long Dock. Sebagian lampu kafe sudah mati. Seperti ketika mereka telah closing. Namun yang berbeda adalah masih ada beberapa motor yang terpakir di depan. Ramiel tidak punya waktu untuk mengenali siapa pemilik motor-motor itu. Ia langsung menyerbu masuk dan mengedarkan padangan. Beberapa saat yang lali ia masih di rumah orangtuanya. Tangannya masih basah karena baru saja selesai mencuci piring ketika ketika Bapak Yusmar mendatanginya ke dapur dengan ponsel lilik Ramiel di tangan. Wajah pria paruh baya itu merengut dengan mata menyipit membaca nama yang ada di layar ponsel. “Nomor yang sama. Menelponmu terus,” jelasnya smabil menyerahkan ponsel ke Ramiel. Sebelumnya jarang sekali ada karyawannya menelponnya. Kalaupun mereka punya pertanyaan, mereka akan melakuk

