11

1231 Kata
Cassie Ardana muda yang sedang menjalani tahun ketiganya sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata sekarang tengah bertopang dagu mendengar sang Ketua even membagi tugas kepada para tim promosi ke mana saja mereka pergi. Ia menjelaskan tentang beberapa perusahaan besar yang menjadi target mereka dan juga rumor pribadi seperti apa manajer atau HRD yang akan mereka yang sang Ketua dengar dari para senior mereka. Tim promosi tentu saja berisi orang-orang ambisius atau yang paling cemerlang di kelas. Beberapa di antara dipilih mungkin karena wajah atau kepopuleran mereka. Hanya ada dua orang dari Culinary Arts and Pastry, termasuk Cassie yang bergabung dalam tim promosi. Teman satu jurusannya itu tampak gugup dan duduk sangat dekat dengan Cassie. Cassie tidak bisa menyalahkan kegugupan gadis itu. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi Manajemen Perhotelan dan Bisnis Pariwisata memiliki aura mengintimidasi. Mereka tidak sepenuhnya menganak-tirikan anak-anak Culinary Arts and Pastry. Hanya saja mungkin merasa mereka hanya salah tempat. Setelah sang Ketua selesai menjelaskan dengan semangat berapi-api dengan gulungan proposal di tangann yang digerak-gerakkan seperti konduktor di tengah-tengah ruang kantin yang lumayan ramai. Cassie masih bertopang dagu, namun memusatkan sepenuhnya perhatiannya pada sang Ketua berahang tegas, berkulit gelap, dengan alis mata tebal itu sesekali melirik ke arahnya tajam. Cassie menyeringai. “Apa kamu ada masalah sama si Ketua?” Tiba-tiba gadis yang satu jurusan dengannya itu berbisik ke telinga Cassie. Cassie melepas tangannya dari dagu, tapi masih bersandar di meja. “Tidak ada. Tapi sepertinya dia tidak menyukaiku.” Si Ketua membuka sesi tanya jawab sebentar sebelum berkata sambil melirik arlojinya kalau setelah ini punya kelas yang lain. Jadi ia membagi tugas dengan cepat. Cassie tentu saja tidak berharap namanya dipanggil lebih dulu. Jadi ia menunggu dengan sabar. Ketika akhirnya Cassie mendengar namanya disebutkan ia cukup lega ia satu kelompok dengan gadis malang di sebelahnya itu dan seorang anak Manajemen Perhotelan yang terlihat lebih bersahabat. Ia adalah seorang pemuda yang terlihat anak baik-baik. Si Ketua membubarkan diri. Kelompok besar itu kemudian terpecah menjadi kelompok tugas masing-masing. Pertama-tama yang Cassie katakan pada mereka adalah, “Apa kalian ada kuliah hari ini? Bagaimana kalau kita selesaikan ini secepat mungkin?” Mereka mendapat tugas untuk mengirim proposal ke salah satu perusahaan minuman bersoda yang terkenal di seluruh dunia.      Si Pemuda dengan rambut cepak itu mengedikkan bahu. “Tidak. Kelasku sudah selesai. Lagi pula aku punya mobil.” Karena lokasi perusahaan itu terletak di daerah industri yang rawan. Cassie melirik ke arah si gadis malang dan ia juga mengangguk. “Daripada kita mengulur-ulur waktu.” Mereka kemudian meminta surat jalan pada sekretaris even mereka. Gadis itu menatap mereka bertiga bergantian dengan wajah curiga. Jelas tidak ada kelompok lain yang berniat melakukan tugas mereka di hari yang sama.  Jadi mereka berempat menuju ruang Pak Ghaniy untuk mencetak surat jalan. Keempatnya mengucap salam secara serentak dan mendapati Ghaniy tengah mengerjakan sesuatu di laptop. Ia mendongak sambil memperbaiki letak kacamatanya di pangkal hidung. “Pak, maaf. Kami ingin pinjam printer.” Sang sekretaris sambil mengeluarkan laptop-nya dari tas.     Ghaniy mengedarkan pandangan kepada para mahasiswanya itu. Namun ia berhenti pada wajah Cassie sambil menjawab, “Silahkan.” Jadi mereka semua menunggu dalam diam ketika si Sekretaris mencetak surat tersebut dengan cepat setelah membubuhkan nomor ponsel Cassie sebagai pihak yang bisa dihubungi di sana. Dengan lihainya memalsukan tandatangan sang Ketua dan memberi stempel. Entah apa lagi yang ada dalam tas ransel miliknya, tapi sebuah amplop panjang putih juga keluar dari sana. Ia mencetak kop amplop dan melipat surat masuk ke amplop. Pak Ghaniy masih tetap diam bahkan ketika Cassie mendapatkan surat jalan itu. Kelompoknya kemudian memohon pamit dan Ghaniy sekali lagi mengedarkan pandangan ke arah mereka dan memberi senyum penuh arti pada Cassie. Mobil si mahasiwa Manajemen Perhotelan itulah Honda Jazz berwarna merah. Diam-diam Cassie bersiul pelan. Gadis berambut bergelombang itu mendorong agar Cassie duduk di sebelah si pemuda. Mereka melakukan perjalanan itu dalam diam. Cassie juga merasa kedua teman kelompoknya itu adalah anak-anak yang tidak suka banyak bicara dan ia bersyukur karenanya. Mereka melewati satpam gerbang pabrik minuman bersoda terkenal itu dengan mulus. Cassie tahu mereka tidak berharap langsung bertemu dengan HRD ataupun manajer pabrik tersebut dan mungkin hanya sampai pada menitipkan proposal di meja resepsionis... “Kalian mahasiswa, ya?” tanya seorang pria dengan perut tambun berumur itu sambil menatap mereka bergantian. “Apa itu proposal?” Pria mengedikkan bahu pada proposal dan amplop surat di tangan mereka. Ketiganya terpaku sejenak sebelum Si Pemuda yang menjawab, “Benar, Pak. Dan Bapak...” “Ah, saya juga tim HRD. Mari ke ruangan. Kalian bisa langsung menjelaskan even kalian dengan saya.” Cassie mengerjap. Tidak sepenuhnya yakin apa mereka memang seberuntung itu. Namun karena wanita yang ada di balik meja resepsionis memberi mereka senyum yang Cassie artikan sebagai “well, nikmati keberuntungan kalian ini.” Mereka mengikuti pria itu dengan langkah ragu. Si Gadis berjalan rapat pada Cassie dengan Si Pemuda berada di tengah-tengah mereka. Mereka dibawa ke ruangan yang tampak seperti seperti ruang rapat dengan meja yang berbentuk U dengan beberapa kursi, whiteboard, dan proyektor. Si Pria membiarkan mereka masuk lebih dulu. Cassie berada di belakang membuat si Gadis harus duduk di dekat pria tua itu. Sang Gadis itu langsung mengerut dan tampak tidak nyaman. Apalagi jelas-jelas pria itu menaruh perhatian lebih padanya. Cassie dan Si Pemuda bahkan hanya bisa melihat punggung Si Pria. “Jadi bisa kamu jelaskan pada saya even seperti apa yang ingin kalian laksanakan?” Si Gadis melirik Cassie melalui bahu pria itu sebelum dengan membuka propsal mereka dan mulai menjelaskan dengan nada terbata. Selama Si Gadis menjelaskan pria itu mulai mengulurkan lengan ke punggung kursi si gadis dan makin mendekat diri. Wajah pria itu bahkan berakhir sangat dekat dengan Si Gadis... Si Pemuda berdiri lebih dulu dari Cassie dan keduanya nyaris melabrak pria tua kurang ajar itu jika saja tidak ada yang tiba-tiba membuka pintu. “Well. Well. Kali ini kamu tidak bisa menghindar lagi!” Seorang pria dengan setelan jas muncul. Wajahnya terlalu muda, namun ada aura penuh kekuasaan menguar dalam dirinya sehingga membuat pria tambun itu langsung berdiri dengan punggung sedikit membungkuk. Cassie bahkan harus mundur selangkah agar ia tidak menabrak punggung pria itu. “Mereka orang luar. Jadi kamu tidak bisa mengancam untuk memecat mereka.” Pria itu tersenyum hingga matanya menyipit. Jenis senyum penuh ancaman terselubung. Ia kemudian melangkah ke samping, ada seorang pria tinggi dengan tampang sangar menunggu di belakangnya. “Bawa dia ke ruang lain. Saya akan berurusan dengannya nanti.” Pria bertampang sangar itu menyeret pria tua b******k itu saat itu juga. Ia mengucap maaf berkali-kali tapi tidak diindahkan oleh pria muda itu. Begitu pintu menutup di belakang, Cassie dan ketiga temannya itu terlalu shock untuk berkomentar. “Saya sudah lama ingin memecatnya. Walau dengan bukti CCTV sekalipun jika kamu tidak punya kesaksian tertulis, kasus ini tidak akan bisa diajukan. Dan... saya minta maaf dengan kalian. Sepenuhnya minta maaf karena secara tidak langsung saya telah memanfaatkan kalian.” Si Pemuda nyaris memaki. Si Gadis nampak lebih rileks di kursinya setelah Cassie menanyakan keadaannya berulang kali. Untungnya si pria tidak sampai menyentuhnya sama sekali. “Kalau begitu  Bapak berutang banyak dengan kami.” Si Pemuda, menggeram. Si Pria Muda itu menyelipkan tangannya ke dalam saku celana dengan lagak santai. “Tentu saja. Kalian telah memberi bantuan cukup besar. Tapi biarkan saya mendengar penjelasan proposal kalian lebih dulu. Dan tenang saja saya akan duduk cukup jauh dari kalian.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN