Ramiel tidak tahu kenapa Cassie harus memberitahunya dengan sikap seperti itu. Ia tidak pernah bisa benar-benar mengerti apa yang ada di pikiran gadis itu. Jadi ia meninggalkan ruang bakery dengan perasaan campur-aduk.
Pertama, karena Cassie telah memberitahunya sesuatu yang seharusnya sudah ia ketahui. Kedua, cara gadis itu menyampaikan pesannya dengan ekspresi merendahkan.
Jadi ia mencoba mengenyahkan perasaannya dengan mencoba menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Namun tetap saja perkataan Cassie tetap terngiang-ngiang dalam kepalanya. Ia kemudian menghempaskan diri ke punggung kursi sambil menatap langit-langit.
Ramiel kemudian memerhatikan layar CCTV yang ada di samping mejanya. Suasana kafe sedang sepi mengingat ini adalah hari kerja. Aksa dan Cassie tidak terlihat di manapun. Kedua pemuda yang bersiteru itu sedang berada di balik bar. Sang barista sedang sibuk mencuci gelas sedangkan si waitres sedang dudu di depan mesin kasir dengan sikap malas.
Konflik. Tidak ada yang menyukai konflik.
Ramiel akhirnya memutuskan untuk turun dan langsung menuju bar. Keduanya berjengit kecil ketika menyadari kehadirannya. Ramiel menatap mereka bergantian sebelum berkata, “Kalian berdua ikut saya sebentar.”
Dengan keduanya mengikutinya rapat di belakang, Ramiel berbelok masuk ke hot kitchen. Cook yang tadinya sedang mencatat sesuatu dalam lembaran laporannya langsung berdiri. Menyapukan pandangan pada ketua koleganya yang ada di belakang Ramiel sebelum kembali kepada manajer mereka,
“Kamu tolong jaga di depan sebentar. Saya ingin bicara dengan keduanya.”
Si Cook mengangguk. Dengan cepat membereskan pekerjaannya dan meninggalkan mereka bertiga. Dengan gerakan lambat Ramiel menarik kursi stainless yang tadi di duduki oleh Cook dan duduk di sana. Kedua lengannya terlipat di d**a dan menatap kedua pemuda itu bergantian.
Ramiel sengaja mengulur waktu untuk memerhatikan lebih seksama ekspresi keduanya. Si barista menunduk dengan kedua tangannya yang saling terjalin di depan tubuh. Sedangkan si waitress menoleh ke arah lain sambil sesekali berjinjit-jinjit.
Dengan hanya seperti itu Ramiel baru menyadari keduanya mempunyai kepribadian yang berbeda.
“Jadi kenapa saya harus mendengar apa yang terjadi dengan kalian dari Cassie?”
Si Barista terlihat menarik napas panjang masih dengan sambil menunduk. Sedangkan si waitress sekarang menatap Ramiel dengan kedua alis mata yang naik. Sekarang Ramiel menatap lurus-lurus kepada si waitres, “Aku dengar kamu selalu datang terlambat setiap pagi.”
“Saya sudah memberi alasan saya kepada dia dan dia berkata ia tidak apa-apa...”
“Hanya untuk sekali itu saja aku tidak keberatan. Jadi bukan berarti kamu bisa melakukannya berulang-kali!” Ia tersentak tersadar dengan nada bicaranya yang tinggi. Sebelum melirik ke arah Ramiel takut-takut dan kemudian kembali menunduk.
“Sudah kukatakan padamu jika aku kesulitan bangun pagi...”
“Kalau begitu,” potong Ramil segera “Aku bisa me-rolling shift-mu ke malam...”
“Jangan, Pak!” sergahnya. “Saya ada... janji dengan orang lain. Saya tidak bisa pindah ke shift malam.”
Sekarang si barista memutar bola mata dan Ramiel tidak bisa menyalahkannya. Karena ia juga jadi jengkel dengan sikap si waitres.
“Kalau kamu tidak bisa mengikuti aturan masuk kerja yang telah ditetapkan. Maka saat ini juga saya buatkan kamu surat teguran ketiga.”
Si waitres mendelik, menoleh ke arah si barista yang sama terkejutnya dangan dirinya.
“Karena seperti yang sudah saya dengar tadi sepertinya kamu sudah melakukannya berulang-kali dan sudah membuat tidak nyaman teman satu shift-mu. Kamu mau atau tidak mau saya buatkan kamu surat teguran tiga. Apalagi sepertinya kamu tidak punya niat untuk merubah sikap.”
Si waitres masih tampak tidak terima. Walau sebenarnya Ramiel bertanya-tanya kenapa ia masih tidak merasa bersalah setelah apa yang telah ia kerjakan. “Jadi tinggal kamu pilih saja. Apa kamu masih mau kerja di sini...”
“Iya, Pak. Saya masih mau bekerja di sini,” ujarnya lirih sekali, berbeda dengan sikap tubuhnya yang tegang.
Ramiel mengangguk sekali. “Bagus. Jadi tolong jangan ulangi lagi. Kalau saya mendengar ada hal yang sama terulang lagi. Saya tidak akan memberimu peringatan apapun. Kamu mengerti?”
Setelah itu Ramiel melambai kepada keduanya untuk meninggalkan ruangan lebih dulu. Ia tidak yakin jika pendekatannya ini benar. Karena bisa saja ia menciptakan konflik yang lebih besar lagi. Tapi seseorang dengan sifat seperti si waitres seharusnya memang lebih baik jika mendapatkan teguran secara langsung dan kasar. Apalagi jika ia juga sedikit tebal muka.
Setelah memastikan keduanya telah kembali ke bar. Ramiel kemudian meninggalkan hot kitchen. Ketika ia selesai menutup pintu ia melihat Cassie tengah berdiri di depan pintu bakery. Ada senyum yang tidak bisa diartikan terukir di wajahnya.
“Well, itu tadi tidak buruk,” kata Cassie dengan kedua lengan terlipat di d**a.
“Dan aku masih sakit hati dengan cara yang kamu pakai untuk memberitahuku.” Ramiel memicingkan mata.
Cassie mengedikkan bahu sekali. “Tapi efektif. Dan Mas Ramiel terlalu tua untuk disayang-sayang.”
Ramiel menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Itu memang salahnya. Abangnya sudah memberitahunya jauh-jauh hari tentang bagaimana Cassie sebenarnya.
“Ingat saja. Jika Cassie melakukannya, itu masih demi kebaikanmu.”
“Saya masih punya mini pizza yang tersisa. Apa Mas Ramiel mau?”
Ramiel benar-benar makin curiga. Sekarang ia melipat kedua lengannya di d**a dengan Cassie yang masih memandangnya dengan pandangan tidak bersalah.
“Lho, bukannya tadi ada yang ingin Mas Ramiel ingin ceritakan padaku?”
Ramiel sebenarnya sudah tidak berselera, tapi ia entah kenapa ia memang ingin menceritakannya pada Cassie. Jadi ia memberi Cassie isyarat dengan tangan dan gadis itu membuka pintu bakery. Masih tidak ada Aksa di dalam sana.
“Mana Aksa?” tanya Ramiel ketika ia benar-benar tidak melihat jejak pria itu di dalam sana.
“Aku biarkan pulang lebih cepat. Anaknya mendadak demam tinggi. Jadi dia tidak sempat memberitahu Mas Ramiel secara langsung. Kalau Mas Ramiel membawa ponsel, mungkin dia telah mengirimkan pemberitahuannya di sana.”
Karena Ramiel tidak membawa ponselnya turun, jadi ia hanya mengangguk-angguk. Ia tidak ingin membesarkan masalah Aksa karena, tidak sama dengan si barista. Cassie sama sekali tidak keberatan. Kemudian ia tidak sengaja mendapati dua potong mini pizza di atas piring saji dan secara mengejutkan dua gelas fresh milk dingin.
Ramiel memerhatikan Cassie ketika mereka sama-sama menarik kursi.
“Jadi bagaimana acara pernikahannya. Apa ada gadis cantik di sana?” Cassie mangambil satu potong roti dan menggigitnya.
Ramiel memutar gelas susunya dengan malas. “Yeah, namanya Yuri. Asisten dosen. Dia manis dan tampak benar-benar menyukaiku.”
Cassie tiba-tiba terbatuk sekali. “Dari mana asalnya kalimat penuh percaya diri itu?”
“Hey, dia sendiri yang bilang! Well, mungkin juga dari caranya yang menegurku lebih dulu.”
“Lalu bagaimana dengan... siapa namanya... Nadia?” Cassie lagi, dengan suara serak.
“Nadia? Kami hanya sering bertukar pesan daan mengenang masa lalu.” Ramiel masam. Mengusap embun di elas menggunakan jempolnya.
“Ah... Jadi Nadia ini pernah menyakiti Mas, ya?”
Ramiel mengangka pandangannya dan Cassie sedang menggigit mini pizza-nya besar-besar. Gadis itu jelas tahu bagaimana cara memancing informasi dengan begitu santainya.
“Apa kamu menyadari jika kamu tengah menanyakan hal—hal rahasia tanpa susah payah?” Ramiel dengan kepala sedeikit dimiringkan.
“Bukannya aku hanya bertanya tentang hal-hal dasar?” Cassie sekarang menegak susunya.
Ramiel menggeleng. “Tidak. Kamu menanyakan sesuatu yang penting dan entah kenapa pihak satunya akan memberitahu dengan sukarela. Siapa kamu sebenarnya, Cassie?”
Cassie meletakkan gelas susunya sebelum menjawab. “Hanya menjadi pendengar yang baik. Karena sudah terlalu banyak orang yang ingin didengarkan, namun tidak ada satupun telinga yang bersedia mendengarkan...”
***