Wedding Day
Raisa mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Pesta pernikahan Sam dan Jessy tinggal hitungan jam. Sebentar lagi rombongan keluarga akan hadir, dan sudah waktunya ia berganti pakaian.
“ Cepat ganti baju upik abu. Sudah ada orang yang bertanggung jawab untuk ini.“
Raisa tertawa mendekati lelaki yang berdiri di dekat pintu “ Aisssh ganteng amat hari ini.”
Sam menatapnya dengan pandangan tersinggung ,” Baru hari ini ?”
Tergelak Raisa menggandeng lelaki tampan berwajah ramah itu ,”Baiklah …. Bosku yang ganteng, ramah, pemurah dan baik hati …..,”
“ Ayo ganti baju.” Sam tersenyum sayang.
“ Masih belum ganti baju ? Dari jam berapa kamu disini ?”
Raisa melepaskan gandengannya saat menatap sosok jangkung yang duduk diambang jendela,“ Ini mau ganti.” Sahutnya mengkerut.
“ Dandan sedikit, Raisa.” Ibu Sam merapikan kerah baju anaknya.
Raisa nyengir sambil menggaruk kepala ,” Iya tante. Kalau gak dandan nanti aku kalah cantik sama bajunya.”
Ibu Sam tertawa, menepuk lengan gadis yang segera berlalu ke ruang ganti. Kalau tidak dipaksa saat mereka belanja pakaian bersama Jessy .. belum tentu Raisa mau mengambil baju itu. Gaun dengan potongan sederhana dibawah lutut dan sedikit sentuhan renda ditempat yang tepat.
Luke mengangkat alis ketika Sam menyodok perutnya sambil tersenyum jahil.
“ Jessy harusnya sudah datang. Coba hubungi Jessy atau Mike.”
Sam meraih ponsel di sakunya yang kebetulan berdering ,” Jessy …. Kamu sampai …. Mike …. “ terhuyung dengan wajah pucat pasi.
Luke mengambil ponsel yang jatuh sementara yang lain merubung Sam yang terduduk lemas ,” Halo …. Katakan sekali lagi.” Dan rahangnya mengeras dengan mata menyorot tajam sambil mendengarkan serentetan kalimat sebelum telepon diputus.
“ Mana jas putih Sam ?”
Raisa tersentak saat pintu ruang ganti terbuka dengan keras. Batal bertanya melihat raut menyeramkan Luke.
“ Ambil surat di kantongnya dan ikut keluar.”
Dengan tangan gemetar Raisa merogoh kantong dan menemukan sebuah amplop putih di saku jas bagian dalam. Setengah berlari, ruangan sebelah ,” Sam.”
Sam mengulurkan tangan, membuka amplop yang diulurkan Raisa. Melewatkan lembar pertama yang pastinya hanya berisi permintaan maaf dan alasannya, terpaku melihat lembar kedua yang merupakan hasil pemeriksaan kehamilan.
Raisa menutup mulutnya, terhuyung ke belakang.
“ Kamu tidak tahu ini ?” Luke menahannya agar tidak terjatuh.
Raisa menggeleng, terpaku sampai sesuatu menyadarkannya ,” Nenek.” Kepanikan terlihat jelas diwajahnya ,” Bagaimana kalau nenek tahu ini ? Aku … apa yang harus aku lakukan ?” tanyanya bingung.
“ Kita minta maaf, walaupun ini tak termaafkan.” Suara lemah dan tersengal terdengar dari arah pintu. Paman Yo, salah satu tetangga mereka mendorong kursi roda nenek.
“ Nek.” Raisa memegang tangan neneknya.
Perempuan tua itu mengibaskan tangannya, merosot dari kursi rodanya dan bersimpuh.
Raisa ikut bersimpuh di samping neneknya , “ Maaf.” bisiknya tanpa berani mengangkat muka. Ia merasa sejak hari ini ia tak akan berani mengangkat muka dihadapan keluarga yang selama ini begitu baik padanya.
Hening, yang terdengar hanya isak tangis dan helaan nafas.
“ Sudahlah … mereka sudah jauh. “ Sam memecah keheningan , “ Bahkan sebenarnya aku sudah merasa ada yang salah, aku hanya berusaha mengabaikannya. “ ditatapnya dua perempuan yang berlutut di depannya , “ Duduklah nek ….. Dan kamu Raisa, bangunlah. “ Dipapahnya nenek untuk duduk kembali di kursi rodanya, sebelum mengulurkan tangan pada Raisa “Bangunlah, aku membutuhkan sahabatku saat seperti ini. “
Raisa menggeleng, beringsut menjauh dengan tubuh gemetar tanpa mengangkat kepalanya , “ Maaf. “ bisiknya liri