18

875 Kata
Sudah satu minggu semuanya kembali berjalan normal. Marcella mencoba fokus dengan pekerjaannya di restoran didampingi Ramdan yang tidak pernah bertanya apa pun perihal kehidupan wanita itu. Seolah ia mengerti jika Marcella tidak ingin membahasnya. Namun dari sikap wanita itu, Ramdan tahu jika Marcella tidak tampak baik-baik saja. Raut wajahnya yang ceria tidak ada lagi di sana. Yang ada hanyalah senyum dipaksakan. Meski begitu, Ramdan tidak bisa apa-apa. "Sudah kau siapkan telurnya?" tanya Marcella membuyarkan Ramdan dari pikirannya sendiri. "Belum. Kita kehabisan telur," jawab Ramdan siang itu. Marcella berdecak kesal. Bagaimana bisa mereka kehabisan stok telur di tengah-tengah di jam makan siang seperti ini. Tidak tahukah jika di luar sana ada beberapa manusia yang sedang menunggu makanan mereka disajikan? Kecerobohan seperti ini tidak bisa ditolerir. Alhasil siang itu semuanya tak ada yang lolos dari omelan Marcella. Termasuk Ramdan. Namun pria itu tetap bergeming. Seakan dia siap menerima segala cacian Marcella siang itu. Dengan tubuh yang terasa lelah, Marcella menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa putih di ruangannya. Sofa yang selalu mengingatkan dirinya akan kejadian satu minggu yang lalu. Ah...sepertinya ia harus mengganti sofa tersebut dengan yang baru. Baru lima menit Marcella memejamkan mata, suara ketukan di pintunya mengalun di telinganya. "Masuk!" seru Marcella seraya membuka kedua matanya dan menoleh ke arah pintu. Di balik pintu, sosok bunda yang tersenyum berdiri tegak di sana. "Bunda?" "Hai sayang..." sapa Bunda yang melangkah masuk ke dalam ruangan dan tidak lupa menutup pintu kembali. "Kok bunda datang nggak bilang-bilang?" tanya Marcella heran. Biasanya bundanya selalu memberi kabar bila akan datang ke restoran. Alasannya takut Marcella tidak di tempat. "Surprise! Namanya juga kejutan, jadi mana mungkin bunda kabarin kamu," jawab bunda santai setelah sukses mendaratkan bokongnya di sisi Marcella. "Bunda sama siapa?" "Sama Mario. Tapi katanya dia mau jemput pacarnya di bandara." Marcella berdecak kesal. Kekasih adiknya itu bagaikan putri kerajaan. Selalu memerintah adiknya, Mario, seenak jidat. Memangnya siapa adiknya? Supir pribadinya? Tapi Marcella bisa apa kalau cinta masih berkobar-kobar diantara mereka? "Memangnya bunda dari mana?" tanya Marcella. Berusaha tidak memedulikan urusan adiknya. "Gini loh, bunda habis dari rumah tante Liana," kata bunda bersemangat. "Tante Liana?" Kening Marcella bertautan. Kalau dia tidak salah tantr Liana itu ibunya Daniel-kan? "Iya... Kan bunda ikut arisan di komplek rumahnya. Jadi tadi bunda ke situ. Terus tante Liana ceritain kondisi Daniel saat ini. Katanya putranya itu tampak kacau setelah putus hubungan darimu. Lebih kurus katanya sih," cerocos bunda. "Juga wajahnya lebih lebih tua. Hmm... kayak zombie Mar." Marcella terbengong-bengong mendengar penuturan bundanya? Apa dia nggak salah dengar? Bukannya terakhir bertemu pria b******k itu, dia baik-baik saja? "Itu kan hanya kata tante Liana, bun. Kalau tidak lihat dengan kepala sendiri, jangan percaya," sahut Marcella dengan malas. "Ih... Bunda lihat kok dengan kepala mata bunda sendiri. Daniel lebih kurus. Sepertinya dia sakit, Mar." Marcella menarik napas panjang. Malas dengan pembicaraan ini. "Biarkan saja bun. Marcella sudah nggak ada hubungan sama Daniel jadi andaikan Daniel memang sakit, Marcella nggak bisa apa-apa." "Kamu kok jadi sinis gitu sih, Mar? Walaupun dia sudah nyakitin kamu, tapi jangan dibalas kejahatan juga. Sebaliknya, kamu anggap dia seperti teman saja," tegur bund ayang langsung membuat Marcella memutar kedua bola matanya. "Bun, jangan paksa aku. Kalau bunda datang buat maksa aku, percuma. Aku nggak akan berubah pikiran." "Baiklah. Bunda menyerah. Sekarang kita makan siang bareng yuk, bunda lapar." "Bunda mau makan apa? Biar aku yang masakin." Bunda mendecakkan bibirnya. "Siapa bilang bunda mau makan restoranmu? Bunda mau ke kafe. Kafe yang temen bunda bilang lagi terkenal itu. Apa ya namanya?" "Kafe? Katanya lapar kok malahan ke kafe sih, bun?" protes Marcella. Ibunya ini memang lain daripada yang lain. "Sudah ayo kita jalan. Sambil jalan sambil bunda ingat-ingat nama kafenya. Katanya enak banget kopinya." Bunda bangkit berdiri dan mulai menarik Marcella. "Iya, iya... aku ambil tas dulu." *** Sesampainya di depan kafe Love & Bites, dengan tubuh lunglai dan detak jantung yang sudah tidak beraturan, Marcella masih terdiam di tempatnya. Siapa sangka jika kafe yang dimaksud bunda adalah kafe milik Arvin. Seandainya ia tahu jika kafenya adalah milik pria itu, Marcella pasti langsung menolak diajak ke sini sejak awal. Sayangnya nasi telah menjadi bubur. "Kita cari tempat lain aja yuk, bun," bujuk Marcella. "Kenapa? Hari ini kamu bener-bener aneh," omel bunda. "Ini tuh kafe Arvin, Bun!" ucap Marcella hampir tanpa suara namun penuh penekanan. "Terus kenapa? Kamu kan bermasalah sama pemiliknya. Bukan kafenya. Jadi ayo kita masuk! Bunda sudah tidak sabar mencicipi kopinya. Kata tante Liana dan teman-temannya, rasa kopinya itu seperti menyatu dengan lidahmu. Coba kamu pikir, gimana bunda nggak penasaran? Soalnya cuma bunda yang nggak nyambung waktu diajakin ngobrol soal kafe ini," kilah bunda. "Tapi bun... bagaimana kalau Arvin ada di dalam? Aku mesti ngomong apa lagi? Bunda tahu sendiri kalau waktu itu aku melarikan diri!" kata Marcella masih dengan usaha penolakannya. Tapi bukannya khawatir dengan kondisi putrinya, bunda tersenyum lebar. "Kenapa harus menunggu sampai di dalam? Toh sekarang kamu sudah bisa bicara dengan Arvin." Kening Marcella bertautan. "Maksud bunda?" Dengan santai bunda mengangkat kedua bahunya dan memberi kode pada Marcella untuk menoleh. Butuh beberapa detik sampai akhirnya Marcella mengerti. Saat dia menoleh, saat itulah ia menangkap sosok Arvin berdiri tepat di belakang tubuhnya. Membuat Marcella ingin segera mengambil langkah seribu. Namun entah mengapa kali ini seperti ada lem yang merekat di kakinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN