19

1063 Kata
Entah bagaimana caranya, pada akhirnya Marcella berakhir duduk di salah satu meja di dalam kafe Love & Bites milik Arvin. Caramel Java Chip milik Marcella belum tersentuh sama sekali. Sedangkan Caffe Latte milik bunda sudah habis setengah. Sepertinya bunda lebih menikmati kopinya daripada memeduli suasana tegang diantara Marcella dan Arvin yang duduk bersebrangan. Siapa sangka jika Arvin yang baru saja bertemu dengan salah satu kliennya di restoran sebelah kafenya baru saja hendak kembali ke kafenya. Tapi, pandangan matanya menemukan sosok Marcella dan bunda yang sedang berdebat. Awalnya Arvin sempat ragu saat hendak menyapa. Namun, disingkirkannya perasaan itu dan ia pun berjalan mendekati ibu dan anak itu. Maka di sinilah mereka sekarang. Duduk manis bersama menikmati kopi. Atau hanya satu diantara mereka yang sebenarnya sedang menikmati kopi? "Kopinya enak banget. Terima kasih loh sudah memberikan kopi ini secara free," ujar bunda memecah keheningan diantara mereka. Mengundang dua pasang mata tertuju ke arahnya. Senyum hangat terlukis di bibir Arvin. "Sama-sama, Tan. Mau tambah?" tawarnya. Dibalik bulu matanya yang lentik karena mascara yang digunakannya melebar. "Serius kamu, Vin?" "Bun..." Bunda menolehkan kepalanya ke Marcella yang langsung memberinya kode. "Serius Tan. Nggak apa-apa kok." Bunda tertawa. "Tante cuma bercanda. Ngomong-ngomong toiletnya di mana ya? Tante kebelet." "Oh, di sudut kanan Tan," jawab Arvin cepat. "Mar, bunda ke toilet dulu." Marcella mengangguk mengerti meski hatinya ingin berteriak dan meminta bunda untuk tetap tinggal. Tapi apa daya jika ia tak mampu melakukannya. Setelah kepergian bunda, mendadak suasana menjadi sunyi diantara mereka. Padahal alunan musik Sam Smith mengalun merdu memenuhi ruangan kafe. Belum lagi suara beberapa pengunjung kafe yang tampak asyik berbincang-bincang dengan lawannya. Semuanya keramaian itu tampak tak berpengaruh di dalam lingkaran Marcella dan Arvin. Tidak tahan dengan kesunyian ini, Marcella berdeham dan membuka suaranya. Berbasa-basi sedikit tidak salah bukan? "Kafe-mu semakin ramai ya," kata Marcella sambil mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan. "Sedikit ada kemajuan dari tahun sebelumnya," jawab Arvin santai. Tak afa ketegangan di wajahnya. Seakan tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka satu minggu yang lalu. Apa semua pria selalu seperti itu? "Tidak berniat buka cabang baru?" tanya Marcella lagi. "Sebenarnya niat sudah ada. Makanya tadi aku mampir ke restoran sebelah. Salah satu kenalanku mengajakku bekerja sama. Dia punya tempat di Bandung. Lebit tepatnya di jalan Riau. Memang bukan bangunan baru, tapi waktu dia kasih lihat foto lokasinya, aku merasa cocok," jelas Arvin bersemangat. Marcella tersenyum simpul. Dapat jelas terlihat betapa Arvin begitu menyukai pekerjaannya. Tidak peduli siapakah lawan bicaranya, membicarakan pekerjaannya sudah menjadi passion baginya. Perlahan ketegangan dan kekakuan di hati Marcella mencair. Ia pun mulai ikut melebur ke dalam topik pembicaraan tersebut. Dan rasanya menyenangkan. "Jadi konsepnya kali ini kamu akan menyediakan makanan buat lunch dan dinner juga?" "Yup. Aku nggak cuma buat kafe di mana pengunjung hanya bisa minum dan makan snack atau dessert. Tapi aku mau kafe ini dirancang untuk para pengunjung yang mau lunch dan juga dinner. Di mana aku akan nyediain meal dan pasta. Bagaimana menurutmu?" "Perfect. Idemu bagus. Aku rasa pengunjungmu nanti bukan hanya muda-mudi. Tapi semua golongan." "Memang itu tujuanku," imbuh Arvin yang langsung disambut tawa Marcella. "O iya... kalau sudah siap semuanya aku butuh seorang chef untuk membuat semua menu tersebut. Apa kamu berminat?" Tawaran Arvin membuat tawa Marcella memudar. Bekerja sama dengan pria itu artinya ia akan memiliki waktu lebih banyak dengan Arvin. Di sisi lain, Marcella menyukai tawaran Arvin, tapi di sisi lainnya dia takut. "Semua murni mengenai bisnis, La. Aku nggak akan maksa kamu untuk dengerin penjelasan aku. Aku juga nggak akan maksa kamu untuk balik sama aku. Aku akan melupakan semuanya dan aku harap bisa memulai baru lagi denganmu. As a partner bussiness..." kata Arvin yang seakan bisa membaca pikiran Marcella. "Kamu nggak usah jawab sekarang. Aku tidak membuka kafe itu besok. Bahkan aku belum mengiyakannya ke temanku itu." Marcella bergeming. Dia memberanikan diri menatap manik cokelat di hadapannya yang sejak awal selalu dihindarinya. Kedua tangannya menggenggam cangkir berisi capuccino miliknya. "Baiklah. Beri aku waktu." Saat itulah senyum mengembang di bibir Arvin. "Thanks, La. Aku harap kita bisa memulainya lagi dari awal." Awalnya Marcella ragu, tapi akhirnya perlahan ia mengangguk sekali. Dalam hati ia mengharapkan hal yang sama. Biarlah semua yang pernah terjadi diantara mereka berlalu. Lebih baik membuka lembaran baru dan menulis semuanya dari awal. "Aduuh... maaf ya lama. Habis ngantri." Suara bunda memecah keheningan yang untuk beberapa detik menyelimuti suasana. "Loh apa yang tante lewatkan sampai kalian senyum-senyum begitu?" "Bukan apa-apa, bun." Tapi pandangan mata bunda yang penuh selidik tidak mempercayai jawaban Marcella. *** Dua minggu kemudian, Arvin memberi kabar jika semuanya telah siap. Baik tempat dan karyawan. Yang tersisa tinggal seorang chef. Karena itu sengaja Arvin menghubungi Marcella untuk meminta jawaban dari wanita itu. Tapi beberapa kali Arvin menghubungi ponsel Marcella, wanita itu tak kunjung menjawab. Diputarnya setir dan Arvin pun menuju restoran Marcella. Karena ia yakin Marcella pasti ada di sana. Setelah memarkirkan mobil miliknya, Arvin melangkahkan kakinya ke dalam restoran. Tapi alangkah terkejutnya dia ketika ia mendapati Marcella sedang ditunjuk-tunjuk dan dimarahi oleh seorang perempuan. Sedangkan Marcella hanya diam dan menerima semuanya itu dengan pasrah. Wajahnya terkejut dan tampak pucat. Untunglah restoran sedang tidak ada pengunjung. Perlahan Arvin berjalan mendekat. Dalam hati ia bertanya-tanya ada apa gerangan? "Dasar wanita perebut pacar orang! Nggak tahu diri! Gara-gara kamu, Daniel memutuskan hubungan diantara kami secara sepihak! Tidak tahukah kamu kalau anak di dalam perutku ini akan membutuhkan ayahnya kelak! Kenapa kamu sekejam itu!?" teriaknya histeris. "Tolong jangan ambil Daniel dariku... anaknya lebih membutuhkan ayahnya. Dan aku sangat mencintainya. Aku mohon..." isak wanita itu. "Sasha... tolong dengarkan saya. Kamu salah paham," bujuk Marcella pelan. "Cih! Aku tidak sudi! Aku tahu kamu masih mencintai Daniel! Bahkan kata Daniel kalian akan menikah!" balas Sasha cepat. "A-apa?" Marcella terkejut mendengarnya. Apa lagi yang diperbuat oleh Daniel? Bukankah pria itu sudah puas menghancurkan hatinya? Atau kenyataannya belum? "Maaf menyela di tengah-tengah pembicaraan kalian..." Suara berat milik Arvin membuat beberapa pasang mata menoleh ke arahnya. "Setelah mendengar pembicaraan diantara kalian, saya sedikit bingung." Kening Sasha bertautan. "Siapa anda dan mengapa anda ikut campur urusan kami?" "Begini..." Arvin berjalan mendekat sampai akhirnya berdiri di sisi Marcella. "Saya sedikit bingung bila anda berkata kalau perempuan ini ingin merebut kekasih anda..." Kerutan di dahi Sasha semakin dalam. Ia tidak mengerti ke mana arah dan tujuan ucapan pria tampan di depannya. "Karena perempuan mana yang hendak merebut kekasih dari seorang wanita mengandung seperti anda bila suaminya tampan seperti saya?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN