"Thanks for your help," ujar Marcella membuka suara. Secangkir s**u cokelat hangat dicengkeramnya erat. Dari situ Arvin bisa melihat seberapa besar usaha Marcella untuk tetap tegar di hadapan beberapa pasang mata milik karyawannya.
"Your welcome. Sori...karena sudah mengaku sebagai suamimu."
Senyum simpul tercetak di bibir Marcella. Awalnya dia memang terkejut dengan ucapan pria itu. Tapi, Marcella bisa melihat niat baik dibaliknya. Sehingga ia memilih untuk diam daripada protes. Belum lagi tubuhnya yang lemah ketika menghadapi amukan Sasha. Cukup sudah pagi ini ia mendapatkan kejutan.
"Nggak apa-apa. Aku mengerti niat baikmu. Hanya saja bukannya nanti kamu yang bermasalah kalau sampai nanti ada orang lain yang mendengarnya?" tanya Marcella hati-hati.
"Nggak akan ada yang peduli soal itu. Lagipula memangnya aku siapa? Aktor?" canda Arvin yang dibalas senyum di bibir Marcella. "Wanita semakin hari semakin menakutkan. Bahkan bila sedang marah, kami para pria hanya bisa pasrah."
"Enak saja. Kami para wanita memiliki hati selembut sutra. Hanya saja jika kalian para laki-laki terlalu sering melukai hati kami, alhasil kami pun marah dan mengeluarkan semua kemampuan kami untuk melawan kalian. Begitu..." jelas Marcella membela diri.
"Aku mengerti. Tapi kapan aku melukaimu?"
Pertanyaan Arvin berhasil membungkam bibir Marcella. Suasana yang santai mendadak berubah menjadi tegang. Jika boleh menjawab, ingin rasanya Marcella menjawab, saat kamu dan aku berpacaran. Tapi nyatanya bibirnya tak mampu digerakkan.
Sadar jika pertanyaan yang diberikannya adalah sebuah kesalahan. Dalam hati Arvin memaki dirinya sendiri. Bodoh! Ia memilih menyesap minumannya sebelum akhirnya kembali bersuara. "Jadi apa jawabanmu perihal tawaran bekerja sama denganku?"
"Eh?"
"Kamu sudah memikirkannya bukan?"
Marcella mengangguk sekali. "Sudah."
"Jadi apa jawabanmu?"
Untuk beberapa detik tak ada suara diantara mereka hingga akhirnya Marcella membuka suaranya. "Maaf. Sepertinya aku tidak bisa bergabung denganmu. Bukan karena aku tidak tertarik, tapi restoran ini masih membutuhkan aku," jelasnya cepat.
Ya, Marcella telah memikirkan semuanya matang-matang. Tawaran Arvin sangat menarik. Di kafe pria itu ia bisa mencoba resep dessert baru yang tidak disediakan oleh restorannya. Hanya saja, sepertinya Ramdan belum bisa menangani restoran ini sepenuhnya jika keadaan restoran sedang sangat ramai. Terlalu egois rasanya bila Marcella memilih bekerja di tempat lain dan menelantarkan restoran yang telah dibangunnya dengan susah payah.
Arvin memandang Marcella sebelum akhirnya menarik napas panjang. Meski hatinya ingin meyakinkan dirinya sendiri jika Marcella akan bergabung dengannya, tapi suara hatinya yang lain memiliki pendapat yang bertentangan. Arvin tahu jika jawaban Marcella akan seperti ini.
"Aku mengerti dan menerima keputusanmu. Hanya saja, sayang sekali yang artinya aku harus mulai mencari chef lain yang setara dengan kemampuanmu," kekehnya yang berhasil membuat Marcella ikut tersenyum mendengar pujian pria itu.
"Maaf ya..."
"Nggak apa-apa. Sejak awal aku tahu kalau kamu akan kesulitan memilih untuk meninggalkan restoran yang sudah kamu bangun sampai seperti ini. Sebaliknya aku-lah yang terkesan egois di sini. Jelas-jelas kamu memiliko restoran, tapi aku masih tetap ngotot mengajakmu bekerja sama."
"At least you tried..." sahut Marcella memberi semangat.
"You right." Mereka terdiam sejenak tapi tidak dengan pandangan mata mereka. "Sepertinya aku harus pergi."
"O-okay," jawab Marcella cepat. Dan entah kenapa ia merasa tidak ingin Arvin pergi.
"Sukses selalu untuk restoranmu," kata Arvin tulus.
"Thanks. Sukses juga untuk kafe barumu di Bandung," balas Marcella.
Arvin mengangguk sekali dan bangkut berdiri. "So...this is goodbye," ucapnya lagi.
"Maksudmu?" Dahi Marcella bertautan. Ia tidak mengerti akan ucapan Arvin.
"Aku akan menetap di Bandung. Jadi entah kapan kita akan bertemu lagi," jelasnya diiringi senyum simpul.
Ucapan Arvin menyentuh ke dalam lubuk hati Marcella. Mengapa pria itu berkata seperti semua ini adalah pertemuan terakhir mereka? "Ah... kamu benar. This is goodbye..." ulang Marcella lirih.
Arvin menjulurkan sebelah tangannya ke udara. Yang langsung disambut oleh Marcella. Kedua tangan itu menyatu layaknya hati mereka yang kembali bersatu. Hanya saja, sayangnya itu tak mungkin terjadi karena takdir berkata lain.
***