8

1075 Kata
Tanpa terasa sudah tiga menit mereka saling pandang hingga akhirnya Marcella-lah yang memutuskan kontak diantara mereka. Marcella mengerjapkan matanya lalu membuang pandangannya ke arah dinding di sisi kanannya. "Bagaimana bisa kamu berada di sini? Siapa yang mengizinkanmu? Apa kamu tahu jika daerah ini hanya staff only?" cerocos Marcella. Berusaha menutupi sisa tangisnya. "Umm... sori sebelumnya karena sudah maksa karyawanmu mengizinkanku ke sini. Tapi, are you okay?" Arvin mengangkat kedua alisnya dengan pandangan mata masih terarah pada Marcella. "Aku baik-baik saja," jawab Marcella singkat masih belum berani membalas tatapan Arvin. "Maaf membuat makan malam-mu tidak nyaman." "Kenapa harus minta maaf? Kamu tidak berbuat suatu kesalahan. Sebaliknya aku senang karena sekarang aku tahu, inilah restoran yang kamu ceritakan padaku waktu itu. Restoran impianmu," jawab Arvin santai. Alhasil ucapannya itu membuat tatapan mata Marcella tertuju padanya. Kenapa laki-laki itu peduli padanya? Padahal jelas sekali jika Marcella tidak ingin Arvin ikut campur masalahnya kali ini. Marcella membersihkan tenggorokannya. "Kamu sudah melihat kondisi aku. Jadi kamu bisa pergi." Meski Marcella memintanya untuk pergi, tapi Arvin bergeming. "Biar aku tebak, yang tadi itu pasti mantan kamu. Pria yang sudah buat kamu berada dalam kondisi seperti ini." Dari mana Arvin tahu? Apa semuanya tampak begitu jelas di wajahnya? Seperti kata Ramdan. "Jangan sok tahu. Ini urusanku. Bukan urusanmu." "Okay." Arvin mengangguk beberapa kali dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya. "Aku akan kembali ke dalam. Dan satu hal lagi, pria itu sudah pergi. Jadi aku rasa kamu bisa pulang tanpa rasa takut." Selesai mengatakannya Arvin memandang Marcella untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Marcella yang terdiam di tempatnya. Sepeninggal Arvin, untuk beberapa detik Marcella terdiam sebelum akhirnya merapikan diri. Dia tidak boleh memperlihatkan kelemahannya di depan Ramdan dan para karyawan Le Franch miliknya. Setelah yakin, Marcella menarik napas panjang dan melangkah masuk ke dalam. Di dalam sana, Ramdan berdiri tepat di depan pintu dengan kedua tangan terlipat di dadanya. Pandangan matanya lurus menatap dirinya. "Ada apa?" tanya Marcella bingung. "Seharusnya aku yang tanya ada apa denganmu Chef," jawab Ramdan datar. "Aku baik-baik saja. Hanya saja tadi aku membutuhkan waktu menenangkan diri sejenak. Pengunjung itu benar-benar berhasil memancing emosiku. Kau tahu 'kan, kalau aku marah apa yang akan terjadi dengan masakanku?" kilah Marcella dengan tawa kecil di bibirnya. Berusaha menutupi perasaannya dari Ramdan. Bukannya langsung menjawab, Ramdan terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menarik napas panjang. "Baiklah. Jika memang seperti itu kebenarannya aku tidak akan memaksamu. Hanya saja, jangan sampai laki-laki b******k seperti Daniel membuatmu menangis. Dia tidak layak untukmu." Selesai mengatakannya, Ramdan kembali bekerja tanpa memedulikan Marcella yang masih tertegun di tempatnya. Apa pria itu marah padanya? Tapi bagian mana yang membuat Ramdan marah kepadanya? Jelas-jelas Daniel-lah yang membuat ulah. Bukan dirinya! Dia hanya berusaha bersikap profesional sebagai pemilik restoran. Bukan sebagai seorang mantan! Daniel... Melihat wajah pria itu lagi membangkitkan sebuah perasaan yang telah dipendamnya dengan paksa. Cinta. Masih adakah cinta untuk Daniel setelah apa yang pria itu perbuat kepadanya? Tidak! Tidak! Dia tidak boleh lemah dan bersikap seakan apa yang telah diperbuat Daniel adalah hal sepele. Jelas sekali jika mantannya itu membencinya. Jadi, tidak pantas jika dirinya masih mengharapkan Daniel! Menutupi kegundahan hatinya, Marcella memutuskan untuk pulang lebih dulu. Dan saat ia melangkah keluar, tak ada Daniel mau pun Arvin. Pria itu benar, dia aman dan bisa pulang ke rumahnya dengan hati tenang. Tapi tetap saja, kemunculan dan sikap Arvin tak akan bisa membuat hatinya tenang. Apalagi dengan sikap kepedulian yang diperlihatkan Arvin untuknya. Bagaimana bisa Marcella bersikap seakan tak terjadi apa-apa? *** Keesokan harinya, semua berjalan baik-baik saja tanpa ada satu orang pun diantara mereka yang membahas kejadian malam minggu. Semuanya berjalan seperti biasa. Begitu juga dengan Marcella yang datang pagi hari dan pulang pada sore hari. Dalam sekejap, baik Daniel maupun Arvin hilang ditelan dunia. Sampai sore itu, tiga hari kemudian, seorang wanita datang ke restoran Le Franch dan setelah memesan segelas peach ice tea untuk dirinya. Saat itu Sonya-lah yang melayaninya. "Ada apa, San?" tanya Lia ketika Sandra tampak kebingungan. "Kamu lihat wanita di meja nomor dua belas?" Bukannya menjawab, Sandra malahan balik bertanya yang di jawab Lia dengan anggukkan kepala setelah kedua matanya melirik meja yang dimaksud. "Katanya nona itu ingin bertemu dengan mbak Marcella." Kening Lia bertautan. Wajah tamu tersebut sedang memandang keluar dinding kaca. Menyulitkan dirinya untuk melihat lebih jelas wajah sang tamu. "Untuk apa?" Sandra mengangkat kedua bahunya. "Ndak tahu," jawabnya dengan logat Jawa-nya. "Dia cuma titip pesan padaku untuk bertemu dengan mbak Marcella sebentar." Lia berdecak kesal. Akhir-akhir ini banyak hal terjadi di restoran Le Franch ini. Dan semuanya berhubungan dengan pemilik restoran tersebut. "Ya udah kamu sampaikan ke mbak Marcella sana. Supaya tamunya nggak nunggu lama," ujar Lia akhirnya. "Tapi..." "Tapi apa?" Sandra menelan salivanya sebelum kembali membuka suaranya. "Kamu tahu sendiri kan kalau mbak Marcella akhir-akhir ini cepat marah. Aku ndak mau jadi sasaran kemarahannya." "Sandra... Sandra... kalau kamu nggak buat salah. Si bos nggak akan marahin kamu. Udah sana, kasihan tamunya kalau menunggu lama gara-gara kamu yang penakut." Setelah meringis, mau tidak mau akhirnya Sandra mengetuk pintu ruangan Marcella yang terletak tak jauh dari dapur. "Ada apa?" tanya Marcella tanpa mengalihkan tatapan matanya dari laya monitor. Resep-resep di depan matanya membuat kedua tangannya terasa gatal dan ingin rasanya mulai mencoba resep baru yang muncul di dalam kepalanya. "Anu... Mbak..." "Anu?" "Anu... ada tamu yang ingin bertemu dengan mbak Marcella." Ucapan Sandra berhasil mengalihkan tatapan mata Marcella dari layar komputernya. "Siapa?" "Ndak tahu, Mbak. Katanya dia hanya minta waktu sebentar untuk bicara," jawab Sandra. "Baiklah. Aku segera ke sana." Sandra mengangguk mengerti lalu pamit undur diri. Di tempat duduknya, kepala Marcella mulai menebak-nebak siapa tamu yang ingin bertemu dengannya. Apa itu Daniel? Tidak mungkin. Semua karyawan restoran sudah mengenal Daniel dengan baik. Jadi jika memang itu Daniel, Sandra pasti akan menyebut nama laki-laki itu. Apakah... Arvin? Sekali lagi Marcella menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Sudah tiga hari pria itu tidak muncul lagi di dalam kehidupannya. Lelah menebak-nebak, Marcella akhirnya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar ruangannya. Mungkin hanya sekedar tamu biasa yang hendak mengajaknya berbisnis, pikirnya. "Yang mana tamu saya, San?" tanya Marcella saat melihat Sandra yang baru saja mengantarkan makanan untuk tamu restoran yang lain. "Yang duduk di meja nomor dua belas, Mbak." "Okay. Thanks." Dengan mantap Marcella berjalan menuju meja tersebut. "Selamat siang, katanya anda ingin bertemu dengan saya?" Perlahan wajah wanita yang tampak asyik dengan ponselnya terangkat. Sampai akhirnya Marcella mulai mengenali wajahnya dan senyum tipis yang terukir di bibirnya perlahan memudar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN