"Maaf karena datang tiba-tiba," ucap Sasha. Perempuan yang baru saja memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Daniel. Entah harus marah atau bersedih, rasanya Marcella hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kekasih? Sebenarnya siapa diantara mereka yang kekasih Daniel sebelum rahasia pria itu diketahui olehnya?
"Aku tidak punya banyak waktu. Jadi langsung saja ke intinya," sahut Marcella dengan tenggorokan tercekat. Dari balik bulu matanya, baru saat inilah dia dapat melihat dengan jelas wajah wanita ini. Sasha memiliki kulit seputih salju, matanya dan bibirnya kecil. Hidungnya tidak mancung namun tegak lurus. Bila dibandingkan dengan dirinya, rasanya Marcella bukanlah tandingannya.
"Terima kasih," jawabnya lembut. Senyum tipis terukir di bibirnya yang berwarna nude. "Tapi sebelumnya aku mewakili Daniel meminta maaf atas apa yang terjadi hari Sabtu kemarin. Sikapnya yang menjengkelkan membuat kamu jadi pusat perhatian seluruh pengunjung. Maaf..."
"Jika Daniel memintamu untuk minta maaf, sebaiknya kamu bilang dan katakan pada pria itu untuk datang langsung meminta maaf kepadaku. Bukan dengan cara pengecut seperti ini," sahut Marcella jengkel. Tidak menyangka jika Daniel yang dulu dia pikir gentle, nyatanya memiliki nyali seperti ayam!
"Bukan begitu... dia tidak tahu aku ke sini menemuimu."
Kening Marcella bertautan. Emosi yang tadi mulai meluap-lupa kembali surut. Apa katanya?
"Lalu? Apa tujuanmu menemuiku jika bukan Daniel yang menyuruhmu?" tanya Marcella heran.
Sekali lagi Sasha memamerkan senyum tipis di bibirnya. Memperlihatkan betapa lemah dirinya. "Aku ingin memintamu mengikhlaskan Daniel. Tolong menjauhlah darinya."
Bak petir di siang hari yang datang mengejutkan, seperi itulah kalimat Sasha terdrngar di telinga Marcella. Menjauhi Daniel? Apa dia tampak seperti wanita yang sedang berusaha merebut kekasih orang lain? Bukankah Daniel kekasihnya? Tapi wanita bernama Sasha ini yang merebut Daniel darinya!? Sontak emosi yang tadi sempat mereda mulai kembali mendidih.
"Maksud anda?"
"Kami telah berpacaran sangat lama. Sejak kami duduk di bangku kuliah. Aku dan Daniel saling mencintai tapi kami sepakat untuk mengejar karier kami terlebih dahulu sebelum melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan." Pandangan mata Sasha memandang lurus manik cokelat milik Marcella. Seolah-olah ingin Marcella merasakan perasaannya saat ini. "Kami sama-sama berhasil meraih karier kami. Daniel yang sukses menjadi seorang dokter dan aku yang berhasil meraih cita-citaku sebagai seorang designer. Sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu aku tersadar jika aku belum mendapatkan tamu bulananku..."
Detik selanjutnya suara yang keluar dari bibir Sasha mendengung di telinga Marcella. Penjelasan Sasha atas hubungan mereka berhasil meremukkan hati Marcella. Remuk sampai tidak berbentuk tanpa ada sisa. Disusul rasa sesak di dalam dadanya. Bahkan rasanya untuk bernapas saja Marcella merasa sulit. Demi Tuhan... di mana letak kesalahannya sebagai seorang kekasih sampai Daniel tega berbuat seperti ini kepadanya!?
"Mbak..." Panggilan Sasha berhasil menyadarkan Marcella dari pikirannya sendiri.
"Eh...? Ma-maaf. Saya sepertinya tidak enak badan. Jadi pertemuan ini hanya bisa sampai di sini. Dan soal Daniel, tenang saja. Hubungan kami telah berakhir. Lagipula sejak awal Daniel tidak pernah serius dengan saya. Karena saya hanyalah mainannya." Setelah mengatakannya, Marcella tidak peduli jika Sasha berpikir dia tidak sopan atau pun wanita perebut kekasih orang lain. Hatinya terlalu sakit untuk memikirkan sebuah fakta baru yang mengejutkan sekaligus menyakiti hatinya. Sesampai di ruangannya, Marcella terdiam sejenak. Tidak dapat berpikir jernih. Fakta yang baru saja didengarnya terlalu menyakitkan!
Saling mencintai sejak kuliah? Tidak mendapat tamu bulanan? Dua kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya seperti kaset rusak yang merusak pendengarannya.
Marcella mendengus. Matanya mulai memanas. Dikejapkannya beberapa kali kedua kelopak matanya, berharap kristal bening itu tidak mengalir. Sayangnya dia gagal. Air mata telah mengalir di atas pipinya.
"Sakit... kenapa begitu menyakitkan?" isaknya sambil memegang dadanya.
***
"Gila lo ya! Mana mungkin gue berani buat begitu! Gue bukan cowok macam lo yang bisa cium sembarangan cewek!" omel Arvin saat Sebastian menantangnya untuk bermain dan bilamana salah satu diantara mereka kalah, mereka diminta untuk mencium salah satu tamu wanita di klub ini.
"Ya elah Vin, culun banget sih lo. It's only a game, Bro! Lagian juga disitu letak serunya permainan ini," sahut Sebastian tak mau kalah. Ide yang baru terlintas di dalam kepalanya akibat dia baru saja melihat seorang wanita cantik seorang diri di meja bar.
Tidak terima dikatakan culun, Arvin mulai bersemangat. Sebab dalam kamus hidupnya tidak ada kata culun. Ia menggulung kemeja putih yang dikenakannya sampai ke siku. Menemui Sebastian memang kesalahan besar. Namun, hanya pria ini satu-satunya teman terbaik yang dia miliki. Jadi sepertinya Arvin tidak punya pilihan. Kebetulan Noni menghubunginya malam ini. Jadi boleh dong dia bersenang-senang sedikit?
"Okay! Gue terima tantangan lo!"
"Gitu donk!" Diangkatnya botol bir kosong di atas meja. "Ini botol biar jadi saksi pemenang diantara kita!" ujar Sebastian bersemangat.
"Emang lo paling b******k Bas!" balas Arvin yang disambut tawa oleh Sebastian.
Botol kosong yang diputar di tengah-tengah meja mulai bergerak cepat dan perlahan mulai melambat. Hingga akhirnya berhenti dan menunjuk Sebastian.
"Yes! Gue!"
"b******k! Itu sih memangnya mau lo!" omel Arvin. "Cewek mana yang mau lo jadiin korban kebrengsekan lo?"
Sebastian mengusap dagunya. Alisnya naik sebelah. "Gue mau cewek yang dipojok itu," tunjuknya pada sosok cewek yang duduk meja bar, tak jauh dari punggung Arvin.
Arvin mengikuti arah jari Sebastian. Cowok b******k ini meski dalam kegelapan dan hanya beberapa lampu sorot berwarna-warni, matanya tetap saja berfungsi dengan baik saat melihat wanita cantik. Dan tebakan Arvin benar. Seorang wanita cantik tampak asyik minum segelas bir besar di tangannya. Tunggu! Kening Arvin bersatu dan matanya menyipit. Setelah mengenali sosok wanita itu, Arvin segera menoleh ke arah Sebastian yang sedang siap-siap menuju ke tempat wanita itu.
"Bas, wait!" cegah Arvin. Membuat Sebastian bingung melihat sikapnya.
"Kenapa Vin? Gue udah siap nyamperin itu cewek. Kok lo malah ngehalangin gue?" gerutu Sebastian.
Arvin terdiam dan mulai memeras otaknya. Dan ketika sebuah ide muncul di dalam kepalanya, Arvin mengusap tengkuknya. "Buat pembukaan permainan ini, bagaimana kalau gue yang kalah."
"Maksud lo?"
"Hmm... biar gue aja yang duluan cium random girl?"
Sebastian terdiam. Pandangan matanya lurus menatap iris Arvin lekat-lekat. Butuh beberapa detik sampai akhirnya Sebastian tertawa.
"Ternyata lo nggak sabaran juga. Tahu gitu dari awal nggak usah munafik. Menolak ajakan gue, tahunya sekarang lo yang semangat." Mendengar ucapan Sebastian yang bisa dilakukan Arvin hanya nyengir kuda. Jika bukan dia yang diincar Sebastian sejak tadi, mana mau Arvin menjatuhkan harga dirinya sebagai laki-laki. s**l, makinya dalam hati.
"Kalau gitu gue ke sana ya."
"Oke-oke. Gue akan menonton di sini dengan sabar," jawab Sebastian lalu menenggak cairan kuning miliknya. Setelah Arvin berjalan Sebastian menggumam, "Arvin, Arvin, gue pengen tahu apa yang akan dilakukan Noni kalau tahu kejadian malam ini," kekehnya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari sosok Arvin yang berjalan menuju tempat wanita itu.
***