Noni, satu nama yang bikin Marcella ingin loncat ke dalam sumur yang dalam. Perempuan yang sukses merebut Arvin dari dirinya. Katakanlah Marcella masih bodoh karena terlalu percaya dengan apa yang dilihat oleh mata daripada hatinya sendiri. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan tak ada yang dapat Marcella lakukan untuk mengubah masa lalu.
"Noni," balas Marcella dengan tubuh menegang dan napas tertahan. Tidak menyangka jika pada akhirnya dia harus kembali bertemu dengan perempuan itu. Perempuan yang telah menusuknya dari belakang.
"Apa kabar?" sapa perempuan berambut pixie. Senyum menghiasi bibirnya. Dan nada dalam suaranya membuat Marcella meringis. Memberi kesan jika mereka seperti dua teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
Marcella menelan salivanya yang terasa sulit. "Baik. As you can see," jawabnya dengan kepala sedikit diangkatnya. Ia harus membuktikan jika dirinya baik-baik saja.
Noni mengangguk mengerti. "Ayo duduk," ajaknya ramah dengan senyum yang memamerkan gigi ratanya.
"Nggak usah. Gue baru inget kalau gue ada urusan mendadak," kilah Marcella.
"Loh, kok gitu. Baru juga datang udah mau main pergi aja. Cancel dulu atau diundur aja urusan lo kali ini. Udah lama banget kita nggak ketemu. Masa lo main pergi gitu aja?"
"Ta-tapi..."
Belum sempet Marcella menolak, Noni telah meraih lengannya dan mendudukan dirinya di salah satu kursi kayu bulat yang ada di dekatnya. Jadilah dirinya duduk diantara Arvin dan Noni. Menimbulkan suasana yang awkward dengan posisi yang terbalik. Noni-lah kekasih Arvin saat ini. Bukan dirinya.
"By the way, sejak kapan lo tahu tempat ini?"
"Huh?" Pertanyaan pertama yang dilontarkan Noni berhasil membuat Marcella sibuk memutar otaknya. Tidak mungkinkan dia menjawab tidak sengaja setelah patah hati? Bisa-bisa dirinya harus menanggung malu atas kejujurannya. Lagipula, sejak dulu Noni itu tipe cewek nggak mau kalah. Jadi kali ini Marcella tidak boleh kalah. Cukup satu kali dalam hidupnya dirinya merasa kalah dari Noni.
"Gue dapet recommended dari temen," jawab Marcella cepat. "Katanya kafe Love and Bites kopinya nggak ada tandingannya. Terutama kopinya yang dipanggang sendiri!" Jadilah Marcella memuji kopi buatan Arvin untuk pertama kalinya. Termasuk kopi lain yang belum pernah dicobanya. Dalam hati dia meringis malu.
"Wow...gue nggak nyangka lo tahu sebanyak itu. Udah lama jadi langganan di sini?" tanya Noni lagi.
"Nggak. Baru dua kali sama sekarang gue ke sini," jawab Marcella cepat.
"Dua kali? Dan lo udah tau banyak." Noni berdecak beberapa kali. "Tapi lo murni datang untuk kopi, kan? Bukan karena Arvin pemiliknya?"
Pertanyaan terakhir berhasil membuat Marcella bungkam. Nyatanya meski dua belas tahun telah berlalu, tak ada yang berubah sedikit pun dari sikap Noni. Tetap menyebalkan dan terus terang.
"Bukan No. Marcella ke sini soalnya waktu itu dia pernah bilang mau cobain kopi lain di kafe ini. Mungkin baru hari ini dia sempat," sela Arvin. Suaranya yang berat namun sejuk berhasil menyelamatkan Marcella dari ketegangannya akibat pertanyaan Noni.
"Bener begitu?" selidik Noni.
"Iya. Itu bener. Cuma pas gue lihat ada lo, tiba-tiba gue baru inget kalau gue ada urusan yang belum gue selesein. Jadi sori, kayaknya gue harus pergi sekarang."
Noni terdiam sesaat, matanya melirik Arvin dan Marcella secara bergantian sebelum akhirnya membuka suaranya. "Okay. Gue harap lain kali lo bisa mampir lagi ke sini. Gue jamin kopi buatan laki gue memang paling enak," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sedangkan di tempatnya Marcella mematung untuk beberapa detik sebelum akhirnya menarik paksa kedua sudut bibirnya. Apa katanya? Laki? Apa itu artinya Arvin adalah suami Noni? Jika iya? Apa maksud ciuman yang dilakukan Arvin malam itu? Perlahan digerakkannya leher Marcella dan memandang Arvin. Di sanalah ia menemukan jawaban dari semua kebingungan yang mengejutkan ini. Perasaan bersalah yang tersirat di wajah Arvin telah menjawab semuanya. Dan Marcella sepertinya tidal membutuhkan jawaban lagi dari pria itu.
***