"Ram, lo pernah nggak cium cewek yang bukan istri lo?"
Pertanyaan Marcella berhasil membuat Ramdan menghentikan kegiatannya menghirup nikotin di belakang restoran. Tempat langganan dimana pria itu mengirup kebutuhannya setiap hari. Dan hari ini Marcella memutuskan untuk menemani Ramdan. Dia butuh teman curhat, dan bunda bukanlah orang yang tepat. Sehingga Ramdanlah korban keluhannya saat ini. Bergantian dengan memiringkan wajahnya dan memandang Marcella seakan baru saja melihat kuntilanak di siang hari.
"Maksudnya?"
Marcella berdecak kesal. "Cium, mouth to mouth. Masa perlu gue jelasin sih," gerutu Marcella yang tidak terima dengan jawaban Ramdan.
"Itu sih aku juga tahu. Tapi maksudnya, mencium wanita lain? Kalau itu yang kamu maksud, artinya aku sudah bosan hidup," jawab Ramdan lalu kembali menghirup rokoknya.
Terdengar dengusan dari sisi kirinya. Alhasil Ramdan menoleh dan menemukan wajah Marcella. "Tipe STI ya kau?" ejeknya.
"STI?"
"Suami takut istri."
Tak dapat menahan tawanya, Marcella tertawa kecil. Ramdan memang teman bicara yang asyik, meski banyak diamnya bila tidak ditanya. Tapi, seberapa banyak pertanyaan yang kau ajukan, pasti akan dijawabnya. Apalagi hal-hal mengenai makanan dan resep. Pria itu akan terus berbicara tanpa bisa dihentikan.
"Ada apa memangnya sampai kau memberi pertanyaan seperti itu kepadaku? Apa seorang suami dari wanita lain menciummu?" tanya Ramdan yang wajib mendapatkan piala karena selalu benar dalam menebak pikiran Marcella.
Desahan napas dari Marcella semakin meyakinkan Ramdan akan tebakannya sendiri.
"Pria yang mana lagi setelah Daniel mengkhianatimu?" tanyanya lagi setelah tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Seharusnya aku tidak membicarakan ini padamu. Kau selalu berhasil menebaknya," keluh Marcella.
"Salahkan dirimu yang selalu membiarkan wajahmu seperti buku yang terbuka. Sekarang katakan, siapa pria yang menciummu itu?"
"Arvin..." jawab Marcella malas.
"Arvin?" ulang Ramdan. "Maksudmu pahlawan yang menolongmu beberapa minggu lalu di restoran saat Daniel membuat kekacauan?"
Marcella mengangguk lemah. "He's married, Ram. He's married!"
Kening Ramdan bertautan. Ia seperti sedang menyusun puzzle yang berantakan. "Jadi dia pria menikah yang telah menciummu?"
Sekali lagi Marcella mengangguk lemah. "Lo tahu nggak sih Ram, perasaan gue saat ini. Rasanya gue pengen lari sejauh mungkin. Atau kalau perlu gue ganti kewarganegaraan aja. Yang penting jauh dari Arvin. Lo bisa bayangin nggak gimana kalau Noni tahu? Bisa-bisa dia bunuh gue!" cerocos Marcella yang mulai freaking out sambil mengacak-acak rambutnya.
Memang bukan dirinya yang memulai ciuman tersebut. Tapi tetap saja, mencium pria bersuami itu salah. Kalau bunda tahu, bisa-bisa dia langsung dinikahkan sama pria yang baru dikenalnya! Yang artinya kehidupan Marcella harus berakhir seperti nasib Siti Nurbaya! Dan dia tak mau mati muda!
Baru saja Ramdan hendak membuka suaranya, pintu terbuka. Di sana Lia berdiri tegak dengan wajah sedikit terkejut melihat ekspresi Marcella yang diluar ekspetasinya. Dia membersihkan tenggorokannya sekali sebelum akhirnya berkata, "Mbak, ada yang nyariin tuh."
"Siapa?" tanya Marcella lemas. Kondisinya saat ini sangat tidak mendukung untuk menerima tamu. Bisa-bisa tamunya lari saat melihatnya.
"Lihat aja sendiri." Setelah mengatakannya Lia menutup pintu dan pergi dari situ.
Berikutnya Marcella memiringkan kepalanya dan memandang Ramdan yang hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Seharusnya Marcella tidak memperkerjakan Ramdan dan Lia! Lihat saja, karyawan mana yang berani bersikap seperti itu kepada dirinya? Setelag menarik napas panjang, Marcella bangkit berdiri lalu merapikan rambut dan pakaiannya.
"Okay?" tanya Marcella pada Ramdan. Pria itu mengangkat wajahnya dan mengangguk sekali. "Baiklah. Let's meet our guest."
***
Sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang berada di bawah meja, Marcella terus berusaha untuk tidak bertemu dengan manik cokelat milik Arvin Arentino. Ya, dialah tamu yang tadi disebutkan oleh Lia.
Sudah lima menit mereka duduk di meja yang berada di sudut ruangan. Tujuannya supaya pengunjung restoran tidak merasa terganggu akan keberadaan mereka. Meski sebenarnya tidak begitu banyak pengunjung. Hanya ada dua meja yang terisi. Tapi, tetap saja di sisi lain Marcella tidak ingin karyawannya mendengar pembicaraan mereka.
"Sori buat kejadian di kafe," ucap Arvin membuka pembicaraan diantara mereka. "Noni sudah keterlaluan sama kamu."
Pandangan mata Marcella yang awalnya menatap cangkir berisi green tea miliknya sekarang naik ke atas dan fokus pada wajah Arvin.
"Aku tahu bagaimana sikap Noni sejak dulu. Jadi bukan masalah besar yang harus membuat kamu minta maaf atas namanya." Rasa marah mulai merayapi hati Marcella. Kenapa dia harus marah? Bukankah sejak awal mereka hanya sepasang mantan kekasih yang sudah lama tidak berjumpa. Untuk apa dirinya semarah ini karena melihat Arvin yang membela Noni?
"Aku sebagai suaminya tidak enak atas sikapnya kepadamu," jawab Arvin dengan wajah penuh rasa bersalah.
Suami? Marcella jijik mendengarnya. Andai saja dulu Noni tidak bersikap jalang dan merebut Arvin dengan cara liciknya, mungkin saat ini dirinyalah yang seharusnya menjadi istri dari pria di hadapannya.
"Baiklah. Aku terima maaf-mu. Jadi masalah ini sudah selesai bukan?" sahut Marcella malas. Dia ingin segera menyudahi pertemuan ini. Melihat wajah Arvin selalu berhasil membuat hatinya kembali berdenyut nyeri. Mengingatkannya atas perpisahan diantara mereka dulu. Belum lagi janji yang pernah diucapkan Arvin.
"I want you. I want us. I want it all. With you. Only you, La."
Bullshit! Pria memang makhluk ciptaan manusia paling b******k! Dua kali dia berpacaran, kedua pria tersebut mengkhianatinya. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Di mana kesalahannya? Kenapa dunia begitu kejam kepadanya? Tidak bolehkah sekali saja dia diizinkan untuk mencicipi indahnya cinta?
Tanpa bisa menahan diri lagi, sebulir cairan kristal mengalir di sebelah pipinya. Sadar apa yang sedang terjadi, lekas-lekas Marcella mengerjapkan matanya dan menghapus air mata tersebut. "Sori. Mata gue kelilipan kayaknya."
Di hadapannya Arvin bergeming. Namun, tatapan matanya lurus memandang sosok wanita di depannya.
"La, satu hal lagi tujuanku ke sini." Suara bariton milik Arvin berhasil membuat kegiatan Marcella berhenti. Alhasil wanita itu sekarang memandang wajah Arvin yang datar. "Aku nggak akan minta maaf soal ciuman malam itu." Ada jeda sejenak sebelum Arvin menambahkan, "Karena hal itulah yang sudah lama ingin aku lakukan setelah melihatmu untuk pertama kalinya lagi di kafe."
***