“Heh! Kamu tuli, ya? Turunkan aku! Tidak lihat semua mata sudah menatap kita, hah? Cepat turunkan aku! Kamu kira aku karung beras?” celoteh Fara kesal.
“Kamu tuli, aku juga bisa tuli. Aku sudah menyuruhmu membuka sepatu sedari tadi, tapi kamu tidak mendengarkanku.”
“Kamu suruh aku buka sepatu, lalu aku jalan nyeker, begitu?” gerutu Fara semakin kesal.
“Makanya sekarang aku gendong, tidak nyeker ‘kan?” sahut Liam tanpa beban.
“Apa kamu kira begini lucu? Kamu tidak lihat semua orang melihatku dengan pandangan aneh? Kamu kira aku karung beras atau karung sampah, hah?” gerutu Fara.
“Keduanya, tinggal pilih.”
Fara menggeram. Matanya memicing akibat terlalu kesal. Tak ingin menahan diri lagi, Fara pun langsung menggigit punggung Liam sekuat tenaga.
“Akkhh!” Liam memekik menahan nyeri, perih dan sakit bersamaan akibat gigitan Fara pada punggungnya. “Apa kamu anak anjing?!”
“Turunkan aku sekarang!” ketus Fara.
Liam akhirnya menurunkan tubuh Fara tepat di depan sebuah mobil. Pria itu meringis pelan sembari mengibas jas bagian belakangnya. “Benar-benar tega, aku rasa punggungku sudah berdarah oleh ulahmu.”
Fara mendengkus kesal. “Salahmu sendiri. Aku sudah suruh turunkan, tapi kamu memancing kekesalanku. Rasakan saja itu.”
Liam mendelik ketika Fara berniat pergi dari sana. “Mau ke mana kamu?!” Ia segera menahan pergelangan tangan Fara.
“Aku ingin pulang! Cepat lepaskan.”
“Kamu ingin pergi begitu saja setelah melukai orang? Kamu harusnya tanggung jawab, punggungku sangat sakit.”
“Itu salahmu sendiri. Jadi urus saja sendiri. Minggir dan lepaskan tanganku, aku ingin pu-lang!” Fara mendongak sembari melotot menatap Liam.
“Tidak akan aku biarkan. Kamu harus tanggung jawab.”
“Apa-apaan, makanya jadi orang jangan menyebalkan! Aku tidak salah, jadi aku tidak akan tanggung jawab.”
“Oke!” Liam menatap Fara dengan ekspresi datarnya seperti biasa. “Kalau tidak ingin tanggung jawab, gampang saja. Aku akan potong bonus bulananmu untuk pengobatan punggungku. Jadi kau boleh pergi sekarang.”
Mata Fara terbelalak. Ia menggeram kesal. Lagi-lagi Liam mengancamnya dengan bonus bulanan.
“Itu hak-ku. Kenapa kamu seenaknya ingin memotong bonus orang lain?!” geram Fara.
Liam tersenyum pongah. “Pertama, aku adalah atasanmu, dan aku bisa melakukan apa saja, termasuk memotong bonusmu. Kedua, aku adalah korban, jika aku mengajukan kasus ini ke pihak hukum, kamu pasti akan kena denda, bahkan mungkin lebih besar dari potongan bonus bulanmu. Jadi, silakan di pilih, kamu ingin aku bertindak sebagai atasan atau sebagai korban?”
Tangan Fara terkepal. Ia menekan rasa kesalnya dengan menarik napas dalam, lalu diembuskan perlahan-lahan.
Setelahnya Fara pun tersenyum paksa. “Aku harus apa untuk tanggung jawab? Jangan potong uang bulananku, Tuan CEO yang terhormat.”
Liam tersenyum puas. Lagi-lagi ia menang. “Ikut aku, obati punggungku.”
Fara melipat bibirnya menahan umpatan untuk mantan sekaligus atasannya itu. “Bagaimana kalau kita ke klinik saja? Mereka akan mengobatinya secara profesional,” usul Fara, “harusnya ke klinik tidak akan menghabiskan banyak uang. Dari pada bonus bulananku dipotong, lebih baik bawa dia ke klinik saja,” lanjutnya dalam hati.
“Tidak, tubuhku tidak bisa disentuh oleh sembarang orang. Kalau kamu memang ingin punggungku diobati secara profesional, maka harus panggil dokter pribadiku. Sekali panggil 10 juta, siap mengeluarkan uang segitu, aku bisa suruh dia datang ke rumahku sekarang juga.”
Mulut Fara terbuka lebar. “S-sepuluh juga? Sekali panggil? Gila! Itu dokter atau rentenir?!”
Liam tersenyum songong. “Jadi bagaimana, Nona Fara Shamira?”
Fara memejamkan matanya. Lalu ia kembali tersenyum paksa. “Sungguh menyesal sekali aku menggigit punggungnya. Dia malah semakin menyebalkan. Liam breng-sek,” umpatnya dalam hati.
“Jangan terus umpati aku dalam hati, Sayang. Cepat saja jawab, kamu ingin obati sendiri, atau panggil dokter pribadiku?” Liam tersenyum tengil.
Fara mendengkus kesal. “Aku akan obati sendiri!” ketusnya, “lalu, jangan panggil aku sayang!” imbuhnya tak kalah ketus.
“Baiklah, silakan masuk, Sayang.”
Fara mendelik. Ia melirik sekitar, beruntung tak ada orang yang sangat dekat dengan mereka. “Kalau orang dengar, mereka bisa salah paham, Liam. Stop bercanda, cepat saja selesaikan ini.”
Liam mengedikkan bahunya tak acuh. Ia masih membukakan pintu mobilnya untuk Fara. “Makanya cepat masuk, atau aku akan semakin membuat onar di sini.”
Fara menggeram kesal. Sungguh ia begitu gemas ingin memukul mulut menyebalkan Liam itu. “Kalau bukan karna uang, sudah aku tonjok mulut menyebalkannya itu,” gerutunya dalam hati.
Dengan terpaksa, Fara masuk ke dalam mobil Liam. Ia menatap kesal pergerakan Liam memutari mobilnya menuju pintu kemudi. Fara tahu jika para karyawan sekarang pasti sedang menggosipkan mereka dengan berbagai pertanyaan dan terkaan.
“Ck, mungkin saja besok aku mulai ada haters di perusahaan ini. Padahal niatnya aku ingin bekerja dengan baik dan tenang. Gara-gara si Liam kurang ajar ini, membuat orang-orang berpikir aku mungkin sudah menggoda atasan. Kalau begini, aku tidak hanya akan bekerja pakai otak, tapi pakai otot juga, harus meladeni para karyawan sumbu pendek yang akan melabrakku karena sedang bersama Liam sekarang.” Fara menggerutu kesal serta lelah di dalam hati.
“Tidak usah cemberut begitu.” Liam yang baru masuk, melirik Fara sembari tersenyum mengejek. “Atau kamu sengaja memancingku untuk dicium?” imbuhnya nakal.
Fara mendelik. “Cepat saja jalankan mobilnya!”
“Eh, tunggu dulu!” Liam memicing menatap Fara. “Kenapa sekarang seakan kamu yang jadi atasan? Harusnya kamu yang membawa mobil, bukan aku.”
Fara menggulir bola matanya. “Maaf, Tuan CEO yang terhormat. Ini sudah jam pulang, bukan jam kerja lagi. Kalau Anda tidak ingin menyupiri saya, saya bisa keluar sekarang dan tidak usah ke rumah Anda. Bagaimana?” Fara tersenyum gemas menatap Liam.
“Ekhm, duduk diam di sana, Sayang. Aku akan segera—”
“Sudah aku katakan, jangan panggil aku seperti itu, Liam,” tukas Fara kesal.
“Ini bibirku, jadi terserahku ingin bicara apa dan memanggilmu seperti apa. Kalau kamu tidak suka, silakan tegur bibirku.”
Fara menoleh ke arah Liam yang sedang memasang seatbelt. “Tegur?”
Liam balik menatap Fara. Ia pun tersenyum penuh makna. “Iya, silakan tegur bibirku ini kalau kamu ingin aku mengganti panggilanku. Tidak tahu cara tegurnya? Gampang, biar aku contohkan.”
Fara memicing curiga ketika Liam kembali membuka seatbelt yang sudah sempat terpasang. Wanita itu melotot ketika Liam mendekat ke arahnya, lalu menarik tengkuknya.
Fara segera mendorong bibir Liam ketika mengetahui apa yang akan dilakukan atasan menyebalkannya itu. “Jangan sampai aku benar-benar menonjok bibirmu, Liam!”
Liam malah tertawa. “Tidak masalah, tonjok saja. Paling-paling kamu harus bertanggung jawab lagi. Punggungku saja belum kamu obati,” ejeknya santai.
Fara mendengkus, ia mengalihkan wajah yang sedikit memerah. Wanita itu memilih menatap ke kaca mobil. “Benar-benar breng-sek. Sebenarnya apa mau pria menyebalkan ini? Hubungan kami berakhir karenanya, sekarang dia malah sengaja menggangguku seperti ini, apa maksudnya?” batin Fara antara kesal, marah dan bingung.